Rahasia Si Tauge

Hai! Ponik kembali! Sudah lama sekali rasanya Ponik tidak menulis dan berbagi cerita dengan teman-teman. Hehehe! Berhubung tahun sudah berganti, doakan Ponik, ya, supaya bisa konsisten untuk menulis dan berbagi cerita tentang apa saja yang terjadi di rumah Ponik. Maafkan Ponik yang dulu sempat menghilang.

Pada tulisan kali ini, Ponik mau bercerita tentang tauge. Ternyata, tauge itu punya kisah yang menarik untuk diulas dan diceritakan. Kamu mau tahu? Penasaran? Yok, cus!

Tauge itu termasuk sayuran yang paling cepat untuk bisa dipanen, cuma butuh waktu tiga hari. Tauge merupakan sayuran yang hampir di setiap sekolah pernah diteliti untuk diketahui bagaimana ia tumbuh. Tauge adalah sayuran putih bersih yang memiliki segudang rahasia. Ponik akan mencoba mengupas tuntas tentang si tauge ini.

Teman-teman tahu tidak, bagaimana sejarah awal mula tauge ini? Bagaimana asal-usul tauge, mengapa tauge menjadi sayuran yang banyak dikonsumsi orang, termasuk di Indonesia? Dan apa hebatnya tauge? Penasaran, gak, sih? Jujur ya, Ponik, mah, penasaran pake banget!

Ponik sangat berterimakasih pada Om Gugel karena ia hampir selalu menyediakan akses yang mudah untuk mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan, termasuk tentang tauge (tapi jangan selalu menggantungkan diri kepada Om Gugel, yak! Membaca buku lebih baik daripada sekadar berselancar lewat Google!). Berikit Ponik akan berbagai beberapa temuan menarik mengenai tauge yang didapatkan dari telusuran dengan bantuan Om Gugel.

Tauge yang sudah jadi.

Pertama, konon tauge sudah menjadi bahan obat-obatan sejak 5000 tahun yang lalu. Itu ditulis oleh para tabib zaman dulu di Cina. Berdasarkan berbagai sumber yang Ponik temukan di Google, tauge termasuk makanan utama untuk diet para orang Amerika keturunan Cina. Beberapa sumber sejarah mengatakan bahwa tauge ini berasal dari Timur Tengah (kawasan Balkan dan Barat Daya Asia) dan dataran Mediterania Timur, kemudian masuk ke wilayah Cina dan Asia Timur lainnya dan turut berkembang persebarannya ke Indonesia.

Sumber lainnya mengatakan bahwa penyebaran tauge ke berbagai negara juga dipicu oleh aktivitas para pelaut. Pada tahun 1700, teridentifikasi bahwa banyak pelaut yang terserang penyakit kudis karena kekurangan vitamin karena pasokan sayur dan buah yang terbatas. Itu karena mereka harus berlayar berbulan-bulan, bahkan sampai tahunan, sedangkan sayuran dan buahan tidak dapat disimpan lama. Nah, pada tahun 1772-1775, kapten James Hook menemukan cara agar tentaranya sehat selama pelayaran. Yak, mereka mengonsumsi tauge! Selama pelayaran, mereka hanya membawa kacang-kacangan, kemudian sebelum dimasak, kacang-kacangan itu disimpan beberapa hari di tempat yang agak lembab, dan… voilà…! Jadilah tauge. Penemuan ini ternyata menarik perhatian para ilmuawan, salah satunya Dr. McKay, seorang profesor bidang nutrisi dari Universitas Cornell. Dr. McKay melakukan penelitian tentang tauge ini dan menemukan fakta bahwa tauge mengandung vitamn B Kompleks, Vitamin A, vitamin C, dan mengubah pati pada biji menjadi zero pati. Setelah diteliti lebih lanjut, tauge yang dimaksud Dr. McKay ini rupanya berasal dari kedelai.

So, tauge itu apa, sih, sebenarnya?

