Menggaso, Usaha Sampingan Nelayan Meno

Penulis: Afifah Farida
Penyunting: Manshur Zikri
Tulisan ini sudah pernah dimuat di http://www.berajahaksara.org dengan judul “AksaraTani; Menggaso, Usaha Sampingan Nelayan Meno“. Dimuat kembali di Sayurankita.com dengan suntingan baru dan atas izin Yayasan Pasirputih.

 

Menggaso merupakan kerajinan anyaman atap dari daun kelapa yang masih dapat kita temui di Lombok Utara, termasuk di Gili Meno. Menggaso artinya mengikat dan menyusun daun-daun kelapa pada kayu, bambu, atau batang dari bagian daun kelapa sehingga membentuk lembaran yang bisa digunakan untuk atap rumah. Adalah Pak Mahwi, salah satu warga Gili Meno yang masih melakukan usaha menggaso, dibantu oleh anak dan saudaranya. Menurut penuturannya, di Gili Meno masih ada beberapa kelompok yang masih melakukan usaha ini. Baginya, menggaso adalah kegiatan sampingan yang dibuat ketika ada pesanan, sedangkan pekerjaan utama Pak Mahwi adalah nelayan.

Salah seorang ibu warga Gili Meno tengah menggaso. (Foto: arsip Aksara Tani).

Pak Mahwi berasal dari Gili Air sebelum pindah dan menetap di Gili Meno. Pekerjaan nelayan ditekuni olehnya sejak kecil bersama orangtuanya ketika tinggal di Gili Air. Pada saat itu, nelayan masih menggunakan kapal kecil tanpa mesin dan menggunakan pancingan. Sampai saat ini, Pak Mahwi masih menggunakan pancingan untuk menanggkap ikan meskipun sudah menggunakan kapal mesin. Hasil melaut tersebut dijual ke daerah Pandanan, Senggigi, Kecinan, atau Bali. Menurut Pak Mahwi, dulu di Gili Meno belum ramai dan banyak orang seperti saat ini sehingga hasil melaut tidak habis dijual di Gili Meno, makanya hasil tersebut dijual pula di Lombokβ€”sebutan warga Gili untuk mainland kepulauan Lombokβ€”atau di Bali. Namun, tidak jauh berbeda dari sekarang, meskipun Gili Meno mulai ramai kedatangan pendatang, hasil tangkapan ikan juga masih sering dijual di Lombok daripada di Gili Meno, tergantung jarak melaut dengan daratan. Jika melaut dekat dengan Gili Meno, biasanya hasil tangkapan ikan dijual ke Gili Meno. Menurutnya lagi, dulu, ikan masih banyak dan mudah ditangkap namun nelayan kesulitan saat menjual dan harganya sangat murah, sedangkan sekarang ikan mulai sedikit, tetapi harganya lebih mahal. Kadang, pergi melaut hanya dapat satu bakul besar, dan ketika sampai di Gili Meno, langsung habis karena banyak warung-warung makan yang mencari ikan-ikan segar.

Pak Mahwi juga pernah menjadi kapten kapal penyeberangan dari Pelabuhan Bangsal (yang terletak di mainland) menuju Gili Trawangan selama 8 tahun. Namun, pada akhirnya ia memilih berhenti karena pendapatan yang diperoleh tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga. Pak Mahwi bercerita bahwa menjadi seorang kapten belum tentu pendapatannya besar, karena yang digunakan bukan kapal milik sendiri sehingga ada bagi hasil yang menurut Pak Mahwi tidak sehat. Menjadi seorang kapten, selain bertanggungjawab pada keselamatan penumpang, juga harus bertanggungjawab pada keselamatan kapal. Tidak sama dengan angkutan darat yang ketika parkir relatif lebih aman tidak berpindah, kapal tetap bergerak mengikuti gerak laut sehingga pada saat parkir, masih ada kemungkinan antar kapal bertabrakan, terutama saat musim angin kencang. Melihat pertanggungjawaban yang cukup tinggi tersebut, akhirnya Pak Mahwi memilih berhenti menjadi kapten kapal.

