Cidomo: Alat Transportasi Di Gili Meno

Penulis: Afifah Farida
Penyunting: Manshur Zikri
Tulisan ini dimuat juga di www.berajahaksara.org dengan judul “AksaraTani; Cidomo Alat Transportasi Di Gili Meno“. Dimuat di Sayurankita dengan suntingan baru atas izin Yayasan Pasirputih.

 

Cidomo adalah satu-satunya angkutan umum yang akan kita temui sejak menginjakkan kaki di Gili Meno. Masyarakat yang mendiami pulau dengan luas hanya 150 ha itu sampai saat ini tidak mengizinkan kendaraan bermesin karena ketentraman dan kenyamanan pulau dapat terganggu oleh suara bising kendaraan. Cidomo adalah singkatan dari cikar, dokar, dan motor. Jika Cikar adalah kendaraan yang ditarik oleh kuda untuk mengangkut barang, dokar untuk mengangkut penumpang dengan roda yang dibuat dari kayu, maka cidomo adalah kendaraan untuk penumpang yang diangkut oleh kuda dengan roda yang terbuat dari ban motor (roda motor).

Salah satu cidomo tengah berhenti di depan sebuah rumah, menjemput penumpang. (Foto: arsip Aksara Tani).

Cidomo mulai masuk ke Gili Meno sejak pariwisata mulai berkembang pada pertengahan tahun 1990-an. Cidomo yang ada di Gili Meno didatangkan dari Tanjung, salah satu daerah yang memproduksi cidomo. Saat ini, Gili Meno memiliki 20 cidomo yang tergabung dalam kelompok Cidomo Danau Indah. Informasi yang saya peroleh dari Pak Nasir, salah satu penarik (kusir) Cidomo, setiap pemilik cidomo juga memiliki cikar atau jaran dongol (angkutan umum pengangkut barang). Menurut Pak Asni yang juga memiliki cidomo, rata-rata, masing-masing kusir cidomo memiliki dua ekor kuda yang akan digunakan secara bergantian sehingga kuda tetap sehat dan dapat menarik cidomo dengan baik.

Bengkel cidomo di Gili Meno. (Foto: arsip Aksara Tani).

Setiap lokasi yang memiliki cidomo sebagai salah satu angkutan umumnya akan memiliki warna yang khas. Umumnya, warna untuk cidomo ialah warna-warna terang agar mudah dapat terlihat dari kejauhan. Gili Meno memilih warna biru dan putih sebagai ciri khas cidomonya, dengan filosofi bahwa, warna biru identik dengan lautβ€”karena Gili Meno di kelilingi oleh laut biru yang indahβ€”dan warna putih identik dengan makna bersih dan suciβ€”yang artinya, agar cidomo di Gili Meno tetap dapat menjaga kebersihan pulau.

Seorang pemilik cidomo sedang mengecat ulang cidomonya. (Foto: arsip Aksara Tani).

Cidomo di Gili Meno dapat kita temukan berkumpul di dekat pelabuhan. Sistem kerja para kusir cidomo menggunakan sistem antrian atau kelas, yang akan mendapatkan giliran mengangkut penumpang. Sistem ini disepakati oleh semua anggota kelompok cidomo dan akan dikenakan sanksi tidak boleh mengangkut penumpang selama 6 hari jika melakukan pelanggaran.

Berbeda dengan Gili Trawangan yang hampir ramai pengunjung sepanjang tahun, Gili Meno memiliki musim ramai (peak season) dan musim sepi (low season) yang akan memengaruhi pendapatan cidomo. Pada musim ramai pengunjung, sebuah cidomo dapat mengangkut penumpang sampai 10 kali angkut, sedangkan di musim sepi, cidomo hanya mendapat giliran rata-rata 2 sampai 3 kali giliran per hari.

Tarif cidomo di Gili Meno akan terasa mahal jika dibandingkan dengan tarif di pelabuhan Bangsal atau di tempat lain. Bukan tanpa alasan para kusir cidomo mengambil kebijakan tarif yang mahal tersebut. Tidak hanya karena berada di daerah wisata, tetapi juga karena dalam merawat cidomo, terutama merawat kuda, si pemilik dapat menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Pak Asni bercerita bahwa, untuk menyediakan makanan kuda di musim kering (kemarau), pemilik cidomo harus membeli pakan ke luar pulau karena pakan untuk kuda tersebut tidak tersedia di pulau akibat kondisi pulau kering dan tandus, ditambah lagi jika kondisi Gili Meno yang sedang berada di musim sepi pengunjung. Oleh karena itu, menurut Pak Asni, kebijkan tarif cidomo tersebut dirasa sangat wajar. Para kusir cidomo juga tidak pernah memaksa pengunjung untuk naik cidomo. Dan seperti yang dikatakan Pak Nasir, kusir cidomo akan melayani pengunjung yang ingin di antar keliling Gili Meno atau ke penginapan sesuai dengan tarif yang telah ditentukan oleh kelompok. ***