Berdasarkan informasi kedua yang Ponik temukan, ternyata istilah “tauge” itu berasal dari dialek Hokkian, dari kata Douya. Kata “douya” sendiri berasal dari bahasa Mandarin yang artinya ‘kecambah kacang-kacangan’ dalam bahasa Indonesia, salah satunya adalah kacang hijau. Akan tetapi, tidak cuma kacang hijau, ada juga kecambah kacang kedelai atau kacang alfalfa. Namun, di Indonesi, orang-orang lebih banyak menggunakan kacang hijau untuk menghasilkan tauge. Makanya, tauge yang kita kenal itu identik dengan kecambah kacang hijau.

Masyarakat di beberapa daerah di Indonesia mengenal tauge dengan nama kecambah. Beberapa daerah juga menggunakan nama yang berbeda, seperti di Jawa Timur yang mengenal tauge dengan nama “ganteng”. Sedangkan di Jepang, tauge lebih dikenal dengan sebutan “moyashi”, bahan obat-obatan sejak era Heian.

Karena namanya yang berarti kecambah, makanya tauge bisa dipanen cuma dalam waktu 3 hari. Kalau begitu, sebenarnya kecambah itu apa, sih?

Bentuk tauge yang sedang tumbuh.

Menurut Taiz dan Zeiger (2002), kecambah dapat diartikan begini: dimulainya pertumbuhan embrio dari benih yang sudah matang. Yuhuuu! Kecambah itu merupakan tahap awal dari pertumbuhan dan perkembangan. Nah, karena “tauge” itu artinya “kecambah”, maka ketika kacang hijau yang kita tanam sudah mulai berkecambah (tumbuh), itu berarti tauge sudah siap dipanen. Makanya, gak butuh waktu yang lama untuk menghasilkan tauge.

FYI, kacang hijau yang biasa kita lihat itu, dalam bahasa agronominya, adalah benih. Benih suatu tanaman pada umumnya terdiri dari embrio (bakal tanaman), endosperm (cadangan makanan), dan kulit biji (pembungkus bijinya). Di dalam embrio itu terdapat plumula (pucuk lembaga yang akan menjadi pucuk tanaman), radikula (akar lembaga yang akan menjadi akar tanaman), dan kotiledon (daun lembaga yang membedakan apakah biji itu dikotil atau monokotil—tanaman monokotil terdiri dari satu helai daun lembaga [seperti jagung], sedangkan dikotil memiliki dua helai daun lembaga [seperti kacang hijau]). Terjadinya perkecambahan itu karena adanya proses imbibisi (penyerapan air) yang kemudian mengaktifkan semua bagian-bagain yang ada pada biji dan pada akhirnya berkecambah. Kemudian, jadilah tauge.

Keren, ya?! Biji yang kecil itu ternyata punya segudang rahasia untuk menghasilkan tauge.

Foto diadopsi dari Klinik Fotografi Kompas (http://kfk.kompas.com/kfk/view/106033)

Keterangan menarik lainnya mengenai si tauge ini adalah pada suatu hari, Dr. McKay pernah bertanya dengan menuliskan kalimat: “Dicari! Sayuran yang dapat tumbuh dengan kondisi iklim bagaimanapun, yang mengandung nutrisi hampir sama dengan daging, mengandung vitamin C melebihi tomat, yang bisa dipanen dalam waktu 3-5 hari, bisa ditanam sepanjang tahun, ditanam tanpa tanah dan tanpa matahari, tidak memiliki sisa sampah, dan dapat dimasak dengan bahan bakar terbatas dan bisa masak secepat kilat!” (Kalimat Ini udah saya alihkan ke bahasa Indonesia, ya, Guys. Bahasa aslinya nanti bisa dicari dari catatan referensi yang saya tulis dibawah!)

Bisakah kamu tebak jawabannya…? Yongkru! Cuma tauge!

Tauge, tanaman yang ditanam gak perlu tanah dan gak perlu matahari. Dan hebatnya lagi, tauge juga tidak memerlukan pupuk apalagi pestisida. Beuh…! Jarang-jarang, kan, ada tanaman yang kayak begini iniiiih!? Ya, soalnya, sekali lagi kita perlu menggarisbawahi, bahwa tauge ini adalah kecambah, tanaman yang baru akan memulai kehidupannya, tapi justru pada saat itulah ia dipanen untuk bisa dimanfaatkan.

