Mengobservasi Bakureh, Tradisi, dan Perempuan Minangkabau – Bag. #03 (Habis)

Penulis: Ade Surya Tawalapi
Penyunting: Manshur Zikri

Tulisan ini adalah sambungan dari artikel berjudul “Mengobservasi Bakureh, Tradisi, dan Perempuan Minangkabau – Bag. #02”

 

TANGGAL 6 JUNI 2018 menjadi hari terakhir observasi awal para pendekarwati. Hari itu, kami mendapat undangan berbuka bersama di Masjid Nurul Hidayah. Sehari sebelumnya, Apa[1] menjelaskan bahwa di Nagari Kinari terdapat tradisi bakureh dalam rangka menyambut buka bersama yang diadakan di beberapa masjid di Kenagarian Kinari. Tradisi buka bersama ini menjadi tradisi tahunan, dan diadakan secara bergilir. Bisa digabungkan pula dengan aqiqah. Seperti yang kami alami sendiri pada hari keenam rangkaian lokakarya Bakureh Project ini.

Pengalaman Bakureh bersama masyarakat Nagari Kinari

Di acara buka bersama tersebut, ada tiga anak yang di-aqiqah, dengan diikuti membantai jawi (sapi) dan kambing. Pagi harinya, seusai subuh, kaum bapak membantai jawi, lalu membersihkannya di Batang Aiai. Selanjutnya, jawi tersebut dikuliti bersama-sama oleh kaum bapak. Sementara, kaum ibu mempersiapkan bumbu masak, seperti mengupas dan mengiris bawang, membersihkan cabai merah, dan memetik pucuk bunga papaya, mengupas timun, dan lain sebagainya. Pada pagi itu, saya, Nahal, Sefni, dan Olva mendapat kesempatan bergabung bersama kaum ibu dan mengalami langsung persiapan memasak tersebut. Saat bumbu-bumbu sambal tersebut hampir selesai dipersiapkan, sebagian ibu pun mempersiapkan tungku, dibantu oleh beberapa orang bapak. Bapak-bapak tersebut membantu menyusun batu tungku yang cukup berat. Selanjutnya, kaum ibu mulai memasak. Pada acara buka bersama itu, ada empat makanan berat yang dibuat, yaitu dendeng, kalio, anyang[2], dan salada mantimun[3]. Sementara, untuk cemilannya, ialah Kolak Cukuik-cukuik[4].

Saya, Nahal, Sefni, Olva, Volta, Zekal, dan Irvan memang tidak mengikuti kegiatan bakureh sampai selesai. Namun, pagi itu kami mendapatkan informasi yang cukup untuk “membuktikan langsung” bagaimana sesungguhnya tradisi bakureh itu dipraktikkan. Kami juga mendengar sendiri apa dan bagaimana kaum ibu tersebut berbincang-bincang saat kegiatan bakureh.

Kegiatan pagi itu hanya kami ikuti sampai pukul setengah sembilan. Kami kemudian kembali ke markas Gubuak Kopi untuk mengikuti materi tambahan mengenai bakureh dari sudut pandang praktik seni pertunjukkan. Sorenya, pukul 5 sore, saya, Nahal, Roro, Irvan, Volta, dan Cugik berangkat menghadiri acara buka bersama. Kami kembali mendapat kesempatan melihat dan mengalami sendiri salah satu kegiatan “baralek” buka bersama di Nagari Kinari tersebut.

