Masa Depan (Hubungan) Petani dan Tanahnya

Perdana Putri adalah lulusan S1 Sastra Rusia Universitas Indonesia. Di tahun 2017, ia mendapatkan beasiswa Predoctoral Research Fellow Scholar and Research Support Foundation, sebelum menjadi kandidat PhD secara penuh dari Departemen Sosiologi, Northwestern University, Evanston, Amerika Serikat. Minat risetnya adalah transmigrasi, studi agraria, gender, dan teknologi.

Artikel review ini sudah pernah dimuat di blog Laba-Laba Kuning dengan judul yang sama; dimuat kembali di web Sayurankita atas izin penulis. Redaksi menyunting beberapa bagian (terkait tanda baca) demi menyesuaikan ketentuan redaksional web Sayurankita.

 

Agar tidak (terlalu) menjadi demagog di negeri orang dengan duit segambreng dan menjadi borjuis mini berotak kopong, saya memutuskan membaca lebih agresif bahan-bahan riset kelak, bahkan jika artinya membaca ketika khatib shalat Ied sedang membacakan daftar sumbangan. Plus blog ini sudah lama tidak aktif, dan membaca tanpa mengulas hanya membuat saya menjadi gila dan academia obscura sampah otw-gulag par excellence.

Beberapa hari sebelum takbiran, di Depok Town Square saya membeli buku Dinamika Kelas Dalam Perubahan Agraria karya ‘agrarista’ papan atas Henry Bernstein. Buku terbitan Insistpress di Jogja ini tebalnya (termasuk daftar pustaka) hanya 160 halaman. Buku yang bisa diselesaikan dalam kurung waktu 3-4 jam secara serius, pikir saya. Tapi manusia memang hanya bisa berencana, dan kebodohannyalah yang menentukan. Nyatanya buku ini selesai dalam waktu dua hari, dengan banyak sekali catatan di kanan kiri paragraf dan garis bawah. Ada dua alas an: pertama, rupanya saya memang masih awam sekali dengan teks-teks agraria ‘hardcore’ seperti ini; yang kedua, tulisan Bernstein juga amat padat dan tidak terlalu bertele-tele. Ide Jun Borras untuk menerbitkan ‘buku kecil dengan ide besar’ pada seri kajian Petani dan Perubahan Agraria ini patut diapresiasi. Kredit juga perlu saya berikan kepada tim penyunting dan penerjemah. Apik sekali dan cukup halus. Typo-nya cuma satu kata.

Beberapa Sorotan Penting

Secara umum, Bernstein mengimplementasikan perspektif ekonomi (dan sosiologi) Marxist dalam studi agraria. Sebenarnya pertanyaan utama dari buku tipis yang membuat kepala kewer-kewer ini adalah ‘apakah petani bisa dilihat sebagai kelas sosial tersendiri?’ (hl. 102). Sebenarnya pertanyaannya banyak sekali, dan lebih tepatnya tiap bab dibimbing oleh banyak pertanyaan dari Bernstein. Namun, pertanyaan sebelumnya itu agak menarik karena dinamika dan diferensiasi kelas dalam reforma agraria adalah persoalan kunci dari para studi agraria Marxist.[1]

Pertanyaan dasar tentang siapa petani dan di mana ia di dalam politik kelas memang bukan hal yang baru. Pula memakai Marxisme dalam studi agraria juga menjadi perdebatan sejak berdekade yang lalu dengan premis bahwa Marx ‘anti terhadap petani’ seperti karya David Mitrany (Marx Against Peasants, 1951) maupun dari James Scott yang cukup terlihat mengejek bahwa alih-alih pekerja (pabrik-perkotaan), perubahan-perubahan revolusioner secara signifikan datang dari petani. Terlepas benar dan tidaknya (dan sungguh kita tidak sebaiknya tertarik dengan menjawab benar-salah ini), buku kecil Dinamika Kelas berupaya meletakkan persoalan kelas dalam teori Marxist untuk mengurai permasalahan petani dan tanah yang menyejarah hingga sekarang di bawah panji kapital.

