Bunga Telang

Konten : Afifah Farida

 

Hai, teman-teman! Di tulisan kali ini, Ponik ingin bercerita tentang bunga telang. Ponik baru tahu bunga telang setelah Kak Ipeh bercerita banyak tentang perjalanannya di awal bulan April lalu ke Kebun Pancoran.

Kamu pernah dengar bunga telang? Belum? Penasaran? Apa, sih bunga telang itu? Kata Kak Ipeh, bunga telang itu bisa memberikan warna biru ke makanan. Keren, kan? Ponik baru tahu loh, ada satu lagi tumbuhan yang bisa jadi pewarna biru makanan yang alami. Hehe!

Bunga telang yang biasanya diketahui hanya sebagai tanaman merambat, contohnya yang sering ditemui di pekarangan rumah atau di tepian hutan, ternyata telah dimanfaatkan sejak zaman dulu secara turun-temurun. Sebagian orang memanfaatkan bunga telang ini dari generasi ke generasi sebagai obat tradisional, seperti yang ditemukan oleh Herman (2005) di Jawa Barat. Dalam penelitiannya, Herman menyatakan bahwa di beberapa desa di daerah Jawa Barat terdapat kebiasaan penduduk yang memanfaatkan bunga telang ini sebagai obat untuk mengobati sariawan, insomnia, dan obat tetes mata.

Berbeda dengan Jawa Barat, di Malaysia, bunga telang ini sudah lama digunakan sebagai pewarna makanan. Kamu tahu nasi kerabu? Nasi kerabu adalah salah satu kuliner khas Malaysia yang wajib kamu cicipi. Nasi ini berwarna biru! Nasi ini sejenis nasi uduk, tetapi berwarna biru. Nah! Warna biru pada nasi kerabu itu berasal dari bunga telang. Selain nasi kerabu, ada juga pulut tai atau pulut tekan yang berwarna biru di daerah-daerah peranakan.

Nasi kerabu. (Foto: amrufm from Shah Alam, Malaysia – Restoran Molek Opening, CC BY 2.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=6947348)

Lain lagi di Thailand, bunga telang di konsumsi sebagai minuman berwarna biru dengan nama Nam Dok Anchan, biasanya disajikan dengan perasan jeruk lemon. Sedangkan di India sekitar daerah Kerala, dan di Filipina, bunga telang ini dikonsumsi sebagai sayuran (Lee et al., 2011).

Ternyata, bunga telang, yang selama ini Ponik kira hanya sebagai tanaman liar itu, punya banyak segudang manfaat. Ponik, sih masih penasaran, apa yang menyebabkan bunga telang ini begitu banyak manfaatnya dan digunakan oleh orang-orang di seluruh belahan dunia. Yuk, kita kupas tuntas rahasia bunga telang ini sampai puas!

Dalam kamus bahasa Inggris, bunga telang dikenal dengan nama “butterfly pea” atau “pigeon wings”, sedangkan bahasa ilmiahnya sendiri adalah Clitoria ternatea. Di Indonesia, bunga telang ini memiliki banyak nama. Di Sumatera, bunga telang dikenal dengan nama “bunga biru” atau “bunga kelentit”; di Jawa, ia dikenal dengan nama “kembang teleng” atau “menteleng”; di Sulawesi, bunga ini disebut dengan “bunga talang” atau “temanraleng”; sedangkan di Maluku, disebut dengan nama “bisi”.

Bunga Telang. (Foto: J.M.Garg – Karya pribadi, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=2804878)

Bunga telang termasuk dalam suku polong-polongan (Fabiaceae) atau Leguminase. Asal bunga ini masih simpang siur karena ada sebagian penelitian yang menyatakan bahwa bunga ini berasal dari Asia dan sebagian lagi dari Amerika. Dari mana pun asalnya, bunga telang sudah masuk ke Indonesia dan mulai banyak ditemukan meskipun perhatian terhadapnya masih sebatas untuk pakan ternak dan obat tradisional.

