Cerita di Balik Inisiatif Sayurankita

Saya adalah anak ketiga dari lima bersaudara, yang sengaja menerjunkan diri ke dunia pertanian. Bukan berarti saya sudah ahli dalam dunia pertanaman atau dunia cangkul mencangkul. Tahu dunianya, iya…! Tapi, sudah bisa menanam…? Itu perlu diuji…! Hehehe…! Mimpi yang saya bawa ketika menerjunkan diri ke institusi pertanian adalah mepunyai seluas kebun yang kece..! Pelan, tapi tetap istiqomah, dan… voilà! Kesempatan untuk memiliki kebun dan mengelolanya sendiri sedang dalam tahap proses menjadi nyata. Apakah oleh saya sendiri…? Tentu tidak. Saya menjelma menjadi kita.

Yoi…! Kita.

Sekadar introduksi, foto keluarga Jufri Hasan.
Sekadar introduksi, ini adalah foto keluarga Jufri Hasan.

Bermula dari hasil diskusi dengan si abang sulung[1] yang berbicara ini dan itu di Bogor, Februari lalu. Pandangannya memberi semangat kepada saya, bahwa sekarang adalah waktunya untuk mulai melangkah mewujudkan mimpi yang samar-samar itu. Memiliki kebun dan mengelolanya sendiri. Bukan sebagai pekerja, tetapi menjadi pemiliknya. Rasanya, itu seperti bermain di atas awan. Hehehe…! Ada si abang nomor dua[2] yang memberikan inspirasi, bahwa sayuran dengan sistem hidroponik itu sangat mungkin ditanam di daerah dataran rendah yang panasnya minta ampun, seperti Pekanbaru, Riau. (Soalnya, dia sendiri sudah mencoba lebih dulu dua tahun yang lalu.)

Tidak hanya si abang sulung yang seorang engineer, ada juga si bocah yang “gila”[3] di dunia media dan pengarsipan yang akan membantu mengabadikan setiap langkah dari cerita ini. Bukan hanya untuk orientasi bisnis, tetapi lebih dari itu. Ini juga merupakan proyek untuk menyebarkan pengetahuan (tentang pertanian, terutama), semangat positif, dan kebaikan. Ya, karena hidup terlalu singkat jika hanya memikirkan bisnis dan uang. Ada si bungsu[4] yang membantu dalam merapikan data-data, menghitung ini dan itu, dan dokumentasi.

Suasana ketika mengamati Pak Tukang membuatkan lahan untuk kebun mini Sayurankita.
Suasana ketika mengamati Pak Tukang membuatkan lahan untuk kebun mini Sayurankita.

Dan tentu saja, Ayah. Ternyata, kegiatan ini mengembalikan jiwa mudanya untuk melakukan ini dan itu, membangun rumah sederhana untuk Sayurankita. Ada Ibu, yang selalu menemani Ayah, dan selalu bersedia membuatkan kopi dan es teh untuk Ayah dan para tukang yang membantu membangun ruang kebun.[5]

See? I’m not alone! Banyak tangan dan kaki di belakang saya yang membantu untuk menciptakan petualangan Sayurankita.

Ini baru langkah pertama. Tidak ada cerita untuk mundur. So, just do it together…! Just see what will happen tomorrow!

Pekanbaru, 1 April 2016
Afifah Farida, M.Si.

 

Catatan Kaki

[1] Fauzan Hanif, lulusan S1 Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Dia kini telah berkeluarga dan tinggal di Korea Selatan.
[2] Hauza Syaukani, lulusan S1 Fakultas Psikologi, Universitas Islam Riau. Dia kini telah berkeluarga dan tinggal di Pekanbaru.
[3] Manshur Zikri, lulusan S1 Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia. Dia kini aktif berkegiatan di Forum Lenteng, Jakarta, sebagai penulis.
[4] Ade Surya Tawalapi, lulusan S1 Sastra Rusia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Ia kini tinggal bersama saya di Pekanbaru, membantu membangun usaha Sayurankita.
[5] Jufri Hasan (Ayah) dan Jamalia Farida (Ibu), pasangan yang melahirkan kami berlima. Tinggal di Pekanbaru, telah pernah mencoba berbagai usaha (kata lain: berdagang. Mulai dari menjual tepung, usaha toko listrik, hingga warnet, tetapi selalu gagal di tengah jalan). Namun, selalu bahagia dan berhasil menyekolahkan semua anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.