Sederhananya, tidak ada petani sebagai kelas sosial tersendiri bagi pengkaji Marxist agraria. Sebab, definisi kelas bagi Marx adalah “relasi sosial produksi antara kelas-kelas produsen (tenaga kerja) dan kelas-kelas nonprodusen” (hl. 156). Dengan demikian, menempatkan petani sebagai kelas tersendiri dianggap (setidaknya oleh buku ini) mengabaikan bagaimana hubungan petani dengan tanahnya. Mengingat petani sendiri bukanlah suatu termin yang homogen. Ada petani penguasa, menengah, dan miskin/marjinal (hl. 123) yang masing-masing saling berkontestasi dan mengalami bentrok kelas sebagai ‘produsen’ (petani kaya) yang menguasai nonprodusen-nya (petani menengah dan/atau miskin) dalam berbagai bentuk seperti kerja upahan di lahan pertanian, pajak sewa tanah, dan lain-lain.

Membawa persoalan petani di kompleksitas kelas juga merupakan tawaran Bernstein untuk melihat relasi predatoris antara kapital dan petani tidak hanya dalam kerangka (sosiologi) ekonomi. Hal ini penting diajukan agar kita tidak terjebak dengan logika bahwa sejarah dan antagonisme kelas hanya dapat didorong oleh kepentingan kapital (hl. 136). Melihat kelas berarti memahami bahwa penguasaan dan resistensi ekonomi petani terhadap kapital (misalnya, dengan keukeuh semekeuh menjadi petani subsisten) juga dapat hadir karena pertarungan politik dan ideologis (hl.136). Sebab, pertarungan kelas hanya ada jika telah terjadi perebutan kelas-ketika petani berusaha mengamankan posisi kelasnya sesuai kebutuhan dan kapasitasnya terhadap tanah.

Memahami bahwa petani tidak hadir dalam kelas sosial tersendiri juga dapat menuntut kita untuk menjawab pertanyaan seperti kenapa dalam struktur agraria tertentu, resistensi bisa hadir/tidak hadir (hl.144). Ini adalah pendekatan yang jauh berbeda dari ekonomi politik radikal yang menganggap petani adalah kelas sosial tersendiri yang dieksploitasi oleh rezim pangan global (korporat).[2] Sehubungan dengan rezim pangan global/internasional ini, Bernstein beranggapan bahwa kehadiran rezim komoditas pangan tersebut dialami secara berbeda-beda oleh banyak petani (hl.6, sebagai tuturan petani menanggapi isu tersebut), inilah materialitas pendekatan Marxist dan teori kelasnya terhadap petani; tidak selamanya hubungan itu berbasis eksploitasi oleh rezim pangan (korporat, Monsanto FTW!). Bernstein juga secara gamblang membahas rezim developmentalisme/pembangunanisasi yang dipimpin oleh negara, yang tidak serta merta jatuh dalam logika negara adalah abstraksi dari pasar itu sendiri (hl. 84).

Hal menarik lain yang perlu diperhatikan adalah kejelian membaca sejarah untuk menunjukkan bagaimana proses pergerakan kapital dan resistensi petani membentuk pola-pola penguasaan tanah dan perubahan agraria di suatu masyarakat (secara khusus Bernstein menyorot kolonialisme, Bab 2 hingga Bab 5). Pengungkapan sejarah ini cukup penting dalam memahami bagaimana pandangan Marxisme yang sering dituduh tidak favor kepada petani. Walaupun di Kapital I Marx menjelaskan bagaimana penghancuran sistematis konsep-konsep hidup subsisten dan hubungan petani dengan tanahnya yang dimasukkan ke dalam properti privat, alih-alih sebagai garapan kolektif (“ko-operasi non-kapitalis”) hadir sebagai bentuk “prasejarah kapital”.[3] Penghancuran hubungan petani ‘pre-kapitalis’ ini menjadi pintu kapital dalam akumulasi modalnya dalam skala global sepanjang sejarah. Formasi kapital kontemporer hari ini perlu dipahami dan dijelaskan garis historisnya secara kritis, ditilik dari perubahan agraria yang terjadi di berbagai level dan tempat (hl. 48-56).

