Apium graveolens L.

Katalog Tanaman Sayurankita
No. 001/A-g-L/29/I/17

 

Apium graveolens L. adalah nama ilmiah dari Seledri (English: Wild celery, atau biasa disebut Celery saja). Seledri dideskripsikan oleh Carl Linnaeus dalam Species Plantarum, Volume I, tahun 1753 (lihat Wikipedia Bahasa Inggris, “Celery“). Mengacu pada R. van der Meijden (1990), Brands mencatat bahwa di Belanda, tanaman ini disebut dengan istilah Selderij, Cellerie, atau Bleekcellerie (lihat Brands, S.J. (ed.), 1989-sekarang, The Taxonomicon). Tanaman ini juga disebut Cèleri dalam bahasa Prancis dan Apio dalam bahasa Spanyol (lihat Lansdown, R.V., 2013).

Seledri adalah salah satu jenis tanaman sayuran yang sangat populer di Indonesia, sering kali dibudidayakan untuk kebutuhan pangan dan obat-obatan.

I. Klasifikasi Ilmiah

Jika menyalingsilangkan tujuh sumber online yang diacu oleh Sayurankita—yakni (1) Wikipedia; (2) EOL; (3) The Taxonomicon; (4) The IUCN Red List of Threatened Species™; (5) Integrated Taxonomic Information System; (6) The PLANTS Database; dan (7) National Center for Biotechnology Information; serta sumber lain untuk melengkapi nama/istilahnya—maka klasifikasi ilmiah untuk Apium graveolens L. secara umum, adalah sebagai berikut:

Rank (Tingkatan) Scientific Name (Nama Ilmiah) Common Name (Nama Umum)
Kingdom (Kerajaan) Plantae Plants (Tumbuhan)
Phylum (Divisi) Tracheophyta Vascular plants (Tumbuhan vaskular)
Class (Kelas) Magnoliopsida Dicotyledons (Dikotiledon)
Order (Ordo) Apiales
Family (Famili) Apiaceae / Umbelliferae Carrot family (Adas-adasan)
Tribe (Suku) Apieae
Genus (Golonga) Apium L. Celery (Seledri)
Species (Spesies) Apium graveolens L. Wild celery (Seledri)
__Variety (Varietas) __ var. dulce (P. Mill.) DC. Stalk celery / Pascal celery
(Seledri tangkai)
__Variety (Varietas) __ var. graveolens
__Variety (Varietas) __ var. rapaceum (Miller) Gaudin Celeriac (Seledri umbi)
__Variety (Varietas) __ var. secalinum Leaf celery (Seledri daun / iris)
II. Morfologi Seledri

Berg dan Deneer—dalam hak paten mereka atas morfologi Seledri—menjelaskan bahwa, sebagai tumbuhan yang berada di dalam famili Apiaceae, dua varietas Seledri (Apium graveolens L.) yang paling umum dikenal adalah “Seledri Tangkai” (Stalk Celery) dan “Seledri Umbi” (Celeriac). Mereka menyatakan, sebagai sayuran, relatif cukup banyak bagian-bagian dari Seledri yang tak dapat digunakan. Untuk jenis “Seledri Tangkai” (Apium graveolens L. var. dulce), yang mana daunnya terdiri dari “tangkai daun” (petiole) dan “helai daun” (leaf blades), “tangkai daun” (petiole) adalah bagian yang biasanya dikonsumsi (lihat Berg & Deneer, 2012).

Seledri (Foto: @sayurankita 13 Mei 2017)

Seledri adalah tumbuhan biennial atau dua tahunan, tetapi juga dibudidayakan sebagai tanaman annual atau tahunan; tumbuhnya berdiri tegak dan dapat mencapai ketinggian kurang dari 1 meter (sekitar 2-3 kaki); berakar tunggang, tetapi memiliki serabut yang menyebar ke samping dengan radius sekitar 5 – 9 cm dari pangkal batang, dan dapat menembus tanah hingga ke dalaman 30 cm; batangnya lunak (tidak berkayu) dengan bentuk yang persegi, beruas-ruas, tidak berambut, dan umumnya memiliki 5-12 tangkai daun (petiole) dengan bentuk cabang batang yang angular atau fistular, dan bersendi secara mencolok; daunnya tipis, halus, dan majemuk (umumnya trifoliolate: ‘memiliki tiga pucuk/selebaran’), berbentuk baji (umunya obovate: ‘lonjong atau oval dengan ujung yang mengecil di bagian dasar’) dengan tiga cuping dan pinggir daun yang bergerigi, serta panjang daunnya bisa mencapai 7 cm dan lebar 5 cm, berwarna hijau tua; bunganya yang sangat kecil berwarna putih kehijauan dengan ujung yang bengkok dan tumbuh di bagian pucuk tanaman; sedangkan buahnya berisi biji (seed) kering berbentuk elips (atau kadang juga berbentuk sub-orbicular), berlekuk, berukuran kira-kira 3 mm dengan warna cokelat keabu-abuan, beraroma dan berasa sedikit pahit jika dimakan (lihat Agroteknologi.web.id, n.d.; Materi Pertanian Terpadu Online, n.d.; Iqbal & Sulistyorini, n.d.; Himalaya, n.d.; Asri, 2004; Helaly, El-Refy, Mady, Mosa, & Craker, 2014; dan Kadam & Salunkhe, 1998).

