Bahan Tanam

DUA MINGGU setelah Kelas Online Sayurankita yang pertama dengan materi “Media Tanam”, Ponik diam-diam masuk lagi ke kelas itu dan jadi murid ilegal lagi. Kelas Online Sayurankita kedua itu, dilaksanakan hari Senin, 30 Juli 2018 lalu. Kali ini, materi kelasnya tentang “Bahan Tanam” yang ternyata berkesinambungan dengan materi sebelumnya. Ponik, yng jadi murid gelap di kelas itu, kerjaannya cuma membaca materi, terus mengikuti jalannya diskusi. Berhubung Ponik masih hutang tulisan banyak kepada Sahabat Ponik, Ponik pun mencatat hasil diskusi biar Ponik bisa nulisnya. Hihhihii…

Ternyata! Kelas diskusi malam itu… WOAW!! Sangat seru! Saking serunya, kami ga sadar sudah melewati durasi waktu yang sudah ditentukan. Mau tau gimana keseruan kelas “Bahan Tanam”? Ehem, karena Ponik baik dan rajin menabung, Ponik akan membocorkan informasinya ke sahabat Ponik semua melalui tulisan ini. Semoga catatan Ponik ini bermanfaat untuk kita semua. Ssst.. jangan kasih tahu Master dan si Anak Magang ya!

Okeh! jadi, Sahabat Ponik udah tahu belum bahwa ternyata media tanam itu berbeda dengan bahan tanam? Masih ingat dong ya materi tentang Media Tanam? Kalau belum, bisa baca catatan Ponik di bawah ini, sebelum kita lanjut memabahas “Bahan Tanam”.


  • Media Tanam (7/27/2018) - Media tanam adalah hal yang paling krusial yang harus dipahami bagi para pekebun pemula. Media tanam adalah kunci keberhasilan dalam proses berkebun. Tanaman akan tumbuh dengan baik apabila media tanamnya bagus dan tepat.


Nah, gimana? Sudah? Mau lanjut? Yok mari!

Jadi, yang dimaksud dengan “Bahan Tanam” itu adalah bagian tanaman yang akan ditanam. Bahan tanam termasuk sebagai salah satu faktor penentu kualitas baik buruknya hasil tanaman yang kita tanam. Yak! Seperti manusia, untuk mendapatkan keturunan yang baik, kita akan menyeleksi bibit, bebet dan bobotnya, kan? Nah, tanaman juga begitu. Memilih dan menyeleksi bahan tanam menjadi sangat penting untuk mendapatkan tanaman yang baik.

Bahan tanam dikelompokkan menjadi kelompok vegetatif dan generatif. Eit! jangan pusing dulu… Akan Ponik tulis dengan jelas tentang kedua kelompok ini.

Bahan tanam yang termasuk dalam kelompok vegetatif adalah bagian tanaman yang dapat kita tanam yang bukan dari biji. Contoh bahan tanam yang satu ini adalah stek, cangkok, okulasi, enten, anakan tunas, atau kultur jaringan. Bahan tanam yang diperoleh dari kelompok vegetatif ini sering disebut berasal dari hasil perkembangbiakan secara vegetatif. Bagian tanaman diperoleh tanpa adanya perkawinan.

Ehm, sahabat Ponik masih ingatkan apa itu stek, cangkok, okulasi, dan teknik-teknik perkembangbiakan vegetatif lainnya? Yak! Itu loh, yang pernah ada di buku IPA SD, SMP dan SMA. Hehe! Tapi biar Ponik jelaskan sedikit tentang mereka…

Stek adalah menanam bagian tanaman secara langsung. Bisa dengan batang seperti singkong, yang disebut dengan stek batang. Bisa juga dengan daun seperti cocor bebek, yang dikenal dengan istilah stek daun.

Jadi, bahan tanamnya yang mana? Ya bagian yang akan di stek itu, bisa batang, bisa juga daun. Ada juga bahan tanamnya berupa umbi, seperti bawang merah dan kentang. Ada juga yang berbentuk rhizome (akar tunggal, bagian batang yang tumbuh dan menjalar dalam tanah) seperti lengkuas, jahe, atau kunyit.

Bahan tanam termasuk sebagai salah satu faktor penentu kualitas baik buruknya hasil tanaman yang kita tanam.

Trus kalau cangkok, okulasi, enten (menempel), anakan (tunas) bahan tanamnya yang mana?

Nah, kalau stek tadi merupakan bahan tanam yang masih fresh dan belum berakar, maka kalau cangkok adalah contoh bahan tanam yang sudah berakar karena berupa bibit atau tanaman mini. Cangkok adalah teknik untuk memperoleh tanaman dengan cara membuang floem (jaringan pengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tanaman) batang. Akibat dari pembuangan floem itu terjadi penumpukan makanan, sehingga respon yang diberikan adalah munculnya akar. Ketika bagian yang dicangkok sudah berakar, maka batang yang dicangkok itu dipindah ke wadah tanam, dan jadilah bibit! Bibit inilah yang disebut sebagai bahan tanam, yang termasuk kelompok vegetatif.

