Wiken Baca

Adalah pada suatu minggu kami melaksanakan kegiatan membaca bersama-sama, hanya ada aku dan kakakku awalnya yang ikut serta kala itu. Tidak lama kemudian, bergabung pula Ibed Tom, seorang teman kami. Hari itu adalah yang kali kedua kami melakukan kegiatan membaca bersama.

Bertiga, kami membaca koran harian Riau Pos edisi Minggu, 7 Mei 2017. Ya, memang pada minggu kedua kegiatan Wiken Baca—kegiatan ringan yang aku dan kakakku sepakati untuk kami lakukan setiap minggu—kami memilih koran sebagai media bacanya. Ada banyak hal yang dapat kami temukan dalam media tersebut, yang mungkin sudah sangat jarang orang perhatikan, mengingat zaman sekarang sudah banyak orang beralih ke media elektronik dan internet untuk mengakses berita dan informasi.

Seperti yang sudah kita ketahui, koran adalah lembaran-lembaran kertas yang berisi informasi faktual atau berita, maupun opini, yang terdiri dari kolom-kolom dan ruang utama (rubrik) yang mengangkat berbagai tema atau fokus bahasan. Berbeda dengan berita dalam jaringan (daring/online) semacam Detik.com atau Kompas.com, koran biasanya lebih rinci dan lebih panjang dalam hal menuliskan isi berita.

Sistem membaca koran yang kami terapkan dalam Wiken Baca adalah membaca dan mendengarkan. Secara bergantian, masing-masing peserta membaca dengan suara lantang dan jelas sementara yang lainnya mendengarkan.

Saya sedang membaca koran Riau Pos. (Foto: Afifah Farida)

Dari hasil kegiatan membaca itu, aku memperoleh beberapa informasi. Di antaranya adalah kasus kaburnya 442 narapidana Rumah Tahanan (rutan) Sialang Bungkuk, Pekanbaru, pada Jumat (5/5) lalu. Berita itu menjadi headline news. Dalam berita tersebut, disebutkan juga bahwa hampir setengah dari narapidana (napi) yang kabur sudah berhasil ditangkap kembali; juga dijelaskan tentang pencopotan Kepala Rutan Sialang Bungkuk beserta enam bawahannya oleh Direktoar Jenderal Kemenkumham RI. Kasus kaburnya napi Sialang Bungkuk itu diberitakan karena terjadinya bentrok antarnapi di Rutan Kelas C. Bentrokan ini dilerai oleh sipir, namun diduga dengan kekerasan, sehingga memancing amarah napi, yang memang sudah menumpuk akibat buruknya pelayanan dan fasilitas Rutan Sialang Bungkuk. Akhirnya, pintu rutan dibobol dan para napi pun berhamburan keluar melarikan diri.

Informasi lainnya yang kudapatkan adalah tentang maraknya prostitusi online yang melibatkan ABG (anak baru gede) sebagai pemberi dan penyedia jasa. Berita itu dibacakan oleh Ibed. Dalam beritanya, dijelaskan bahwa penggerebekan prostitusi online yang memanfaatkan aplikasi Bigo Live tersebut terjadi di Dumai, setelah dilakukan penyelidikan dengan teknik under cover buy (penyidik berpura-pura sebagai pelanggan). Ironisnya, pengguna akun Bigo Live yang menjadi muncikari maupun pekerjanya adalah anak di bawah umur. Kedua pelaku dan korban dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa. Akan tetapi muncikari yang di bawah umur tersebut tidak jadi ditahan mengingat ia masih di bawah umur. Namun demikian, pemeriksaan tetap dilakukan, dan melibatkan kedua orang tua pelaku sebagai orang yang bertanggung jawab penuh atas anaknya.

Afifah Farida (Ipeh), kakakku, juga mendapat giliran membaca. Artikel yang ia baca, yang tertangkap ingatanku, memberitakan tentang bencana alam yang kerap terjadi di Riau, Pekanbaru khususnya. Fenomena alam Riau yang beberapa bulan belakangan tidak stabil mengakibatkan terjadinya banjir, namun di saat bersamaan juga dilanda kekeringan. Hal ini bisa terjadi salah satunya akibat semakin berkurangnya daya tampung sungai-sungai yang ada di Riau. Sungai Siak, contohnya, yang semakin lama semakin dangkal akibat adanya endapan, baik itu endapan tanah dan lumpur maupun sampah-sampah. Pendangkalan ini menyebabkan berkurangnya daya tampung air sehingga, ketika hujan turun dengan lebat, sungai akan meluap. Sementara itu, saat panas terik, air yang hanya sedikit tertampung sungai akan cepat menguap dan habis sehingga terjadi kekeringan.

Selain itu, kakakku juga membacakan berita tentang aksi-aksi cinta lingkungan yang sedang marak di Riau, lagi-lagi khususnya di Pekanbaru. Salah satunya, ialah melalui kegiatan car free day yang dilaksanakan setiap hari Minggu setiap pekannya. Pemerintah Kota dan Provinsi pun berkolaborasi menyediakan ruang hijau yang lebih banyak untuk masyarakat. Beberapa di antaranya yang sudah beroperasi dan menjadi areal positif untuk berolahraga, adalah Kawasan Car Free Day di Jalan Diponegoro; Hutan Kota di Kelurahan Suka Mulia, Sail, Pekanbaru; dan Taman Kota yang juga terletak di Jalan Diponegoro.