Beberapa Catatan

Ada tiga hal yang menjadi pikiran saya selama dan setelah membaca karya kecil tentang ide besar ini. Pertama, dalam subjudul “Beberapa ‘Hambatan’ Terhadap Pertanian Kapitalis”, Bernstein berpendapat bahwa dinamika sosial produksi yang ditemukan dalam konsep petani “keluarga” dapat menjadi penyebab “gagalnya kapitalisme agraria” (hl.107). Sebab, pertanian kapitalis modern dicirikan dengan “penyederhanaan”, “standardisasi”, dan “percepatan” proses alamiah (dalam bertani) sebisa mungkin (hl. 105). Menggunakan petani keluarga tidak sejalan dengan proses tersebut. Walau ia menyempitkan di contoh Eropa, ada baiknya kita memilah konteks Indonesia untuk memproblematisir klaim kegagalan kapitalisme agraria tersebut. Setidaknya, dalam konteks transmigrasi (dengan komoditas apa pun, dan di sini saya akan bicara sawit), petani keluarga tidak terlalu menjadi hambatan untuk proses akselerasi tersebut, setidaknya untuk beberapa hal:

  1. Penyederhanaan dengan ditetapkannya skema spasial di mana banyak situs transmigrasi bersandingan dengan perkebunan korporasi sebagai distributor. Dengan lahan konsesi 10.000 ha, 20% kebun di situs Transmigrasi Kandis dimiliki dan jalurnya diatur oleh sebuah korporasi sawit yang pabriknya tidak jauh dari sana.
  2. Standardisasi bibit, pupuk, dan cara memperlakukan komoditas yang harus seragam
  3. Percepatan adalah konsep yang diklaim menjadi antitesa pertanian kapitalis untuk petani keluarga, tapi percepatan di sini dapat dengan mudah digantikan dengan penyerapan nilai lebih buruh perkebunan, khususnya jika kita melihat relasi kekuasaan gender dalam pengelolaan kelapa sawit. Belum lagi jika kita dengan ngotot, dengan kacamata feminis, bagaimana reproduksi sosial yang diciptakan keluarga dan kaum perempuan sejatinya, dalam kapitalisme kontemporer, turut berkontribusi dalam jalannya moda produksi kapital (di perkebunan).

Artinya, tiga hal yang mencirikan kapitalisme pertanian modern tersebut bisa jadi tidak terbatas hanya pada proses alamiah komoditasnya sendiri. Namun juga pada seluruh assemblage perkebunan tersebut, terkhusus kepada labour value (nilai kerjanya).  Terlebih jika kita mencirikan kapitalisme sebagai sebuah “sistem produksi dan reproduksi yang didasarkan pada relasi sosial antara kapital dan buruh” di mana kapital mengeksploitasi buruh untuk laba dan akumulasi, dan buruh ‘harus’ bekerja untuk pemodal agar mampu bertahan hidup (hl.1). Perkara bagaimana petani keluarga bisa menjadi ruang resistensi sendiri karena ia dianggap tidak memenuhi syarat mutlak untuk jadi pertanian kapitalis modern dapat dibahas di konteks yang lain.

