Hidroponik (Bag. I)

Konten : Afifah Farida

 

Perkenalkan! Aku Hidroponik!

Salam kenal! Aku hidroponik. Sekarang, aku banyak digunakan oleh para petani, para hobbies, dan para pengusaha bisnis pertanian. Menurut ceritanya, aku akan menjadi suatu teknologi yang akan merajai dunia pertanian, loh…! Aku tidak seaneh yang kalian bayangkan. Percaya, deh…! Di sini, akan kubeberkan siapa diriku sebenarnya, supaya kamu tahu dan mau membawaku ke rumahmu untuk menjaga persediaan dapurmu. Oke…? Yuk, mari…!

Aku, si Hidroponik, dikenalkan oleh W.F Gericke[1] dari University of California pada era ‘30-an. Gericke sebenarnya tidak sengaja menemukanku. Waktu itu, dia sedang melakukan percobaan mengenai hara tanaman yang kemudian disebut dengan nutrikultur, yang sekarang orang-orang lebih mengenalnya dengan namaku, ‘hidroponik’. Kata ‘hidroponik’ itu sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu hydro yang berarti ‘air’ dan ponos yang berarti ‘kerja’. Jadi, arti namaku secara ilmiah adalah suatu cara budidaya tanaman tanpa media tanah, tetapi menggunakan media yang lain seperti pasir, kerikil, sekam bakar, cocopeat (sabuk kelapa) kemudian diberikan larutan hara yang mengandung semua nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Resh, 1998),

Dari cerita Savage (1985), aku mempunyai beberapa saudara. Ya, aku tidak lahir sendirian. Dilihat dari silsilah sistem pemberian airnya (irigasi), kami, komplotan hidroponik, dikelompokkan menjadi dua. Pertama, sistem hidroponik terbuka, yakni sistem atau cara ketika larutan hara yang diberikan tidak kembali, contohnya seperti irigasi tetes. Itu, loh, air yang diteteskan melalui selang-selang kecil, langsung ke sekitar tanaman…! Kedua,  sistem hidroponik tertutup, yakni sistem atau cara ketika larutan hara yang diberikan masih bisa dimanfaakan kembali dengan cara resirkulasi. Contohnya, aquarium, tetapi berisi larutan hara dan di atasnya ada tanaman, biasa dikenal dengan sebutan THST atau teknologi hidroponik sistem terapung.

Nah! Kalau dilihat dari silsilah penggunaan media tanam, bangsaku dibagi menjadi: (1) Substrate system dan (2) Bare system.

Bingung? Oke, aku jelaskan sedikit lagi.

Substrate system merupakan sistem hidroponik yang menggunakan media tanam untuk membantu pertumbuhan. Perkembangan tanaman dan akarnya tidak terlihat. Soalnya, tertutup oleh media tanam itu sendiri. Berbeda dengan Bare system yang akarnya kelihatan. Ya, bare system adalah sistem hidroponik yang membiarkan akar tanaman bebas terlihat, seperti aeroponik yang menggunakan kabut larutan hara, atau seperti sistem THST yang akar tanamannya menyentuh larutan hara.

Aneh, gak, sih, kenapa aku bisa membuat tanaman hidup tanpa tanah…? Ya, iyalah…! Hidroponik gitu, loh! Hehehe…

Seperti kata Gericke, cikal bakal aku lahir berangkat dari uji coba hara tanaman. Jadi, tanah bukanlah satu-satunya media yang menyediakan hara untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ternyata, untuk pertumbuhan dan perkembangannya, tanaman hanya membutuhkan keseimbangan empat unsur penting, yaitu hara, media tanam, air, dan matahari. Jadi, selama empat unsur itu terpenuhi, voilà…! Tanaman-tanaman itu dapat tumbuh tanpa tanah.

Penasaran mengapa aku, si Hidroponik, disebut-sebut sebagai teknologi yang bisa merajai dunia pertanian?

Sini, sini…! Simak ceritaku!

Selama ini, kita hanya mengetahui bahwa tanaman, atau pertanian itu sendiri, hanya berkisar pada lahan. Arti lahan dalam konteks ini adalah tanah. Sebab, dari zaman dahulu, tanah memang satu-satunya media tanam yang dianggap dapat membuat semua tanaman tumbuh dan berkembang dengan baik. Yap…! Tapi itu zaman dahulu, ketika bumi masih muda, ketika tanah-tanah di bumi masih perawan dan mengandung banyak hara untuk tanaman.[2]  He-em! Aku ulangi, ya! Dulu, tanah sangat banyak tersedia dan menyediakan nutrisi yang cukup untuk tanaman. Kondisi itu berbeda dengan sekarang. Tanah-tanah mulai beralih fungsi. Bukan lagi hanya untuk menanam tanaman, tetapi juga untuk menanam beton. Belakangan, tanah-tanah lebih banyak difokuskan untuk perkembangan kawasan industri. Dengan semakin berkembangnya kawasan industri-industri tersebut, muncul dampak negatif yang luar biasa. Tidak hanya kekurangan lahan, tetapi kini kita juga menghadapi situasi buruk terkait ketersediaan air dan kondisi lingkungan bumi sebagai dampak dari penggunaan tanah semacam itu.

Mari kita cek beberapa data yang ada di Indonesia! Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013, Indonesia kehilangan nyaris 100.000 hektar lahan pertanian setiap tahun karena tanah-tanah itu beralih fungsi menjadi kawasan nonpertanian, terutama menjadi kawasan industri, perumahan, dan perluasan kota. Data dari RTRW  Kabupaten Lombok Tengah, bahkan, menyajikan informasi bahwa alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian, hingga tahun 2013, telah mencapai 1,4-1.,5% atau 3,09 juta hektar dari 7,8 juta hektar (BPS, 2014). Di Jambi, luas lahan untuk tanaman pangan berkurang seluas 85.750 hektar atau 29,74% pada tahun 2008 (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2009). Banyak data-data tentang alih fungsi lahan pertanian yang menunjukkan gejala-gejala yang pada akhirnya secara perlahan menggusur usaha pertanian.

