Pengantar Kuratorial Pameran “Presentasi Publik Aksara Tani Gili Meno”

Penulis: Ahmad Rosidi (anggota Pasirputih, selaku kurator pameran Presentasi Publik Aksara Tani Gili Meno)
Penyunting: Manshur Zikri
Tulisan ini diambil dari katalog pameran Aksara Tani, bertajuk “Presentasi Publik Aksara Tani Gili Meno” yang diselenggarakan oleh Sayurankita, The This-kon, Pasirputih, dan Forum Lenteng di Gili Meno, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, tanggal 13-14 Januari 2018. Dimuat kembali di Sayurankita.com dengan suntingan baru atas izin Yayasan Pasirputih.

 

“Sayur… sayuuur… sayuuur!” suara ibu-ibu pedagang sayur bakulan keliling, menawarkan sayuran dagangannya setiap hari. Gili Meno manjadi lokasi berjualan yang menarik bagi para pedagang, entah sayur, bunga, kopi, kembang, gelang dan lain-lain.

Gili Meno merupakan salah satu pulau kecil di kepulauan Lombok. Terletak di bawah Pemerintahan Kabupaten Lombok Utara, Gili Meno berada tepat di tengah antara dua pulau kecil lainnya, yaitu Gili Trawangan dan Gili Air. Gili Meno memang menjadi destinasi wisata yang cukup terkenal hingga mancanegara. Kehadiran para pelancong lokal dan mancanegara menjadikan Gili Meno mendapatkan beberapa penghargaan nasional hingga internasional.

Keindahan pulau kecil tersebut memang sudah tidak bisa dipungkiri. Selain keindahannya, warganya juga sangat ramah-tamah, saling sapa satu sama lain dan bergotong royong. Melihat Gili Meno memang masih belum terlalu ramai dikunjungi, tanah-tanah kosong masih terlihat, tanaman kering dan tanah berdebu pada musim kemarau juga dapat kita saksikan di sana. Karena itulah pulau kecil ini dinobatkan menjadi pulau yang tenang dan cocok untuk “ber-honeymoon”.

Tanah-tanah kosongnya menyimpan sedikit cerita mengenai tanaman yang pernah menjadi sumber penghasilan warga Gili Meno, seperti kacang-kacangan, umbi-umbian, singkong, dan menurut informasi yang diterima oleh Afifah (peneliti dari Sayurankita, Pekanbaru), bahwa warga sempat menanam kapas. Catatan yang dikumpulkan dari keterangan warga adalah, tidak semua tanaman (sayuran) mampu bertahan. Cerita ini diperoleh saat Afifah Farida melakukan residensi di Gili Meno selama tiga bulan, terhitung dari Oktober sampai Desember 2017.

Afifah Farida (peneliti dari Sayurankita, Pekanbaru) dan Muhammad Imran (pengelola rumah singgah The This-kon), dua orang koordinator Proyek Aksara Tani Gili Meno, saat memberikan kata sambutan pada pembukaan acara pameran. (Foto: arsip Aksara Tani).

Mendengar cerita dari beberapa warga di Gili Meno, akhirnya Afifah dan beberapa orang sepakat untuk melakukan dan mengajak warga Gili Meno mengingat kembali budaya bertani yang pernah ada di pulau kecil ini. Niatan tersebut akhirnya disepakati oleh Yayasan Pasirputih, The This-Kon (Bungalow), dan Forum Lenteng, kemudian menginisiasi proyek site-specific yang dinamakan AksaraTani. Proyek ini fokus pada isu sosial-budaya, membacanya melalui pendekatan disiplin pertanian (bertanam).

Membaca masalah sosial-budaya dengan “pendekatan bertanam” ini memang akan mengungkap banyak hal, mulai dari tradisi, aktivitas sehari-hari, dan sebagainya mengenai Gili Meno. Proyek seperti ini mungkin satu-satunya di Lombok, maka dari itu proyek ini berlangsung lebih lama.

Bertanam/bertani dengan memanfaatkan pekarangan memang sudah sering dilakukan sejak lama oleh banyak orang di Indonesia, di Lombok pada khususnya, mulai dari program pemerintah, program Lembaga Sosial Masyarakat (LSM), komuitas-komunitas hingga warga bergerak dengan kesadaran secara mandiri.

Nah, melihat Gili Meno sebagai destinasi wisata terkenal hingga mancanegara, namun menyimpan sedikit cerita mengenai pertanian, maka untuk menjadikannya tempat menarik sebagai tempat belajar, terutama tentang pertanian, proyek ini mencoba mengangkat ingatan tersebut di tengah-tengah warga Gili Meno. Dengan sendirinya, cerita bermunculan di tengah-tengah kesibukan warga dengan pariwisatanya.

