Apium graveolens L. adalah nama ilmiah dari seledri (dalam bahasa Inggris disebut “wild celery” atau hanya “celery”). Seledri pertama kali dideskripsikan oleh Carl Linnaeus dalam Species Plantarum, Volume I, pada tahun 1753 (Wikipedia, n.d.). Mengacu pada van der Meijden (1990), Brands (2017) mencatat bahwa di Belanda, tanaman ini dikenal dengan istilah “selderij,” “cellerie,” atau “bleekcellerie.” Tanaman ini juga disebut “céleri” dalam bahasa Prancis dan “apio” dalam bahasa Spanyol (Lansdown, 2013).

Seledri adalah salah satu jenis tanaman sayuran yang sangat populer di Indonesia, sering kali dibudidayakan untuk kebutuhan pangan dan obat-obatan.
Klasifikasi Ilmiah
Menyalingsilangkan tujuh sumber online yang diacu oleh Sayurankita — yakni (1) Wikipedia; (2) EOL; (3) The Taxonomicon; (4) The IUCN Red List of Threatened Species™; (5) Integrated Taxonomic Information System; (6) The PLANTS Database; dan (7) National Center for Biotechnology Information; serta sumber lain untuk melengkapi nama/istilahnya — maka klasifikasi ilmiah untuk Apium graveolens L. secara umum adalah sebagai berikut:
| Tingkatan | Nama Ilmiah | Nama Umum |
| Kingdom (Kerajaan) | Plantae | Plants (Tumbuhan) |
| Phylum (Divisi) | Tracheophyta | Vascular plants (Tumbuhan vaskular) |
| Class (Kelas) | Magnoliopsida | Dicotyledons (Dikotiledon) |
| Order (Ordo) | Apiales | |
| Family (Famili) | Apiaceae / Umbelliferae | Carrot family (Adas-adasan) |
| Tribe (Suku) | Apieae | |
| Genus (Golongan) | Apium L. | Celery (Seledri) |
| Species (Spesies) | Apium graveolens L. | Wild celery (Seledri) |
| __Variety (Varietas) | __ var. dulce (P. Mill.) DC. | Stalk celery / Pascal celery (Seledri tangkai) |
| __Variety (Varietas) | __ var. graveolens | |
| __Variety (Varietas) | __ var. rapaceum (Miller) Gaudin | Celeriac (Seledri umbi) |
| __Variety (Varietas) | __ var. secalinum | Leaf celery (Seledri daun / iris) |
Morfologi Seledri
Berg dan Deneer (2012), dalam hak paten mereka atas morfologi seledri, menjelaskan bahwa sebagai tumbuhan dalam famili Apiaceae, dua varietas Apium graveolens L. yang paling umum dikenal adalah “seledri tangkai” (stalk celery) dan “seledri umbi” (celeriac). Mereka menyatakan bahwa sebagai sayuran, relatif cukup banyak bagian dari seledri yang tidak dapat digunakan. Untuk jenis “seledri tangkai” (Apium graveolens L. var. dulce), di mana daunnya terdiri dari tangkai daun (petiole) dan helai daun (leaf blades), bagian yang biasanya dikonsumsi adalah tangkai daun (petiole).

Seledri adalah tumbuhan biennial atau dua tahunan, tetapi juga dibudidayakan sebagai tanaman annual atau tahunan. Tanaman ini tumbuh tegak dan dapat mencapai ketinggian kurang dari 1 meter (sekitar 2-3 kaki). Seledri memiliki akar tunggang, tetapi juga serabut yang menyebar ke samping dengan radius sekitar 5-9 cm dari pangkal batang, dan dapat menembus tanah hingga kedalaman 30 cm. Batangnya lunak (tidak berkayu) dengan bentuk yang persegi, beruas-ruas, tidak berambut, dan umumnya memiliki 5-12 tangkai daun (petiole). Bentuk cabang batangnya angular atau fistular, dan bersendi secara mencolok. Daunnya tipis, halus, dan majemuk (umumnya trifoliolate, yaitu memiliki tiga selebaran), berbentuk baji (umumnya obovate, yaitu lonjong atau oval dengan ujung yang mengecil di bagian dasar), dengan tiga cuping dan pinggir daun yang bergerigi. Panjang daunnya bisa mencapai 7 cm dan lebarnya 5 cm, berwarna hijau tua. Bunganya sangat kecil, berwarna putih kehijauan dengan ujung yang bengkok dan tumbuh di bagian pucuk tanaman. Buahnya berisi biji kering yang berbentuk elips (atau kadang juga berbentuk sub-orbicular), berlekuk, berukuran sekitar 3 mm, berwarna cokelat keabu-abuan, dan memiliki aroma serta rasa sedikit pahit jika dimakan (Agroteknologi.web.id, n.d.; Asri, 2004; Helaly, El-Refy, Mady, Mosa, & Craker, 2014; Himalaya, n.d.; Iqbal & Sulistyorini, n.d.; Kadam & Salunkhe, 1998; Materi Pertanian Terpadu Online, n.d.).