Selain data tentang lahan pertanian yang kian tergusur, ada juga beberapa data tentang ketersediaan air yang juga semakin menipis.[3] Seperti yang kita tahu, iklim saat ini sangat memengaruhi ketersediaan air. Di musim kemarau, tidak sedikit daerah-daerah yang mengalami kekeringan. Berkurangnya ketersediaan air juga diakibatkan oleh banyaknya sungai-sungai yang tercemar oleh limbah. Penelitian  Faishal (2013) menyimpulkan bahwa ketersediaan air di Bendung Boro, Purworejo, pada musim hujan adalah 26.517,71 liter/detik, sedangkan pada musim kemarau hanya 354,33 liter/detik. Hasil evaluasi penelitian tersebut menunjukkan bagaimana kebutuhan dan ketersediaan air untuk pertanian (padi) mengalami defisit air pada musim kemarau.

Dengan teknologi hidroponik, ketersediaan lahan yang semakin tergusur dan keterbatasan air, dapat kita atasi. Sebab, aku, si Hidroponik, tidak membutuhkan lahan yang begitu luas. Perbandingannya adalah, jika populasi sayuran di atas tanah, dalam satu meter persegi, hanya terdiri dari 25 tanaman, sistem hidroponik dengan luas area yang sama dapat memuat 100 tanaman. Hebat, ‘kan? Kok bisa? Rahasianya, sistem lahanku ini bisa dikonstruksi secara bertingkat, seperti rumah susun.

Selain itu, kamu jangan khawatir! Meskipun aku, si Hidroponik, adalah sistem yang memerlukan bahan utama air, aku tetap bisa lebih berhemat daripada sistem pertanian konvensional. Mengapa? Karena, sistem hidroponik memang dirancang untuk memberikan hara dan air sesuai kebutuhan tanamannya. Jadi, tidak akan ada air yang terbuang karena tidak terpakai oleh tanaman. Aku berikan contoh sederhana, misalnya NFT atau Nutrient Film Technique. Si NFT ini mengalirkan air yang telah dicampur hara (atau larutan hara) ke akar-akar tanaman sehingga hara bisa diserap. Larutan hara tersebut secara terus-menerus dialirkan agar kebutuhan oksigen untuk tanamannya juga terpenuhi. Dengan demikian, tak ‘kan ada air yang terbuang. Pada akhirnya, semua air dan hara tersebut digunakan oleh tanaman.

Maka, kita perlu berterima kasih kepada Paman Gericke yang telah menemukanku. Dia yang berhasil mematahkan mitos bahwa pertanian itu sama dengan mencangkul di tanah. Dia berhasil menyatukan kebutuhan air dan hara dalam satu langkah. Hehehe…!

Oh, iya! Masih ada satu lagi kelebihanku. Selain tanpa tanah, hemat lahan, dan hemat air, sayuran atau tanaman apa saja yang ditanam menggunakan teknologiku ini, dijamin bersih, deh! Percaya, ‘kan? Iyalah! Aku, ‘kan mainnya di air, bukan di tanah!

Terakhir, dengan menggunakan sistemku, para tanaman dapat tumbuh optimal. Aku adalah sistem yang memang menekankan efisiensi, menyediakan asupan gizi bagi tanaman sesuai kebutuhannya. Aku juga bisa mencegah hama dan penyakit tanaman yang berasal dari tanah sehingga tanaman-tanaman itu bisa tumbuh dengan sehat.

Kira-kira, begitulah aku bekerja. Semoga, dengan ceritaku ini, kamu jadi lebih tahu siapa Hidroponik dan mengapa kamu perlu untuk mulai menanam dengan sistem hidroponik.

Oke…? Yuk, mulai menanam!

Menanam itu nggak perlu lahan luas, kok! Menanam itu cuma perlu kemauan. Ya! Kemauan untuk menanam.

Salam,
Sayurankita

Catatan Kaki
[1] Sebenarnya, sejak 1920-an, istilah “hidroponik” telah digunakan oleh Gericke. Ia mengembangkan sebuah teknik yang “dipelopori oleh ilmuwan Jerman Sachs pada tahun 1860 dan Knop antara tahun 1861 dan 1865, menjadi sarana komersial produksi tanaman.” Lihat “Hydroponics”, di situs web Baker County Extension, University of Florida, http://baker.ifas.ufl.edu/Ag/hydroponics.html. Diakes pada 6 April, 2016.
[2] Perlu diketahui, pengertian hara adalah nutrisi bagi tanaman.
[3] Indonesia memang dikelilingi lautan. Tapi jangan salah paham! Air laut tidak bisa kita gunakan untuk pertanian.


Bibliografi

Faishal, A. (2013). Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air untuk Pertanian Daerah Irigasi Boro Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah. Skripsi, Universitas Gajah Mada, Fakultas Geografi, Yogyakarta.

Resh, H. M. (1998). Hydroponic Food Production: A Definitive Guidebook Of Soilless Food-Growing Methods (Edisi ke-5). Santa Barbara, California, Amerika Serikat: Woodbridge Press.

Savage, A. J. (1985). “Overview: Background, current situation, and future prospect”. Dalam A. J. Savage (Penyunt.), Hydroponics Worldwide: State of the Art in Soilless Crop Production (hal. 6-11). Honolulu: Intl Center for Special Studies.

Data-data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Diakses secara online.

 

Penyunting : Manshur Zikri