Aksara Tani

Pemrakarsa Proyek: Afifah Farida, Muhammad Sibawaihi, dan Manshur Zikri

 

Aksara Tani adalah proyek kolaborasi site-specific yang diselenggarakan lewat kerja sama antara Sayurankita (Pekanbaru), Pasirputih (Kecamatan Pemenang, Lombok Utara), The This-kon (Gili Meno, Lombok Utara), dan Forum Lenteng (Jakarta).

Berbasis pengetahuan pertanian, seni, dan literasi media, proyek ini bekerja sama dengan warga lokal, mengelola lahan/tanah pekarangan rumah, untuk dijadikan sebagai kebun skala rumahan dan kemudian diberdayakan sebagai salah satu sarana ketahanan pangan masyarakat lokal dan ruang untuk menggiatkan gerakan literasi pertanian.

Beriringan dengan pengelolaan lahan/tanah itu, Aksara Tani juga memproduksi informasi dan pengetahuan dalam bentuk karya teks dan visual, serta menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kreatif lainnya yang dikemas dengan wawasan seni dan budaya.

DAFTAR ISI
A. Struktur Organisasi Aksara Tani
B. Keberlanjutan Proyek
C. Publikasi Acara
D. Liputan Media Massa
E. Herbarium Tanaman Gili Meno
F. Kumpulan Artikel
G. Dokumentasi
H. Vlog Aksara Tani


A. Struktur Organisasi Aksara Tani

Ko-Koordinator Proyek:
1. Afifah Farida (Sayurankita)
2. Muhammad Imran (The This-kon)
3. Sri Hayati (The This-kon)

Redaksi:
4. Manshur Zikri (Forum Lenteng)

Anggota Pegiat Aksara Tani:
5. Hamdani (Pasirputih)
6. Muhammad Gozali a.k.a Amaq Dahrun (Pasirputih)
7. Muhammad Sibawaihi (Pasirputih)

Database
Yayasan Pasirputih & Sayurankita

Instagram Aksara Tani: @aksaratani
Halaman Facebook Aksara Tani:
https://www.facebook.com/saluran.aksaratani/


B. Keberlanjutan Proyek

Proyek Aksara Tani direalisasikan sebagai proyek berkelanjutan dengan pendekatan komunitas. Dimulai pada September 2017, Aksara Tani “Gerakan I” (Oktober 2017 – Januari 2018) dilaksanakan di pekarangan rumah penginapan The This-kon, di Gili Meno, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Pada tanggal 13-14 Januari 2018, Aksara Tani “Gerakan I” menyelenggarakan Acara Presentasi Publik dalam bentuk pameran yang menampilkan arsip-arsip pertanian yang telah dikumpulkan selama pelaksanaan proyek empat bulan tersebut, serta performans masak bersama yang melibatkan sejumlah koki profesional lokal di Gili Meno.

Berikut artikel-artikel yang terkait dengan acara pameran “Presentasi Publik Aksara Tani Gili Meno” (13-14 Januari 2018 di Kantor Kepala Dusun Gili Meno):

 

Sembari terus melanjutkan pengelolaan kebun di The This-kon, sejak Februari 2018, Aksara Tani juga dilaksanakan di Dusun Karang Subagan Daya (Karsunda), Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Di lokasi kedua ini, Sayurankita, Pasirputih, The This-kon, dan Forum Lenteng bekerja sama dengan Rumah Sayur Karsunda dan warga lokal di dusun tersebut.

Partisipan Proyek Aksara Tani

“Gerakan I” – The This-kon:
1. Sumaidi (warga lokal Kecamatan Kayangan, Lombok Utara. Bekerja sebagai pengelola sampah di Gili Meno, supir, petani, dan tukang/montir)
2. Indah Maulida (warga lokal Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Saat ini bekerja di The This-kon)
3. Ririn Arliani (warga lokal Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Saat ini bekerja di The This-kon).

“Gerakan II” – Rumah Sayur Karsunda
1. Lalu Ahyadi (warga lokal Dusun Karang Subagan Daya, PNS, guru di MA Hidayatu Rahman)
2. Jusran Aini (warga lokal Dusun Karang Subagan Daya, Ibu Rumah Tangga, istri Lalu Ahyadi)


C. Publikasi Acara-acara Aksara Tani

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan proyek Aksara Tani, tim Aksara Tani menyelenggarakan sejumlah acara yang melibatkan warga lokal di Kecamatan Pemenang. Kegiatan-kegiatan kreatif ini adalah upaya untuk sosialisasi gagasan dan informasi tentang literasi dan pemberdayaan pertanian berbasis komunitas.