III. Kandungan Seledri dan Khasiatnya

Mengutip Sturtevant (1886) dan Vaughan & Geissler (1997), Shapiro (2012) menyebut bahwa “Seledri mengandung sekitar 95% air dan sedikit protein, lemak, atau gula, namun terdapat sejumlah mineral, beberapa karoten, vitamin E, dan vitamin B kompleks di dalamnya. Kandungan vitamin C rendah (8 mg / 100g).”

Asri, mengutip Information Alternative Medicine (2001), Kim et al. (1998), dan Holistic Online (1998), mencatat komponen aktif dari Seledri dengan cukup lengkap, yakni sebagai berikut:

“Komponen aktif seledri adalah carotenoid (lutein); phthalide terutama 3-n-butylphthalide, ligustilide, sedanolide, dan sedanenolide; coumarins, bergapted; isopimperatorin, iso pimpinellin; apiumoside dan celeroside, flavonoids, seperti apiin dan apigenin; fatty acids; fixed oil; volatile oil (mengandung d-limonene, dengan a-selinene, santalol, a- dan b- eudesmol, diihydrocarvone.”
(Lihat Asri, A., 2004, hal. 20).

Seledri di media tanam tanah dicampur arang sekam. (Foto: @sayurankita, 27 Mei 2017).

Sementara itu, menurut Kadam & Salunkhe (1998), komposisi kimiawi dari “Seratus gram seledri mengandung 6,3 g protein, 2,1 g mineral, 1,4 g serat (fiber), dan 1,6 g karbohidrat. … Seledri mengandung kalsium, fosfor, zat besi, karotine, thiamine, vitamin C, niacin, riboflavin, dan vitamin A. Komposisi bervariasi pada berbagai tingkat kematangan.” (Lihat Kadam, S. S., & Salunkhe, D. K., 1998, hal. 526). Melengkapi keterangan ini, dalam pemaparan Helaly, El-Refy, Mady, Mosa, dan Craker (2014), disebutkan bahwa Seledri juga mengandung vitamin B1, B2, B9, E, dan K; serta mengandung magnesium, potassium, mangan, zinc, dan asam amino triptofan. Mengutip Tang et al. (1990), Helaly et al. juga menyebutkan bahwa biji Seledri mengandung dua kelompok senyawa utama, yakni mono-terpen tipe limonene dan butylphthalide. Helaly et al. (mengutip Lam & Zheng, 1991) menerangkan bahwa kandungan 3-n-butylphthalide dan sedanolide, phathalide terkait, di dalam Seledri ternyata dapat “meningkatkan aktivitas glutathione-s-trasferase (GST) di hati, mukosa usus halus, dan perut pada tikus A/J inbrida. GST adalah enzim metabolit xenobiotik fase II yang sangat penting dan sering dipakai dalam pembersihan intermediet reaktif.” (Lihat Helaly et al., 2014, hal. 27).

Anakan/tunas seledri pada batang seledri. (Foto: @sayurankita, 27 Juni 2017).

Mengutip Sudarsono et al. (1996), Iqbal & Sulistyorini mencatat bahwa: “Secara tradisional tanaman seledri digunakan sebagai pemacu enzim pencernaan atau sebagai penambah nafsu makan, peluruh air seni, dan penurun tekanan darah. Di samping itu digunakan pula untuk memperlancar keluarya air seni, mengurangi rasa sakit pada rematik dan gout, juga digunakan sebagai anti kejang. Selebihnya, daun dan batang seledri digunakan sebagai sayur dan lalap untuk penyedap masakan.” (Lihat Iqbal, M., & Sulistyorini, E., n.d.). Helaly et al (2014), mengutip Halim et al. (1990) dan Shalaby dan El-Zorba (2010), menyebutkan bahwa “helai daun” dan “tangkai daun” Seledri adalah komponen yang acap kali dimanfaatkan sebagai komponen dalam salads, sementara biji/buahnya—umumnya disebut seed dalam bahasa Inggris—juga digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit. Biji seledri, selain digunakan sebagai penyedap makanan atau bumbu (Saphiro, 2012), biasanya digunakan sebagai ramuan ekstrak cair dan obat penenang karena diakui memiliki khasiat sebagai stimulan dan bersifat kharminatif—dapat mengruangi gejala perut kembung (Himalaya, n.d.). Demikian juga dengan minyak yang diekstraksi dari biji seledri, yang sering digunakan sebagai elemen dalam obat antispasmodik dan saraf (Himalaya, n.d.), atau sebagai penyedap utama dalam industri makanan karena dapat memperbaiki rasa dan aroma makanan, seperti sup, daging, saus, acar, dan jus (Sowbhagya, 2014, dalam Helaly et al., 2014).