Saat mendengarkan Ibed dan kakakku membaca, aku menyadari satu hal tentang diriku. Sepertinya, aku memiliki kesulitan dalam menyimak. Aku membutuhkan suasana tenang dan konsentrasi penuh agar bisa mendengarkan bacaan orang lain, serta memahami apa yang mereka baca, lalu menyimpannya di dalam kepala. Aku juga membutuhkan dorongan ekstra agar tetap fokus mendengarkan tanpa rasa bosan, atau supaya tetap bisa mendengarkan meskipun disambil kegiatan lain seperti merekam video. Soalnya, yang terjadi saat aku mencoba merekam kegiatan ini, pikiranku buyar hingga aku tak lagi tahu apa yang sedang dibaca Ibed atau Kak Ipeh saat itu.

Dari kegiatan membaca pun aku merasakan hal yang serupa. Aku membutuhkan waktu untuk bisa berkompromi dengan suasana yang cukup bising agar bisa berkonsentrasi dengan apa yang kubaca. Kecuali jika aku membaca dengan suara lantang, seperti yang kami lakukan dalam kegiatan “Wiken Baca” ini. Cukup mudah untukku memahami bacaanku saat aku membacanya dengan suara lantang. Juga semakin mudah bagiku menemukan hal-hal unik dan janggal dalam bacaan, seperti tata bahasa dalam tulisan tersebut.

Hal itu terbukti, misalnya, dari munculnya kepkeaanku terhadap data-data yang kudapat saat membaca tentang kasus Sialang Bungkuk tadi. Data yang ditulis dalam berita itu menimbulkan pertanyaan dalam benakku, yakni ketidakkonsistenan data yang ditulis oleh penulis berita, seperti jumlah pasti napi yang sudah ditangkap. Di awal berita, penulis menyebutkan bahwa 233 tahanan berhasil ditangkap kembali. Namun, sebaris kemudian, tampak tertulis sudah 237 tahanan yang tertangkap kembali. Masih dalam laporan yang sama, beberapa paragraf setelahnya, data tahanan yang sudah ditangkap kembali berubah lagi menjadi 219 orang.

Menurutku, kejadian penulisan informasi yang keliru semacam itu sangatlah fatal mengingat koran adalah sumber informasi yang dipercaya oleh masyarakat pada umumnya. Adalah tugas penulis berita berikut jajaran redaksinya untuk mengolah data dan informasi seapik mungkin lalu menuliskannya “sesempurna mungkin”. Ketidakkonsistenan bahasa dan data ini kerap aku temukan dalam kolom-kolom berita di koran, dan rasanya aku tidak bisa memaafkan hal ini. Berbeda dengan tulisan-tulisan dalam berita online, tulisan dalam koran sudah seharusnya adalah tulisan-tulisan yang baik dan layak dijadikan acuan. Jika data yang disuguhkan saja tidak konsisten atau berubah-ubah, bagaimana bisa jadi bahan acuan?

Hal lainnya yang menggelitikku adalah tata bahasa yang digunakan penulis. Tulisan yang kubaca itu seperti tulisan “caplok sana caplok sini” tanpa melalui proses penyuntingan. Ada banyak kalimat yang kehilangan subjeknya. Ada pula yang tidak jelas objek, predikat, bahkan sekadar konjugasinya yang tentu akan memengaruhi kalimat secara keseluruhan. Terlalu banyak “typo” yang tidak wajar sehingga membuatku berpikir tulisan ini tidak ditulis dengan serius dan profesional. Mungkin, typo juga yang menyebabkan ketidakkonsistenan data yang kujabarkan di atas. Namun, terlepas dari typo-tidaknya, adalah—lagi dan lagi—tugas penulis dan editor untuk memperhatikan ulang apa yang mereka tulis dan apa yang akan mereka terbitkan. Hal ini akan berhubungan erat dengan citra penulis dan harian cetak itu sendiri.

Bagiku, kewajiban seorang penulis (dan jurnalis) adalah memahami bahwa menulis harus dilakukan dengan cara yang baik dan benar. Salah satunya adalah teliti dalam menuliskan apa-apa yang ingin disampaikan. Hal lainnya yang wajib dimiliki penulis (dan jurnalis) adalah pemahaman tentang Kaidah Penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sudah banyak media yang memudahkan kita untuk menulis dengan cara dan Bahasa Indonesia yang benar, salah satunya yang datang dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, yakni Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan KBBI V. Bahkan, kini pun sudah ada KBBI versi daring!

Dalam kegiatan membaca di Wiken Baca kali itu pun, aku menyadari satu hal lainnya. Tidak berbeda dengan berita daring, koran juga ternyata mempunyai kolom-kolom iklan, tentunya sebagai penunjang keuangan perusahaan koran bersangkutan. Idealnya, menurut sepengetahuanku, isi berita dalam sebuah koran tentu sebaiknya lebih banyak dan beragam dibandingkan iklannya. Namun, keidealan ini tidak kutemukan dalam koran yang kami baca Minggu itu. Mungkin ada berbagai macam sebab dan alasan mengapa kolom iklan di harian Riau Pos tersebut sangat banyak sehingga berita yang dapat dibaca terbilang sedikit.

Akan tetapi, berita yang terbilang sedikit itu, sayangnya, tidak seluruhnya dapat kami baca bersama saat itu juga, mengingat waktu yang singkat—terpotong waktu makan siang. Terlepas dari kurangnya waktu dan ketahanan kami untuk membaca semua isi koran tersebut, kurasa dengan meninjau sebagian berita yang ada, kita paling tidak tetap mendapat sedikit-banyak informasi terkini terkait fenomena-fenomena sosial budaya politik yang tersebar di Riau.

Wiken Baca kali itu kami akhiri dengan diskusi singkat tentang isi berita yang kami baca. Kak Ipeh juga dengan cepat “menagih” tulisan tentang hasil membaca dan mendengarkan hari itu. Dan ini… adalah hasil membuka ingatan kembali tentang Wiken Baca edisi Minggu, 7 Mei 2017 lalu di dalam otakku. ***

 

Penyunting : Manshur Zikri