Pengalaman di Bangsal Menggawe 2017 (Bag. I)

Beberapa waktu lalu (di penghujung bulan Maret hingga dua minggu pertama bulan April, tepatnya), saya, dengan membawa nama Sayurankita, mengunjungi Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Banyak hal menarik selama perjalanan itu. Bukan sekadar liburan, tentunya, karena perjalanan ini salah satu pengalaman luar biasa. Saya banyak bertemu dengan orang-orang sederhana yang menginspirasi. Tulisan ini merupakan catatan personal saya terkait pengalaman atas suatu peristiwa massa yang sulit untuk dilupakan.

30 Maret 2017. Perjalanan ini sebenarnya adalah kali kedua saya menginjakkan kaki di pulau Lombok. Bagi saya, Lombok selalu memiliki sisi yang membuat saya takjub. Selain kontur alamnya yang begitu memukau, dengan gunung dan laut yang berdampingan, ternyata Lombok masih menyimpan banyak rahasia yang begitu memesona. Salah satunya di Lombok Utara, terutama di Kecamatan Pemenang. Di sana, saya bertemu dengan pemuda-pemudi yang luar biasa, yang kebetulan saat itu sedang menyelenggarakan sebuah acara pesta rakyat, bernama Bangsal Menggawe 2017. Pemuda-pemudi ini berkumpul dalam satu identitas kelompok: Pasirputih (belakangan saya ketahui bahwa kini mereka telah memiliki badan hukum dengan nama resmi Yayasan Pasirputih).

Menurut AKUMASSA, Bangsal Menggawe adalah pesta rakyat yang diinisasi Pasirputih dengan dukungan warga Pemenang. Dalam merealisasikan dan memeriahkan pesta rakyat itu, Pasirputih mengundang beberapa seniman dari berbagai lokasi (dari dalam dan luar Lombok) untuk tinggal di Kecamatan Pemenang selama lebih-kurang satu bulan, melakukan kegiatan-kegiatan kesenian kolaboratif dan partisipatif bersama warga setempat. Karenanya, di hari-hari saya menetap di Lombok selama lebih-kurang sepuluh hari itu, ada begitu banyak rangkaian kegiatan yang benar-benar menarik hati. Tahun 2017 adalah momen kedua penyelenggaraan Bangsal Menggawe. Warga Pemenang mengangkat tema “Siq-siq O Bungkuk” untuk memanifestasikan gagasan tentang “bertindak bijak” terhadap sesama.

“Bangsal Menggawe” tidak asing di telinga saya karena dua kata itu cukup mewarnai lini masa media sosial di awal tahun ini, terutama di Facebook. Saya pribadi sudah cukup lama penasaran bagaimana bentuk kegiatannya. Bagaimanakah caranya para pegiat Bangsal Menggawe ini—seperti yang saya dengar—bisa mengajak begitu banyak anggota masyarakat di Kecamatan Pemenang untuk mau berpesta dengan kesadaran dan rasa kepemilikan yang tinggi terhadap acara itu sendiri…? Maka, ketika sebuah tawaran tak terduga—yakni, kesediaan untuk menghadiri acara Bangsal Menggawe—menghampiri saya, saya pun tak punya alasan untuk menolaknya.

31 Maret 2017. Di hari kedua saya di Lombok, saya mulai mengikuti rangkaian kegiatan Bangsal Menggawe 2017 yang tersisa sebelum acara puncaknya yang dilaksanakan pada tanggal 2 April 2017. Siang itu, ada kegiatan diskusi antara teman-teman dari Serrum (sebuah kolektif seni yang aktif di Jakarta) dan guru-guru sekolah yang ada di Kecamatan Pemenang. Sore harinya, ada presentasi karya kolaboratif dari seniman Citra Sasmita dan warga Dusun Karang Subagan Daya. Beruntung, dua kegiatan itu dilaksanakan pada waktu yang berbeda sehingga saya dapat menyaksikan jalannya kedua kegiatan tersebut.

Sesungguhnya, hal menarik lainnya dari kegiatan yang digagas Serrum untuk hajatan Bangsal Menggawe 2017 tersebut adalah “Pasar Ilmu” dan “Kurikulab Masuk Desa”. Sayangnya, saya hanya bisa mendengar bagaimana serunya Bang Madun (seorang musisi lokal) menjadi “kepala sekolah” di acara Pasar Ilmu karena pada saat acara itu diselenggarakan, saya belum menginjakkan kaki di Lombok. Untung saja saya masih bisa mengikuti kegiatan diskusi di acara Kurikulab Masuk Desa.