Kandungan Seledri dan Khasiatnya
Shapiro (2012), mengutip Sturtevant (1886) dan Vaughan & Geissler (1997), menyebutkan bahwa “seledri mengandung sekitar 95% air dan sedikit protein, lemak, atau gula, namun terdapat sejumlah mineral, beberapa karoten, vitamin E, dan vitamin B kompleks di dalamnya. Kandungan vitamin C rendah (8 mg/100g).”
Asri (2004), mengutip Information Alternative Medicine (2001), Kim et al. (1998), dan Holistic Online (1998), mencatat komponen aktif dari seledri secara lengkap sebagai berikut:
“Komponen aktif seledri adalah karotenoid (lutein); phthalide, terutama 3-n-butylphthalide, ligustilide, sedanolide, dan sedanenolide; coumarins, bergapted; isopimperatorin, iso pimpinellin; apiumoside dan celeroside; flavonoid, seperti apiin dan apigenin; asam lemak; minyak tetap; minyak atsiri (mengandung d-limonene, dengan a-selinene, santalol, a- dan b- eudesmol, diihydrocarvone).” (Asri, 2004, hlm. 20).

Menurut Kadam dan Salunkhe (1998), komposisi kimiawi dari 100 gram seledri mengandung 6,3 g protein, 2,1 g mineral, 1,4 g serat, dan 1,6 g karbohidrat. Seledri juga mengandung kalsium, fosfor, zat besi, karoten, thiamin, vitamin C, niacin, riboflavin, dan vitamin A, dengan komposisi yang bervariasi pada berbagai tingkat kematangan (Kadam & Salunkhe, 1998, hlm. 526). Melengkapi informasi ini, Helaly, El-Refy, Mady, Mosa, dan Craker (2014) menyebutkan bahwa seledri juga mengandung vitamin B1, B2, B9, E, dan K, serta mengandung magnesium, kalium, mangan, seng, dan asam amino triptofan. Mengutip Tang et al. (1990), Helaly et al. (2014) juga menyatakan bahwa biji seledri mengandung dua kelompok senyawa utama, yaitu monoterpen tipe limonene dan butylphthalide. Selain itu, Helaly et al. (2014), mengutip Lam dan Zheng (1991), menjelaskan bahwa kandungan 3-n-butylphthalide dan sedanolide, phthalide terkait di dalam seledri, dapat “…meningkatkan aktivitas glutathione-S-transferase (GST) di hati, mukosa usus halus, dan perut pada tikus A/J inbrida. GST adalah enzim metabolit xenobiotik fase II yang sangat penting dan sering digunakan dalam pembersihan intermediet reaktif.” (Helaly et al., 2014, hlm. 27).

Iqbal dan Sulistyorini (n.d.), mengutip Sudarsono et al. (1996), mencatat bahwa secara tradisional, tanaman seledri digunakan sebagai pemacu enzim pencernaan, penambah nafsu makan, peluruh air seni, dan penurun tekanan darah. Selain itu, seledri juga digunakan untuk memperlancar keluarnya air seni, mengurangi rasa sakit pada rematik dan gout, serta sebagai anti kejang. Daun dan batang seledri digunakan sebagai sayur dan lalap untuk penyedap masakan (Iqbal & Sulistyorini, n.d.). Helaly, El-Refy, Mady, Mosa, dan Craker (2014), mengutip Halim et al. (1990) dan Shalaby dan El-Zorba (2010), menyebutkan bahwa “helai daun” dan “tangkai daun” seledri sering dimanfaatkan sebagai komponen dalam salad, sementara bijinya, yang umumnya disebut “seed” dalam bahasa Inggris, juga digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit. Selain digunakan sebagai penyedap makanan atau bumbu (Shapiro, 2012), biji seledri biasanya digunakan sebagai ramuan ekstrak cair dan obat penenang karena diakui memiliki khasiat sebagai stimulan dan bersifat karminatif—dapat mengurangi gejala perut kembung (Himalaya, n.d.). Minyak yang diekstraksi dari biji seledri juga sering digunakan sebagai elemen dalam obat antispasmodik dan saraf (Himalaya, n.d.), serta sebagai penyedap utama dalam industri makanan untuk memperbaiki rasa dan aroma makanan, seperti sup, daging, saus, acar, dan jus (Sowbhagya, 2014, dalam Helaly et al., 2014).
