Kabar Aksara Tani #001: AksaraPangan Dahulu

Telah disebutkan pada terbitan sebelumnya bahwa, saat ini, Sayurankita (diwakili oleh Afifah Farida, pendiri Pusat Studi Agrikultur Sayurankita) sedang menyelenggarakan proyek kolaboratif bersama Pasirputih dan The This-kon (atas dukungan dari Forum Lenteng) di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Proyek tersebut diberi nama Aksara Tani.

Suasana makan siang di rumah Sibawaihi dan Etika (suami-isteri, pegiat Pasirputih). (Foto: Muhammad Sibawaihi).

Informasi terbaru tentang perkembangan pelaksanaan proyek tersebut juga kami distribusikan via akun Instagram @sayurankita, berupa highlight singkat tentang apa saja kegiatan yang tengah dilakukan oleh Sayurankita dan teman-teman Pasirputih.

Direncanakan untuk dimulai awal September 2017, Sayurankita dan Pasirputih mempersiapkan proyek Aksara Tani ini dengan terlebih dahulu mengembangkan proyek AksaraPangan, sebuah proyek khusus yang diinisiasi oleh Pasirputih lewat program Berajahaksara, dalam rangka berpartisipasi untuk program Residensi Virtual OK. Pangan (atau, nama resminya: “Open Lab – Virtual Residency“) yang menjadi bagian dari OK. Video – Indonesia Media Art Festival 2017: “OK. Pangan”. Menurut tuturan Ahmad Ijtihad, salah satu pelaksana proyek residensi virtual tersebut, “AksaraPangan ialah sebuah riset kolektif terhadap potensi dan ruang pangan yang melibatkan warga (tani/bukan tani) sebagai bagian dari instrumen penelitian, dengan menggunakan narasi warga, dan tertuang dalam gagasan pengetahuan tentang pembudayaan kemandirian pangan lokal, serta memberdayakan teknologi sebagai alat pesebaran pengetahuan.”

Framework AksaraPangan (Image: Arsip Berajahaksara).

Bagi Sayurankita sendiri, terutama untuk kebutuhan pengembangan proyek Aksara Tani, inisiatif Pasirputih mengadakan proyek AksaraPangan ini menjadi strategi yang sangat penting yang memang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum menjalankan aktivitas produksi pangan. Mempelajari peta per-pangan-an suatu masyarakat di lingkungan tertentu akan membuahkan output berupa informasi-informasi relevan sehingga dapat menuntun proses pengambilan keputusan terkait aktivitas pertanian. Dengan kata lain, temuan-temuan di AksaraPangan akan sangat berguna sebagai data-data utama dan menjadi dasar pengambilan tindakan dalam pelaksanaan Aksara Tani yang fokusnya lebih kepada pengelolaan lahan untuk memproduksi pangan. Afifah, dengan demikian, ikut serta menjadi salah satu tim riset untuk AksaraPangan.

Bersama anggota Pasirputih lainnya, Sayurankita dan tim AksaraPangan telah mengunjungi beberapa pihak yang dianggap dapat memberikan wawasan untuk membentuk kerangka pikir dan kerangka kerja AksaraPangan (sekaligus juga Aksara Tani). Di antaranya, Sayurankita dan AksaraPangan mengunjungi Dusun Kerujuk—ini menjadi pengalaman kedua bagi Afifah, mengunjungi dusun itu—seminggu yang lalu. Di sana, tim riset mengobservasi inisiatif warga lokal yang memanfaatkan pekarangan rumah sebagai lahan produksi pangan. Salah satunya, diketahui bahwa warga di dusun tersebut membuat instalasi tanaman (tampak bahwa desain dari instalasi tersebut juga bisa dimanfaatkan sebagai instalasi hidroponik) dari bambu. Mereka juga membuat kolam untuk budidaya ikan air tawar, seperti lele, nila, dan gurami.

Instalasi tanaman yang tampak mirip sebagai instalasi hidroponik di Dusun Kerujuk. (Foto: @berajahaksara).
Kolam milik warga di Dusun Kerujuk untuk budidaya ikan air tawar. (Foto: @berajahaksara).
Bunga Siagian dan George Clark menyicipi jambu monyet yang ditemukan di tengah kebun buah naga milik warga setempat di Kecamatan Bayan. (Foto: @sayurankita).

Tim riset AksaraPangan juga berkunjung ke kawasan Kecamatan Bayan, mengunjungi beberapa kebun. Salah satunya, kebun buah naga milik warga setempat. Pada momen itu, turut serta pula George Clark (seorang pembuat film dari Inggris) dan Bunga Siagian (anggota Forum Lenteng, yang kini tinggal dan beraktivitas di Jatiwangi, Jawa Barat, dan terlibat di Jatiwangi Art Factory). Mereka berdua saat itu kebetulan juga berkunjung ke Kecamatan Pemenang untuk melihat aktivitas Pasirputih, mengumpulkan bahan untuk proyek yang sedang mereka kerjakan, dan (khusus George) juga melakukan semacam presentasi sederhana untuk teman-teman di Pasirputih. Oh, ya! Pada observasi hari itu di Bayan, tim riset tidak sengaja menemukan jambu monyet (Anacardium occidentale) di tengah-tengah kebun. Perihal kecil, tapi bermakna, buat saya pribadi; mengingat semakin kurangnya upaya-upaya budidaya tanaman anekahayati di ranah pertanian zaman sekarang, khususnya di Indonesia.

