Yang Saya Bawa dari Kebun Pancoran

Setelah bertemu dan mendengar sekilas cerita Samuel Bagas, saya justru penasaran dengan Kebun Pancoran. Yang membuat saya tertarik adalah tanaman bunga telang dan pupuk hayati yang dibuat sendiri oleh Bang Gentong—begitu saya menyapanya. Maka, pada hari Kamis, 13 April 2017, saya ditemani Zikri mendatangi Kebun Pancoran. Kami berangkat dari markas Forum Lenteng.

Sesuai namanya, Kebun Pancoran memang terletak di daerah Pancoran Timur, Jakarta Selatan. Jika ditempuh dengan sepeda motor dari Tanjung Barat, kita hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke lokasi. Kebun Pancoran ini berada di dalam area sebuah kompleks gedung tua yang lebih dikenal dengan nama Gudang Sarinah. Selama perjalanan, Zikri bercerita bahwa, sebelumnya, bangunan yang tepatnya terletak di Jalan Pancoran Timur II, No. 4, ini hanya berfungsi sebagai gudang, yang artinya hanya tempat penyimpanan. Menurut berita, tiga gedung tua yang masing-masing memiliki luas 3.000 meter persegi itu merupakan bagian dari Gedung Sarinah yang terletak di Jalan M. H. Thamrin, Jakarta Pusat. Namun, sejak tahun 2015, gudang itu dimanfaatkan sebagai ruang untuk berkesenian oleh para pegiat seni di Jakarta (lihat Astuti, 2015). Menurut Zikri, atas inisiatif ruangrupa, Forum Lenteng, Serrum, dan beberapa organisasi seni lainnya, saat ini Gudang Sarinah—yang telah berganti nama menjadi Gudang Sarinah Ekosistem—dapat memiliki fungsi yang baru: pameran seni, fotografi, pemutaran film, dan diskusi. Konon beberapa hari sebelum saya ke sana, ada acara diskusi bernama Bicara Tugas Akhir (BTA), tetapi sayang saya belum sempat menyaksikannya.

Gudang Sarinah Ekosistem. (Foto: situs web GSE)

Ketika masuk ke salah satu gedung Gudang Sarinah Ekosistem, yang tampaknya menjadi tempat pusat kegiatan, di sana sedang diadakan acara pameran yang dihelatkan oleh Serrum. Saya cukup terkesan dengan karya-karya yang terpajang. Ada beberapa pengunjung lainnya yang juga melihat-lihat karya itu. Selain pajangan karya itu, juga ada perpustakaan kecil di sana, dan di belakang gedung itulah Kebun Pancoran sedang tumbuh dan berkembang. Kebun Pancoran adalah sebuah proyek berkebun yang dikelola oleh Bang Gentong. “Tapi mengelolanya dengan perspektif seni,” ujar Zikri, beberapa hari sebelum kami ke sana.

Saat melihat Kebun Pancoran, saya merasa seperti berada di rumah di sebuah desa yang masih asri. Tanaman-tanaman yang tumbuh subur di pojokan itu memberi warna tersendiri bagi area Gudang Sarinah Ekosistem yang gersang. Kebun sederhana yang belum begitu luas itu penuh dengan biji-biji alpukat yang mulai bertunas, hamparan bunga telang yang menyelimuti dinding, jejeran tanaman kunyit, bawang, bayam, deretan daun mint, sorgum, okra, kacang panjang, jahe, cabe. Bahkan, beragam jenis rumput juga dikumpulkan oleh Bang Gentong. Dengan tanaman-tanaman itu, Kebun Pancoran terasa benar-benar hidup.

Mengulik cerita dari Bang Gentong tentang asal usul Kebun Pancoran membuat saya manggut-manggut salut. Menurutnya, setiap apa yang dilakukannya dalam dunia tanam-menanam ini adalah spekulasi semata, belajar otodidak dari internet. Tapi bagi saya, apa yang dilakukan Bang Gentong adalah suatu langkah yang keren. Bagi saya, itu adalah penelitian yang benar-benar nyata. Bang Gentong sedang menggali pengetahuan dengan caranya sendiri. Saya jadi “tertampar”! Saya yang lulusan pertanian, yang seharusnya punya gairah melebihi Bang Gentong tentang dunia tanam-menanam, bisa dibilang malah belum melakukan apa-apa. Ketika Bang Gentong sedang berusaha berbuat untuk menemukan pengetahuan tentang pertanian, saya justru berdiam diri. Hiks! Saya jadi malu. Hahaha!

