Cerita Beberapa Nelayan tentang Membuat Kapal

Penulis: Afifah Farida
Penyunting: Manshur Zikri

 

Kegiatan yang akan sering kita temukan di pantai Gili Meno, selain orang-orang berenang bahagia dan menikmati terik matahari di pasir putihnya, adalah orang-orang yang bercengkrama dengan kapalnya. Bagi orang-orang yang tinggal di Gili (pulau), kapal adalah salah satu hal yang paling penting, karena tidak hanya berfungsi untuk berlayar menangkap ikan, tetapi juga menjadi penghubung antara pulau dan mainland (pulau Lombok utama—red). Tidak ada kapal, berarti tidak bisa ke mainland untuk mencari kebutuhan hidup lainnya, tidak bisa menangkap ikan, dan tidak ada bahan makanan. Oleh karena itu, membuat kapal adalah skill (keahlian) yang harus dimiliki oleh orang Gili, termasuk Gili Meno.

Beberapa nelayan Gili Meno sedang membuat kapal. (Foto: arsip Aksara Tani).

Sore di bulan Desember, tidak hanya satu-dua orang yang membuat kapal, tetapi hampir di sepanjang pantai ada kelompok-kelompok yang membuat dan memperbaiki kapal, seperti Pak Mahwi dan dua orang temannya, Pak Sabarudin dan Pak Suparman (orang lokal Gili Meno dan anggota kelompok nelayan Gili Meno) yang sedang membuat badan kapal dengan aluminium di pantai sebelah barat. Menurut Pak Mahwi, sebagai orang yang tinggal di Gili, kapal menjadi sendi kehidupannya. Dengan memiliki kapal sendiri, Pak Mahwi tidak bergantung dengan transportasi umum, ke mana saja menjadi lebih mudah dan tidak terikat dengan jadwal kapal umum.

Tidak hanya mereka, jika berjalan ke pantai timur, kita juga akan menemukan beberapa kelompok yang juga sedang membuat kapal, Pak M. Amin salah satunya. Pak M. Amin berasal dari Sumbawa yang telah tinggal di Gili Meno sejak tahun 1999 dan mulai membuat kapal sejak tahun 2001. Berbeda dengan Pak Mahwi yang membuat kapal untuk digunakan sendiri, Pak Amin membuat kapal pesanan, untuk transportasi antar-Gili, dari Gili ke pelabuhan Bangsal, atau hanya sekadar mengantar tamu untuk snorkeling. Menurut Pak Amin, hampir setiap tahun akan ada yang memesan kapal, dan biasanya pesanan kapal akan berdatangan pada musim pengunjung sepi (low season), sekitar bulan November-Desember. Kapal-kapal ini biasanya persiapan untuk musim pengunjung ramai (peak season).

(Foto: arsip Aksara Tani).
(Foto: arsip Aksara Tani).

Saat ini, Pak Amin sedang membuat kapal yang berukuran lebar 2,5 m dan panjang 9 m. Ia mengaku, dengan tenaga kerja dua orang, kapal tersebut dapat selesai dalam waktu sekitar 3 bulan. Modal untuk pembuatan kapal tergantung besar-kecilnya kapal dan jenis material yang digunakan. Kebutuhan material untuk pembuatan kapal berasal dari mainland (Lombok—biasa juga disebut oleh warga dengan istilah “pinggir”). Jika dulu orang-orang membuat kapal menggunakan kayu, baik untuk badan, tiang, atap, maupun deknya, sekarang badan dan atap kapal dibuat dari aluminium. Pak Amin mengaku bahwa kapal yang dibuat dengan aluminium akan lebih tahan lama daripada kapal yang dibuat dari kayu. Kayu rentan rapuh dan dimakan kutu air karena hampir selalu berada di laut. Selain itu, kapal dari kayu juga butuh perhatian lebih khusus agar bertahan lebih lama.

Bercerita tentang kapal, sebagaimana tradisi orang pesisir umumnya, di Gili Meno juga memiliki tradisi ketika kapal selesai dibuat dan siap untuk melaut. Biasanya, sebelum kapal diturunkan ke laut, diadakan acara roahan (doa selamatan) bersama. Roahan yang dilakukan di pantai ini ialah sebagai wujud syukur karena pembuatan kapal dapat diselesaikan dengan baik.

Sebagaimana tradisi masyarakat Bugis, katanya sebelum kapal diturunkan ada tradisi membuang sesajen ke laut sebagai penanda bahwa kapal akan berlayar di laut, baik untuk menangkap ikan maupun mengantar penumpang. Kemudian, pemilik kapal meletakkan beras ketan merah dan putih di bagian depan, tengah (badan), dan belakang kapal. Ketika saya tanya kepada Daeng Sik apa artinya, Daeng sik juga tidak tahu. Hanya saja, menurutnya, itu sudah dilakukan turun temurun sejak dulu. Setelah itu, secara bersama-sama dengan mengikuti aba-aba, warga akan mendorong kapal ke laut. Setelah kapal menyentuh laut, maka semua warga, baik tua maupun muda, bahkan anak-anak akan makan bersama di tepi pantai. Tradisi ini masih dilakukan sampai saat ini sebagai salah satu cara untuk menjaga kebersamaan antarwarga dengan bergotong royong. ***