Bertani Untuk Berbahagia di The This-Kon

Penulis: Muhammad Imran (anggota Yayasan Pasirputih; pemilik dan pengelola rumah singgah The This-kon, Pemenang, Lombok Utara)
Penyunting: Manshur Zikri
Tulisan ini sudah pernah dimuat di www.berajahaksara.org dengan judul “AksaraTani; Bertani Untuk Berbahagia di The This-Kon“. Dimuat kembali di Sayurankita.com dengan suntingan baru dan atas izin Yayasan Pasirputih.

 

Awal mula The This-Kon

The This-Kon berdiri pada awal September tahun 2016. Sejarah The This-Kon ini berawal dari obrolan dengan Yayasan Pasirputih dan Forum Lenteng, tentang bagaimana membuat suatu tempat sebagai art space yang dapat membentuk suatu ruang yang bermanfaat. Selain itu, saya juga menyadari latar belakang istri saya yang basis pendidikannya Bahasa Inggris dan Pariwisata, yang saat itu masih bekerja dengan orang lain. Saya berpikir, sudah cukup rasanya Ace, panggilan istri saya, bekerja dengan dan untuk orang lain—bosnya orang Eropa. Mengapa saya dan Ace tidak mengelola usaha sendiri saja, agar ilmu Ace, selain dapat berkembang, juga dapat dibagi dengan orang lain, warga Pemenang, baik ilmu bahasa Inggris maupun ilmu dalam mengelola guest house atau bungalow dan berinteraksi dengan tamu-tamu…? Dari sini, saya kemudian berinisiatif untuk membuat The This-Kon yang selain sebagai art space, juga berfungsi sebagai fasilitas dan ruang kreatif bagi Ace untuk terus berkembang dan berbagi. Jadi, ruang yang bermanfaat ini tidak hanya untuk orang lain, tapi juga bagi istri dan ekonomi keluarga saya.

Nama The This-Kon mungkin terdengar tidak seperti nama bungalow-bungalow lain yang memberi namanya dengan serius. Saya dan Ace mencoba mencari nama yang lucu tapi tetap keren. Sebelum The This-Kon, nama tempat ini “Gratis”. Setelah beberapa lama, saya kembali berpikir dengan nama “Gratis” ini, nanti orang-orang benar-benar berpikir tempat ini gratis. Maka, saya dan Ace mengganti namanya menjadi  “Diskon”, tapi bagi saya nama ini masih belum keren. Setelah beberapa malam berpikir, maka saya, Ace dan dua orang teman Ace, Ari dan Sandika, berdiskusi tentang nama tempat ini. Setelah berembuk, muncullah nama “The This-Kon” yang artinya “Ini Tempat”. “This” berasal dari bahasa Inggris yang artinya “ini”, sedangkan “Kon” berasal dari bahasa Pemenang (Lombok Utara) yang artinya “Tempat”. Dengan menggunakan kata “The This-Kon” maka antara bisnis dan aksi sosialnya ada, seimbang. Secara bisnis, menjadi menarik karena “diskon”, sedangkan secara sosial, artinya adalah “ini tempat”, yang bisa menjadi “tempat apa saja”, bisa jadi tempat menginap, tempat sharing, tempat ngumpul, tempat bertani atau tempat berekspresi.

Perbedaan The This-Kon dengan bungalow-bungalow lain adalah cara pelayanannya yang memakai prinsip kekeluargaan. Kita berusaha melihat kebutuhan tamu secara detail dan mengutamakan kenyamanan tamu meskipun sistem pelayanannya sederhana. Selain itu, antara pegawai dan owner tidak ada keterikatan (atas-bawah) dan kita memiliki kesetaraan dalam berpikir. Tidak ada perbedaan antara pekerja dan owner.

Saya bersama Ace juga sedang mencoba membangun dan menyediakan akomodasi yang tidak terlalu formal tapi nyaman untuk tamu-tamu, agar tamu-tamu dan teman-teman dapat nongkrong dengan nyaman dan santai seperti eco hostel. The This-Kon mencoba menjawab kebutuhan itu dengan menyediakan “program residensi”. Yang artinya, teman-teman bisa tinggal di The This-Kon dengan harga terjangkau, sembari memberikan sesuatu yang positif untuk The This-Kon dan warga Gili Meno. Salah satu “program residensi” yang sedang kami coba terapkan adalah pelaksanaan proyek Aksara Tani ini.