Ahmad Rosidi, kurator pameran “Presentasi Publik Aksara Tani Gili Meno”, saat memberikan kata sambutan pada acara pembukaan pameran. (Foto: arsip Aksara Tani).

Capaian dari proyek ini tidak berorientasi pada hal-hal besar, tapi bagaimana kemudian proyek ini mampu mengangkat sisi lain dari Gili Meno. Sisi lain yang saya maksud adalah situasi Gili Meno yang dilihat dari sudut pandang yang lain, tidak melulu berorientasi pada eksotisisme alamnya. Memang, eksotisismenya tidak bisa disembunyikan, tapi ada hal lain yang kemudian harus juga ditonjolkan.

Memang tanah Gili Meno tidak mampu menyuburkan berbagai macam tanaman (sayuran), tapi kemudian proyek ini mencoba melihat bagaimana tanah Meno. Sebagai tempat bisnis sayuran, dengan menanam di sana mungkin akan mengalami kesulitan, apalagi hanya mengandalkan air Meno yang payau.

Dalam rangka edukasi, Gili Meno menjadi penting sebagai destinasi belajar yang menarik, melihat Meno yang sekarang ini dihuni oleh banyak ras, bahasa, dan asal yang berbeda.

Kegiatan ini juga dilakukan secara kolaborasi antara Afifah dan salah satu seniman video asal Pemenang. Ialah Hamdani, seniman tersebut, yang dengan pendekatan videonya, mencoba merekam aktivitas warga Gili Meno. Merekam cerita-cerita, tradisi, upacara adat, dan kawasan yang sebelumnya dianggap dan menyimpan cerita mistis pada masa lalu yang akhirnya saat ini upacara-upacara rutinnya hanya dilakukan oleh satu orang, yaitu pemangku adat Gili Meno. Video “cerita mistis” ini dikemas pada video yang berjudul Sampang Sandro dan Rawa.

Menggunakan alat rekam sederhana (kamera ponsel pintar), si seniman mengangkat sisi lain Gili Meno. Selain merekamnya menggunakan video, Dani (panggilan akrabnya) juga mencoba mencatatnya melalui tulisan yang kemudian dipublikasikan melalui Halaman Facebook Aksara Tani, bersamaan dengan videonya.

Selain Hamdani, ada juga Imran dan Sri Hayati (Ace). Imran dan Ace, sebagai sepasang suami-istri, warga yang menetap di Gili Meno, mencoba mengajak beberapa warga, terutama ibu-ibu, untuk ikut berpartisipasi pada setiap rangkaian acara Aksara Tani. Sebagai warga asli, mereka terus mencoba menerangkan maksud proyek ini, yaitu sebagai salah satu lahan belajar yang menarik. Selain itu, lokasi penanaman para proyek ini pun dilakukan di halaman bungalow milik mereka, The This-kon.

Banyak hal yang sudah dilakukan pada proyek ini: bertanam sayuran di pekarangan The This-kon, melakukan identifikasi tanah, identifikasi air, berburu tanaman, berburu buah dan bunga, membuat video-video mengenai Gili Meno dan cerita-cerita warga. Aktivitas tersebut dikemas dan diarsip menjadi tulisan dan 30 karya audio-visual (video). Kemudian, aktivitas tersebut dipublikasikan melalui Halaman Facebook Aksara Tani, Instagram @sayurankita dan @aksaratani, serta website http://www.berajahaksara.org dan http://www.sayurankita.com. Presentasi dari semua materi itu dilaksanakan pada 13-14 Januari 2018 di Kantor Dusun Gili Meno.

***

 

Pada pameran “Presentasi Publik Aksara Tani Gili Meno” (13-14 Januari, 2018 di Kantor Dusun Gili Meno, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara), beberapa hal yang dipamerkan arsip-arsip atau temuan-temuan selama proses, kegiatan, dan kekaryaan bersama warga Gili Meno. Beberapa program yang mengiringi proyek Aksara Tani tersebut, antara lain adalah:

1. Menanam di The This-kon dan Rumah Warga Gili Meno

Program menanam di The This-Kon dan rumah warga merupakan langkah untuk membentuk kebun dan ruang dalam membudayakan aktivitas menanam dan menggiatkan literasi pertanian. Program ini mencoba berjalan beriringan dengan gencarnya pembangunan pariwisata dengan membangun kebun-kebun di pekarangan rumah atau bungalow-bungalow di Gili Meno. Aktivitas menanam menjadi salah satu langkah spekulatif Aksara Tani dalam memberikan nilai dan posisi tawar pada lahan-lahan warga untuk mencapai pertanian mandiri Gili Meno.

Instalasi tanaman yang diambil dari ladang sayur The This-kon, yang dikelola sejak proyek Aksara Tani, dan dipamerkan dalam pameran “Presentasi Publik Aksara Tani Gili Meno”. (Foto: arsip Aksara Tani).

