Jaran Dongol

Penulis: Afifah Farida
Penyunting: Manshur Zikri

 

“Saya akan merasa keren kalau bisa berdiri di atas itu!” seru Hamdani ketika Sikar melewati kami.

“Awas, ada sikar!” teriakan seorang ibu terdengar tidak jauh setelah sikar meninggalkan kami, meneriaki anak-anaknya yang sedang bermain seru di jalanan kampung dan tidak memperhatikan sekitarnya.

Sebuah jaran dongol, atau sikar, melintas di jalanan setapak di Gili Meno. (Foto: arsip Aksara Tani).

Beberapa hari belakangan, mendekati tahun baru, sikar menjadi lebih sering melewati jalan-jalan kampung di Gili Meno. Karena memang, selain Gili Meno sedang disibukkan oleh pembangunan jalan kampung dari PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat), waktu-waktu itu adalah momen yang pas untuk melakukan pembenahan bangunan, atau membangun bungalow atau restoran baru. Menurut Ace, pemilik rumah singgah The This-kon, bulan-bulan menjelang akhir tahun sampai beberapa bulan di awal tahun adalah waktu sepi pengunjung di Gili Meno sehingga dimanfaatkan oleh pengusaha untuk membangun bungalow, menambah kamar, atau hanya sekadar memperbaiki bagian-bagian yang rusak. Tidak heran, jika sikar menjadi lebih sering terlihat menyusuri jalanan, mengangkut material-material dari pelabuhan.

Sikar, atau disebut juga jaran dongol. (Foto: arsip Aksara Tani).

Sikar atau jaran dongol adalah satu-satunya angkutan barang yang akan kita temukan di Gili Meno. Berbeda dengan cidomo, sikar adalah angkutan khusus untuk mengangkut barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Sikar adalah transportasi tradisional yang telah ada sejak zaman nenek moyang yang memang berfungsi untuk mengangkut barang, terutama di daerah pedesaan sebelum kendaraan bermotor masuk, atau di daerah yang tidak terjangkau oleh kendaraan bermotor. Saat ini, sikar hampir punah tergantikan oleh kendaraan bermotor, kecuali di pulau-pulau kecil, termasuk di Gili Meno.

Dua orang warga memindahkan beberapa buah kelapa ke atas jaran dongol. (Foto: arsip Aksara Tani).
(Foto: arsip Aksara Tani).

Berbeda dengan kondisi sikar pada umumnya di daerah lain, yang ditarik oleh dua ekor sapi, sikar di Gili Meno ditarik oleh seekor kuda dan dikemudikan oleh satu orang yang memegang kendali kuda tersebut sambil berdiri di gerobak terbuka yang diikatkan ke kuda. Jumlah sikar di Gili Meno tidak banyak, hampir sama dengan cidomo karena rata-rata pemilik cidomo juga memiliki sikar dan memiliki kelompok yang terpisah dari kelompok cidomo. Sikar di Gili Meno khusus untuk mengangkut barang, seperti barang dagangan dari pelabuhan ke lokasi pemesan, mengangkut material bangunan, mengangkut hasil panen kelapa atau mengangkut sampah. Tidak seperti cidomo yang memiliki aturan kelas, maka sikar akan mengangkut barang tergantung ada-tidaknya carteran.