Seperti yang sudah Ponik sebutkan tadi bahwa, untuk bisa menjadi kecambah, biji membutuhkan proses imbibisi. Yak! Biji itu memanc cuma butuh air untuk memulai kehidupannya. Ketika air masuk ke dalam biji, maka bagian-bagian yang ada di dalam biji tersebut akan aktif. Tapi, ketika makhluk hidup aktif, pasti butuh makanan, dong, ya…? Kalau begitu, dari mana sumber makanan yang ia butuhkan kalau bukan dari tanah yang punya nutrisi…??? Apa iya, cuma berbekal air saja, itu sudah cukup? Jawabannya, tentu saja cukup.

Yoi! Untuk perkecambahan itu, biji cuma butuh air karena biji masih menyimpan cadangan makanan (endoseperm)-nya sendiri. Jadi, ketika bagian-bagian tanaman aktif dan butuh makanan maka sumbernya diambil dari cadangan makanan itu sampai muncul plumula dan radikula ke permukaan. Setelah itu, ia akan dengan seketika menjadi tauge yang siap panen.

Satu lagi, si tauge juga gak butuh matahari! Loh, kok…? Padahal, seperti yang umumnya kita tahu, semua tanaman butuh matahari untuk proses fotosintesis. Mengapa tauge tidak butuh cahaya matahari? Perlu diketahui, tauge gak butuh fotosintesis. Kalau tauge terkena matahari, maka yang tumbuh adalah tanaman kacang hijau, bukan tauge. Hehehe!

Dalam tanaman, ada sesuatu yang biasa disebut hormon, salah satunya adalah hormon auksin. Hormon ini akan aktif tanpa matahari dan berfungsi untuk  perpanjangan sel-sel (baik akar maupun pucuk). So, jika dua biji kacang hijau ditanam secara bersamaan, tetapi yang satu diberi sinar matahari sementara yang satunya tidak, maka bisa Ponik pastikan bahwa kecambah yang lebih baik dan layak panen adalah kecambah yang ditanam tanpa matahari. Hal ini karena ketika hormon auksin yang aktif di saat pertumbuhannya, kecambah yang tidak terkena matahari akan menjadi lebih panjang dan putih bersih, sedangkan kecambah yang terkena matahari akan menjadi lebih pendek dan berwarna hijau. Mengapa? Karena klorofil (zat hijau daun) pada kecambah yang terkena matahari itu akan ikut aktif. Bagi tauge, aktifnya klorofil itu gak dibutuhkan. Tauge gak bakal laku dijual di pasaran jika warna kecambahnya hijau. Makanya, untuk menghasilkan tauge yang baik, pertumbuhan biji harus tanpa sinar matahari sama sekali. Bahkan sesenti pun, jangan biarkan matahari masuk karena itu hanya akan merusak kualits si tauge. Canggih gak sih si tauge iniiih…?!

Selain rahasia dalam konteks pertumbuhannya, tauge masih punya rahasia di balik tubuhnya yang mungil itu. Iyes! Tauge memiliki segudang manfaat untuk tubuh. Kandungan gizi pada biji kacang hijau berada dalam bentuk yang terikat, atau tidak aktif. Setelah perkecambahan, bentuk tersebut diaktifkan sehingga meningkatkan daya cerna bagi manusia. Sebab, pada saat perkecambahan, terjadi hidrolisis[1] karbohidrat, protein, dan lemak menjadi senyawa-senayawa yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna dan mudah diserap oleh tubuh (Anggrahini, 2007), dan menurut USDA (2009), tauge juga mengandung banyak vitamin dan mineral.