Bahan tanam yang berupa bibit ini juga berlaku untuk okulasi (menyambung dua tanaman), enten (menempel mata tunas pada tanaman utama), anakan, dan merunduk (geragih/stolon) yang sering terjadi pada stroberi.

Selain cara-cara diatas, ternyata ada lagi nih teknik perkembangbiakan vegetatif yang dapat menghasilkan bahan tanam dalam jumah yang banyak, tetapi hanya perlu sebagian jaringan. Yak, betooll! Teknik tersebut dikenal dengan kultur jaringan. Kultur jaringan ini adalah perkembangbiakan vegetatif dengan teknologi canggih, dengan cara mengisolasi bagian jaringan tanaman di media tanam dan kondisi yang steril. Bagian yang diambil adalah jaringannya, sebagaimana namanya, kultur jaringan. Biasanya jaringan yang digunakan adalah jaringan muda yang belum berdiferensiasi (berubah menjadi jaringan lain yang memiliki fungsi lebih khusus, misal jaringan floem yang berfungsi mengangkut hasil fotosintesis ke seluruh bagian tanaman) dan masih aktif membelah diri (meristematik) yang sering ditemukan pada bagian pucuk tunas atau akar. Bahan tanam dari kultur jaringan lebih dikenal dengan sebutan plantlet, dan bahan tanam yang berasal dari kultur jaringan saat ini masih terfokus pada tanaman kentang, pisang, dan anggrek.

Trus, gimana dengan bahan tanam dari kelompok generatif? Baca dong kelanjutannya. Hehee..

Bahan tanam yang berada dalam kelompok generatif adalah biji, yaitu bagian tanaman yang diperoleh dari peleburan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina atau melalui proses perkawinan. Dalam dunia pertanian, biji yang dihasilkan tanaman yang dijadikan sebagai bahan tanam biasa disebut dengan benih.

Benih sendiri, menurut Sadjad (1993) dalam buku dasar Ilmu dan Teknologi Benih yang diterbitkan oleh IPB, memiliki beberapa pengertian. Secara struktural, benih diartikan sebagai biji yang secara anatomi berfungsi sebagai bakal biji yang dibuahi. Sementara secara fungsional, yang dimaksud benih adalah bagian tanaman yang digunakan untuk perkembangbiakan tanaman, sehingga umbi kentang, umbi bawang, rimpang bahkan bibit yang diperoleh dari cangkokan, stek, okulasi atau enten masuk ke dalam pengertian benih. Secara ilmu budidaya (agronomis), benih adalah bagian tanaman yang tidak hanya sekedar tumbuh, tetapi juga mampu menghasilkan produksi maksimum, sehingga harus memiliki daya viabilitas (kemampuan untuk tumbuh pada kondisi normal) dan vigor (daya tumbuh di kondisi abnormal) yang tinggi. Viabilitas benih itu dapat dilihat dari keserentakan dan kecepatan tumbuhnya yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan (seperti cahaya, air, dan hara) pada saat memproduksi bji tersebut.

Gimana? Udah mulai paham belum dengan jenis-jenis bahan tanam?

Ada yang tau apa bedanya kalau kita menggunakan bahan tanam vegetatif atau generatif?

Sama! Sebelum masuk kelas, Ponik juga gak tahu apa bedanya dan apa pentingnya memilih bahan tanam. Yah, yang penting mah ya nanam aja yak? Hehe! Tapi, ternyata ada perbedaannya dan mempengaruhi hasil tanaman kita.

Nih, dalam catatan Ponik, kalau kita menggunakan bahan tanam vegetatif maka sifat tanaman yang dihasilkan akan sama dengan sifat tanaman induknya. Contohnya, ketika kita menanam bibit hasil cangkokan buah rambutan yang asam, maka kita akan mendapatkan buah yang sama. Kalau kita menanam stek batang dari tebu yang mengandung banyak air, maka kita juga akan mendapatkan tebu yang banyak airnya.

Kok bisa? Iya, karena bahan tanamannya benar-benar berasal dari satu induk, makanya sifatnya persis seperti induknya.

Beda dengan bahan tanam dari generatif, atau biji. Karena biji dihasilkan dari perkawinan baik perkawinan sendiri atau perkawinan silang, maka gen pada satu biji akan berasal dari dua induk, artinya sifatnya akan beragam. Contoh kasus, tanaman tomat atau cabai yang meskipun melakukan perkawinan sendiri tetapi 30% bagiannya tetap melakukan perkawinan silang, baik dibantu angin atau serangga. Nah, dari perkawinan silang inilah keragaman itu lahir. Sama halnya manusia, dari dua manusia melahirkan anak-anak yang beragam, baik bentuk maupun karakternya. Tanaman juga begitu. Makanya, ketika kita menanam kembali biji tomat yang sebelumnya berbuah besar dan manis, tidak jarang hasil yang kita temui tidak semanis musim tanam pertama. Si tomat yang kita tanam untuk kedua kalinya cenderung menghasilkan buah yang berbeda, bisa jadi besar tapi asam, atau kecil tapi manis, Bahkan bisa jadi sudah kecil, asam pula. Kejadian seperti ini sudah diteliti lebih lanjut oleh Mendel, dan teorinya menjadi cikal bakal penemuan benih-benih unggul itu.

