AKSARA TANI: Proyek Pemberdayaan Pertanian

Bulan Maret lalu, saya mewakili Sayurankita mengikuti festival rakyat tahunan, bernama Bangsal Menggawe, yang diinisiasi oleh teman-teman Pasirputih di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Kala itu, Bangsal Menggawe 2017 mengangkat tema “Siq siq o Bungkuk”. Selain mengikuti rangkaian kegiatannya, saya juga diberi kesempatan untuk mengunjungi Desa Montong Bae; di sana, masayarakatnya memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan dapur. Saya juga sempat berkunjung ke Gili Meno, salah satu dari tiga gili (‘pulau’) di kawasan Lombok yang terkenal akan potensi pariwisatanya.

Pintu gerbang untuk masuk ke Gili Meno.

Besok, tanggal 30 Agustus 2017, saya akan ke Lombok Utara lagi, dan secara khusus akan mengunjungi Gili Meno. Perjalanan saya ke Gili Meno kali ini bukan untuk menikmati sunset ataupun snorkeling ke laut biru, melainkan untuk melihat kondisi lingkungan dan tanah Gili Meno, dan bertemu dengan salah satu warga Gili Meno—Mbak Ace—yang tertarik dengan hidroponik.

Sebelum bertemu dengan Mbak Ace, saya sudah bertemu dengan Bang Imran—suami Mbak Ace—saat mengikuti kegiatan Bangsal Menggawe di Pemenang. Ketika Bang Imran tahu tentang saya dan Sayurankita, ia langsung tertarik untuk berdiskusi lebih lanjut tentang pertanian. Sayangnya, kesempatan pada waktu itu terbatas. Dari diskusi singkat yang sempat kami lakukan, saya mendapatkan informasi bahwa saudara Bang Imran pernah menanam dengan menggunakan teknik dan pendekatan hidroponik di Gili Meno, namun hasilnya tidak terlalu baik. Akhirnya, instalasi hidroponik tersebut menjadi terbengkalai di pekarangan rumah Bang Imran dan Mba Ace.

Awalnya, saya mengira bahwa diskusi dengan Bang Imran saat itu akan berakhir sebatas diskusi. Tapi ternyata, alam mengamini doa Bang Imran untuk melanjutkan langkah yang sudah dimulai oleh kakaknya, yakni memanfaatkan lahan yang ada untuk menanam sayuran dengan teknologi hidroponik.

Pasalnya, setelah teman-teman dari Forum Lenteng berlibur dan berkunjung ke rumah Bang Imran di Gili Meno, Manshur Zikri, Otty Widasari, Hafiz Rancajale, Muhammad Sibawaihi, Muhammad Gozali, saya, dan beberapa teman-teman Pasirputih lainnya berdiskusi tentang Gili Meno. Bukan membahas tentang pesona dan indahnya terumbu karang di Gili Meno, tetapi membahas lahan kosong yang ditumbuhi dengan tumbuhan liar dan palang-palang yang bertuliskan “DIJUAL”.

Salah satu penampakan lahan kosong yang penuh dengan tanaman liar dan singkong di Gili Meno.

Hal itu ternyata menimbulkan kegelisahan di hati teman-teman yang telah mengunjungi Gili Meno saat itu. Pada saat itulah muncul ide untuk mengadakan semacam pilot project, kolaborasi antara Forum Lenteng, Pasirputih, dan Sayurankita. Asumsinya adalah, jika tumbuhan liar dapat tumbuh subur di daerah itu, berarti ada kemungkinan bahwa tanaman pangan juga dapat tumbuh dengan baik.

Proyek yang akan diberi nama “AKSARA TANI” ini mencoba berspekulasi tentang peningkatan keaksaraan masyarakat lewat praktik dan falsafah pertanian.

Latar belakang ide dari pilot project ini adalah bagaimana caranya menahan laju penjualan lahan, pembangunan homestay, hotel, dan café-cafe di Gili Meno—yang umumnya dimiliki oleh pemodal asing dan dibangun dengan tidak mengindahkan nilai-nilai kearifan lokal—dengan cara mendorong warga lokal untuk mengelola lahan tersebut agar memiliki nilai ekonomi dan dapat memberdayakan masyarakat Gili Meno itu sendiri. Teman-teman yang pada waktu itu berdiskusi di berugaq milik Bang Imran dan Mbak Ace memiliki pandangan bahwa pembangunan homestay, hotel, dan café-café yang demikian laju itu, secara perlahan, akan “menggusur” dan “menggantikan” ruang sosial, ekonomi, dan kultural masyarakat Gili Meno—dan dengan sendirinya akan menggeser posisi tawar mereka. Kalau kenyataannya memang akan demikian, bagaimana caranya kita bisa memberikan nilai ekonomi pada lahan-lahan tersebut dengan pendekatan yang berpihak kepada masyarakat lokal—yang umumnya kalah oleh pemilik modal—agar masyarakat Gili Meno tidak tergusur dan tergantikan keberadaannya? Usaha “pertanian mandiri”, menjadi langkah spekulatif kami, kala itu.

Menurut saya pribadi, menggabungkan pesisir dan pertanian bukan hal yang tidak mungkin. Saya menemukan beberapa contoh daerah pesisir yang berhasil dengan pertaniannya. Salah satunya adalah Kulon Progo yang sukses dengan komoditas cabai. Tidak hanya dalam budidaya, tetapi juga dalam hal pemasaran dan kemandirian masyarakat lokal pengelolanya. Ada juga kawasan pantai Watu Ulo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang mengelola komoditas tembakau. Karenanya, saya pun jadi bersemangat untuk menjadi bagian dari pilot project ini, yakni untuk mengembangkan pengetahuan pertanian, terutama sayuran, di Gili Meno.