Pernah dengar mitos bahwa tauge adalah salah satu sayuran yang bisa bikin awet muda? O, wow! Ternyata itu bukan mitos, tapi fakta! Perlu kamu ketahui, tauge juga mengandung banyak vitamin E (Astawan, 2005). Vitamin E adalah salah satu fitonutrien[2] yang bekerja sebagai antioksidan yang dapat mempertahankan integritas membran (selaput) sel dan penangkal radikal bebas di dalam tubuh. Menurut Winarsi (2007), kandungan vitamin E dalam kecambah kacang hijau adalah 1.53 mg per 10 g, termasuk cukup tinggi untuk sayuran. So…? Artinya, biaya untuk awet muda itu gak mahal, cukup rutin mengonsumsi tauge, minimal tiga kali seminggu, deh, biar kebutuhan vitamin E dalam tubuh terpenuhi! Huehehe!

Bagaimana Bertani Tauge?

Galau karena terkadang kamu malas ke pasar cuma untuk membeli tauge? Atau kadang, pas udah ke pasar, malah lupa beli tauge? Atau bingung karena tauge yang dibeli mudah busuk dan gak bagus? Sekarang, kamu gak perlu bimbang, gak perlu ragu, dan gak perlu bingung! Tanam dan panen sendiri aja taugenya! Murah, simpel, dan kebersihannya terjamin karena menanam sendiri. Iya, ngga, sih…?

Caranya? Gampang banget! Sini, Ponik kasih tahu! Ssstt! Ini tips khusus dari Ponik loh, karena Ponik sudah mencobanya sendiri.

Biji kacang hijau.

Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah membeli kacang hijau di pasar, lalu cuci bersih dan rendam kacang hijau tersebut paling lama satu malam. Esok paginya, pindahkan ke wadah lain biji-biji yang sudah mulai menggendut karena proses imbibisi (penyerapan air) dimulai. Wadah yang digunakan bisa nampan, kotak kue, atau apa saja yang bisa digunakan untuk naro biji-biji gendut itu. Tapi sebelumnya, lapisi dulu wadah tersebut dengn kapas. Kalau tidak ada kapas, kamu bisa menggantinya dengan kain flanel. Kalau itu terlalu mahal buatmu, kamu bisa juga menggantinya dengan kain yang ada di rumahmu. Kalau gak ada juga, ya, udah, deh pake kertas koran, atau kertas bekas apa pun juga boleh, asalkan bisa menyimpan air untuk sehari. Mengapa ini penting? Soalnya, demi proses perkecambahan itu, kita hanya perlu menyediakan air untuk si biji. Artinya, kita butuh lapisan yang dapat menyerap dan menyimpan air. Hal itu akan berfungsi untuk penyediaan air bagi si tauge. Ponik sendiri pernah bereksperimen menggunakan kain flanel dan kertas koran. Alhamdulillah, hasilnya sama baiknya. Perbedaannya hanya dalam hal teknis. Kalau kita menggunakan kain flanel, meskipun modal awalnya mahal karena harus dibeli dulu, kain flanel bisa digunakan berkali-kali. Sedangkan kalau menggunakan kertas koran, biayanya lebih murah, tetapi hanya bisa sekali pakai karena kertasnya pasti robek terkena air. Satu hal yang perlu diingat, jangan kelebihan air, ya, apalagi jika bijinya sampai terendam. Nanti, bukannya jadi tauge, tapi malah jadi bubur kacang hijau. Hehehe!

Benih tauge yang telah mengalami imbibisi.

Bentuk benih setelah didiami selama satu hari.

Kecambah yang diletakkan di atas kain flanel.

Kecambah yang diletakkan di atas kain koran.

Setelah semua persiapan untuk perkecambahan oke, simpan wadah berisi lapisan penyimpan air dan biji-biji gendut itu di tempat yang gelap, tempat yang terlindung dari cahaya matahari. Pada eksperimen yang Ponik lakukan, wadah itu ditutup dengan kain hitam. Kalau gak ada kain hitam, kita juga bisa menggunakan kantong kresek hitam. Yang terpenting, usahakan semuanya tertutup dan jangan kasih celah sedikitpun untuk sinar matahari masuk ke dalam wadah. Dua hari kemudian, selamat panen! Oh, iya! Selama menunggu waktu panen, sesekali kamu harus meninjau kondisi kecambah untuk mengetahui apakah persediaan airnya habis atau lapisan kertas/kain itu kering, makan harus diberi air lagi. Kalau tidak, kecambah akan kekeringan dan mati. Simpel, kan? Iya, dong! Anak kosan wajib coba, deh! Murah, bersih, dan sehat. Setelah dipanen, kamu bahkan bisa menyantap tauge dengan nasi goreng. Sedaaap!

