Keluarga Minim Sampah

[IDENTITAS BUKU]

Judul buku: Keluarga Minim Sampah
Penulis: Kenia Dyanti & DK. Wardhani
Penerbit: Sahabat Alam Cilik
Tebal: 68 halaman
Cetakan I: 2019
Genre: Komik


Keluarga Minim Sampah” merupakan buku kumpulan komik yang mengangkat isu lingkungan. Sebenarnya, buku ini ditujukan untuk anak-anak. Namun, menurut saya tetap layak dibaca oleh orang dewasa.

Melalui buku ini, penulis secara tegas mengajak para pembacanya untuk menerapkan gaya hidup minim sampah demi menjaga “keselamatan” bumi. Buku ini pun dengan sendirinya menjadi alternatif menarik untuk memperkenalkan pada anak-anak (maupun orang dewasa) kiat-kiat memilah dan memilih sampah agar tidak berakhir di TPA. Sebab, latar belakang salah satu penulis, yang masih berusia 10 tahun, sudah menjadi hal yang menurut saya istimewa, lantas (seharusnya) melecut hati nurani dan pikiran kita. Pantaskah kita “kalah peduli” pada lingkungan dari seorang gadis cilik?

Saya menuliskan kata “memilah” sebelum “memilih” bukan tanpa alasan. Dari buku ini, saya menyadari bahwa justru yang harus kita lakukan sebelum menghasilkan sampah adalah memilah apa-apa yang akan kita konsumi, lalu memasukkannya ke dalam dua kelompok. Yang pertama adalah kelompok yang menghasilkan sampah yang bisa dimanfaatkan kembali. Yang kedua, kelompok yang sama sekali sampah, alias tidak layak dikonsumsi dan sangat-dianjurkan-lebih-baik dihindari. Barulah, dari daftar pertama kita bisa memilih, mana-mana yang akan kita biarkan menjadi sampah, yang kelak harus kita pertanggungjawabkan.

keluarga minim sampah 11
Sinopsis “Keluarga Minim Sampah”. Arsip: Ade/Sayurankita

Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut pendapat saya tentang buku ini, saya ingin bicara sedikit tentang penulis dan beberapa hal yang menjadi sorotan saya.

Buku ini disusun oleh dua penulis, ibu dan anak. Penulis pertama, sekaligus komikusnya, adalah gadis kecil asal Kota Malang bernama Kenia Dyanti Sukmarini. Keni, begitu ia biasa dipanggil, sudah menerbitkan empat buku. “Keluarga Minim Sampah” adalah buku kelimanya.

Lalu, penulis kedua adalah ibu Keni sendiri, yakni DK. Wardhani, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mbak Dini. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang merangkup sebagai penulis, ilustrator sekaligus aktivis lingkungan (yang terakhir ini julukan dari saya sendiri, mengingat buku-buku yang ia bidani selalu mengangkat isu lingkungan hidup dan sustainability). Mbak Dini berkonsentrasi di bidang buku anak dan lingkungan, sesuai dengan latar belakang pendidikan dan kesenangannya. Dalam buku ini, Mbak Dini berperan sebagai “pemateri” yang menyampaikan fakta-fakta mengenai sampah serta solusi menanganinya. Buku ini adalah buku kelima yang ditulisnya bersama Keni.

Yang menarik dari buku ini adalah pengenalan tokoh cerita (sepertinya, bagian pengenalan tokoh ini memang ciri khas sebuah komik), yang mengingatkanku pada gambaran keluarga Keni sendiri. Tokoh adalah keluarga yang sedang menerapkan gaya hidup minim sampah. Terdiri dari Mommy (di lain waktu bisa dipanggil Ibu), Bapak, Soka dan saudara kembarnya, Jati. Menurutku, Soka dan Jati berperan sebagai tokoh yang mengendalikan jalan cerita, sementara Mommy adalah tokoh yang memberikan informasi dan tips minim sampah. Lalu Bapak? Ia adalah tokoh yang biasa kita sebut “tokoh sampingan”. Perannya tidak begitu tampak dan sangat jarang muncul.

keluarga minim sampah 01
Sorotan menarik: pengenalan tokoh dan daftar isi. Arsip: Ade/Sayurankita

Lalu, hal menarik lainnya adalah penyebutan judul. Judul-judul dalam buku ini disebut sebagai “Tema-Tema di Komik Ini”. Terdiri dari tujuh belas tema, yang secara tidak langsung mengajak kita untuk mengubah tujuh belas kebiasaan atau gaya hidup.

Saat membaca buku ini saya sama sekali tidak merasa digurui. Mungkin, karena target pembaca buku ini adalah anak-anak. Kemungkinan lainnya adalah informasi yang diberikan berguna untuk menjawab pengalaman buruk anak-anak terkait sampah tersebut, yang menurut saya berhasil mengingatkan saya pada kenangan masa kecil saya sendiri. Contohnya, pada tema “Buat Jajanmu Sendiri” (hlm. 21).

Pada tema itu, diceritakan bahwa Soka mengalami demam setelah jajan sembarangan sepulang sekolah. Dari pengalaman tersebut, Mommy mengajak Soka untuk membuat jajanan sendiri yang terjamin kebersihannya. Sambil membuat jajanan tersebut, Mommy menjelaskan mengapa mereka sebaiknya membuat jajanan sendiri. Selain kebersihan, rasa dan mutunya yang terjamin lebih baik, jajanan buatan sendiri sudah pasti mencegah timbulnya sampah plastik, seperti bungkus makanan. Apalagi kalau bahan-bahan untuk membuat jajanan tersebut berasal dari kebun sendiri. Pasti lebih steril lagi, ‘kan?

