(Dongeng) Kisah Gard, si Pengrajin Kayu

Penulis: Dinda Tantri Adytya (anggota Komunitas Beranibaca.id)
Catatan: Afifah Farida Jufri
Penyunting:  Ade Surya Tawalapi

 

DESA FORESTI adalah desa yang dihuni oleh para pengrajin kayu paling terampil di seluruh negeri. Banyak produk yang diekspor ke luar negeri berasal dari tangan-tangan terampil mereka. Kehebatan mereka tidak diragukan lagi dalam hal memilih kayu terbaik untuk diolah.

Namun, tiga bulan belakangan, warga Forestri kesulitan mendapat kayu gelondong berkualitas baik. Penyebabnya adalah rumor yang beredar di masyarakat Forestri. Rumor itu menyebutkan bahwa hutan tempat tumbuhnya pepohonan dijaga oleh banyak makhluk. Anehnya, tidak ada yang ingat bagaimana rupa makhluk-makhluk itu.

Gard memegang salah satu pohon karya Ade Surya Tawalapi. Arsip: Sayurankita

Gard, salah satu pengrajin di desa Forestri, yang semula tidak peduli dengan rumor tersebut, menjadi penasaran. Pasalnya, siapa pun yang masuk ke dalam hutan, tetap tidak berhasil menebang satu pohon pun! Mereka percaya bahwa makhluk itulah dalangnya. Gard bimbang. Di satu sisi, ia mulai percaya dengan rumor tersebut. Namun, di sisi lain, ia sangat membutuhkan kayu gelondong untuk memenuhi pesanan. Gard pun nekat berangkat ke hutan untuk menebang pohon yang dibutuhkannya.

Perjalanan menuju hutan tidak begitu sulit. Sejauh ini, tidak ada halangan maupun makhluk aneh yang mengganggunya. Gard meneruskan perjalanannya hingga menemukan sederet pohon jati. Kayu dari pohon jati ini sangat kuat dan tahan lama sehingga cocok untuk membuat produk ekspor. [1]

Gard mengeluarkan gergaji listrik besar yang biasa ia gunakan. Namun, setelah ia mencoba menyalakannya beberapa kali, gergaji itu tetap bergeming.

“Aneh,” batinnya. “Padahal kemarin aku sudah cek dan gergaji ini berfungsi dengan baik.” Gard menyerah dan meletakkan gergajinya. Ia lalu menyentuh sekeliling permukaan pohon. Tiba-tiba ….

“Aduh!” Jari telunjuk Gard digigit oleh makhluk berbentuk ranting pohon dengan gigi serupa jarum. “Aduh! Lepaskan! Hewan apa sih, ini! Lepas … kan …,” ujarnya semakin melemah dan bruk! Gard pun ambruk di tanah. Segalanya menjadi gelap.

“Apakah ia sudah bangun?”

Gard mendengar beberapa suara di sekelilingnya. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Perlahan, ia membuka kelopak matanya.

“ARRRRGGH! Pergi! Pergi! Saya tidak jahat! Jangan gigit saya!”Gard berteriak panik.

Ada banyak makhluk berkulit seperti ranting kayu dan bergigi serupa jarum, seperti yang menggigitnya tadi. Gard masih melindungi mukanya ketika tangan kecil seperti manusia menyentuh jari-jarinya.

“Sudah, tidak apa-apa. Mereka tidak akan mengganggumu,” ujar suara lembut itu. “Aku minta maaf karena salah satu Twig telah menggigitmu hingga pingsan,” lanjut sosok manusia kecil bersayap itu. Gard masih memandanginya dengan tatapan kaget bercampur bingung. Sosok tersebut segera menyadarinya.

“Oh, maaf. Di mana sopan santunku?” kata makhluk itu. “Perkenalkan, aku Fory, peri hutan. Aku bertugas menjaga keseimbangan hutan di desa tempatmu tinggal,” ujar Fory sambil membungkuk, memberi salam.

“Kau … peri?” tanya Gard tak percaya. Fory mengangguk.

“Dan … bagaimana kau menyebut mereka tadi? Twig?”

Twig, Fory dan Gard, karya Ade Surya Tawalapi. Arsip: Sayurankita

“Ya, mereka adalah para Twig yang bertugas menjaga pohon. Ada dua hingga tiga Twig di setiap pohon. Mereka bertugas untuk mengusir para penebang yang mendekat. Tetapi, aku tak menyangka jika manusia bisa pingsan terkena gigitan Twig. Aku minta maaf.” Sekali lagi, Fory membungkuk.

“Saya … sebenarnya … saya tidak pingsan karena gigitan Twig. Saya pingsan karena melihat darah mengalir dari jari saya. Saya fobia darah.” Gard menjelaskan. Fory pun mengangguk tanda mengerti.