Pada musim angin kencang, hujan, dan tidak bisa melaut, Pak Mahwi juga pernah bertani menanam jagung, kacang hijau, kacang tanah, dan singkong. Bahkan, waktu kecil, Pak Mahwi pernah merasakan menanam dan memanen kapas selama dua tahunan di Gili Meno. Menurutnya, sebelum pariwisata masuk, tidak ada jual-beli di Gili Meno. Pak Mahwi pernah merasakan makan nasi singkong, sayur daun ubi, dan tumbuh-tumbuhan lain yang ada di hutan, dan ikan dari laut. Jual-beli barang-barang kebutuhan seperti beras dan yang lainnya mulai masuk ketika pariwisata mulai masuk, ketika akses dari mainland ke Gili lebih gampang. Saat ini, bertani tidak lagi dilakukan karena lahan-lahan sudah dijual dan sudah banyak dimiliki oleh pendatang meskipun lahan-lahan tersebut masih belum dibangun.

Hamdani (seniman video, salah satu anggota Yayasan Pasirputih) tengah mewawancarai Pak Mahwi. (Foto: arsip Aksara Tani).

Meskipun pekerjaan utama Pak Mahwi adalah nelayan, atau pernah menjadi kapten kapal, usaha menggaso yang paling banyak membantu perekonomian keluarganya. Menggaso sudah ditekuni oleh Pak Mahwi dan istrinya sejak tahun 1970-an, setelah menikah dan pindah ke Gili Meno. Pak Mahwi mengaku bahwa biaya sekolah anak-anaknya lebih banyak berasal dari usaha menggaso daripada menjadi kapten kapal atau nelayan yang hasilnya tidak menentu. Permintaan atap daun kelapa sampai saat ini masih cukup banyak karena bangun-bangunan rumah, bungalow, atau berugaq (istilah khas di Lombok untuk menyebut tempat berkumpul dan menerima tamu di luar rumah utama, yang biasanya terbuat dari bambu atau kayu dengan atap daun kelapa atau alang-alang) di Gili Meno masih menggunakan atap dari daun kelapa.

Daun kelapa untuk menggaso ini diperoleh dari hasil memungut di kebun kelapa, dan dibeli dari tetangga satu paket dengan kayu tengah untuk mengikat daun kelapa tersebut. Pak Mahwi mengatakan bahwa pencarian daun kelapa mulai susah karena pohon-pohon kelapa mulai banyak ditebang untuk pembangunan bungalow dan kebun kelapa sudah mulai banyak dijual dan ada pemiliknya. Daun kelapa yang digunakan adalah daun kelapa kering yang direndam dengan air sebelum diikat, dan setelah selesai diikat, dijemur agar kembali kering. Perendaman tersebut bertujuan agar daun tidak patah dan hancur ketika dilipat. Menurut Pak Mahwi, dalam satu bulan, produksi atap kelapa bisa mencapai 300 lembar. Dalam satu hari, Pak Mahwi, anak dan istrinya masing-masing dapat menggaso sampai 6-10 lembar dengan panjang sekitar 1.5 m. Satu lembar daun atap kelapa dijual serharga kurang-lebih Rp. 8000.-

(Foto: arsip Aksara Tani).

Dulu, Pak Mahwi juga pernah menggaso menggunakan alang-alang. Berhubung saat ini alang-alang sudah tidak bisa ditemukan di Gili Meno, maka Pak Mahwi hanya menggaso menggunakan daun kelapa. Menurutnya, selama kita masih menggunakan budaya atap rumah dari daun kelapa untuk berugaq, maka menggaso akan tetap ada dengan catatan pohon kelapa juga masih ada. Karena daun kelapa adalah bahan utama menggaso setelah alang-alang sudah tidak lagi dapat ditemukan. Ketika pembangunan pariwisata tidak memedulikan hal-hal kecil seperti ini, hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa budaya menggaso akan hilang seiring hilangnya pohon-pohon kelapa yang digantikan dengan bungalow-bungalow mewah. ***