Pengalaman di Bangsal Menggawe 2017 (Bag. II)

Masih tentang Bangsal Menggawe 2017. Catatan personal saya tidak berhenti pada cerita tentang Pasar Ilmu dan Wayang Karsunda saja. Masih ada beberapa kegiatan lain yang tak kalah menarik dari beberapa seniman yang terlibat dalam rangka menyemarakkan pesta rakyat bertajuk “Siq-Siq O Bungkuk” yang diinisiasi oleh Pasirputih bersama-sama warga lokal di Kecamatan Pemenang itu.

1 April 2017. Hari itu menjadi hari yang lebih sibuk dari hari-hari sebelumnya. Selain mempersiapkan segala sesuatu untuk pesta rakyat Bangsal Menggawe 2017 yang akan diadakan keesok harinya, hari itu juga ada penampilan tiga karya seni di tempat yang berbeda, dua di antaranya pada pukul yang sama. Tiga karya seni yang memenuhi jadwal sore hari di Pemenang adalah “Warung Dongeng” (karya kolaboratif antara Nia Agustina dan warga-warga dari Dusun Tebango, Karang Pangsor, dan Karang Kauhan), “Kusir Idaman” (karya kolaboratif antara Daniel Emet dan para kusir cidomo Pemenang), dan “Monolog Inaq” (karya kolaboratif antara Irawita, penulis naskah teater dari Jakarta, dan Martini Supiana, salah seorang warga lokal di Pemenang).

Poster acara “Kusir Idaman”. (Poster: arsip Pasirputih)
Camat dan Polsek Pemenang berfoto bersama, sesaat sebelum melepas pawai cidomo. (Foto: Manshur Zikri)
Cidomo dan para kusir bersiap-siap di halaman kantor Polsek Pemenang, sesaat sebelum dilepas untuk pawai. (Foto: arsip Pasirputih)

Acara “Kusir Idaman” seakan menampar saya hingga sadar, dengan kalimat tegasnya: “Berubah atau Punah”. Kalimat itu sendiri memang menggambarkan situasi yang tengah dihadapi oleh para pengusaha jasa angkutan cidomo di kawasan Pelabuhan Bangsal. Eksistensi cidomo—istilah lokal di Lombok untuk menyebut kereta beroda dua yang ditarik kuda; dokar—terancam punah karena ada isu larangan untuk mengoperasikan cidomo dengan alasan bahwa kotoran kuda yang berceceran di jalanan mengganggu kenyamanan, atau friksi yang terjadi antara para kusir dan pengusaha angkutan umum yang lain. Alasan yang pertama mungkin memang tak sepenuhnya bisa disangkal. Saya sendiri sering menemui kotoran kuda di sepanjang jalan menuju Pelabuhan Bangsal. Sedangkan alasan kedua, saya hanya mendengar dari cerita. Maka dari itu, dapat dipahami bahwa dengan kalimat “Berubah atau Punah”, Bang Emet—salah satu seniman undangan dalam program “residensi seniman” untuk Bangsal Menggawe 2017—mengajak para kusir cidomo di Pemenang untuk melihat kembali esensi cidomo sebagai alat transportasi bermartabat sebagaimana mereka dikenal dahulu.

Cidomo dan para kusir bersiap-siap di halaman kantor Polsek Pemenang, sesaat sebelum dilepas untuk pawai. (Foto: arsip Pasirputih)
Cidomo dan para kusir bersiap-siap di halaman kantor Polsek Pemenang, sesaat sebelum dilepas untuk pawai. (Foto: arsip Pasirputih)
Cidomo dan para kusir berhenti di Pelabuhan Bangsal dan bersiap untuk mendapatkan penilaian juri. (Foto: arsip Pasirputih)

Selama menjalani residensi, bang Emet mendapatkan cerita bahwa, zaman dulu, cidomo adalah alat transportasi untuk kelas strata atas, dan saat ini mulai tergeser karena adanya persaingan dengan alat transportasi lain yang dianggap lebih berkualitas. “Tapi, cidomo di Pelabuhan Bangsal seharusnya tetap memiliki daya tarik tersendiri,” ujar Bang Emet, ketika saya berdiskusi dengannya. “Bagi pendatang, menaiki cidomo tentunya adalah pengalaman baru.”

 

Berkolaborasi pula dengan komunitas Gerbong Tua, Bang Emet terus berdiskusi dengan para kusir perihal transportasi tradisional ini sehingga tercetuslah ide untuk menyelenggarakan pawai cidomo yang diniatkan sebagai bagian dari pesta rakyat Bangsal Menggawe tahun ini. Atas dorongan Bang Emet dan ketua salah satu komunitas cidomo di Pemenang, Pak Siri, akhirnya pawai cidomo dengan tema “Kusir Idaman” berhasil direalisasikan dan—seperti yang saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri—begitu memukau masyarakat di kecamatan itu. Kesuksesan pawai ini, menurut saya, terbukti dari tingginya antusias masyarakat dalam menanti berlalunya cidomo-cidomo yang telah dihias sedemikian indah, lengkap dengan kusir yang menggunakan baju adat sasak, di depan rumah mereka, menyusuri jalan dari kantor Polsek Pemenang ke Pelabuhan Bangsal.

Bang Emet sendiri berharap bahwa dengan adanya pawai Kusir Idaman itu, para kusir termotivasi untuk kembali memperhatikan nilai estetik dan etik dari cidomo yang mereka miliki, bukan hanya masalah uang, tapi ada unsur seni dan budaya pada cidomo yang harus dipertahankan sehingga dapat tetap hidup secara bermartabat. Untuk melengkapi karya kolaboratifnya itu, Bang Emet memproduksi buku saku berjudul Berubah atau Punah untuk semua kusir cidomo yang ada di Kecamatan Pemenang. Harapannya, dengan berubah menjadi lebih baik, cidomo dapat lestari di pelabuhan Bangsal dan tidak punah.

Keceriaan pawai cidomo itu berakhir di Pelabuhan Bangsal. Usai perwakilan dari Polsek Pemenang, yang saat itu menjadi juri, menilai cidomo mana yang penampilannya paling menarik, acara Kusir Idaman pun ditutup dengan kegiatan foto bersama kuda, kusir, dan masyarakat yang kala itu ikut hadir menyaksikan di Pelabuhan Bangsal.

Penyunting : Manshur Zikri