Bahan tanam dari kelompok vegetatif adalah bagian tanaman yang dapat kita tanam yang bukan dari biji. Sementara bahan tanam yang berada dalam kelompok generatif adalah bagian tanaman yang diperoleh dari peleburan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina atau melalui proses perkawinan, yang biasa disebut biji.

Karena hasil dari perkawinan tersebut, maka kita dapat menghasilkan benih unggul dengan cara mengawinkan induk-induk yang memiliki sifat unggul. Dan biji atau benih generasi pertama yang dihasilkan tersebut dikenal dengan benih F1 (Fillial/turunan 1). Maka, untuk skala komersial memilih benih unggul F1 menjadi anjuran. Tapi, benih yang dihasilkan dari F1 ini tidak baik jika ditanam kembali, karena sifatnya yang akan menghasilkan keragaman.

Tapi bukan berarti menanam dari bahan tanam kelompok vegetatif kita tidak bisa mendapatkan tanaman unggul. Bisa kok! Tapi ya cuma dari teknik sambung (okulasi) atau menempel (enten). Sebab, hanya teknik ini yang menggunakan dua induk dari tanaman berbeda. Jadi kita bisa memilih jenis tanaman seperti apa yang diinginkan.

Selain dari sifat tanaman yang dihasilkan, perbedaan dari kelompok ini adalah waktu berbuah atau panen.  Kalau bahan tanam dari kelompok vegetatif relatif lebih cepat panen, karena sudah berupa bibit (tanaman mini) atau batang. Sedangkan bahan tanam dari kelompok generatif butuh perjalanan yang panjang untuk sampai panen dan berbuah karena bermula dari biji. Ini juga yang menjadi alasan para petani buah lebih dominan memilih menggunakan bahan tanam berupa bibit yang dihasilkan dari kelompok vegetatif daripada ditanam melalui biji.

Sebentar, jangan bingung dulu karena ada dua kelompok bahan tanam. Justru kelompok bahan tanam ini memberikan kita kemudahan untuk memilih bahan tanam mana yang pas dan cucok buat kita.

Untuk menentukan pilihan bahan tanam, selain mempertimbangkan sifat tanaman yang dihasilkan, waktu panen atau waktu berbuah juga bisa mempertimbangkan jumlah tanaman yang akan ditanam. Lalu diproyeksikan ke hitung-hitugan ekonomi.

Contohnya, jika kita ingin menanam bayam, tentu kita tidak menanam hanya satu atau dua tanaman saja. Maka, lebih baik menanam dari benih, karena satu bungkus ada ribuan biji. Berbeda cerita kalau kita ingin memiliki tanaman seledri untuk skala rumah tangga, yang mungkin hanya butuh satu sampai dua pot saja. Nah, ada baiknya kita membeli bibit daripada membeli benih, agar tidak mubazir benih. Jumlah benih seledri dalam satu bungkus sangat banyak, sama seperti bayam. Kecuali kalau benihnya akan dibagi-bagi ke tetangga. Hehe! Ini juga nih yang mendasari, mengapa lebih banyak penjual bibit buah daripada benih buah-buahan. Karena pada umumnya, kita menanam buah dalam jumlah yang sedikit.

Kita juga perlu mengetahui apakah benih yang kita tanam mudah atau sulit untuk tumbuh. Jika benih sulit tumbuh, maka menggunakan bahan tanam vegetatif bisa menjadi alternatif. Misalnya bawang. Biji bawang sangat sulit untuk tumbuh. Oleh karena itu menanam bawang menggunakan umbi menjadi pilihan yang lebih baik daripada menggunakan biji.

Hal lain yang perlu menjadi perhitungan kita untuk memilih bahan tanam adalah kemudahan dan jarak dalam mencapai lokasi untuk menanam. Ini berhubungan dengan ketahanan bibit. Jarak yang jauh, akan memakan waktu untuk mencapai lokasi, dan tidak semua bibit dapat bertahan dalam perjalanan, sehingga kita perlu memperhitungkan waktu dan kondisi bibit.

Nah, mudah-mudahan sudah jelas ya tentang pertimbangan memilih bahan tanam yang baik ini. Mau bahan tanam vegetatif atau generatif sama baiknya kok. Keputusannya tergantung dari kebutuhan para penanam.

Sahabat Ponik juga bisa membaca Silabus dari Master yang merupakan rangkuman materi berupa poin-poin penting. Bisa juga “menguping” tanya-jawab antara Sahabat Ponik yang di dalam kelas, dengan Master.

Memahami asal usul bahan tanam akan membantu kita dalam memberikan perlakuan terbaik bagi tanaman agar tanaman dapat memberikan hasil yang terbaik pula. Karena bahan tanam adalah cikal bakal apa yang akan kita tanam.

Sampai ketemu di kelas selanjutnya ya!

Salam petani kece!

Pekanbaru, 12 Agustus 2018
Sayurankita

Konten oleh: Afifah Farida
Penyunting: Ade Surya Tawalapi