Perlu dicatat Bernstein juga mempersoalkan klaim petani keluarga sebagai penyebab kegagalan kapitalisme agraria (hl107-112). Namun, ia menggunakan istilah ‘ambiguitas’ untuk memproblematisir premis di atas dan menggunakan penelitian Chayanov untuk menjelaskan eksploitasi yang terjadi, terkhusus dalam penghisapan nilai lebih kerja petani keluarga di perkebunan. Namun, jika ditilik dari perspektif feminis, petani keluarga (heteronormatif, karena Bernstein menyinggung konsep hak waris dalam keluarganya) justru bisa menjadi bentuk kapitalismenya tersendiri, mengingat ada perampasan nilai di kerja-kerja ‘domestik’ (reproduksi sosial) yang tidak dianggap sebagai ‘kerja’, hingga bangunan keluarganya (heteronormatif-patriarki) yang secara ontologis adalah tubuh kapitalisme itu sendiri.[4]

Kedua, ini mungkin kurang penting, tapi Bernstein berkali-kali menggunakan istilah ‘skala’ untuk menjelaskan seberapa besar-kecil suatu pertanian. Dan cukup membingungkan karena di tiap entitas, skala bisa berbeda-beda; (terutama) luas tanah, kompleksitas mesin yang dipakai dalam pertanian, dll. Di penghujung buku, Bernstein mengemukakan bahwa dalam kapitalisme modern, skala yang tepat adalah “kapitalisasi: jumlah kapital yang dibutuhkan untuk membangun usaha tani dengan tipe berbeda dan untuk reperoduksi mereka.” (hl. 109). Bagi saya, konsep skala ini masih terlalu wagu, dan saya mencoba menawarkan konsep skala dalam pemikiran geografer Marxist bernama Neil Smith.

Skala (spasial) amat penting untuk menjelaskan apa yang Smith sebut ‘pengorganisiran proses’[5] untuk memproduksi ‘ruang-ruang’ kapitalistik dan ketimpangan pembangunan (yang juga menjadi isu sentral dalam studi agraria). Walau Bernstein menjelaskan (tidak terlalu jelas?) konsep skala yang ia pakai dengan termin ‘kapitalisasi’ tadi, tetapi ‘jumlah kapital’ adalah hitung-hitungan rumit tanpa ada preseden maupun indikator tertentu sejumlah apa kapital yang pantas dibilang ‘lebih besar’ daripada proses kapitalisasi yang lain. Skala (spasial) ala Smith dibagi menjadi tiga:

  1. Skala urban[6]; tempat di mana terjadinya diferensiasi dan sentralisasi pembangunan di perkotaan. Jika ini dirasa tidak ada hubungannya dengan agraria, mari kita berpikir ulang; Bernstein menjelaskan bagaimana proses perebutan tanah dan penghancuran relasi antara petani dan tanah sebagai prelude dari kapitalisasi pertanian dan dimulainya ‘agribisnis’ dan ‘budidaya tani’ dari ‘pertanian (kolektif dan subsisten). Ini adalah diferensiasi pertama yang membuat petani lama kelamaan akan mengalami ‘proletarianisasi’ dan/atau menjadi ‘buruh’ (labour) bagi para pekerjanya (dimulainya pasar kerja). Dalam skala urban kita juga akan melihat gerak arus kapital dengan bagaimana komoditas (baik tanah maupun tanamannya) bergerak di ruang-ruang spekulasi dan pendisiplinan administratif tentang pembedaan ‘desa’ dan ‘kota’.
  2. Skala global; tempat terjadinya ‘ekualisasi’/penyamarataan dari proses diferensiasi tadi, di mana kapital akan mencari ruang baru untuk menanamkan dirinya (kolonialisme adalah contoh yang baik; bagaimana negara-negara koloni diatur sedemikian rupa untuk menjadi penghasil komoditas semata untuk penjajahnya [hl.66] dengan biaya produksi yang minim)
  3. Skala bangsa-negara; jika dua skala sebelumnya ada pada fondasi ekonomi, maka skala bangsa-negara ini lebih bersifat politik, dan tidak terlalu berurusan dengan proses diferensiasi maupun ekualisasi, dengan kontestasi kekuasaan seperti perang dan kompromi.[7] Karena negara koloni di suatu titik akan terasa sangat merepotkan untuk diatur oleh para penjajah, maka kekuasaan tersebut harus dipecah sembari menjaga hierarki yang sudah ada. Bernstein menemukan contoh dengan lahirnya tuan tanah, tengkulak, zamindar di India, kepala klan (Chief) di Afrika, hingga Hancendado di Ekuador.

