Cerita Dari dan Tentang ANA WARUNG

Penulis: Ana (salah satu warga Gili Meno; pemilik ANA WARUNG)
Penyunting: Manshur Zikri
Tulisan ini sudah pernah dimuat di www.berajahaksara.org dengan judul “AksaraTani; Peduli Dimulai Dari Diri Sendiri“. Dimuat kembali di Sayurankita.com dengan suntingan dan judul baru atas izin dari Yayasan Pasirputih.

 

Orang tua saya pindah ke Gili Meno dari Gili Air pada tahun 1991. Keadaan Gili Meno pada waktu itu masih seperti hutan. Masih banyak pohon-pohon dan nyamuk. Pertama kali sampai di Gili Meno, saya ikut orang tua menanam singkong, kacang hijau, kacang tanah, dan jagung. Sebelum pindah, saya juga sering ikut orang tua memetik kelapa ke Gili Meno. Kelapa dari Gili Meno ini bagus untuk kopra (buah kelapa yang dikeringkan; biasanya digunakan untuk bahan baku minyak kelapa—red). Hasil panen setelah dikeringkan menjadi kopra dijual ke pinggir (mainland—pulau Lombok).

Selain kelapa dan menanam palawija, di Gili Meno juga pernah ada perkebunan kapas selama dua tahun, sekitar tahun 1993. Perkebunan kapas mulai hilang karena pariwisata mulai masuk ke Gili Meno. Dulu, pariwisata di Gili Meno belum seperti sekarang, hanya ada beberapa penginapan dan sistemnya sudah satu paket dengan perjalanan dari Bali atau Senggigi. Tamu-tamu datang pagi untuk snorkeling, makan, lalu sorenya pulang.

Afifah Farida tengah berbincang dengan Ana (pemilik ANA WARUNG). (Foto: arsip Aksara Tani).

Sejak 1993 itu, ketika pariwisata mulai masuk, saya juga mulai terjun ke dunia pariwisata. Sebelumnya, saya kerja di restoran Malias, restoran pertama pada saat itu. Enam bulan bekerja di sana, pada awal tahun 1994, saya pindah ke Casablanka. Sering berpindah-pindah tempat kerja, akhirnya saya mencoba untuk membuka warung kecil-kecilan di depan Amber House (saat ini namanya Seri Resort). Sembari membuka warung, saya juga mencoba menanam rumput laut sampai tahun 1997. Dulu, di sini banyak yang menanam rumput laut, bahkan orang pinggir (orang-orang yang menetap di pulau Lombok—red) juga menanam dan membeli petakan-petakan untuk budidaya rumput laut. Harga petakan rumput laut itu masih Rp.150.000,- per are. Hasil panen rumput laut dikeringkan kemudian dijual. Harganya masih Rp.3000,- per kg. Di akhir tahun 1997, ketika mulai krisis moneter, dan saat itu ada fenomena El-Nino—meningkatnya suhu air permukaan laut—sehingga banyak terumbu karang dan rumput laut yang mati. Usaha rumput laut pun juga mati.

Setelah menikah, saya sempat vakum, tidak jualan, karena ikut suami. Namun, saya kembali ke Gili Meno tahun 1999 dan berjualan lagi menggunakan gerobak. Saat itu, apa saja saya jual, seperti jual kalung, roti, atau makanan-makanan ringan, nasi, sarung… Sejak mulai berjualan di warung kecil itu, saya sudah menggunakan nama ANA WARUNG. Akhirnya, di tahun 2011, ANA WARUNG pindah ke lokasi yang sekarang dan mulai besar seperti saat ini. Alhamdulillah juga, sudah ada beberapa kamar.

Bangunan ANA WARUNG, tampak dari samping. (Foto: arsip Aksara Tani).

Meskipun ANA WARUNG sudah mulai besar, saya mencoba untuk tidak meninggalkan makanan lokal, dan budaya lokal seperti menanam. Karena saya tahu bahwa tanah di sini masih bagus. Kalau musim hujan kita menanam, tanpa dikasih pupuk, hasilnya juga bagus. ANA WARUNG mencoba untuk terus menanam ketika musim hujan. Tahun ini, kita juga akan mencoba menanam singkong, pare, kecipir, komak, bawang merah, dan sejenis labu-labuan.