“Jadi, kalian yang membuat warga desa Forestri ketakutan menebang kayu?” tanya Gard.

“Ya. Ratu melihat bahwa manusia sekarang semakin tidak bertanggung jawab. Mereka hanya menebang tanpa menanam penggantinya. Padahal, butuh puluhan tahun untuk menumbuhkan pohon-pohon tersebut,” tutur Fory sedih. “Itulah sebabnya, aku mengutus para Twig untuk menghalau para manusia. Tapi, biasanya Twig tidak menggigit. Ia hanya akan mengejar para penebang hingga garis batas hutan. Lalu para penebang akan lupa apa yang mengejar mereka. Hanya perasaan takut saja yang tersisa.”

“Oh! Mungkin Twig tadi menggigit karena saya menekan badan mereka,” ujar Gard. Salah satu Twig, yang kemungkinan besar adalah Twig yang telah menggigitnya, mengangguk.

“Tapi, Nona Fory,” kata Gard lagi, “warga desa Forestri hampir kehilangan mata pencaharian karena tidak ada kayu yang bisa kami gunakan. Adakah cara agar kami tetap bisa mengambil kayu dengan aman?”

Sesungguhnya Gard memahami alasan peri hutan melindungi pepohonan. Pohon adalah tumbuhan yang sangat berguna, tidak hanya untuk manusia tetapi juga hewan dan tumbuhan lainnya. Namun di sisi lain, manusia juga perlu bekerja dan menghasilkan uang.

“Sebenarnya, sederhana saja,” jawab Fory. “Setiap kalian ingin menebang pohon, kalian harus membawa bibit pohon sesuai pohon yang akan kalian tebang. Sebelum menebangnya, kalian harus menanam terlebih dahulu bibit-bibit tersebut. Kalau sudah begitu, maka aku akan mengizinkan kalian mengambil kayu-kayu di hutan.”

“Baiklah, Nona Fory. Aku akan mengabarkan permintaanmu ini kepada teman-temanku di desa,” jawab Gard mengangguk.

Sekembalinya Gard dari hutan, para warga desa Forestri telah berkumpul. Mereka mengira Gard tersesat dan berniat akan mencarinya. Gard lalu menceritakan bahwa ia bertemu dengan penjaga hutan dan meminta agar warga desa memberikan satu bibit setiap menebang satu pohon. Gard tidak menceritakan bahwa ia bertemu peri dan Twig, karena Fory membuatnya berjanji untuk tidak mengatakannya.

Warga desa Forestri memahami syarat yang diberikan tersebut. Mereka pun menyetujuinya. Akhirnya, desa Forestri tetap menjadi desa pengrajin kayu terampil, sementara hutan tetap terjaga.***


[CATATAN]

[1] Jati (Tectona grandis Linn F.) adalah salah satu pohon yang mendominasi hutan di Indonesia. Jati dapat tumbuh dengan ketingian lahan maksimum 700 mdpl dengan suhu udara 13-43 0C. Tanah yang cocok untuk pertumbuhan jati adalah tanah lempung, lempung berpasir dan liat berpasir. Curah hujan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jati adalah 1000-1500 mm per tahun. [a]

Pohon jati memiliki batang yang bulat lurus. Tingginya dapat mencapai 40 m. Kulit batang jati berwarna coklat dan kuning keabu-abuan. Bentuk daunnya besar membulat dan bertangkai pendek. Daun muda berwarna kemerahan dan getahnya dapat digunakan sebagai pewarna. Bunga pohon jati terletak di puncak tajuk pohon. Bunganya berwarna keputih-putihan yang tersusun dalam anak payung. Buahnya berbentuk bulat agak gepeng.

Kayu dari pohon jati sudah dimanfaatkan sejak zaman Majapahit. Kayu jati memiliki daya awet yang lebih lama daripada kayu lainnya sehingga sering dimanfaatkan untuk bangunan rumah dan membuat alat-alat pertanian. Bahkan, di abad ke-17, VOC memanfaatkan kayu jati sebagai bahan pembuatan kapal, jembatan dan bantalan rel kereta api. Selain kayunya, masyarakat yang hidup di sekitar hutan jati juga memanfaatkan kulit pohon jati sebagai bahan dinding rumah, cabang dan ranting sebagai kayu bakar, dan daunnya sebagai pembungkus nasi dan pewarna. [b]

[REFERENSI]

[a] Mulyana D, Asmarahman C. 2010. 7 Jenis Kayu Penghasil Rupiah. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka.

[b] Pohan B. 2016. Jejak Hutan jati dalam Peradaban. Dinas Kehutanan Jawa Timur. PDF.

[c] Wikipedia. Jati.