Presentasi Serrum (Jakarta) mengenai ide “Kurikulab” bersama guru-guru sekolah di Kecamatan Pemenang. (Foto: arsip Pasirputih)
Poster acara Pasar Ilmu yang digagas oleh Serrum (Jakarta), bertajuk “Bang Madun Jadi Kepala Sekolah”, untuk Bangsal Menggawe 2017. (Poster: arsip Pasirputih)
Bang Madun melakukan latihan sebelum acara Pasar Ilmu dimulai. (Foto: arsip Pasirputih)
Keseruan kegiatan Pasar Ilmu yang diselenggarakan oleh Serrum (Jakarta) di Gedung Tempat Evakuasi Sementara (TES) Tsunami Kecamatan Pemenang. (Foto: arsip Pasirputih)

Kurikulab adalah salah satu program rutin yang dilakukan oleh Serrum. Kurikulab merupakan semacam proyek penelitian, atau tepatnya “laboratorium pendidikan”, yang dilakukan melalui pendekatan seni. Laboratorium ini mengkaji permasalahan dan isu pendidikan dengan mengembangkan berbagai metode. Ketika saya berada di Jakarta, saya pernah melihat presentasi Kurikulab yang menjelaskan proses pembentukan zat O2 dengan begitu sederhana melalui gambar-gambar yang menarik.

Keseruan kegiatan Pasar Ilmu yang diselenggarakan oleh Serrum (Jakarta) di Gedung Tempat Evakuasi Sementara (TES) Tsunami Kecamatan Pemenang. (Foto: arsip Pasirputih)
Proyek Pasar Ilmu yang digagas oleh Serrum (Jakarta) bersama warga di Kecamatan Pemenang. (Foto: arsip Pasirputih)

Nah, pada rangkaian acara Bangsal Menggawe 2017 kala itu, Serrum melalui proyek Kurikulab Masuk Desa mengajak para pendidik, tokoh masyarakat, pemuda, dan pegiat komunitas untuk kembali berdiskusi tentang materi yang dapat dijadikan sebagai acuan pelajaran muatan lokal di sekolah, khususnya di Kecamatan Pemenang. Dari hasil diskusi itu, muncullah kerisauan terhadap tradisi Lelaka yang mulai hilang dari masyarakat Pemenang. Lelaka adalah sejenis peribahasa yang biasa diceritakan oleh orang tua ke anaknya dan mengandung banyak nasihat. Berangkat dari kerisauan itu, Serrum bersama para stakeholder sekolah-sekolah yang ada di Kecamatan Pemenang mulai mencoba kembali mengangkat tradisi Lelaka ini sebagai muatan lokal.

Keseruan kegiatan Pasar Ilmu yang diselenggarakan oleh Serrum (Jakarta) di Gedung Tempat Evakuasi Sementara (TES) Tsunami Kecamatan Pemenang. (Foto: arsip Pasirputih)

Harapan saya untuk melihat diskusi lanjutan tentang rencana Lelaka menjadi muatan lokal dengan para pendidik dan tokoh masyarakat belum terkabul hari itu. Diskusi terpaksa diundur keesokan harinya karena forum pada hari itu dihadiri oleh beberapa orang saja.

Kegiatan pembuatan Wayang Karsunda (yang terbuat dari bahan kardus bekas) oleh CItra Sasmita dan warga Dusun Karang Subagan Daya. (Foto: arsip Pasirputih)

Akhirnya, ketika menjelang sore, saya beranjak menuju sebuah tanah lapang di sisi persawahan di dusun Karang Subagan Daya untuk menyaksikan presentasi oleh Citra Sasmita dan warga lokal di dusun tersebut. Mbak Citra, begitu saya menyapanya, sebagaimana komunitas Serrum, adalah salah satu seniman undangan yang mengikuti kegiatan “residensi seniman” yang difasilitasi oleh Pasirputih dalam rangka Bangsal Menggawe 2017 ini. “Residensi seniman” merupakan istilah umum yang digunakan untuk merujuk kegiatan-kegiatan yang mengundang seorang atau beberapa seniman untuk tinggal selama beberapa waktu di sebuah lokasi, untuk membuat karya atau proyek kesenian. Oleh Pasirputih, seniman-seniman yang diundang didorong untuk berkolaborasi dengan warga. Selama residensi, seniman-seniman ini melakukan pendekatan dengan masyarakat lokal di Kecamatan Pemenang, kemudian dengan masyarakat membuat suatu karya bersama-sama. Mbak Citra bersama perempuan-perempuan dan anak-anak di Karang Subagan Daya memutuskan untuk membuat proyek Wayang Karsunda (akronim dari “karang subagan daya”) sebagai representasi kehidupan masyarakat di dusun tersebut.