Hari selanjutnya, tim riset (di antaranya: Onyong, Ijtihad, dan Afifah—sebagaimana terlihat di foto dokumentasi mereka) mengunjungi Kantor Badan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk mengetahui sudut pandang pemangku kebijakan tentang isu pangan di Nusa Tenggara Barat. Di sana, tim riset menemukan biji sorgum (Sorghum spp.)—tanaman yang biasa digunakan sebagai pangan ataupun pakan ternak di kawasan Asia Selatan. Di akun Instagram @sayurankita dan @berajahaksara, disebutkan bahwa warga lokal di Lombok menggunakan istilah buleleng untuk menyebut sorgum. Biji ini biasanya diolah oleh warga lokal menjadi bubur bersama gula merah. Namun, sorgum konon mulai jarang ditemukan di Lombok.

Berkunjung ke kantor Badan Ketahanan Pangan, Provinsi Nusa Tenggara Barat. (Foto: @berajahaksara)
Biji sorgum (Sorghum spp.) yang ditemukan di sekitar kantor Badan Ketahanan Pangan, Provinisi Nusa Tenggara Barat. (Foto: @berajahaksara).
Ahmad Ijtihad, salah satu periset AksaraPangan, sedang membaca beberapa buku di perpustakaan milik Badan Perpustakaan Dan Arsip Provinsi Nusa Tenggara Barat. (Foto: @berajahaksara).

Riset tim ini kemudian dilanjutkan juga dengan mengunjungi Monumen Bumi Gora, dan Badan Perpustakaan Dan Arsip Provinsi Nusa Tenggara Barat (keduanya berlokasi di Mataram). Kunjungan itu tentu saja juga untuk mengumpulkan informasi-informasi lainnya seputar pangan. Dari pantauan redaksi Sayurankita terhadap akun Instagram @berajahaksara, diketahui bahwa aktivitas terakhir tim riset ini ialah mengunjungi Dusun Ende, salah satu desa wisata adat, di Lombok Tengah. Daerah ini menjadi salah satu area yang digunakan oleh pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat pada tahun 1985 untuk mendukung program gogo rancah yang diadakan oleh pemerintah pusat. Tak lupa, tim riset AksaraPangan juga bertemu dengan teman-teman dari Agroteknologi dan Ilmu Tanah, Universitas Mataram, untuk bertukar pikiran tentang isu pangan, pertanian, dan agraria yang ada di Nusa Tenggara Barat.

Tim riset dari Pasirputih dan Sayurankita berdiskusi dengan mahasiswa dari Agroteknologi dan Ilmu Tanah, Universitas Mataram, untuk bertukar pikiran mengenai isu pangan, pertanian, dan agraria. (Foto: @sayurankita).
Berkunjung ke Desa Ende, di Lombok Tengah. (Foto: @berajahaksara)

Setelah ia mengikuti beberapa pertemuan dengan anggota periset—yang membuat saya takjub, para periset yang terlibat sejatinya adalah warga lokal di Lombok Utara—Afifah memberi kabar via WhatsApp kepada saya bahwa Pasirputih akhirnya sudah menentukan ruang lingkup penelitian AksaraPangan. Mereka memilih sejarah “Bumi Gora” sebagai masalah pertamanya, sebelum beranjak ke masalah-masalah pangan lainnya.

Dapat dilihat di akun Instagram @berajahaksara dan @sayurankita, para periset dengan saksama memotret relief-relief yang ada di Monumen Bumi Gora. Menurut sudut pandang saya pribadi, relief-relief di Monumen Bumi Gora adalah salah satu aspek terpenting yang mesti dikaji untuk memahami bagaimana negara pada masa itu (dan hingga masa kini) menanamkan “cita-cita ketahanan pangan” kepada masyarakat, khususnya di provinsi Nusa Tenggara Barat. Analisa kualitatif terhadap isi relief-relief itu, serta analisa kontekstual mengenai peristiwa-peristiwa terkait, pastinya akan membuahkan suatu simpulan yang kiranya dapat menjawab, apakah ketahanan pangan adalah keniscayaan bagi masyarakat kita, atau hanya ilusi belaka. Dan jawaban itu nantinya, akan menentukan langkah-langkah apa yang akan dapat kita ambil untuk menggalakkan pemberdayaan pertanian.

Tapi kita perlu diingat: bertani bukan hanya menanam padi! ***