Bakureh Project: Literasi Pertanian

Literasi: li.te.ra.si /litêrasi/

1. n  kemampuan menulis dan membaca
2. n  pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu: — komputer
3. n  kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup

(Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia, Daring, 2016, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia)

KETIKA LITERASI MEDIA sekarang ini sepertinya telah menjadi disiplin wajib dalam aktivitas pemberdayaan dalam bentuk apa pun, mungkin kita akan menemukan kesegaran baru jika menawarkan istilah lain meskipun tidak akan berpaling sama sekali dari dasar-dasar pemikiran disiplin tersebut. Atas kebutuhan itu, Sayurankita secara khusus menggunakan istilah “literasi pertanian” dalam rangka memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan agrikultural dan agraria melalui paradigma, pendekatan, dan metode jurnalisme warga, sebagai aksi lanjut untuk merealisasikan cita-cita masyarakat yang melek media—melek terhadap segala persoalan sosial dan kultural masyarakat.

Aksi pemberdayaan, dalam konteks ini, tidak diartikan sebagai kegiatan “menolong”, tetapi “mendorong” masyarakat untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi kehidupannya sehari-hari. Ketika Sayurankita menjalankan proyek Aksara Tani—berkolaborasi dengan Pasirputih, The This-kon (dan Rumah Sayur Karsunda), dan Forum Lenteng—selama Oktober 2017 hingga Januari 2018 di Lombok Utara, yang terpikirkan di kepala kami ialah merumuskan sekaligus mengembangkan siasat warga dalam menanggapi konflik-konflik lokal melalui “strategi pengalihan”. Hal itu terutama berbentuk “aksi pengalihan amarah” masyarakat atas ketidakadilan yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya—mengalihkan “energi perlawanan” itu ke “ruang produksi kesadaran” agar dapat memengaruhi pola berpikir dan kebiasaan hidup masyarakat. Tesisnya: jika pola pikir dan kebiasaan masyarakat berjalan dengan baik, persoalan-persoalan yang ada akan dengan sendirinya menjadi baik pula; “melawan ketidakadilan” dengan “menata kebiasaan” diri sendiri.

Isu tentang industri pariwisata di Lombok Utara, misalnya, yang konon mengikis kearifan lokal dan menajamkan ketimpangan ekonomi antara warga lokal dan warga pendatang, tidak ditanggapi melalui kekerasan, seperti demonstrasi. Untuk dapat mengantisipasi efek buruk industri pariwisata, warga harus mengenal secara mendalam mekanisme kerja industri tersebut, dan oleh karena itu organisasi Pasirputih giat menyelenggarakan program literasi media dan jurnalisme warga bersama warga lokal di Kecamatan Pemenang agar dapat menemukan kunci-kunci yang penting untuk bisa digunakan masyarakat dalam mengkritisi informasi terkait pariwisata Lombok yang beredar di media massa. Kegiatan jurnalisme warga juga mendorong warga untuk menggali lebih jauh isu industri pariwisata—hingga ke dalam bentuk kegiatan penelitian sosial—dan memberikan penilaian mereka sendiri atas baik dan buruknya dampak yang terjadi. Informasi-informasi yang berasal dari warga lokal Pemenang, tentang narasi-narasi seputar industri pariwisata Lombok (salah satunya Pelabuhan Bangsal dan Tiga Gili), diharapkan dapat menjadi salah satu sarana untuk mempelajari kasus pariwisata yang tidak hanya dalam konteks Lombok Utara, tetapi juga isu pariwisata secara umum di Indonesia. Produk-produk ini, pada saat yang bersamaan, juga meningkatkan posisi tawar masyarakat sehingga berbagai elemen yang berniat buruk terhadap masyarakat lokal di Pemenang urung melakukan aktivitas yang merugikan khalayak umum. Posisi tawar itu juga dapat memancing pemerintah untuk memberikan dukungan dengan alasan produktivitas. Keuntungan lainnya ialah, artikel-artikel bernas dan mendalam yang mengkaji isu pariwisata itu juga menjadi refleksi warga lokal yang membacanya sehingga dapat menjadi bahan pelajaran hidup untuk mengubah kebiasaan sehari-hari menjadi suatu keadaan yang tidak rentan oleh kelicikan kapitalisme yang tengah menggerogoti tanah Lombok Utara.

Dengan logika seperti itu, Aksara Tani digagas sebagai bentuk lain dari “literasi media”, dengan wajah “literasi pertanian”. Energi warga dialihkan ke aktivitas mengelola tanah secara mandiri, sekaligus memproduksi pengetahuan tentang tanah dan tanaman, yang dapat berguna bagi masyarakat secara umum. Pengetahuan ini sangat penting demi bisa menjadi mandiri. Jika pepatah mengatakan bahwa “hemat pangkal kaya”, atau perlawanan terhadap penjajah dapat dilakukan dengan “aktivitas produksi mandiri” sebagaimana yang diajarkan Mahatma Gandhi lewat gerakan Swadeshi-nya, Aksara Tani melihat bahwa inisiatif “kembali mengelola tanah di pekarangan rumah sendiri” sebagai langkah strategis untuk: (1) mengembangkan ekonomi masyarakat yang mandiri sehingga warga lokal tidak semata bergantung pada ketersediaan lapangan pekerjaan di industri pariwisata; (2) melaksanakan aksi nonkekerasan dalam rangka “mempertahankan tanah dengan cara tetap aktual dan menegaskan eksistensi” di hadapan para “pencaplok tanah”; (3) membentuk ruang kekerabatan sosial dalam menghimpun kekuatan kolektif warga; (4) laboratorium pengetahuan untuk meningkatkan daya kritis masyarakat terhadap isu-isu yang berkembang di seputar topik agrikultural dan agraria; dan (5) memfasilitasi niat menata kebiasaan hidup yang lebih baik, yakni kebiasaan untuk lebih mencintai tanah, tumbuhan dan panganan lokal, serta ekosistem alam, dalam pengertian paling filosofisnya.