Menurut penelitian Tmannetje dan Jones (1992), bunga telang dapat beradaptasi dengan baik pada kondisi tanah berpasir, tahan terhadap kekeringan dengan curah hujan 500-900mm/tahun, dan mampu berkompetisi dengan gulma (tumbuhan pengganggu). Bunga telang juga cukup baik untuk dijadikan sebagai tanaman penutup tanah karena perkembangannya yang cukup cepat dan mudah. Pernyataan itu juga didukung oleh penelitian Hall (1992), Gomes and Kalamani (2003), dan Cook et al. (2005) tentang bunga telang, bahwa tumbuhan itu dapat hidup sebagai penutup tanah untuk tanaman perkebunan karet dan kelapa dengan kondisi tanah berpasir dan pH tanah 5-8.

Bunga telang merupakan tanaman perdu yang dapat tumbuh dan hidup bertahun-tahun (perennial), tingginya dapat mencapai 5 meter, berambut halus, dan bagian pangkal berkayu. Daunnya majemuk menyirip trifoleat (seperti daun kacang-kacangan pada umumnya), bunganya tunggal seperti kupu-kupu yang keluar dari ketiak daun, warna bungannya biru terang dengan warna putih kekuningan di bagian tengah, tetapi ada juga bunga yang berwarna putih. Bunga telang juga memiliki polong dengan biji yang berbentuk seperti ginjal pipih (lihat Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, 2008).

Tanaman bunga telang ini bisa Ponik katakan sebagai tanaman ajaib. Alasannya, hampir seluruh bagian tanamannya bermanfaat. Mulai dari akar, batang, daun, bunga, dan polong. Gak percaya? Ponik gak bohong, loh! Semakin Ponik baca jurnal-jurnal tentang bunga telang ini, semakin Ponik kagum sama bunga kupu-kupu biru ini. Serius! Ini hanya sebagian manfaat dari bunga telang yang bisa Ponik jabarkan.

Seperti yang sudah Ponik jelaskan, bahwa bunga telang itu berasal dari suku polong-polongan (Fabiaceae). Nah! Ciri khas dari golongan ini adalah punya bintil akar yang dapat menyuburkan tanah. Bintil akar itu mengandung bakteri rhizobium yang dapat mengikat nitrogen bebas di udara, lalu melepasnya ke tanah, sehingga tanah tersebut dapat mengandung nitrogen dan menjadi subur. So? Begitulah akar bunga telang bekerja. Karenanya, bunga telang juga dapat dijadikan sebagai tanaman penutup tanah; ia dapat membantu penyediaan nitrogen untuk tanaman lainnya. Maka, tanaman bunga telang ini baik untuk membantu kesuburan tanah karena pada akarnya juga terdapat bintil-bintil rhizobium (salah satu bakteri pengikat nitrogen) yang mengikat nitrogen dari udara bebas dan melepasnya di dalam tanah. Dalam penelitian Cook et al. (2005), bunga telang dinyatakan sebagai bank nitrogen karena kemampuannya dalam mengikat nitrogen cukup baik. Selain sebagai pengikat nitrogen, ternyata rebusan akar bunga telang juga bermanfaat untuk kesehatan. Dalam pengobatan Ayurveda, akar kembang telang lebih sering digunakan secara luas. Akarnya ini memiliki rasa yang pahit, tapi dapat memberikan efek dingin, pencahar, tonik, dan biasanya digunakan untuk pengobatan dementia, bronkitis, TBC paru, asma, peradangan, demam, dan rasa terbakar. Karena pengobatan Ayurveda ini adalah pengobatan kuno di India, maka perlu dilakukan penelitian ulang untuk mengetahui kandungan kimia pada akar bunga telang ini.

Masin ingat negara mana yang memanfaatkan tanaman bunga telang sebagai sayuran? Iyak! India dan Filipina. Ternyata, di Filipina, bagian yang dijadikan bahan sayuran adalah polong muda dari bunga telang. Nah! Selain dijadikan sayuran yang dikonsumsi oleh manusia, batang dan daun bunga telang ini juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa batang dan daun bunga telang ini baik untuk hewan ternak. Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Endang Sutedi (2013) yang menyimpulkan bahwa bunga telang dapat berpotensi sebagai sumber protein dan energi untuk ternak jenis ruminansia karena tanaman bunga telang mengandung protein berkisar 21-29%, dengan energi kasar sebesar 18,6 MJ/kg, kecernaan bahan organik 69,7%, dan kecernaan energi sebesar 66,6%. Penelitian terbaru dari Swiss German Univeristy (SGU) yang dipimpin oleh Maruli Pandjaitan pada tahun 2015 tentang ekstrak daun bunga telang mengkaji tumbuhan tersebut sebagai obat diabetes. Penelitian itu menyimpulkan bahwa mengonsumsi ekstrak bunga telang selama 20 minggu dapat menyembuhkan penyakit diabetes (lihat Adiyudha & Murdaningsih, 2016).