Ketika saya berdiskusi dengan Mbak Citra tentang ide Wayang Karsunda, ia mengatakan bahwa ibu-ibu di Karang Subagan Daya masih sering berkumpul saat sore hari. Hal itulah yang menjadi alasan baginya mengajak ibu-ibu untuk membuat wayang, membuat sesuatu yang menyenangkan bersama-sama. “Mengapa wayang?” saya sempat bertanya. “Karena, banyak cerita dalam pewayangan, perempuan selalu menjadi korban,” jawabnya. Harapan Mbak Citra, kegiatan membuat wayang dari kardus itu dapat memicu kesadaran warga, bahwa perempuan juga mempunyai peran penting di dalam masyarakat.

Poster acara presentasi Wayang Karsunda. (Poster: arsip Pasirputih)
Penampakan Wayang Karsunda yang dijejerkan di pinggiran sawah sebelum ditancapkan. (Foto: Manshur Zikri)
Anak-anak di dusun Karang Subagan Daya menancapkan Wayang Karsunda di tanah lapang yang tampaknya merupakan bekas lahan sawah. (Foto: Manshur Zikri)
Anak-anak menancapkan Wayang Karsunda ke tengah tanah lapang yang tampak merupakan lahan bekas sawah. (Foto: Manshur Zikri)

Jujur saja, sebelumnya saya sempat bingung dengan bentuk presentasi karya kolaboratif Mbak Citra dan warga Karang Subagan Daya ini: mereka menyusun wayang-wayang kardus itu di tanah lapang yang tampaknya merupakan bekas sawah. Saya mulai mengerti setelah mendengar latar belakang ide Mbak Citra dalam membuat karya ini bersama warga. Intinya adalah Mbak Citra ingin kebiasaan ibu-ibu yang berkumpul di sore hari itu menjadi menyenangkan melalui karya seni; dapat menjadi metode untuk memicu kesadaran diri terhadap pentingnya peran perempuan.

Anak-anak menyaksikan hasil display Wayang Karsunda yang mereka lakukan. (Foto: Manshur Zikri)
Warga merespon kehadiran Wayang Karsunda di tanah mereka. (Foto: Manshur Zikri)
Anak-anak bermain di antara wayang-wayang Karsunda. (Foto: Manshur Zikri)

Saya menjadi sangat tertarik dengan karya ini ketika anak-anak di dusun tersebut begitu antusias melihat wayang-wayang yang tersusun acak di tengah sawah yang baru saja dipanen. Acak, karena merekalah yang menancapkan wayang-wayang itu ke tanah. Saat semua wayang telah tertancap dan berdiri indah di sebagian besar area tanah lapang itu, saya melihat mereka berlari dan menari dari wayang yang satu ke wayang yang lain sementara ibu-ibu berkumpul di sisi sawah memperhatikan anak-anaknya bermain, kemudian mereka saling tertawa lepas.

Saya, beberapa teman dari Forum Lenteng, dan anak-anak dusun Karang Subagan Daya, bermain Siq-Siq O Bungkuk. (Foto: arsip Pasirputih)

Presentasi karya Mbak Citra juga berhasil membawa saya kembali “menjadi” anak-anak: bermain dan berlari, saling mengejar di antara wayang-wayang tersebut. Mungkin itulah maksudnya, bahwa karya seni adalah bagian dari masyarakat itu sendiri.

Rona senja mulai tertutup gelap. Azan maghrib mulai terdengar. Satu per satu ibu-ibu Karang Subagan Daya dan anak-anak mereka mulai meninggalkan arena pertunjukan, kembali ke rumah masing-masing dengan membawa cerita, bahwa sore itu mereka berkumpul dan tertawa lepas ketika melihat anak-anak mereka bermain, berlari dan tertawa di antara wayang yang tersusun acak di tengah tanah lapang. Saya pun ikut kembali ke rumah salah satu warga. ***

Penyunting : Manshur Zikri