Tanaman anggur yang ditanam oleh Ana.
Tanaman sereh yang ada di pekarangan warung Ana. (Foto: arsip Aksara Tani).

Saya pernah mencoba menanam dengan sistem hidroponik. Sekitar satu tahun, hasilnya bagus. Tapi sekarang, sudah saya bongkar karena mengalami kesulitan untuk mendapatkan pupuknya. Setelah menanam hidroponik, saya menjadi mengerti bahwa hidroponik itu perlu ketelatenan dan sikap rajin—harus ada pengecekan larutan pupuknya, kekurangan atau kelebihan pupuk. Awal mula saya mencoba hidroponik ini karena terinspirasi dari kakak saya, Pak Hanaming. Dialah yang pertama kali mencoba hidroponik itu, Pak Hanaming, di OCE DEH. Melihat pertumbuhannya yang bagus, dan untuk kebutuhan dapur juga, maka saya pun mencoba membuatnya. Ketika ada instalasi hidroponik itu, saya dan karyawan juga senang melihatnya: hijau dan sayurannya segar. Tamu-tamu juga merasa senang. Akan tetapi, karena perawatan yang harus intens dan ketersediaan pupuk yang terbatas, usaha hidroponik itu pun berhenti.

Saya memang suka tanaman, suka melihat tanaman berbunga, dan berbuah. Sampai sekarang, saya masih mencoba menanam berbagai buah, seperti mangga, jambu, apel, lengkeng, dan rambutan. Yang sudah jelas bisa hidup dan berbuah itu pohon mangga. Pohon apel saya hidup, tapi belum mau berbuah, sedangkan pohon lengkeng dan rambutan masih tidak mau hidup.

Pengomposan yang diakukan oleh Ana. (Foto: arsip Aksara Tani).

Meningkatnya pariwisata di Gili Meno ini memang meningkatkan perekonomian di sini, yang pastinya berbeda dengan dulu. Tetapi, kita harus tetap mempertahankan budaya lokal agar tidak hilang karena pariwisata, salah satunya bertani. Kalau sekarang bungalow dan kafe sudah mulai banyak, kita masih tetap bisa menanam di kebun kecil, seperti yang sedang coba dilakukan ANA WARUNG. ANA WARUNG juga mencoba memanfaatkan sampah-sampah dapur untuk kompos. Sampai saat ini, yang kami lakukan adalah menimbun sampah-sampah itu, yang nantinya akan dijadikan media untuk menanam.

Briket botol yang dimanfaatkan warga sebagai pondasi pagar dan bangunan. (Foto: arsip Aksara Tani).

Sejak beberapa tahun belakangan, apalagi ketika pabrik sampah mulai ditutup, ANA WARUNG mencoba untuk lebih bijak mengelola sampahnya, baik sampah dapur maupun sampah-sampah botol dan plastik. Sampah dapur kita komposkan, sedangkan sampah botol dan plastik dijadikan briket botol. Ide untuk membuat briket botol itu datang dari suami saya, untuk mengurangi timbunan sampah di Gili Meno. Gerakan membuat briket yang kita lakukan ini juga untuk mengajak warga lokal agar dapat mengurangi sampah. Briket botol ini nanti akan dijadikan sebagai pondasi untuk membuat bangunan atau pagar.

Sekarang sudah ada beberapa rumah yang menggunakan briket botol untuk membuat pagar, dan menjadikannya sebagai pondasi bangunan. Untuk mengurangi sampah plastik, ANA WARUNG juga berkomitmen tidak menggunakan sedotan plastik, tetapi pakai sedotan yang terbuat dari bambu, dan ternyata banyak tamu yang juga senang dengan sedotan itu dan dapat dijadikan oleh-oleh. Dengan hal-hal yang seperti ini, ANA WARUNG ingin mengajak dan memberikan inspirasi kepada warga lokal, bahwa warung makan lokal yang dikelola oleh orang lokal juga bisa setara dengan restoran-restoran yang dikelola oleh orang asing, menarik dan ramah lingkungan. ***