Berdiskusi dengan Bang Gentong memberikan semangat dan inspirasi baru untuk memperbaiki kualitas kerja saya di laboratorium Sayurankita. Jujur saja, sebelumnya saya cukup sering mendengar Zikri menyarankan untuk menjadikan Sayurankita sebagai laboratorium ilmu pengetahuan tentang pertanian. Mendengar itu, yang saya pikirkan tidak berbeda dengan apa yang saya lakukan di kampus dulu. Akan tetapi saya masih belum menemukan “klik” untuk membuatnya menarik. Sampai saya melihat Kebun Pancoran, saya jadi mengerti, mungkin inilah jenis laboratorium yang dimaksud Zikri: bebas berekspresi dan berspekulasi, membuat pertanian menjadi sederhana tapi tak kehilangan wibawa; tidak terpaku pada satu aturan tertentu dan juga tidak menuntut untuk menghasilkan produksi tinggi yang (tidak) lestari.

Kata Bang Gentong, “Tumbuhan itu adalah tempat penyimpan data, tinggal bagaimana kita menggali data itu untuk menjadi ilmu pengetahuan.”

Menulis! Itu dia mengapa tulisan sangat penting. Dan Zikri, yang selalu berperan sebagai penyunting tulisan-tulisan di Sayurankita, selalu menagih tulisan saya yang berkaitan dengan sayuran dan pertanian. Hahaha! Ternyata, ya, memang itu maksudnya. Tumbuhan menyimpan banyak data yang sayangnya tidak dapat dituliskan dan diberitahu oleh tumbuhan itu sendiri kepada kita, tentang data apa saja yang dia punya, kecuali jika kita yang berinisiatif meneliti tumbuhan itu. Maka, tugas peneliti, pegiat, atau pecinta pertanianlah yang bertanggung jawab untuk membaca data itu dan kemudian menyampaikannya ke semua orang. Dengan kata lain, menanam dan menulis itu sepaket!

Satu hal lagi yang menarik dari diskusi dengan Bang Gentong siang itu adalah ketika dia menyatakan bahwa pertanian itu adalah senirupa, dan juga seni media. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya kalau ilmu yang saya geluti ini bisa jadi bersentuhan dengan kata “senirupa” dan “seni media”. Saya hanya semata menyukai seni, tapi tidak mengerti teorinya dan tentu saja bukan pula ahli di bidangnya. Saya baru bisa manggut-manggut setelah melihat-lihat Kebun Pancoran dan bertemu langsung dengan Bang Gentong—pegiat yang, seperti saya dengar dari Zikri, bisa dibilang sangat aktif di dunia senirupa, atau kebudayaan secara umum, sejak ia masih muda. Barulah saya paham, bahwa tumbuhan dengan konteks ruang dan waktunya adalah senirupa yang sempurna, tapi sering diabaikan.

Atau, sebagaimana pantikan obrolan Bang Gentong siang itu: “Coba lu baca, nih!” katanya, sambil menunjuk sebatang rumput. Saya dan Zikri mengernyit, lalu menggelengkan kepala. “Ngga bisa, kan? Kita seperti buta huruf. Padahal mereka deket banget dan selalu ada di keseharian kita.” Dengan kata lain, tumbuhan sebenarnya tiada bedanya dengan huruf-huruf dan bahasa yang semestinya kita pahami dan bisa kita baca setiap hari. Tapi, kesadaran itu belum tinggi di masyarakat kita. Begitulah kira-kira hikmah yang saya tangkap dari diskusi siang itu di Kebun Pancoran.

Selanjutnya, Sayurankita mau ngapain? Meneladani apa yang tengah dikerjakan Bang Gentong dengan proyek Kebun Pancorannya, tentu saja Sayurankita harus berbenah diri dan mampu menjadi suatu platform dan gudang ilmu pengetahuan tentang pertanian, teknologi pertanian, kebudayaan pertanian; dan juga arena studi tentang tumbuhan yang bisa dimengerti oleh siapa saja. Kebun Pancoran mungkin satu contoh dari banyak platform pertanian yang ada, dan Sayurankita juga akan berupaya menjadi bagian dari gerakan kultural yang akan terus tumbuh itu!

Terima kasih Bang Gentong dan Kebun Pancoran!

Penyunting : Manshur Zikri
Foto cover : Halaman Facebook Kebun Pancoran