Gotong Royong Warga Membuat Rengka

Penulis: Afifah Farida
Penyunting: Manshur Zikri
Tulisan ini juga dimuat di www.berajahaksara.org dengan judul “AksaraTani; Gotong Royong Warga Membuat Rengka“. Dimuat juga di Sayurankita.com dengan suntingan baru atas izin Yayasan Pasirputih.

 

Lombok memiliki cara tersendiri dalam merayakan hari-hari besar umat Islam, salah satunya hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal, yang bertepatan pada pertengahan bulan November hingga Desember 2017 lalu. Berbeda dengan perayaan di daerah lain, perayaan Maulid Nabi di Lombok sangat terasa sejak memasuki bulan kelahiran tersebut sampai hari terakhir. Dengan sendirinya, daerah-daerah di Lombok menentukan hari yang berbeda untuk merayakan Maulid Nabi agar dapat saling mengunjungi dan mengikuti perayaan tersebut. Jadi tidak heran, sepanjang bulan Rabiul Awal masyarakat Lombok, baik anak-anak, pemuda, maupun bapak-bapak dan ibu-ibu akan membicarakan perayaan Maulid Nabi di berbagai tempat, termasuk di Gili Meno.

Pernak-pernik penghias rengka. (Foto: arsip Aksara Tani).

Seperti perayaan Maulid Nabi di daerah-daerah lain, di Gili Meno juga mengadakan pengajian dengan mengundang Tuan Guru, berzikir, berdoa, dan makan bersama serta mengadakan berbagai lomba untuk memeriahkan hari peringatan tersebut. Yang menjadi ciri khas perayaan Maulid Nabi di Lombok, termasuk di Gili Meno, adalah adanya pawai rengka.

‘Rengka’ adalah replika benda yang dibuat sedemikian rupa secara bergotong royong, terbuat dari bambu ataupun kayu, yang kemudian dihiasi dengan pernak-pernik dan dipenuhi dengan berbagai macam makanan (jajanan). Selain di hari Maulid Nabi, rengka juga sering dibuat di acara-acara keagamaan sebagai wadah untuk membawa makanan. Bentuk rengka bermacam-macam sesuai kreativitas para pembuatnya. Tradisi rengka ini sudah ada sejak zaman dulu, yang berfungsi sebagai tempat untuk membawa sesajian (yang biasanya terdiri dari berbagai macam buahan, beras, dan bahan makanan lainnya) di acara-acara tertentu.

Berbagai macam jajanan, buah, dan makanan roahan diisi ke dalam rengka. (Foto: arsip Aksara Tani).

Menurut Bang Hadi, salah seorang warga Gili Meno yang turut serta membuat rengka, rengka ini akan diisi dengan berbagai macam buahan dan jajanan yang dibuat oleh ibu-ibu, dan akan diberikan ke tamu undangan yang datang dari luar pulau. Bang Hadi mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi di Gili Meno menjadi ajang silaturahmi. Keluarga-keluarga warga dari luar pulau akan berbondong-bondong berdatangan untuk mengikuti serangkaian acara Maulid Nabi di Gili Meno, mulai dari pengajian, khatam Quran, khitan atau hanya sekadar mengikuti lomba untuk memeriahkan acara Maulid Nabi.

Yang menarik bagi saya adalah, persiapan untuk memperingati Maulid Nabi terasa seperti merayakan lebaran. Beberapa hari sebelum acara, hampir di setiap berugak (tempat berkumpul berbentuk panggung beratap, seperti saung–red) rumah warga akan kita temui sekelompok ibu-ibu secara bersama-sama dan bergotong royong membuat jajanan untuk acara Maulid Nabi dan untuk mengisi rengka. Jajanan yang identik dengan perayaan Maulid Nabi adalah Pangan dan Nasi Rasul. ‘Pangan’ yang dimaksud di sini adalah makanan yang terbuat dari ketan dengan cara direbus lalu dicetak, kemudian dikeringkan atau dijemur dan digoreng. Pangan yang akan menghiasi rengka ini akan berwarna merah (dicampur gula merah) dan putih. Sedangkan Nasi Rasul, adalah nasi ketan berwarna kuning yang diberi parutan kelapa dan suwiran ayam bumbu yang haya ditemui di acara Maulid Nabi. Ketersediaan jajanan ketan ini merujuk pada sumber makanan zaman dulu, berupa beras ketan. Keberagaman jajanan yang mengis rengka menunjukkan bahwa meskipun berbeda dan tidak sama, kita harus selalu hidup rukun dalam satu tempat. Rengka akan mulai diisi dengan berbagai macam jajanan pada pagi hari saat acara Maulid Nabi, sebelum pawai dimulai.

Warga bergotong royong membuat rengka. (Foto: arsip Aksara Tani).

Selain bergotong royong membuat rengka, membuat jajanan, dan menggiring rengka menuju masjid, warga juga bergotong royong dalam menyediakan makanan untuk roahan (makan bersama setelah zikiran pada saat acara Maulid Nabi). Sebagaimana tradisi roahan di Lombok, makanan diletakkan dalam nare, kemudian dimakan bersama untuk 3-5 orang, maka begitu juga roahan pada acara Maulid Nabi. Jika roahan pada acara-acara lain pihak yang punya hajat memasak dan menyediakan semua makanan, di roahan pada saat Maulid Nabi, ibu-ibu akan bergotong royong membawa makanan nasi serta lauk pauknya ke masjid dan akan diterima oleh ibu-ibu yang bertugas di dapur, kemudian akan disusun dalam nare, sedangkan kaum laki-laki akan bertugas membawa nare tersebut ke tempat kumpulan bapak-bapak setelah berdoa bersama. Kita tidak perlu khawatir akan terjadi perbedaan lauk pauk yang dibawa ibu-ibu, karena dengan sendirinya lauk pauk yang dibawa ibu-ibu akan seragam dan sama. Hal ini karena tradisi roahan Maulid Nabi sudah turun temurun dan memiliki menu-menu yang harus ada ketika roahan.

Rengka diarak oleh warga secara berbondong menuju masjid. (Foto: arsip Aksara Tani).

Melihat rangkaian acara Maulid Nabi di Gili Meno dengan semangat gotong royongnya dalam membuat rengka, jajanan tradisional, dan menyediakan makanan, saya sadar bahwa ini merupakan salah satu cara yang sedang dilakukan generasi sekarang untuk memelihara budaya gotong royong itu agar tidak hilang terbawa perubahan zaman, terlebih lagi di pusat pariwisata seperti di Gili Meno. Ternyata, untuk membuat acara sebesar dan semewah seperti acara Maulid Nabi ini tidak begitu membutuhkan biaya yang cukup besar, karena warga dengan sadar bergotong royong agar acara Maulid Nabi ini bisa dilaksanakan dengan baik. ***