Sejarah Kemunculan dan Budidaya Tanaman Seledri
Seledri (Apium graveolens) kemungkinan berasal dari wilayah Mediterania dan Eropa (Sturtevant, 1886; Vaughan & Geissler, 1997). Situs web The IUCN Red List of Threatened Species menjelaskan bahwa “…tanaman seledri merupakan tanaman asli dari sebagian besar daerah Eropa, Afrika Utara, Siberia, dan Kaukasus, sebelum akhirnya diintroduksi dan ditanam di seluruh dunia. Penyebaran tanaman asli hampir tidak mungkin dilakukan karena disamarkan oleh proses introduksi” (Lansdown, 2013). Mengutip Menglan dan Watson (2005), situs tersebut juga menyebutkan bahwa seledri diyakini bukan tanaman natif di Cina dan Australia (mengutip Rechinger, 1987), sementara kemunculannya di daerah lain sebagai tanaman asli atau tidak, sulit untuk ditentukan (Lansdown, 2013).
Pada masa lalu, seledri ditanam sebagai sayuran untuk musim dingin dan awal musim semi, yang dianggap sebagai tonik pembersih untuk melawan penyakit asam urat yang disebabkan oleh diet musim dingin menggunakan daging asin tanpa sayuran. Pada abad ke-19, musim tanam seledri telah diperpanjang dari awal September hingga akhir April (Wikipedia, n.d.).
Di situs web Encyclopedia of Life, dijelaskan bahwa ribuan tahun yang lalu, seledri ditanam sebagai tanaman obat. Baru kemudian dibudidayakan untuk diambil daunnya, yang digunakan sebagai penyedap (seledri daun, A. graveolens var. secalinum). Pada abad ke-16 dan 17, sifat seledri dengan rasa yang lebih ringan menjadi karakter terpilih untuk seledri tangkai yang dikenal saat ini (A. graveolens var. dulce). Kemudian, “celeriac” atau seledri umbi juga dikembangkan. Seledri daun masih ditanam di Asia Tenggara. Menurut de Vilmorin (1950, seperti dikutip dalam Li & Quiros, 2000), dua kultivar1 seledri diperkenalkan dari Prancis ke Amerika Utara pada tahun 1887. Dua kultivar tersebut adalah self-blanching ‘Paris Golden Yellow Self-Blanching’ dan sebuah kultivar hijau yang disebut ‘Pascal’. Dalam perdagangan benih AS, kultivar ini dikenal sebagai ‘White Plume’ dan ‘Giant Pascal’” (Shapiro, 2012).
Situs web Wikipedia menjelaskan bahwa seledri umumnya ditanam dari biji, disemai di persemaian atau kebun terbuka, tergantung musim saat penanamannya. Setelah satu atau dua kali penjarangan dan pemindahan, ketika tingginya mencapai 15-20 cm (5,9-7,9 inci), seledri kemudian ditanam pada parit-parit yang dalam untuk memudahkan proses blanching. Menurut Wikipedia, blanching adalah “teknik yang digunakan dalam pertumbuhan sayuran. Tunas-tunas muda dari tanaman ditutupi untuk menghalangi cahaya demi mencegah terjadinya fotosintesis dan produksi klorofil, sehingga warnanya tetap pucat” (Wikipedia, n.d.).