26070090_2056445641293792_6834222982974406656_n25022092_1792406664386704_4717488199847378944_n26071688_352950955177150_3975051395622502400_n24845260_1643084615751872_5539202124602146816_n25007469_133740847306587_7932482821057150976_n23824921_1578275935551474_6897948791429660672_n


D. Liputan Media Massa

 


E. Herbarium Tanaman Gili Meno

Selama pelaksanaan proyek, tim Aksara Tani mengumpulkan jenis tanaman/tumbuhan yang ada di lokasi, untuk dikeringkan dan dibuat menjadi Herbarium (kumpulan spesimen tanaman yang diawetkan dan data terkait yang digunakan untuk penelitian ilmiah). Pada proyek Aksara Tani di Gili Meno, sejauh ini telah dikumpulkan 44 tanaman. Herbarium ini akan terus dikembangkan.

     


F. Kumpulan Artikel Aksara Tani

Bekerja sama dengan Pasirputih, Sayurankita memproduksi artikel-artikel yang berhubungan dengan proyek Aksara Tani untuk didistribusikan secara kolaboratif lewat dua media yang dikelola masing-masing organisasi, yakni www.berajahaksara.org milik Pasirputih dan www.sayurankita.com milik Sayurankita. Artikel di bawah ini juga telah diterbitkan di website Berajahaksara.