Bunga telang sendiri mengandung antosianin berwarna biru (Suebkhampet dan Sotthibandhu, 2011) sehingga bunga yang dilarutkan dalam air akan menjadi warna biru. Sedangkan senyawa kimia yang berhasil diteliti oleh Kazuma et.al (2003) pada mahkota bunga telang mengandung 14 jenis glikosida flavonol dan 19 jenis antosianin. Salah satunya adalah fenol dan delfinidin yang menurut Hutajulu et al. (2008) dapat menyembuhkan radang pada mata. Makanya, minuman dari mahkota bunga telang ini lebih sering digunakan sebagai obat dan disajikan sebagai teh bunga telang.

Nah! Itu sebagian keajaiban yang bisa Ponik jabarkan dari bunga telang. Bunga ini benar-benar keren, kan? Kebanyakan dari kita sering melihatnya dan mengira bahwa bunga ini sebagai tanaman hias biasa. Tapi ternyata di balik kesederhanaan bunga ini terdapat berjuta manfaat yang layak kita ketahui. Ih…! Ponik jadi mau nanam tanaman bunga telang juga. Bagaimana dengan kamu? Yuk, kita menanam bunga telang!

 

Bibliografi

Adiyudha, R. & Murdaningsih, D. 2016. “Ekstrak Daun Kembang Telang Bisa Bantu Sembuhkan Diabetes”. Diakses dari Republika pada tanggal 23 April 2017.

Cook, B.G., Pengelly, B.C., Brown, S.D., Donnelly, J.L., Eagles, D.A., Franco, M.A., Hanson, J., Mullen, B.F., Partridge, I.J., Peters, M. and Schultze-Kraft, R. 2005. Tropical Forages: An interactive selection tool. CD-ROM. Brisbane, Australia: CSIRO, Queensland, Australia: Department of Primary Industries and Fisheries, Cali, Colombia: CIAT and Nairobi, Kenya: ILRI.

Dalimartha, Setiawan. 2008. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 5. 2008. Jakarta: Pustaka Bunda.

Endang Sutaedi. 2013. “Potensi kembang Telang (Clitoria ternatea) sebagai tanaman pakan ternak”. Wartoza, 23(2): 51-62.

Gomez, S. M. & Kalamani, A. 2003. “Butterfly Pea (Clitoria ternatea): A Nutritive Multipurpose Forage Legume for the Tropics – An Overview”. Pakistan Journal of Nutrition, 2: 374-379.

Hall, T.J. 1985. “Adaptation and agronomy of clitoria ternatea in northern australia”. Tropical Grasslands, 19(4): 156-163.

Herman. 2005. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pengguna Tanaman Obat di Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari di Kabupaten Bogor dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Skripsi. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian IPB, Bogor.

Hutajulu, T. F., Rahma, S., & Djumarman. 2008.” Identifikasi Senyawa Fenol dan Delfinidin pada Kembang Telang (Clitoria ternatea L.) serta Uji Efektivitasnya Terhadap Staphylococcus aureus Penyebab Radang Mata”. Journal of Agro-Based Industry, 25 (2): 35-44.

Kazuma, K., Naonobu, N., Masahiko, S. 2003. “Malonylated Flavonol Glycosides From the Petals of Clitoria ternatea”. Phytochemistry, 62: 229-237.

Lee, P. M., Abdullah, R., & Hung, K. L. 2011. “Thermal Degradation of Blue Anthocyanin Extract of Clitoria ternatea Flower”. 2nd International Conference on Biotechnology and Food Science IPCBEE. Singapura: IACSIT Press. Hal. 49-53.

Mannetje, L.’t & Jones, RM (Eds.) Plant Resources of South East Asia. No4. Forages. Wageningen, Belanda: Pudoc Scientific Publishers. Hal. 196-198.

Suebkhampet, A., & Sotthibandhu, P. 2012. “Effect of Using Aqueous Crude Extract From Butterfly Pea Flowers (Clitoria ternatea L.) As a Dye on Animal Blood Smear Staining”. Suranaree J. Sci. Technol, 19(1): 15-19.

 

Penyunting : Manshur Zikri