Beberapa hari lalu, saya sempat berdiskusi dengan beberapa orang teman di Institut Pertanian Bogor tentang rencana pengembangan pertanian di Gili Meno ini. Dari diskusi itu, saya menemukan bahwa ada poin penting yang perlu digarisbawahi, yaitu bagaimana sejarah kepemilikan tanah dan bagaimana budaya masyarakat di daerah yang menjadi target proyek. Berkaca dari dampak-dampak kebijakan pertanian yang ada, terkadang introduksi teknologi pertanian justru melunturkan kebudayaan lokal yang ada, yang pada akhirnya dapat menjadi bumerang bagi daerah tersebut. Contoh sederhananya adalah penanaman padi di daerah-daerah yang tidak memiliki budaya menanam padi dan memakan nasi, yang pada akhirnya menghilangkan komoditas lokal daerah itu.

Saya pribadi sependapat dengan hasil diskusi itu. Pertanyaan yang muncul di kepala saya, pada saat ide itu tercetus, adalah: “Apakah Gili Meno mempunyai budaya tanam-menanam, mengingat Gili Meno adalah pulau kecil di tengah lautan…?” Keterangan sementara yang berguna untuk menjawab dengan tepat pertanyaan itu adalah: dahulu—di masa generasi-generasi sebelumnya—Gili Meno termasuk lahan pertanian yang cukup subur. Namun, secara perlahan pertanian itu tergantikan menjadi tempat wisata. Informasi itu saya peroleh dari Muhammad Gozali (Ketua Umum Pasirputih). Menurut Gozali, generasi kakeknya hampir selalu membawa pulang hasil pertanian dari Gili Meno. Mengetahui hal ini, saya menjadi penasaran—tentunya ini menjadi PR bagi saya—dan berniat untuk menemukan jawabannya secara kongkret di lokasi Gili Meno itu sendiri.

PR lain adalah: “Pola dan metode tanam seperti apa yang sesuai di Gili Meno? Apakah hidroponik (menanam tanpa tanah), atau menanam secara konvensional (menggunakan tanah)? Tanaman apa yang dulu pernah ditanam, dibutuhkan, dan dapat hidup sejalan dengan kondisi Gili Meno dan masyarakatnya?”

Dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan itulah mengapa selama lebih kurang empat bulan ke depan (terhitung sejak bulan September 2017), Sayurankita akan mengelaborasi Gili Meno bersama teman-teman Pasirputih, dan masyarakat lokal Gili Meno. Dalam hal ini, masyarakat Gili Meno yang saya maksud, salah satunya, diwakili oleh The This-kon, homestay lokal yang dimiliki dan dikelola oleh Bang Imran dan Mbak Ace.

Ya, sebagaimana yang bisa kamu argumentasikan, bahwa pembangunan homestay bukan berarti salah sama sekali. Ada beberapa warga lokal yang juga mengelola usaha penginapan—dan tentu usaha ini juga menjadi hak warga lokal. Hanya saja, yang perlu kita perhatikan bersama, apakah pengelolaan usaha itu dapat berpihak pada kepentingan dan kearifan lokal…? Di mata saya pribadi, niatan dari Bang Imran dan Mbak Ace (yang sebenarnya adalah juga anggota Pasirputih) untuk terlibat dalam pilot project ini bersama Forum Lenteng dan Sayurankita, adalah salah satu cara mereka untuk mengembalikan dan menjaga kearifan lokal itu; mereka berniat dan berusaha untuk mengembalikan esensi pengelolaan lahan lewat cara-cara yang dapat memicu daya hidup masyarakat lokal, bukan semata menjadikan masyarakat sebagai konsumen tempat si pengusaha mengeruk keuntungan pribadi. Dengan kata lain, pengembangan lahan pertanian yang akan kami kerjakan ini nantinya diniatkan sebagai salah satu strategi alternatif dari aksi pemberdayaan yang melibatkan masyarakat setempat sebagai pengelolanya. Sejak awal berdiri hingga sekarang, Pasirputih telah mengusahakan aksi pemberdayaan media—lewat literasi media—demi meningkatkan keaksaraan masyarakat terhadap pengalaman, narasi, informasi, dan pengetahuan lokal yang ada di Kecamatan Pemenang. Kini, dengan proyek baru yang agaknya akan kami beri nama “AKSARA TANI” ini, kami bersama mencoba berspekulasi tentang usaha peningkatan keaksaraan masyarakat lewat praktik dan falsafah pertanian.

Tentu saja, kehadiran Sayurankita di Gili Meno bukan sekadar membawa dan melaksanakan program lalu selesai. Tapi, Sayurankita, The This-kon, Forum Lenteng, dan Pasirputih, bersama masyarakat di sana akan mencari tahu sejarah dan potensi tanah lokal Gili Meno sendiri, memetakan, dan melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk keberlangsungan jangka panjang. Tujuannya jelas, agar tanah Gili Meno tetap menjadi milik masyarakat Gili Meno. Semoga proyek ini membawa rahmat bagi semuanya!

Dalam beberapa waktu ke depan, selain tetap menerbitkan informasi tentang aktivitas Sayurankita di Pekanbaru, saya dan tim Sayurankita yang lain akan bekerja sama dengan tim media dari Pasirputih untuk menerbitkan—semoga saja bisa berkala—informasi-informasi seputar proyek AKSARA TANI ini. Pantau terus kanal informasi kami, ya!

Salam Petani Indonesia!

 

Editor: Manshur Zikri