Menanam di pekarangan The This-kon. (Foto: arsip Aksara Tani)
The This-Kon Menanam

Mengapa The This-Kon mau menanam? Ya, karena menurut saya, menanam itu penting. Pertama, untuk memenuhi kebutuhan. Karena Ace sangat suka makan sayur. Salah satunya, ya, bagaimana The This Kon ini juga menyediakan kebutuhan Ace dengan mudah. Mimpi saya dan Ace adalah The This-Kon memiliki restoran yang sehat. Nah, untuk memenuhi kebutuhan restoran itu makanya The This-Kon mencoba menanam sayur-sayuran.

Dengan menanam juga, The This-Kon mencoba menyediakan ruang yang bermanfaat. The This-Kon juga ingin membuka kelas. Salah satunya, dengan kegiatan menanam ini, kami dapat mengajak warga untuk belajar (dan di sini kita sama-sama belajar, tentunya). Ace yang berlatar belakang pendidikan Bahasa Inggris, dengan adanya kelas menanam ini, dapat menyalurkan ilmu Bahasa Inggrisnya, seperti mengenal tanaman dengan bahasa Inggris untuk anak-anak warga di sini.

Imran, pemilik The This-kon, tengah membuat papan nama-nama tanaman yang ada di perkebunan The This-kon. (Foto: arsip Aksara Tani).

Selain itu, The This-Kon juga ingin merespon keadaan pulau ini (Gili Meno). Sebelum terjadinya perkembangan pariwisata, masyarakat Gili Meno juga menanam, terutama menanam palawija, kacang-kacangan. Saya ingin mengembalikan atau (setidaknya) mengenang masa lalu itu. Meskipun saya bukan warga asli Gili Meno, saya bisa merasakan bagaimana perubahan-perubahan di Gili Meno. Menurut saya, sayang saja kalau pulau ini “ditumbuhi” dengan bangunan-bangunan, tetapi tidak memperhatikan lingkungan. Tidak hanya pulau ini, tetapi juga dua Gili lainnya, pemasok sayuran masih berasal dari pinggir (mainland), terutama dari Lombok Timur. Maka sebenarnya, menanam ini juga hitung-hitung ngirit biaya dapur, kalau sudah ada sayur di rumah maka kita gak perlu beli sayur lagi.

Kemarin, saya dan Ace sempat mencoba  menanam cabai saat ada isu harga cabai tinggi. Hanya saja, saya dan Ace tidak ngerti bagaimana cara menanam yang baik. Karena kurangnya perawatan, sekali panen, tanamannya layu dan mati terbengkalai. Selain cabai, saya juga pernah menanam singkong. Menghasilkan meskipun masih maksimal karena juga tidak terawat dengan baik. Hehe!

Imran (kiri) dan Gozali (kanan; ketua Yayasan Pasirputih) tengah mempersiapkan media tanam. (Foto: arsip Aksara Tani).

Saat Bangsal Menggawe 2017 lalu, ketika teman-teman Jakarta datang ke Gili Meno, saya berdiskusi dengan bang Hafiz (Ketua Forum Lenteng) dan Gozali (Ketua Yayasan Pasirputih). Dari obrolan itu, saya menemukan semangat untuk menanam lagi, salah satu tujuannya untuk pengetahuan dan kita mencoba mengemasnya semenarik mungkin. Kemasan ini diwujudlam dalam proyek Aksara Tani. Tidak hanya fokus pada menanam saja, tetapi juga bagaimana mendapat pengetahuan dan menyampaikan informasi tentang pertanian sekaligus mendapat informasi tentang pertanian Gili Meno. The This-Kon optimis bahwa ada sayuran yang dapat tumbuh dengan baik karena kemarin kami sudah mencoba menanam sawi, cabai, dan singkong. Memang belum terpelihara dengan baik, tetapi untuk sampai pada tahap itu, masih butuh waktu dan penelitian demi menemukan metode penanaman yang baik karena kondisi tanah dan air di Gili Meno yang berbeda dengan kondisi di pinggir (mainland).

The This-Kon berharap kita semua masuk surga dengan adanya kegiatan ini dan warga juga merespon Aksara Tani dan mau bertanam dan belajar bersama. Mari menanam! ***