Lima tujuan itu hanya akan dapat dicapai jika informasi-informasi (tekstual, visual, dan audio) tentang praktik agrikultural juga diproduksi seiring dengan produksi dari hasil pertanian itu sendiri. Dengan kata lain, “literasi pertanian” adalah juga “literasi media” dalam wujud yang spesifik—”bertani informasi”.

Hingga kini, proyek Aksara Tani masih terus dilanjutkan oleh teman-teman di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Kami, pegiat dari Sayurankita, tetap menjaga komunikasi melalui media sosial dan berdiskusi via group chat sehingga pertukaran gagasan dan inspirasi tetap berlangsung walau masing-masing organisasi kini bergiat di lokasi yang berbeda.

Melanjutkan Formulasi Literasi Pertanian melalui Bakureh Project

Tentunya, ide tentang “literasi pertanian” itu tidak berakhir di pelaksanaan Aksara Tani. Masih ada banyak aspek lain yang berhubungan dengan isu agrikultural dan agraria, khususnya yang berhubungan dengan produksi pangan, yaitu tradisi “mengolah makanan”. Merujuk pada pemahaman umum bahwa gotong-royong adalah falsafah kehidupan kolektif masyarakat di Indonesia, dan sumber sejarah lisan dan tulisan tentang aktivitas “mengolah makanan” secara gotong-royong, dapat kita katakan bahwa “interaksi sosial” yang terjadi dalam “tradisi beraktivitas secara kolektif” menjadi kasus yang juga penting untuk digali keterkaitannya dengan pertanian dan produksi pangan.

Gubuak Kopi, sebuah organisasi independen yang berbasis di Solok, menaruh perhatian terhadap isu tersebut dalam program mereka, Daur Subur. Dengan program ini, anggota Gubuak Kopi mengkaji tradisi-tradisi tentang pengetahuan pertanian lokal yang mulai punah di kota Solok. Di tahun 2018, mereka menggagas Bakureh Project untuk secara lebih khusus menelaah tradisi Bakureh—‘gotong royong memasak’. Visi proyek ini ialah bagaimana falsafah Bakureh diinterpretasi oleh generasi masa kini dan menemukan relevansi dari tradisi itu terhadap fenomena kontemporer.

Adakah penelitian eksperimental dalam bentuk lokakarya media, dengan memadukan pendekatan seni media, yang bertajuk Bakureh Project ini, mampu mendekonstruksi sekaligus memformulasikan secara baru prinsip-prinsip bakureh sebagai gagasan kolektivisme yang lebih kontekstual pada zaman sekarang, dan apakah kiranya formulasi itu dapat memunculkan temuan-temuan artistik tertentu yang berkontribusi sebagai sosioestetika bagi aktivisme pemberdayaan yang sudah sempat kita singgung di awal tulisan ini? Dan dalam hubungannya dengan aktivitas Sayurankita, apakah bakureh bisa menjadi celah lainnya dalam rangka memantapkan rumusan pemikiran mengenai “literasi pertanian”?

Secara teknis, seperti hasil diskusi saya dengan Albert Rahman Putra (Ketua Umum Gubuak Kopi), pelaksanaan Bakureh Project memiliki kesamaan dengan metode yang telah kami coba terapkan di Lombok Utara lewat proyek Aksara Tani, tetapi dengan fokus yang sedikit berbeda. Jika Aksara Tani fokus pada produksi pertanian, Bakureh Project fokus pada produksi pangan. Kami percaya, kedua fokus itu sudah pasti saling berkaitan, sebagaimana Pasirputih memahami hal itu dengan terlebih dahulu melaksanakan proyek Aksarapangan untuk mendukung realisasi Aksara Tani.

Ade Surya Tawalapi, salah satu pegiat utama Sayurankita, menjadi salah satu partisipan Bakureh Project selama lebih kurang dua bulan ke depan. Selain ikut memproduksi output-output Bakureh Project, Ade juga akan berbagi informasi mengenai pengalamannya selama berada di Solok, dalam rangka menyumbangkan pemikiran-pemikiran baru yang dapat bermanfaat untuk mengembangkan ide “literasi pertanian” yang sedang diusahakan oleh Sayurankita. Maka, dalam beberapa waktu ke depan, redaksi Sayurankita akan menerbitkan sejumlah artikel berupa catatan lapangan Ade terkait kegiatannya di Bakureh Project.

Selamat menyimak keberlanjutan proyek ini!