  • Apa-apa yang Sudah Aksara Tani Lakukan Sementara Ini (1/23/2018) - Harapan dari kami, pelaksana proyek, Aksara Tani mampu menjadi langkah awal dalam menghadirkan ruang pengetahuan yang kritis terhadap budaya lokal Gili Meno yang sangat erat kaitannya dengan negara agraris dan maritim.
  • Pengantar Kuratorial Pameran “Presentasi Publik Aksara Tani Gili Meno” (1/14/2018) - Dalam rangka edukasi, Gili Meno menjadi penting sebagai destinasi belajar yang menarik, melihat Meno yang sekarang ini dihuni oleh banyak ras, bahasa, dan asal yang berbeda.
  • Presentasi Publik Aksara Tani; Sebuah Pengantar (1/13/2018) - Berbicara tentang ketahanan pangan nasional, tidak terlepas dari membicarakan ketahanan pangan rumah tangga; halaman rumah-lah objek yang paling dekat untuk dikelola memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga.
  • Kabar Aksara Tani: Hal-hal di Luar Ladang (1/11/2018) - Untuk mengenal tanaman, kita harus mengenal tanah; untuk mengenal tanah, kita harus mengenal masyarakat yang memijaknya; demikian sebaliknya.
  • Milik Siapa? Ironi Di Tanah Sendiri (1/10/2018) - Pembangunan dan pariwisata memang sangat menguntungkan jika dinilai dari segi ekonomi. Warga lokal perlu berhati-hati dan cermat dalam menilai pembangunan yang sedang terjadi, agar Gili Meno tetap menjadi milik warga lokal.
  • Sumber Pangan Laut Ketika Air Surut: Mengangsat (1/10/2018) - Dalam mengangsat ini, warga Gili Meno memiliki aturan tidak tertulis, dan dengan secara sadar mengambil sumber pangan tersebut seperlunya saja, hanya untuk skala keluarga, dan tidak untuk dijual.
  • Jaran Dongol (1/9/2018) - Sikar atau jaran dongol adalah satu-satunya angkutan barang yang akan kita temukan di Gili Meno. Berbeda dengan cidomo, sikar adalah angkutan khusus untuk mengangkut barang dari satu tempat ke tempat yang lain.
  • Bersama Ombak (12/30/2017) - Menurut Masrun, laut mengajarkan banyak hal tentang hidup seperti kesabaran, ketelitian, dan kepekaan.
  • Cerita Beberapa Nelayan tentang Membuat Kapal (12/30/2017) - Kegiatan yang akan sering kita temukan di pantai Gili Meno, selain orang-orang berenang bahagia dan menikmati terik matahari di pasir putihnya, adalah orang-orang yang bercengkrama dengan kapalnya.
  • Cidomo: Alat Transportasi Di Gili Meno (12/28/2017) - Cidomo mulai masuk ke Gili Meno sejak pariwisata mulai berkembang pada pertengahan tahun 1990-an. Cidomo yang ada di Gili Meno didatangkan dari Tanjung, salah satu daerah yang memproduksi cidomo.
  • Cerita Pak Fajri Tentang Mengayum Jala (12/25/2017) - Menurut Pak Fajri, memperbaiki jaring ikan adalah kombinasi dari memotong dan menyambung jaring ikan. Dalam memperbaiki jaring ini, hal utama yang harus dimiliki adalah ketelitian dan kesabaran.
  • Warga Meramu Rasa (12/21/2017) - Memasak bersama mampu mengantarkan kita tidak hanya pada persoalan-persoalan dapur, tetapi juga lebih jauh dapat menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, ruang curhat, atau mempelajari dinamika sosial warga.
  • Trash Hero Clean Up Gili Meno (12/21/2017) - Masuknya pariwisata tidak hanya memperbaiki ekonomi warga Gili Meno, tetapi juga akan menjadi ancaman.
  • Ironi Mandi Safar, Ritual Penolak Bala Itu, Kini (12/20/2017) - Untuk meneruskan tradisi atau menjual tradisi mandi safar tersebut karena isu pariwisata yang sedang digaung-gaungkan? Bukankah mandi safar adalah tradisi sakral yang diwariskan secara turun temurun?
  • Cerita Dari dan Tentang ANA WARUNG (12/20/2017) - Meningkatnya pariwisata di Gili Meno ini memang meningkatkan perekonomian di sini, yang pastinya berbeda dengan dulu. Tetapi, kita harus tetap mempertahankan budaya lokal agar tidak hilang karena pariwisata.
  • Gotong Royong Warga Membuat Rengka (12/20/2017) - Saya sadar bahwa ini merupakan salah satu cara yang sedang dilakukan generasi sekarang untuk memelihara budaya gotong royong itu agar tidak hilang terbawa perubahan zaman.
  • Penjual Tanaman di Pulau Garam (12/19/2017) - Pak Masnun, tidak ingat betul sejak tahun berapa ia menjadi penjual bibit tanaman. Kata Pak Masnun, dia mulai keliling di Gili Meno saat hotel-hotel masih sepi, tidak seperti saat ini yang sudah mulai banyak.
  • Tradisi Sampang Sandro dan Kisah Rawa Meno (12/19/2017) - Menurut penuturan Papuk Yol, salah satu pemangku adat di Gili Meno, Sampang Sandro adalah sebuah ritual yang dilakukan untuk meminta izin kepada makhluk-makhluk yang tinggal di rawa.
  • Kopra sebagai Lahan Usaha Ekonomi Mikro Warga (12/15/2017) - Aktivitas pembuatan kopra ini hanya menjadi mata pencaharian sampingan bagi warga ketika musim pengunjung sepi (low season), sekitar bulan Oktober hingga awal tahun.
  • Bembulung (12/13/2017) - Kini, menyantap bembulung akhirnya menjadi suatu aktivitas makan yang istimewa. Selain hanya bisa diperoleh ketika air surut, juga karena bembulung sudah sulit ditemukan.
  • Ares (Bukan Dewa Perang): Masakan Khas Berbahan Bonggol Pisang (11/30/2017) - Ares adalah batang pisang muda yang diolah dengan santan (dibuat gulai/kari) dan menjadi makanan wajib ketika ada acara begawe atau roahan.
  • Bertani Untuk Berbahagia di The This-Kon (11/29/2017) - Secara bisnis, menjadi menarik karena “diskon”, sedangkan secara sosial, artinya adalah “ini tempat”, yang bisa menjadi “tempat apa saja”.
  • Menggaso, Usaha Sampingan Nelayan Meno (11/29/2017) - Menggaso sudah ditekuni oleh Pak Mahwi dan istrinya sejak tahun 1970-an, setelah menikah dan pindah ke Gili Meno.
  • Menanam Untuk Mengurangi Sampah di Gili Meno (11/29/2017) - Seandainya semua orang menanam sayuran di pekarangan rumah, mungkin itu dapat mengurangi pasokan sayur ke Gili ini dan dapat mengurangi sampah karena barang bekas bisa digunakan untuk menanam.
  • Secuplik Tentang Harga Kapal Meno-Bangsal (11/20/2017) - Aktivitas pelabuhan mulai meningkat seiring dengan meningkatnya gaung pariwisata Gili Meno. Jumlah tamu yang datang ke Gili Meno sekitar 200-300 orang per hari, tergantung musim ramai atau musim sepi.
  • Bu Khairani: Pesan Buah & Sayuran, Antar Ke Warung Makan (11/15/2017) - Bu Khairani adalah warga Tanjung yang sudah lama menjual bahan makanan di Gili Meno. Ia mencoba peruntungan di Gili Meno sejak pariwisata mulai masuk sekitar tahun 1990-an ketika usaha warung makan mulai berkembang.
  • Bukit Sunggaling; Potret Petani Lahan Kering (10/6/2017) - Pak Srinate adalah salah satu warga Dusun Sunggaling, Desa Bangket Parak, Pujut, Lombok Tengah. Kami tertarik untuk mengunjungi sawah yang diceritakan oleh Bpk. Srinata untuk melihat secara langsung potensi lahan kering dan persolan yang dihadapi oleh para petani di Dusun Sunggaling.
  • Menjajaki Teknologi Pertanian Lahan Kering: liputan diskusi (9/27/2017) - Simpulan dari diskusi publik pada hari itu adalah, lahan kering bukan berarti tidak bisa ditanami apa-apa ketika musim kering tanpa air. Lahan kering masih dapat ditanam dengan komoditas-komoditas yang sesuai dengan kondisi tanah dan iklimnya, seperti menanam tembakau, jagung, kacang-kacangan, dan umbi-umbian yang relatif tahan hidup tanpa air.
  • Meninjau Relief di Monumen Bumi Gora (9/9/2017) - Monumen Bumi Gora dibangun pada tahun 1988, masa pemerintahan Soeharto. Sebagaimana yang tertulis di batu tersebut, pembangunan monumen ini dianggap sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan NTB dalam menanam padi gogo dan dapat membantu usaha pencapaian swasembada pangan pada tahun 1984.
  • Kabar Aksara Tani: AksaraPangan Dahulu (9/9/2017) - Menurut sudut pandang saya pribadi, relief-relief di Monumen Bumi Gora adalah salah satu aspek terpenting yang mesti dikaji untuk memahami bagaimana negara pada masa itu (dan hingga masa kini) menanamkan "cita-cita ketahanan pangan" kepada masyarakat, khususnya di provinsi Nusa Tenggara Barat.
  • AKSARA TANI: Proyek Pemberdayaan Pertanian (8/29/2017) - Pengembangan lahan pertanian yang akan kami kerjakan ini nantinya diniatkan sebagai salah satu strategi alternatif dari aksi pemberdayaan yang melibatkan masyarakat setempat sebagai pengelolanya.