Bibliografi
  1. “Apium graveolens”. Diperoleh dari National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/Taxonomy/Browser/wwwtax.cgi?mode=Info&id=4045&lvl=3&keep=1&srchmode=1&unlock&lin=s&log_op=lineage_toggle) tanggal 11 September 2017.
  2. Agroteknologi.web.id. (n.d.). Klasifikasi dan Morfologi Seledri. Retrieved September 11, 2017, from Informasi Ilmu Pertanian Indonesia Agroteknologi : http://agroteknologi.web.id/klasifikasi-dan-morfologi-seledri/
  3. Asri, A. (2004). Pengaruh Pemberian Perasan Seledri Terhadap Aktivitas Proliferasi Sel, Indeks Apoptosis dan Perubahan Histopatologi Mukosa Kolon Wistar: Kajian Karsinogenesis Kolon. Tesis, Universitas Diponegoro, Magister Ilmu Biomedik, Semarang.
  4. Berg, J. J., & Deneer, R. H. (2012). Celery morphology. Patent No. US 20120164304 A1. Amerika Serikat.
  5. Brands, S.J. (ed.), 2017. Genus Apium™ C. Linnaeus, 1753. Dalam Systema Naturae 2000. The Taxonomicon. Universal Taxonomic Services, Zwaag, Belanda. [http://taxonomicon.taxonomy.nl/TaxonTree.aspx?id=5093&tree=0.1&syn=1]. Diperoleh tanggal 11 September 2017.
  6. Helaly, A. A., El-Refy, A., Mady, E., Mosa, K. A., & Craker, L. (2014). Morphological and Molecular Analysis of Three Celery Accessions. Journal of Medicinally Active Plants , 2 (3-4), 27-32.
  7. Himalaya. (n.d). Herbal Monograph: Celery. Retrieved September 12, 2017, from Himalaya: http://www.himalayawellness.com/herbalmonograph/celery.htm#3
  8. Integrated Taxonomic Information System (ITIS). “Apium graveolens L.”. ITIS Report. Diperoleh tanggal 11 September 2017 dari Integrated Taxonomic Information System (ITIS) (http://www.itis.gov).
  9. Iqbal, M., & Sulistyorini, E. (n.d.). Seledri (Apium graveolens L.). (UGM Farmasi) Retrieved September 11, 2017, from Cancer Chemoprevention Research Center: http://ccrc.farmasi.ugm.ac.id/?page_id=225
  10. Kadam, S. S., & Salunkhe, D. K. (1998). Celery and Other Salad Vegetables. In D. K. Salunkhe, & S. S. Kadam (Eds.), Handbook of Vegetable Science and Technology: Production, Composition, Storage, and Processing (pp. 523-532). New York & Basel: Marcel Dekker, Inc.
  11. Lansdown, R.V. 2013. Apium graveolens. The IUCN Red List of Threatened Species 2013: e.T164203A13575099. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2013-1.RLTS.T164203A13575099.enDiperoleh tanggal 11 September 2017.
  12. Materi Pertanian Terpadu Online. (n.d.). Klasifikasi dan Morfologi Seledri. Retrieved September 11, 2017, from Materi Pertanian Terpadu Online: http://www.materipertanian.com/klasifikasi-dan-morfologi-seledri/
  13. Shapiro, Leo. 2012. “Apium graveolens L.: Brief Summary.” In Leo Shapiro. Diperoleh tanggal 11 September 2017, tersedia di Encyclopedia of Life, http://eol.org/data_objects/21078340
  14. USDA, NRCS. 2017. The PLANTS Database (http://plants.usda.gov, 11 September 2017). National Plant Data Team, Greensboro, NC 27401-4901 USA.
  15. Wikipedia (Bahasa Inggris), “Celery”. Diperoleh tanggal 11 September 2017 dari Wikipedia (https://en.wikipedia.org/wiki/Celery)
  16. Wikipedia (Bahasa Indonesia), “Seledri”. Diperoleh tanggal 11 September 2017 dari Wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Seledri)

Katalog Tanaman Sayurankita
Nomor: 001/A-g-L/29/I/17
Editor: Manshur Zikri

Pertama kali dimuat: 29 Januari 2017
Revisi ke-1: 11 September 2017
Revisi ke-2: 12 September 2017