The Old Man and The Sea – Lelaki Tua dan Laut

[IDENTITAS BUKU]

Judul buku: The Old Man and The Sea – Lelaki Tua dan Laut
Penulis: Ernest Hemingway
Penerjemah: Yuni Kristianingsih Pramudhaningrat
Penerbit: PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan I: Mei 2009
Cetakan II: Juli 2009
Tebal: 145 halaman
ISBN: 978-979-024-147-3


Novel The Old Man and The Sea merupakan novel yang berhasil mengantarkan Ernest Hemingway meraih hadiah Novel Sastra pada tahun 1954. Setahun sebelumnya, novel ini meraih hadiah Pulitzer untuk kategori fiksi dan Award of Merit medal For Novel dari American Academy of Letters. Kepopuleran novel ini menjadikannya “seolah” sebagai bahan bacaan wajib di sekolah-sekolah dan telah difilmkan berkali-kali.

Ernest Heminway adalah salah satu novelis yang mempunyai pengaruh penting terhadap perkembangan fiksi abad ke-20. Hemingway lahir pada 22 Juli 1899 di Oak Park, Illinois, Amerika Serikat dan mengawali karir sebagai penulis pada umur 17 tahun sebagai reporter. Debut Hemingway dimulai pada tahun 1923 setelah menerbitkan kumpulan cerita pendek yang berjudul Three Stories and Ten Poems.

Tahun 1952, Hemingway menerbitkan novel The Old Man and The Sea. Meskipun novel ini ditulis selama Hemingway tinggal di Kuba, inspirasi cerita ini justru muncul ketika Hemingway berada di kota kecil Aciarolli, Italia. Kota kecil itu dikenal sebagai desa nelayan. Di sana, Hemingway bertemu dengan nelayan tua bernama Antonio Masarone yang dijuluki Mastracchio (Bahasa Italia, yang berarti lelaki tua).

Novel The Old Man and The Sea bercerita tentang lelaki tua bernama Santiago. Ia tidak pernah menyerah untuk terus berlayar dengan kapal kecilnya demi mendapatakan seekor ikan. Lelaki tua itu dijuluki “Salao”, orang yang tersial dari yang sial karena selama 84 hari berlayar selalu gagal membawa pulang seekor ikan pun.

Santiago memiliki seorang teman, Manolin namanya. Pada 40 hari pertama, Manolin ikut berlayar bersama Santiago. Akan tetapi, karena ketidakberuntungan Santiago, orang tua Manolin melarangnya untuk ikut berlayar bersama Santiago. Namun, Manolin adalah anak muda yang sangat peduli kepada Santiago. Meskipun orang tuanya melarangnya berlayar bersama Santiago, Manolin tetap membantu lelaki tua itu menggulung tali atau tombak seruit dan layar yang digulung pada tiang perahu. Manolin juga membantu Santiago dalam mempersiapkan bekal dan umpan sebelum pergi berlayar. Sesekali, Manolin membawakan ikan serden untuk Santiago.

Manolin menjalin pertemanan yang baik dengan Santiago, meskipun ia tahu bahwa Santiago tidak memiliki apa-apa di rumahnya. Tidak ada makan malam, tidak ada selimut, tidak ada kayu bakar, bahkan tidak ada air untuk mencuci tangan. Namun, hampir setiap malam, Manolin mengunjungi lelaki tua itu untuk berbincang-bincang tentang laut atau bisbol.

Suatu malam, Manolin kembali mengunjungi Santiago. Ia ingin memberikan umpannya kepada Santiago untuk bekal berlayar keesokannya. Malam itu, Santiago mengatakan kepada Manolin, bahwa besok sebelum terang ia akan pergi berlayar jauh ke tengah, di tempat angin berubah arah. Santiago percaya bahwa di daerah itu akan ada banyak ikan, dan dia akan memperoleh ikan yang besar (Hal. 13).

Seperti yang dijanjikannya pada Manolin, lelaki tua itu berlayar hingga jauh ke tengah untuk mendapatkan seekor ikan dan, benar saja, Santiago memang berhasil mendapatkan ikan. Setelah sekian lama menunggu, umpan Santiago akhirnya dimakan ikan yang panjangnya lebih besar daripada kapalnya, yakni ikan Marlin. Dari sini, petualangan Santiago pun dimulai. Petualangannya dalam usaha mengalahkan ikan besar di tengah lautan seorang diri.

“Aku tak boleh gagal dan mati karena ikan seperti ini. Sekarang ikan itu telah mendekat, Tuhan pasti membantuku bertahan. Aku akan mengucapkan doa Bapa Kami dan Salam Maria seratus kali. Tapi bukan sekarang” [hal. 95-96]

Berada di tengah lautan seorang diri bersama ikan yang besar, tak menggentarkan langkah Santiago. Ia justru terus berusaha mempertahankan ikan besar itu, mencari taktik agar ikan besar itu menyerah dan bisa dibawa pulang. Ia tak memedulikan rasa lelahnya. Meski harus berjuang seorang diri menahan ikan itu, Santiago pantang menyerah.

“Dia merasa pusing lagi sekarang, tapi dia bertahan dari tarikan itu semampunya. Aku menggerakkannya, pikirnya. Mungkin kali ini aku akan mendapatkannya. Tarik terus, Tangan, pikirnya. Tahan, kaki. Bertahanlah untukku, kepala. Kau tidak pernah pingsan. Kali ini aku akan menariknya” [hal. 100]

Santiago memang tak berhasil membawa ikan besar itu secara utuh. Akan tetapi, dengan kepala dan ekor ikan yang menempel di perahunya, dan pulang dengan selamat dengan kondisi kapal yang rusak parah, membuat para nelayan takjub kepada Santiago.

“Sungguh besar ikan itu,” sang pemilik Teras berkata. “Tidak pernah ada ikan seperti itu. Bahkan dibandingkan dua ekor yang kau bawa kemarin” [hal. 134].

Santiago bersama perahu kecilnya, dan kepala serta ekor ikan Marlin telah memberikan bukti bahwa ia adalah pelaut sejati, pantang menyerah di tengah lautan yang sangat luas.  Santiago mengajarkan bahwa kegigihan dalam mengarungi cobaan hidup tak akan pernah berakhir sia-sia.***