F. Dokumentasi

1). Pameran “Presentasi Publik Aksara Tani Gili Meno”
Berikut ini adalah dokumentasi pameran Aksara Tani (13-14 Januari 2018) di Kantor Kepala Dusun Gili Meno, menampilkan sejumlah temuan dari proyek Aksara Tani ke dalam berbagai bentuk karya instalasi, citra visual, dan video.

 

2). Kegiatan “Live Cooking”
Berikut ini adalah dokumentasi kegiatan “Live Cooking”, bagian dari Program Berbagi Aksara Tani yang dipresentasikan sebagai bagian dari rangkaian acara Presentasi Publik Aksara Tani Gili Meno.

 

3). Kegiatan “Plant Matching”
Berikut ini adalah dokumentasi dari kegiatan “Plant Matching” (kegiatan mencocokkan tanaman yang telah di-herbarium-kan dengan tenaman yang masih hidup), yang diselenggarakan pada acara Presentasi Publik Aksara Tani Gili Meno.

 

4). Video Dokumentasi Pameran “Presentasi Publik Aksara Tani Gili Meno”

 


H. Vlog Aksara Tani

Kumpulan video blog (vlog) berikut adalah rekaman-rekaman video (berdurasi +/- 1 menit) yang sudah pernah diterbitkan melalui akun Instagram @sayurankita dan @aksaratani, sebagai dokumentasi harian tentang kegiatan sehari-hari para pegiat proyek Aksara Tani. Oleh redaksi Sayurankita.com, rekaman-rekaman tersebut diunggah kembali ke kanal YouTube Sayurankita dengan tambahan subtitle bahasa Indonesia dan Inggris.