Tentu telah banyak kritik terhadap skala Smith di atas[8], tetapi debat mengenai skala tetap penting sebagai ruang konkret maupun abstrak di mana kapitalisme menempel dan berkembang layaknya plak. Skala yang jelas akan dapat memberikan rasionalisasi mengapa mobilitas kapital dapat berkontribusi kepada “dinamika kelas” di pedesaan.

Hal ketiga adalah tema diferensiasi dalam studi agraria. Tema tersebut memang sangat membantu menjelaskan kemelut studi agraria di pedesaan, tetapi setelah semua kelas, hierarki, dan pembedaan itu, di manakah posisinya dalam kesatuan (assemblage) kapitalisme di sektor pertanian dan suplai rantai global (khususnya di isu makanan?). Kita dapat melihat diferensiasi dibentuk oleh skala global kapitalisme, tetapi bagaimana jika pecahan-pecahan tersebut ditarik, dihimpun, kembali ke dalam akumulasi modal gila-gilaan di level dunia (world-scale)? Tidak ada yang benar-benar baru dalam perampasan, penghisapan nilai lebih, dan penjajahan, dan assemblage adalah usaha untuk memahami wacana lama tersebut di hasil yang ‘baru’ (deploying existing discourse to new ends)[9] kapitalisme.

Pemaparan Bernstein juga tidak mungkin dibaca secara linear, tapi dalam pola rizomatik di mana ketidaklinearan variabel, indikator, dan sejarah tersebut menuju suatu pengarahan kapital, yang apa pun tujuannya disesuaikan dengan kondisi material hari ini.

Secara umum, buku Bernstein bisa menjadi wajib baca bagi pengkaji studi agraria khususnya yang ingin memahami lebih lanjut bagaimana kacamata Marxisme memandang topik tersebut. Pembacaan historis yang detil dan kritis, serta ‘kengototan’ Bernstein untuk menarik masalah agraria ke basis materialnya yang paling nyata, relasi petani (penggarap/pekerja) dan tanahnya (moda produksi) adalah pengingat penting di era rezim haus tanah; alih-alih terjebak dengan kenaifan atas kebijakan pertanahan yang adil dan janji di atas angin akan pembebasan tanah sembilan juta hektar yang entah untuk siapa.

 

Depok-Tebet, 24-27 Juni 2017

 

Endnotes:

[1] Cousins, B dan Scoones, I. 2010. Contested Paradigms of Viability in Redistributive Land Reform: Perspectives from Southern Africa. Journal of Peasant Studies, Vl. 37 No.1. Hl. 38.

[2] Ibid, hl.37.

[3] Marx, K. 1990. Capital Vol. I. Penguin: London. Hl. 927-928.

[4] Tentu saja ini merujuk pada buku Engels (2011), “Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara”. Jogja: Kalyanamitra.

[5] Smith, N. 2008. Uneven Development: Nature, Capital, and The Production of Space. Athens: University of Georgia Press. Hl. 180.

[6] Urban di sini tidak berarti ‘kota’, melainkan sebuah proses gerak dan arus kapital di daerah-daerah ‘desa’ dan/dari/ke ‘kota’. Lihat Smith (2008), 181-185.

[7] Ibid. Hl. 190.

[8] Silakan lihat http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/anti.12254/full

[9] Li, T. 2007. Practices of Assemblage and Community Forest Management. Economy and Society, Vl. 36 No.2, 263-293. Hl.3