Presentasi Publik Aksara Tani; Sebuah Pengantar

Penulis: Muhammad Ghozali (Ketua Umum Yayasan Pasirputih)
Penyunting: Manshur Zikri
Tulisan ini diambil dari katalog pameran Aksara Tani, bertajuk “Presentasi Publik Aksara Tani Gili Meno” yang diselenggarakan oleh Sayurankita, The This-kon, Pasirputih, dan Forum Lenteng di Gili Meno, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, tanggal 13-14 Januari 2018. Dimuat kembali di Sayurankita.com dengan suntingan baru atas izin Yayasan Pasirputih.

Sejak awal, Pasirputih memang dihajatkan sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan budaya yang ruang kerjanya di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Oleh karena itu, melihat Gili Meno lebih dekat menjadi sebuah bagian yang tidak bisa diabaikan. Obrolan intens dengan Muhammad Imran dan Sri Haryati (Aceq) menggelitik ruang-ruang diskusi kami tentang Gili Meno, yang kemudian berujung pada pertemuan kami setelah kegiatan Bangsal Menggawe #2 di tahun 2017, waktu itu bersama teman-teman Forum Lenteng dan juga Afifah Farida dari Sayurankita. Terinisiasilah ide gagasan kerja bersama, sebuah konsep kerja mandiri dengan strategi gotong-royong antara The This Kon, Sayurankita, Pasirputih, dan Forum Lenteng. Kerja bersama ini bernama proyek Aksara Tani yang bertempat di Gili Meno, Desa Gili Indah. Aksara Tani tidak hanya berbicara tentang bercocok tanam, tetapi juga pada kerja riset untuk produksi pengetahuan terkait budaya pangan yang selama ini dilakukan oleh masyarakat Gili Indah, pada khususnya, dan Pemenang pada umumnya. Akhirnya, Aksara Tani ini dilaksanakan oleh Afifah Farida (Sayurankita) berkolaborasi dengan Hamdani (Pasirputih), juga Imran dan Aceq (The This Kon), dan dipilihlah lokasi basecamp Program Aksara Tani ini di The This Kon.

Proses Aksara Tani berjalan sekitar tiga bulan, terhitung sejak September/Oktober sampai dengan Desember. Memori-memori kolektif warga yang terpetik selama proyek berlangsung menunjukkan akan adanya kemandirian dan kebertahanan pangan warga demi menyikapi kebutuhan hidup. Di sisi lain, perubahan situasi dan keadaan terus mengitari aktivitas masyarakat Gili Meno sehingga tidak lagi hanya berorientasi pada kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga isu yang tidak bisa dipisahkan dengan Gili Indah yang terpaut erat dengan industri Pariwisata. Hal itu terbukti dengan kenyataan bahwa setiap hari kita bisa jumpai pedagang kue, sayur, dan tanaman yang berasal dari luar Gili Indah, menjajakan dagangannya. Bahkan, di Gili Meno juga kita jumpai adanya beberapa mitos dan ritual yang berhubungan langsung dengan kebutuhan pangan warga. Berbagai puzzle inilah yang coba dirangkai menjadi semacam bacaan akan sirkulasi sosial yang mewarnai budaya pangan warga Gili Meno. Semuanya coba direkam oleh tim Aksara Tani lewat medium tulisan, video, foto, dan ramuan beberapa peristiwa kebudayaan.

Dalam konteks kerjanya, Aksara Tani berorientasi pada pemanfaatan halaman rumah. Mengutip ungkapan Anwar Jimpe Rachman (penulis, asal Makassar) dalam tulisannya di buku Halaman Rumah (2017): “Halaman rumah adalah orientasi arsitektural orang Indonesia. Ia menjadi sebentuk pengertian yang luas dalam alam pikiran mutakhir Nusantara. Halaman bisa menjadi ruang ekspresi, berfungsi sebagai panggung, lanskap, ruang produksi, hingga ranah pertukaran gagasan.” Oleh karena itu, berbicara tentang ketahanan pangan nasional, tidak terlepas dari membicarakan ketahanan pangan rumah tangga; halaman rumah-lah objek yang paling dekat untuk dikelola memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga. Di Gili Meno, masih kita jumpai halaman rumah warga yang cukup luas. Sangat berbeda dengan beberapa dusun di wilayah Pemenang Barat dan Pemenang Timur yang kadang rumah pun terdesak jalan dan berhimpitan dengan rumah tetangga. Walaupun demikian, tentu Gili Meno juga berhadapan dengan tantangan yang sama seperti di tempat-tempat yang lain. Dengan demikian, kehadiran Aksara Tani lebih diharapkan sebagai aktivasi pemikiran dalam menanggapi perubahan-perubahan yang dan akan terjadi itu.

Jejak-jejak itu membekas juga dengan langkah-langkah alternatif warga Meno sendiri. Sebagaimana yang dilakukan oleh Bapak dan Ibu Kadus, Pak Tarpo, Ibu-ibu PKK, dan beberapa warga yang lain. Termasuk juga gerakan-gerakan pemuda seperti RGM dan Satgas Gili Meno. Kami menghaturkan terimakasih kepada seluruh warga masyarakat Gili Meno atas pengalaman dan pengetahuannya selama proses proyek Aksara Tani berlangsung. Semoga Aksara Tani dapat menjadi sebuah landasan awal bagi kerja-kerja kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak dalam suatu bentuk dan jaringan kerja yang berkesinambungan. ***