Sumber Pangan Laut Ketika Air Surut: Mengangsat

Penulis: Afifah Farida
Penyunting: Manshur Zikri
Tulisan ini juga dimuat di www.berajahaksara.org dengan judul “AksaraTani; Sumber Pangan Laut Ketika Air Surut (Mengangsat)“. Dimuat di Sayurankita.com dengan suntingan baru atas izin Yayasan Pasirputih.

 

Hidup di pulau sangat identik dengan laut. Hampir semua menu makanan berasal dari laut, baik ikan, udang, cumi-cumi, bahkan rumput laut. Tidak terkecuali dengan pulau kecil Gili Meno yang sebelum pariwisata masuk, sumber makanan utamanya berasal dari laut. Berbicara pangan laut, bagi masyarakat Gili Meno tidak melulu harus ikan, cumi, atau udang, tetapi juga bembulung (sejenis karang muda yang menempel di karang berwarna keabu-abuan), sisok, gramen (sejenis karang yang mirip rumput laut berwarna coklat), karang ngorak (karang muda berwarna coklat), bulu babi, bok (sejenis bulu babi berwarna merah, hitam, atau putih), kima (sejenis hewan laut yang memiliki cangkang dan berdaging kecil berwarna putih yang dapat dimakan), dan siput laut (sejenis keong) yang dapat diperoleh dengan mengangsat yang hanya bermodal ember kecil dan kayu untuk mengambilnya.

Salah seorang warga Gili Meno sedang mengangsat (mencari bahan pangan laut). (Foto: arsip Aksara Tani).

Jika memancing atau menjaring ikan identik dengan kaum laki-laki, menurut Bang Suldin (salah satu warga Gili Meno), mengangsat identik dengan kaum perempuan, terutama kaum ibu. Mengangsat adalah aktivitas mencari sumber pangan laut ketika air surut. Mengangsat akan dilakukan pada saat purnama ketika air laut surut di pagi hari, dan saat bulan baru ketika air surut pada sore hari. Mengangsat sore biasanya dilakukan oleh pemuda yang pulang dari melaut atau anak-anak yang bermain di pantai.

Menurut Bang Suldin, mengangsat ini sudah ada sejak dulu, mungkin sebelum dia lahir. Bang Suldin bercerita bahwa orang yang hidup di pulau, biasanya sumber makanan utamanya berasal dari laut. Akan tetapi, tidak selamanya nelayan bisa melaut untuk menangkap ikan atau yang lainnya karena ada musim ketika angin dan ombak menjadi besar, seperti musim angin utara (angin yang berasal dari utara). Pada saat musim angin utara, sehebat apa pun nelayan dan pelaut, tidak ada yang akan turun ke laut. Maka, orang-orang pulau akan mencari cara bagaimana agar sumber pangan tetap ada meskipun tidak melaut, salah satunya dengan cara mengangsat—turun ke laut ketika air surut. Meskipun hanya ketika air surut, tetapi setidaknya pada musim angin utara tersebut, masih ada sumber makanan yang dapat dimakan.

Lanskap daerah pantai tempat biasanya warga Gili Meno mengangsat. (Foto: arsip Aksara Tani).

Bang Suldin bercerita bagaimana keseruan mengangsat ketika ia masih kecil: ibu-ibu yang mengangsat membawa nasi panas dan bahan-bahan sambal (cabai, bawang, tomat, dan lainnya) untuk dimakan bersama-sama setelah mengangsat. Hasil yang diperoleh diolah dan dimakan langsung di pantai sambil beristirahat sebelum pulang. Nasi yang dibawa bukan nasi beras, tetapi nasi ubi yang dulunya menjadi makanan pokok di Gili Meno. Sekarang, tradisi mengangsat seperti itu hampir tidak dapat ditemui di Gili Meno. Aktivitas mengangsat saat ini hanyalah berupa kegiatan mencari pangan laut tersebut sampai air laut mulai pasang, lalu pulang dan mengolah hasil angsatan tersebut di rumah masing-masing yang kemudian bisa dibagi-bagi ke tetangga, seperti yang pernah saya temukan di berugak keluarganya Bu Warni—warga Gili Meno lainnya.

Berkurangnya, bahkan menghilangnya, tradisi makan bersama di pantai setelah mengangsat barangkali disebabkan oleh pandangan bahwa saat ini mengangsat bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi hanya untuk memenuhi keinginan dan kerinduan memakan hasil olahan angsatan, seperti Bu Warni yang pada saat itu ingin mengolah bembulung lalu berbagi dengan tetangganya yang sedang berkumpul di depan berugak rumahnya. Karena saat ini, pilihan makanan sudah bervariasi dengan akses yang mudah dan tidak terlalu merepotkan seperti mengolah bembulung (hasil angsatan).

Lanskap daerah tepi pantai saat air laut surut. Terlihat beberapa perahu yang kandas di atas karang. (Foto: arsip Aksara Tani).

Saat mengangsat, kita akan melihat ibu-ibu, kadang bapak-bapak juga, akan berjalan menyusuri pantai menuju ke tengah laut, sampai batas air surut. Hal menarik yang menjadi pertanyaan adalah apakah ketika mengangsat, karang-karang laut tersebut ikut diinjak oleh orang-orang yang mengangsat? Menurut beberapa warga lokal Gili Meno, bembulung, gramen, kerang laut, atau bulu babi, tidak akan ditemui di karang-karang yang masih hidup. Artinya, mereka tidak akan menginjak karang-karang laut yang masih hidup. Warga Gili Meno juga menyadari, bahwa keberlangsungan ekosistem laut berarti juga keberlangsungan hidup masyarakat. Oleh karena itu, dalam mengangsat ini, warga Gili Meno memiliki aturan tidak tertulis, dan dengan secara sadar mengambil sumber pangan tersebut seperlunya saja, hanya untuk skala keluarga, dan tidak untuk dijual. Sebab, menjual hasil angsatan berarti merusak ekosistem laut yang akan berdampak pada keberlangsungan masyarakat pulau. ***