Lokakarya Daur Subur untuk Bakureh Project

DIBUKA pada tanggal 1 Juni 2018, Bakureh Project diawali dengan lokakarya tentang media, seni, dan budaya lokal. Lokakarya itu sendiri difasilitasi oleh program Daur Subur milik Gubuak Kopi.

Berdasarkan amatan redaksi Sayurankita terhadap pelaksanaan lokakarya tersebut, sebagaimana yang dapat ditinjau di situs web Gubuak Kopi dan instagram @gubuakkopi, lokakarya Daur Subur dalam rangka Bakureh Project ini mengundang sejumlah praktisi profesional, seniman, tokoh adat dan tokoh masyarakat, dan budayawan, yang diminta untuk memberikan materi ajar pada kelas-kelas yang diadakan selama lokakarya tersebut. Mereka, antara lain, adalah sebagai berikut:

  1. Albert Rahman Putra, Ketua Umum Gubuak Kopi, yang juga berprofesi sebagai penulis dan kurator. Albert memberikan materi tentang “Sejarah dan Perkembangan Media” (1 Juni) dan “Metode Penelitian” (3 Juni)
  2. Musra Dharizal Katik Jo Mangkuto, salah seorang budayawan Minangkabau, yang memberikan materi pengayaan terkait pengetahuan “sastra dan seni tradisi di Minangkabau” (2 Juni)
  3. Suarna, salah seorang tokoh adat, Bundo Kanduang Kelurahan Nan Balimo, Solok. Dalam lokakarya tersebut, Ibu Suarna memberikan materi tentang tradisi bakureh (3 Juni).
  4. Buya Khairani, pemuka adat Minangkabau di Solok. Beliau diminta untuk memberikan pendalaman materi tentang tradisi bakureh (4 Juni).
  5. Kharisma, seorang komposer dan mahasiswa pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Dalam lokakarya Daur Subur Bakureh Project, ia memberikan materi tentang pengalaman risetnya mengenai tradisi gotong-royong di Sungai Tarab, Batusangkar (5 Juni).
  6. Hendra Nasution, seorang koreografer dan peneliti seni pertunjukan, dan salah seorang pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Dalam lokakarya itu, ia memberikan materi tentang sejumlah praktik pelestarian ataupun interprestasi tradisi dalam rangka proyek seni. Ia juga berbagi pengalaman tentang beberapa karya yang ia buat, yang beberapa di antaranya berangkat dari tradisi bakureh (6 Juni).
  7. Delva Rahman, seorang seniman dan pegiat pemberdayaan media, dan anggota Gubuak Kopi. Ia adalah kooordinator Bakureh Project. Ia memandu seluruh kegiatan selama lokakarya sekaligus pemandu untuk presentasi hasil observasi lapangan para partisipan.

Para partisipan proyek Bakureh Project, yang kesemuanya adalah perempuan, antara lain adalah Ade Surya Tawalapi, biasa disapa Ade, pegiat komunitas Sayurankita (Pekanbaru); Sefniawati, mahasiswa pasca-sarjana, dengan fokus studi Sumber Daya Alam di Universitas Andalas (Unand); Nahlia Nahal, mahasiswa Ilmu Komunikasi Unand; Dyah Roro Puspita Asmarani, biasa disapa Roro, lulusan Universitas Negeri Padang dengan studi Kearsipan; Anisa Nabilla Khairo, biasa disapa Icha, pegiat komunitas baca Book N Roll; Kiki Cupay, mahasiswa Jurusan Seni Teater, Institut Seni Indonesia Padangpanjang; dan Olva Yosnita, mahsiswa jurusan Sosiologi Unand.

Lokakarya ini juga mencakup kegiatan menonton sejumlah film yang dianggap berkaitan dengan topik riset, membaca buku bersama, observasi lapangan ke sejumlah lokasi untuk meninjau fenomena bakureh dan mewawancarai para narasumber, dan presentasi intra-anggota pratisipan tentang hasil observasi yang mereka lakukan selama satu minggu pertama dalam keseluruhan durasi lokakarya tersebut.

Para partisipan lokakarya juga didorong untuk membuat sejumlah karya tulisan terkait dengan aktivitas, pengalaman, dan hasil observasi yang mereka lakukan dalam rangka mendalami fenomena bakureh yang akan direspon di dalam proyek ini.

Liputan detail untuk setiap materi lokakarya dari para narasumber, dapat disimak di situs web Gubuak Kopi di link ini. ***