Kegiatan bakureh, yang juga dikenal dengan istilah “mamasak basamo” (‘memasak secara bersama-sama’) ini biasanya selesai menjelang Ashar. Selanjutnya, ibu-ibu menyusun masakan di dalam masjid. Menjelang berbuka, cemilan disusun, lalu buka bersama berlangsung, dilanjutkan dengan solat Magrib berjamaah. Seusai solat, barulah kaum ibu secara “bakureh” menyendokkan nasi dan lauk-pauk ke dalam piring. Kaum bapak, secara “bakureh” pula, berperan sebagai janang (‘pengatur acara’), menghidangkan berpiring-piring makanan ke niniak-mamak (‘para tetua’) yang duduk di bagian depan Masjid. Setelah semua kalangan mendapat makanan, saya, Roro, Cugik, dan Irvan ikut duduk menikmati acara makan bersama. Sambil makan, saya mengamati bagaimana kaum ibu tidak berhenti bekerja, merapikan dan menyusun piring-piring bekas makan para hadirin. Begitu pula dengan sebagian kaum bapak—saya menduga bahwa mereka mungkin adalah panitia acara—turut sibuk membersihkan sisa-sisa makanan dan mengumpulkan sampah dan gelas bekas minum. Selanjutnya, saat mencuci tangan, saya melihat kaum ibu secara bakureh juga mencuci piring. Saat saya ingin membantu, saya dilarang dan “dimarahi”.

Ndak ado anak gadih nan mancuci piriang do! Bia induak-induak se! (‘Tidak ada anak gadis yang mencuci piring! Biarkan ibu-ibu saja!’),” kata salah seorang ibu yang kemudian menjadi narasumber kami.

Saya pun permisi dari ibu-ibu tersebut dan menunggu di dalam masjid bersama teman-teman lainnya. Selanjutnya, kami mewawancarai sedikit beberapa ibu, yang antusias memberikan keterangan. Kesan yang kami dapatkan cukup baik dan informasi yang kami butuhkan akhirnya terkumpul. Seusai mewawancara, sekitar pukul delapan, kami berenam kembali ke Markas, untuk kemudian memulai menuliskan semua pelajaran yang kami dapat dari observasi tersebut.

Bagi saya, yang lahir, tumbuh-besar, dan tinggal di kota Pekanbaru, Provinsi Riau, pengalaman bakureh ini sangat berkesan. Sebab, meskipun di Pekanbaru juga ada tradisi seperti ini, kedekatan akan budaya Minangkabau lebih terasa saat mengikuti kegiatan bakureh dan buka bersama di Nagari Kinari, yang bisa dikatakan masih sangat dekat dengan budaya Minangkabau yang saya tahu. Itu jelas berbeda dengan Pekanbaru yang merupakan kota para perantau. Di tambah lagi, perjalanan yang harus ditempuh saat ke lokasi. Tidak henti-hentinya saya melihat bentangan sawah, diselingi rumah-rumah sederhana. Beberapa di antaranya merupakan bangunan tradisional Minangkabau, yang masih dipergunakan, yang menurut saya sepertinya masih dijadikan tempat tinggal. Hal ini sangat menarik dan menambah wawasan saya secara pribadi. Selain itu, pengalaman ini juga meningkatkan rasa penasaran saya tentang tradisi dan adat-istiadat Nagari Kinari, khususnya, dan Solok pada umunya. ***

End Notes

[1] ‘Apa’, juga biasa diucapkan ‘Apak’, berarti ‘Bapak’ dalam bahasa Indonesia; Apa di dalam tulisan ini merujuk kepada ayah-nya Volta, salah satu fasilitator Bakureh Project.
[2] ‘Anyang’ adalah jenis makanan sejenis urap, terbuat dari pucuk dan bunga pepaya dicampur yang dicampur dengan kelapa parut dan cabai giling.
[3] ‘Salada Mantimun’ adalah jenis makanan berupa tetimun yang diiris tipis-tipis, lalu ditiriskan. Tetimun yang sudah diiris dan ditiriskan itu kemudian dicampur dengan bumbu garam, merica, cuka, dan bawang goreng. Salada mantimun juga memiliki ragam resep, seperti di rumah saya sendiri, isi salada mantimun terdiri dari mentimun iris, telur rebus, dan kentang rebus yang juga diiris-iris, lalu diaduk bersama garam, merica, cuka, dan bawang goring, serta dilengkapi dengan kerupuk baguak (emping).
[4] ‘Kolak Cukuik-cukuik’ adalah jenis makanan yang terdiri dari kacang hijau (kacang padi), agar-agar, cincau hitam, dan cendol merah.