Tauge yang sudah dipanen.

Setelah bereksperimen, lalu mengupas cerita dan rahasia si tauge ini, Ponik mendapat kesimpulan bahwa sekecil apa pun kita, sesederhana apa pun kita berasal, pastikan bahwa kita dapat memberikan manfaat dan kebaikan untuk orang lain. Iya, seperti si tauge ini. Tauge adalah sayuran yang paling kecil, umurnya paling singkat, sayuran yang paling sederhana dan terkadang banyak orang yang menyepelekan dan melupakan tauge berasal dari mana. Tapi tauge tetap memberikan manfaat untuk siapa saja, untuk manusia dan hewan yang memakannya. (Hewan makan tauge…??? Gitu, deh! Ada beberapa penelitian yang mengatakan bahwa tauge juga jadi bahan pakan mamalia). Dan hebatnya lagi, tauge tetap tumbuh tanpa tanah, tanpa nutrisi, dan di tempat yang gelap. Hm…! Kalau kita berada di kondisi yang seperti itu, apakah kita masih mampu memberikan manfaat untuk orang lain, seperti tauge?

Salam petani kece!

Pekanbaru, 1 Januari 2017
Sayurankita

Catatan Kaki

[1] Catatan editor: sederhananya, hidrolisis dapat diartikan sebagai reaksi kimia yang memecah molekul air (H2O) menjadi kation hidrogen (H+) dan anion hidroksida (OH−) melalui suatu proses kimia. Lihat Wikipedia Bahasa Indonesia, https://id.wikipedia.org/wiki/Hidrolisis, diakses pada 25 Maret, 2017.
[2] Catatan editor: “fitonutrien adalah zat aktif biologis yang memberikan bau, warna dan rasa pada tanaman. Fitonutrien berkontribusi pada sistem pertahanan tumbuhan dengan melindunginya dari hama, virus, bakteri dan sinar matahari yang berlebihan.” Definisi dikutip dari Grapes from California, http://www.tablegrape.com/indonesian/health_phytonutrients.php, diakses pada 25 Maret 2017.

Bibliografi

Anggrahini, S. (2007). Pengaruh Lama Pengecambahan Terhadap Kandungan α-Tokoferol dan Senyawa Proksimat Kecambah Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.). AGRITECH , 27 (4), 152-157.

Astawan, M. (2005). Kacang Hijau: Antioksidan yang Membantu Kesuburan Pria. Retrieved Januari 1, 2017, dari situs web Institut Pertanian Bogor: http://web.ipb.ac.id/~tpg/de/pubde_ntrtnhlth_kacanghijau.php

International Sprout Growers Association. (n.d.). Sprout History. Retrieved Januari 1, 2017, dari situs web ISGA: International Sprout Growers Association: http://www.isga-sprouts.org/about-sprouts/sprout-history/

Taiz, L., & Zeiger, E. (2002). Plant Physiology (3rd Edition ed.). Sunderland (Massachusetts): Sinauer Associates.

UEHARAEN. (2001). History of beansprout. Retrieved Januari 1, 2017, dari situs web UEHARAEN CO.,LTD: http://www.ueharaen.co.jp/english/history.html

USDA. (2009). Proteins and Nutrients from Other Beneficial Legumes (Beans): Mung Beans, Mature Seeds, Raw. Retrieved Januari 1, 2017, dari situs web USDA – National Agricultural Library: http://www.nal.usda.gov/fnic/foodcomp/cgi-bin/list_nut_edit.pl

Winarsi, H. (2007). Antioksidan Alami dan Radikal Bebas: Potensi dan Aplikasinya dalam Kesehatan. Yogyakarta: Kanisius.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s