Proses blanching ini, menurut situs web Encyclopedia of Life, dapat dilakukan dengan tanah, kertas, atau polietilen hitam untuk memproduksi pangkal daun putih, menghasilkan apiin yang konsentrasinya kecil, dan glikosida pahit. Beberapa kultivar ditanam tanpa proses blanching ini (Shapiro, 2012). Sementara itu, menurut National Gardening Association Editors, proses blanching ini juga bisa dilakukan dengan cara menutup tangkai seledri dengan kertas atau tanah untuk menghalangi sinar matahari selama satu minggu, 10 hari, atau lebih, sebelum panen (Wikipedia, n.d.). ***
Catatan Kaki
- Secara harfiah, ‘kultivar’ adalah berbagai tanaman yang telah diproduksi dalam budidaya dengan pembiakan selektif. ↩︎
Bibliografi
- Apium graveolens. (n.d.). National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine. Diperoleh pada 11 September 2017, dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/.
- Agroteknologi.web.id. (n.d.). Klasifikasi dan morfologi seledri. Informasi Ilmu Pertanian Indonesia Agroteknologi. Diperoleh pada 11 September 2017, dari http://agroteknologi.web.id/.
- Asri, A. (2004). Pengaruh pemberian perasan seledri terhadap aktivitas proliferasi sel, indeks apoptosis dan perubahan histopatologi mukosa kolon Wistar: Kajian karsinogenesis kolon (Tesis Magister). Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia.
- Berg, J. J., & Deneer, R. H. (2012). Celery morphology (Paten No. US 20120164304 A1). United States Patent and Trademark Office.
- Brands, S. J. (Ed.). (2017). Genus Apium™ C. Linnaeus, 1753. Systema Naturae 2000. The Taxonomicon. Universal Taxonomic Services, Zwaag, Belanda. Diperoleh pada 11 September 2017, dari https://www.taxonomy.nl/.
- Helaly, A. A., El-Refy, A., Mady, E., Mosa, K. A., & Craker, L. (2014). Analisis morfologis dan molekuler dari tiga aksesi seledri. Journal of Medicinally Active Plants, 2(3-4), 27-32.
- Himalaya. (n.d.). Herbal Monograph: Celery. Diperoleh pada 12 September 2017, dari https://www.himalaya.com/.
- Integrated Taxonomic Information System (ITIS). (n.d.). Apium graveolens L. ITIS Report. Diperoleh pada 11 September 2017, dari https://www.itis.gov/.
- Iqbal, M., & Sulistyorini, E. (n.d.). Seledri (Apium graveolens L.). Cancer Chemoprevention Research Center, UGM Farmasi. Diperoleh pada 11 September 2017, dari https://ccrc.farmasi.ugm.ac.id/.
- Kadam, S. S., & Salunkhe, D. K. (1998). Celery and Other Salad Vegetables. Dalam D. K. Salunkhe & S. S. Kadam (Eds.), Handbook of Vegetable Science and Technology: Production, Composition, Storage, and Processing (hlm. 523-532). New York & Basel: Marcel Dekker, Inc.
- Lansdown, R. V. (2013). Apium graveolens. The IUCN Red List of Threatened Species: e.T164203A13575099. https://doi.org/10.2305/IUCN.UK.2013-1.RLTS.T164203A13575099.en. Diperoleh pada 11 September 2017.
- Materi Pertanian Terpadu Online. (n.d.). Klasifikasi dan morfologi seledri. Diperoleh pada 11 September 2017, dari http://materipertanianterpadu.com/.
- Shapiro, L. (2012). Apium graveolens L.: Brief Summary. Encyclopedia of Life. Diperoleh pada 11 September 2017, dari https://eol.org/.
- USDA, NRCS. (2017). The PLANTS Database. National Plant Data Team, Greensboro, NC 27401-4901, USA. Diperoleh pada 11 September 2017, dari http://plants.usda.gov/.
- Wikipedia (Bahasa Inggris). (n.d.). Celery. Diperoleh pada 11 September 2017, dari https://en.wikipedia.org/.
- Wikipedia (Bahasa Indonesia). (n.d.). Seledri. Diperoleh pada 11 September 2017, dari https://id.wikipedia.org/.
Katalog Tanaman Sayurankita
Nomor:
001/A-g-L/29/I/17
Nama Ilmiah Tanaman:
Apium graveolens L.
Peninjau Literatur:
Manshur Zikri & Shalati Febjislami
Editor:
Manshur Zikri
Pertama kali dimuat:
29 Januari 2017
- Revisi ke-1: 11 September 2017
- Revisi ke-2: 12 September 2017
- Revisi ke-3: 21 September 2018
- Revisi ke-4: 28 Agustus 2024

Tinggalkan komentar