2. Pembuatan Herbarium

Mengingat semaraknya pembangunan bungalow, kafe, dan restoran di Gili Meno yang secara tidak langsung dapat mengurangi populasi tanaman-tanaman lokal, maka herbarium merupakan salah satu cara untuk menjaga ketersediaan data dan informasi tentang tanaman tersebut. Herbarium adalah material tumbuhan (dapat berupa daun, bunga, atau bagian tanaman lainnya) yang telah dikeringkan dan diawetkan (disebut juga dengan spesimen herbarium). Herbarium ini dapat digunakan sebagai bahan penelitian untuk para ahli tanaman, ahli taksonomi, atau periset, sebagai bahan dan data yang mendukung studi ilmiah seperti ekologi, studi titokimia, dan analisa perbandingan biologi.

Instalasi dokumen herbarium yang dikumpulkan oleh tim Aksara Tani selama pelaksanaan proyek. Pada acara pameran, dokumen herbarium ini diinstal di atas papan triplek bercat hitam. (Foto: arsip Aksara Tani).

3. Pembuatan Kompilasi Video “Jejak Sampang Sandro”

Kompilasi Video “Jejak Sampang Sandoro” adalah program yang diinisiasi untuk merekam, mendata, menelaah, dan memproduksi narasi kecil menjadi pengetahuan yang dibuat tanpa proses editing di studio, hanya dengan menggunakan teknologi ponsel pintar. Video ini membantu kita dalam mengenali bagaimana potensi yang ada di Gili Meno selain pariwisata, yang kemudian didistribusikan melalui media online seperti Instagram dan Facebook, sebagaimana kerja ponsel cerdas tersebut.

Instalasi kompilasi video Tanah Sampang Sandro karya Hamdani, seniman video asal Pemenang, Lombok Utara, yang menjadi salah satu kolaborator proyek Aksara Tani. (Foto: arsip Aksara Tani).

4. Koleksi Tanah dan Air

Program untuk mengoleksi tanah dan air di Gili Meno, mengarsip data dan pengetahuan yang ada di Gili Meno terkait kondisi tanah dan air. Koleksi tanah dan air penting dilakukan dengan asumsi bahwa kondisi tanah dan air di setiap titik mulai dari garis pantai menuju tengah pulau (tempat masyarakat lokal tinggal) akan berbeda.

Instalasi koleksi jenis tanah dan air yang telah dikumpulkan selama pelaksanaan proyek Aksara Tani. Pada pamerna, koleksi tanah dan air ini diberi judul Tanaq Aeq Gili Meno, diletakkan di dalam botol dengan label identitasnya, lalu disusun di atas papan yang memperlihatkan peta daerah Gili Meno. (Foto: arsip Aksara Tani).

5. Program Berbagi

Program berbagi merupakan program saling silang pengetahuan yang dilakukan antarwarga untuk memperkaya informasi dan pengetahuan tentang pertanian dan budaya masyarakat Gili Meno. Program berbagi yang telah dilakukan di antaranya adalah live cooking untuk berbagi resep makanan, workshop singkat tentang pengelolaan sampah bersama satgas (workshop pembuatan tali dari botol), Trash Hero (workshop pembuatan gelas dari botol bekas), anak-anak Gili Meno (workshop membuat bingkai dengan tutup botol), serta diskusi tentang menanam bersama warga.

Salah satu aktivitas dalam Program Berbagi yang dilaksanakan beberapa kali selama proyek Aksara Tani. Tampak di foto, chef Made tengah berbagi ilmu memasak bersama warga. (Foto: arsip Aksara Tani).

6. Rumah Sayur

Rumah Sayur merupakan program yang diinisiasi oleh warga lokal di Dusun Karang Subagan Daya, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Rumah Sayur dibangun untuk menjadi laboraturium warga yang bertujuan untuk membudayakan aktivitas menanam, memproduksi, dan mendistribusikan informasi, pengetahuan, dan pengalaman dalam bertani secara terbuka.

Pembangunan dan pengembangan Rumah Sayur di Dusun Karang Subagan Daya. (Foto: arsip Aksara Tani).

7. Plant Matching

Plant Matching adalah kegiatan mencocokkan tanaman yang telah di-herbarium-kan dengan tenaman yang masih hidup. Kegiatan ini dilakukan bersama anak-anak Gili Meno, mulai dari usia 5 sampai 13 tahun. Bersama beberapa anggota tim Aksara Tani, anak-anak tersebut diminta untuk menemukan tempat dan jenis daun yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Dokumentasi salah satu aktivitas dalam Program Plant Matching yang dilakukan selama proyek Aksara Tani. Tampak di foto, Afifah Farida (peneliti Sayurankita; jilbab merah, memegang dokumen herbarium) sedang menjelaskan topik tentang tanaman kepada anak-anak di Gili Meno. (Foto: arsip Aksara Tani).