Penjual Tanaman di Pulau Garam

Penulis: Afifah Farida
Penyunting: Manshur Zikri
Tulisan ini sudah pernah dimuat di http://www.berajahaksara.org dengan judul “AksaraTani; Penjual Tanaman di Pulau Garam“. Dimuat kembali di Sayurankita.com dengan suntingan baru dan atas izin Yayasan Pasirputih.

 

Seperti biasa, pagi itu kampung di Pulau Garam, julukan bagi Gili Meno, masih sepi. Menurut beberapa orang lokal yang memiliki usaha penginapan, termasuk Mbak Ace (pemilik dan pengelola The This-kon), bulan Oktober sampai Desember nanti adalah bulan-bulan sepi kedatangan tamu. Bulan ini biasanya digunakan untuk melangsungkan pembangunan dan pembenahan kebun setelah musim kering. Biasanya, hujan di Gili Meno dimulai pada bulan November hingga awal tahun nanti. Jadi, tidak heran beberapa kali Pak Masnun datang ke Gili Meno membawa beberapa tanaman.

Pak Masnun adalah orang asli Banyumulek, Lombok Barat. Keseharian Pak Masnun adalah berdagang keliling bibit tanaman, mulai dari tanaman hias, buah-buahan, media tanam, hingga gerabah, bahkan mainan anak-anak. “Saya menjual bibit tanaman biasanya ketika musim hujan mulai masuk, kalau musim kering biasanya saya menjual gerabah atau mainan anak. Gerabah saya ambil dari Banyumulek, karena Banyumulek itu salah satu daerah penghasil gerabah di Lombok,” kata Pak Masnun sambil menikmati segelas lemon tea dingin yang disajikan oleh Ririn, salah satu karyawan di The This-kon. Menurut Bang Imran (suami Mba Ace), setiap ke Meno, Pak Masnun akan menyempatkan diri untuk datang ke The This-kon walau hanya untuk bertegur sapa dan bertukar cerita.

Pak Masnun (mengenakan topi) tengah beristirahat di The This-kon. (Foto: arsip Aksara Tani).

Pak Masnun, tidak ingat betul sejak tahun berapa ia menjadi penjual bibit tanaman. Kata Pak Masnun, dia mulai keliling di Gili Meno saat hotel-hotel masih sepi, tidak seperti saat ini yang sudah mulai banyak. Sebelum di Gili Meno, Pak Masnun berjualan di Gili Trawangan dan Gili Air. Pak Masnun mencoba peruntungan pertama kali di daerah Rempek, Gangga, Lomok Utara. Saat itu, ia menjual bibit mangga dengan harga Rp.1500,- per pohon. Setelah itu, Pak Masnun mulai mencoba menjual bibit di Gili Trawangan, karena Trawangan mulai dikenal dengan pariwisatanya. Ketika menjual tanaman di Gili Trawangan, banyak bibit yang mati karena udara dan lingkungan panas. Dari bibit-bibit tanaman hias yang dijual, ada beberapa yang tumbuh dengan baik dan terus berbunga, yaitu bunga kertas dan bunga kamboja jepun. Pertama kali, ia beli bibit tanaman tersebut dari Jawa, dan mulai ia kembangkan sendiri. Jika berhasil, maka selain menjual bibit yang dibeli juga menjual bibit yang dihasilkan tersebut. “Itu juga tidak banyak, kita juga masih belajar. Biasanya, kalau selain ke Jawa, kita juga nyari bibit di Rembiga,” kata Pak Masnun.

Setelah mulai rutin berjualan di Gili Trawangan, Pak Masnun bertemu dengan orang Gili Meno yang bekerja di Trawangan, dan memesan beberapa bibit untuk dibawa di Gili Meno. Maka, mulai saat itu, Pak Masnun menjual bibit tanaman ke tiga Gili secara bergilir. Pak Masnun akan ke Gili Meno per 2 atau 3 hari. Menurutnya, permintaan bibit tanaman di Gili lebih banyak daripada di mainland (sebutan untuk daerah di pulau Lombok), karena di mainland banyak penjual bibit tanaman. “Kalau di Gili, bisa dikatakan baru saya aja yang masih keliling jual bibit,” jawab Pak Masnun, ketika ditanya mengapa memilih untuk bolak-balik menjual bibit ke Gili. Bunga yang paling banyak dipesan dan dibeli oleh orang dan bungalow-bungalow di Gili adalah bunga kertas, kamboja, dan pohon mangga, karena bunga-bunga tersebut memang dapat hidup di cuaca yang panas dan kering.

“Pertama kali jualan di Gili, saya keliling ke bungalow-bungalow, ke guest house untuk mencari pembeli. Sekarang, Alhamdulillah, mulai ada yang mesan. Kadang saya membawa barang pesanan, bisa bunga, bisa buah. Ya, tergantung orang mau pesan apa. Kadang juga bawa media tanam, kayak Bang Imran pesan sekam bakar, ya, saya bawakan,” cerita Pak Masnun tentang pekerjaannya. “Ya, namanya juga jualan, kadang ada aja yang komplain. Biasanya, komplain itu datang kalau beli barangnya borongan. Mereka mau beli tanaman dengan ukuran tertentu dan harga yang murah. Jadinya, kan, susah! Pernah juga kita kena komplain, kenapa tanamannya mati dan gak numbuh. Ya, kan, itu tinggal bagaimana perawatannya kita. Kalau gak dipelihara, ya, bisa mati. Makanya, biasanya saya bawa bibit itu mulai masuk musim hujan. Kalau nanam di musim kering, rentan mati tanamannya. Karena di sini benar-benar kering. Sekarang udah lumayan, ada sumur dan udah ada penyulingan.”

Pak Masnun dan seorang kawannya melanjutkan perjalanan menjual tanaman. (Foto: arsip Aksara Tani).

Menurut Pak Masnun, hidup atau tidaknya bibit yang dibeli, tidak hanya tergantung dari kualitas bibitnya, tetapi juga bagaimana cara memeliharanya. “Saya juga senang, banyak yang mau beli tanaman. Jadi, meskipun bungalow-bungalownya banyak, tapi tetap hijau, bibit saya tetap dibeli. Hehe!” tutup Pak Masnun sambil melangkahkan kaki keluar dari The This-kon untuk melanjutkan perjalanannya mengantar pesanan dan berkeliling mencari pembeli tanaman hias atau buah. ***