Kabar Aksara Tani: Hal-hal di Luar Ladang

Catatan ini dibuat berdasarkan pengamatan redaksi atas sejumlah artikel yang diproduksi oleh para partisipan proyek site-specific Aksara Tani di Gili Meno, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Sejak September 2017, Aksara Tani telah menghasilkan setidaknya 20 artikel tentang hal-hal kecil yang terjadi di pulau itu. Yang menarik, narasi-narasi yang ditangkap dari obrolan bersama warga lokal—beberapa bahkan ditulis langsung oleh warga lokal—ini, jika ditinjau topik-topik spesifiknya, merupakan soal-soal yang berada di luar aktivitas bertani di ladang (atau di kebun) yang tengah digarap oleh tim Aksara Tani, yakni kebun yang berada di pekarangan rumah singgah The This-kon.

Dapat dimaklumi kemudian bahwa kerangka gagasan proyek ini sendiri sebenarnya memang bukan semata melaksanakan pengolahan tanah berorientasi produksi pertanian. Visi utama dari Aksara Tani ialah produksi sumber daya manusia yang sadar falsafah tani: peka terhadap kondisi tanah dan lingkungan sosial tempat manusia itu tinggal. Oleh karena itu, riset pendahuluan yang dilakukan oleh tim Aksara Tani lewat program AksaraPangan milik Yayasan Pasirputih menjadi penting karena program tersebut lebih menekankan penggalian terhadap narasi-narasi tentang hal-hal yang hilang; keadaan dari hilangnya sebagian tradisi lokal akibat munculnya pariwisata sejak 1990-an, pada kenyataannya, telah menentukan budaya mata pencaharian dan pola konsumsi masyarakat Gili Meno saat ini.

Dalam kelanjutan prosesnya, tim Aksara Tani lantas mendapatkan sejumlah catatan tentang kondisi sosial dan budaya masyarakat di Gili Meno, baik yang di masa lampau dan (keberadaannya) di masa sekarang. Catatan-catatan kecil mengenai tradisi mengangsat, pawai rengka, mandi safar, sampang sandro, memasak ares, dan menggaso, bersinggungan dengan kisah-kisah seputar perayaan-perayaan masyarakat setempat yang dibangun turun-temurun melintasi kehidupan dan cara pandang lokal (di antaranya: roahan, begawe, dan Maulid Nabi), yang beriringan dengan usaha-usaha warga untuk terus bertahan hidup—dan mempertahankan ruang kehidupannya—di tengah-tengah ancaman pembangunan pariwisata yang terasa demikian halus hingga ke titik yang seakan-akan tak tampak di depan mata. Tuntutan ekonomi dan persaingan untuk mendapatkan peluang mata pencaharian di ruang lingkup masyarakat Pemenang—yang tidak sedikit dari subjek-subjeknya juga melintas batas wilayah ke provinsi lain, seperti ke Bali—secara tidak langsung menelurkan kritik-kritik tertentu atau solusi-solusi ringan dari masyarakat lokal itu sendiri terhadap persoalan-persoalan kehidupan mereka. Bahkan, dari segi persoalan transportasi lokal seperti cidomo pun, dapat dirasakan bagaimana sirkulasi kebutuhan pangan dan transaksi ekonomis mewarnai hari-hari warga Gili Meno.

Mengingat bahwa niat Sayurankita adalah menjadi jendela informasi, pengetahuan, dan pengalaman demi mencapai tatanan masyarakat literasi pertanian, catatan-catatan tersebut justru harta karun berharga—temuan-temuan signifikan yang berguna menentukan langkah-langkah eksekutif terhadap lahan tanam. Sebab, salah satu falsafah tani yang Sayurankita coba bangun ialah, “untuk mengenal tanaman, kita harus mengenal tanah; untuk mengenal tanah, kita harus mengenal masyarakat yang memijaknya; demikian sebaliknya.” Antara tanaman (pangan), tanah tempatnya tumbuh, dan masyarakat yang menanam dan mengonsumsinya, tidak dapat dipisahkan dalam kerangka kerja pemberdayaan pertanian berbasis komunitas ini. Oleh karena itu, justru catatan-catatan tentang “narasi-narasi di luar ladang” inilah yang ditonjolkan lebih dulu dalam proyek Aksara Tani, terutama untuk diterbitkan di website Sayurankita, sebagai langkah utama untuk mengenal tanah dan potensi pertanian di Gili Meno.