Meskipun buku ini berbicara tentang fakta-fakta sampah dan isu lingkungan, serta “penuh” dengan ajakan mengurangi sampah, saya melihat ada nilai budaya tani yang diselipkan di dalamnya. Tiga tema justru dengan terang-terangan bersinggungan dengan budaya tani yang umum dikenal orang-orang, yakni sawah pada tema “Habiskan Makananmu” (hlm. 15), kebun pada tema “Berkebun, Yuk!” (hlm. 18) dan kompos pada tema “Komposkan Sampah Organikmu” (hlm. 25). Lalu, pada tema-tema lainnya, secara kasat tetap menyinggung budaya tani, seperti mengolah hasil pertanian, baik itu pangan, sandang, maupun papan. Dengan demikian, menurut saya, sadar tidak sadar penulis sedang menularkan dan mendekatkan kembali pada masyarakat apa yang disebut “budaya tani” itu. Nilai tambahnya, penulis “menggunakan” anak-anak, bibit paling bagus menurut saya untuk menyebar virus kebaikan.

Sayangnya, saya menemukan kesalahan fatal pada tema “Berkebun, Yuk!”

Pada tema itu, diceritakan bahwa Soka memilih untuk menanam “kecambah” agar ibunya tidak perlu repot-repot ke pasar atau ke warung jika ingin memasak “cah taoge“. Pada halaman ke-19, Soka digambarkan sedang “menanam kecambah” di halaman rumah, lalu memindahkannya ke pot (hlm. 20). Lalu, “minggu demi minggu berlalu”, sampai akhirnya “si kecambah siap panen”. Saat ibunya hendak membuat cah taoge dan kehabisan stok kecambah, Soka dengan senang hati menyerahkan pot berisi “kecambah” pada ibunya, lantas dimasak menjadi cah taoge yang lezat.

Dimana letak kesalahannya? Kesalahannya ada pada kalimat yang saya beri tanda kutip dan kata-kata yang saya tebalkan.

“Kecambah”, jika dilihat artinya sesuai KBBI, adalah tumbuhan kecil yang baru tumbuh dari biji kacang-kacangan yang disemaikan. Sementara “taoge” adalah kecambah dari kacang-kacangan seperti kacang hijau atau kacang kedelai. Sejauh pemahaman saya, kecambah dan taoge itu sama, yakni “kondisi” ketika benih atau biji yang sudah pecah dan siap menjadi akar, batang dan daun, namun tidak terkena sinar matahari sehingga mengalami etiolasi atau tumbuh memanjang ke atas (karena berusaha mencari sinar matahari). Jika kita ingin memasaknya menjadi “cah taoge”, maka waktu yang tepat untuk memanennya adalah ketika benih dan biji berada dalam “kondisi seperti itu”. Untuk sampai pada “kondisi seperti itu”, biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga hari setelah biji atau benih disemai (atau ditanam).[1]

Sementara, jika “kecambah” tersebut ditanam, lalu disiram, kemudian dipindah tanam dan terkena sinar matahari, justru menunjukkan bahwa kita sedang menanam tumbuhan kacang, entah itu kacang hijau atau kacang kedelai. Yang kita dapatkan pada akhirnya, bukan “taoge”, melainkan biji kacang. Yang ada di dalam pot Soka, seharusnya bukan lagi kecambah, melainkan kacang yang mungkin bijinya sudah siap panen. Jika ibu Soka ingin membuat cah taoge, maka mereka masih harus menunggu tiga hari lagi.

Kelihatannya sepele sekali, dan sepertinya bisa dimaafkan. Namun, menurut saya, hal seperti ini justru tidak boleh dibiarkan begitu saja, lantas berdalih bahwa yang menulis cerita masih anak-anak, dan target pembacanya juga anak-anak. Atau “cuci tangan” dengan beranggapan bahwa”tugas orang tua untuk menjelaskan detail proses mendapatkan taoge itu”. Sebab, menurut saya, buku adalah sumber informasi dan pengetahuan, sekalipun buku tersebut berisi cerita fiksi atau cerita anak-anak. Bagi saya, informasi dan pengetahuan dalam buku harus bisa dipertanggung jawabkan. Jika kita menuliskan buku dengan informasi yang salah, atau katakanlah kabur (tidak jelas, simpang siur, dan banyak istilah lainnya), sama saja kita sedang melakukan “pembodohan publik”. Lantas di mana letak tanggung jawab kita sebagai penulis dan tim editorial?

keluarga minim sampah 02
Sampul depan “Keluarga Minim Sampah”. Arsip: Ade/Sayurankita

Saya menyadari bahwa penulis bukanlah Tuhan yang Mahasempurna. Begitu pun saya, yang pasti melakukan kesalahan, bahkan mungkin dalam menuliskan ulasan dan kritik tentang buku ini. Namun, saya adalah satu dari banyak pembaca yang menginginkan “kesempurnaan” pada buku yang saya baca. Kebetulan saja buku ini punya secuil kekurangan di bagian yang sedikit saya kuasai. Namun, kesalahan di atas (dan kesalahan-kesalahan lainnya terkait editorial), tentunya tidak mengurangi nilai tambah buku ini. Menurut saya, buku “Keluarga Minim Sampah” tetap menjadi buku yang informatif dan berperan penting dalam pengenalan budaya tani (secara tidak langsung) kepada masyarakat.***


[CATATAN]

[1] Silakan baca tulisan Afifah Farida Jufri tentang Taoge dalam artikel “Rahasia si Taoge