Namun demikian, bukan berarti cerita tentang perkembangan lahan tani yang dikelola oleh tim Aksara Tani tidak dapat disimak. Narasi-narasi tentang apa yang terjadi di ladang, secara reguler dipublikasikan di Instagram Aksara Tani, yakni @aksaratani. Menyimak linimasa akun Aksara Tani, dapat kita ketahui bahwa proyek ini diiringi dengan penyelenggaraan sejumlah lokakarya sederhana yang melibatkan anak-anak, pemuda-pemudi, dan orang-orang dewasa yang tinggal di lingkungan ketetanggaan di sekitar rumah singgah The This-kon. Lokakarya-lokakarya itu berupa ruang berbagi tentang cara-cara menanggapi sampah, mengenal tumbuhan-tumbuhan lokal, dan berkeliling pulau untuk meningkatkan hubungan sosial masyarakat itu sendiri.

Selain itu, juga diselenggarakan beberapa acara penghibur, seperti kegiatan masak-masak bersama koki profesional (salah satu tulisan tentang ini telah dimuat di website Sayurankita), sebagai bagian dari usaha untuk mempelajari potensi dari bahan-bahan panganan lokal di pulau tersebut. Realisasi acara-acara tersebut juga melibatkan sejumlah pemangku kebijakan tingkat dusun dan desa sehingga ruang dialog antara masyarakat dan pemangku kebijakan dapat diciptakan. Pada tahap ini, pengetahuan tentang pertanian dipadukan dengan pengetahuan di ranah kreatif (seni). Aktivitas bertani pun dapat dilalui dengan kegembiraan, bukan semata sebagai pekerjaan rumah yang memberatkan, dan kebun The This-kon diharapkan dapat hadir sebagai salah satu contoh untuk mulai melirik kembali tanah warga, tanah kita sendiri. Kesadaran tentang efek negatif pariwisata ditanggapi lewat upaya-upaya subtil yang tidak provokatif, melainkan lewat pendekatan yang bersahabat dengan orientasi pembangunan hubungan simbiosis-mutualisme sosial.

Agenda kegiatan seperti ini merepresentasikan bahwa “peningkatan hasil produksi pertanian” bukanlah visi utama, tetapi justru peningkatan pemahaman masyarakat lokal terhadap potensi pertanian itu yang semestinya disasar. Tatkala pemahaman itu telah membudaya, dan masyarakat dapat mengenal potensi tanahnya sendiri, maka hasil pertanian berkualitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat menjadi konsekuensi positif yang sudah pasti akan didapatkan di kemudian hari.

Untuk kebutuhan produksi salah satu output dari proyek ini, tim Aksara Tani tampak juga sedang mengagendakan sebuah penelitian sederhana (dengan pendekatan observasional) untuk mengidentifikasi tanaman-tanaman yang ada di Gili Meno. Data penelitian itu diolah menjadi herbarium tanaman, yang rencananya akan ditampilkan ke publik. Dalam konteks ini, Aksara Tani berusaha memproduksi pengetahuan, baik tekstual maupun visual, untuk dapat dikonsumsi pula oleh masyarakat di Gili Meno.

Demikian kabar sementara dari proyek site-specific Aksara Tani yang diselenggarakan secara kolaboratif oleh Sayurankita, Pasirputih, The This-kon, dan Forum Lenteng. ***