OK. PANGAN Mengembalikan Fokus Kita pada Pertanian

Tanggal 12-13 Agustus lalu, Sayurankita berkesempatan untuk turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan acara pemutaran “Video Out”, salah satu fringe event OK. Video – Indonesia Media Arts Festival yang tahun 2017 ini memiliki judul besar “OK. PANGAN”. Sehari sebelum festival tersebut ditutup, saya berkesempatan untuk menghadiri pameran OK. PANGAN yang diadakan oleh OK. Video sejak tanggal 22 Juli lalu di Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta.

OK. Video tahun 2017 ini mengangkat dan menginformasikan wacana dan isu politik pangan melalui seni dan media. Mahardika Yudha (Direktur OK. Video) mengatakan bahwa isu ini merupakan salah satu cara untuk melihat bagaimana pangan memiliki keterkaitan yang sangat dekat dengan sejarah kebudayaan yang mencakup dimensi sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Dalam festival ini, OK. Video mencoba mengorganisir beragam eksibisi yang terdiri dari pameran karya seni media, pertunjukan multi-media, seni berbasis proyek dalam format openlab dan lokakarya publik, residensi seniman, dan beragam proyek kolaboratif serta penelitian-penelitian lainnya yang menggunakan pendekatan seni. Secara khusus, ada 25 seniman yang diundang berpameran dan ada 14 seniman yang diundang untuk mengikuti kegiatan residensi di Jakarta, yang semuanya berasal dari 13 negara. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya, sebenarnya ada lebih banyak pihak lagi yang terlibat dalam keseluruhan kegiatan OK. Video ini.

OK. Video melalui OK. PANGAN berhasil memberikan gambaran tentang bagaimana pertanian yang terpinggirkan kembali ditarik menjadi pusat perhatian yang sebenarnya memang tidak dapat terlepas dari budaya, sejarah, ekonomi, politik, teknologi bahkan seni.

Pameran OK. PANGAN sendiri diadakan di Gudang Sarinah Ekosistem di Hall A1, A3, dan A4. Berhubung saya tiba di Jakarta pada tanggal 15 Agustus, ketika rangkaian acara sudah mulai selesai, saya hanya bisa melihat pameran karya-karya seniman yang ada di Gudang Sarinah Ekosistem saja dan melihat seni performans dari Agung Leak pada tanggal 16 Agustus sebagai penutupan rangkaian OK. Pangan Festival 2017. Saya tidak sempat mengikuti jenis-jenis kegiatan lainnya yang berada di luar format pameran dan pertunjukan itu.

Berbicara tentang pamerannya sendiri, salah satu karya yang menarik perhatian saya adalah karya dari Luinambi Vesiano yang berjudul Food Arround Us. Karya ini menarik karena Ves mencoba mengangkat informasi tumbuhan liar sebagai salah satu sumber pangan dengan menggunakan fotografi. Ves ingin menyampaikan bahwa tumbuhan liar memiliki fungsi yang lebih dari hanya sekadar tumbuhan liar, sebagaimana yang tertulis di bawah foto-foto tumbuhan liar yang ia rekam: tertera informasi tentang cara-cara pengolahan tumbuhan itu menjadi makanan. Saya baru tahu bahwa bunga putri malu, misalnya, yang awalnya saya kira hanya sekadar tumbuhan liar dipekarangan rumah, ternyata dapat diolah menjadi salad bersama tumbuhan lainnya, dan bayam liar berduri yang sering kita temui juga ternyata dapat dijadikan sebagai bahan utama pembuatan bolu.

Ada juga Bakudapan Food Study Group dengan karya mereka yang berjudul Pressure Cooker. Di pameran ini, Bakudapan memilih teknik sulaman untuk menyajikan hasil riset mereka bersama eks tahanan politik 1965. Karya sulaman tersebut menggambarkan tumbuh-tumbuhan pangan; karya itu hasil kerajinan tangan ibu-ibu penyintas. Lewat proyek kolaboratif ini, Bakudapan mencoba menggali hubungan antara perempuan penyintas 1965 dan makanan/pangan.

KISAH MANIS DAN GETIR GULA: Foto-Foto Sejarah Indonesia; karya NOORDERLICHT & ruangrupa, 2017. Foto-foto arsip, instalasi video

Selanjutnya, ada juga karya Noorderlight dan ruangrupa, tentang Kisah Manis dan Getir Gula melalui arsip foto. Dari deretan arsip itu, dapat terlihat bagaimana kondisi sosial-ekonomi di koloni Hindia Belanda pada masa penjajahan. Sedangkan karya berjudul Draw a Farm dari Wapke Feenstra, mengajak kita untuk kembali mengingat lahan pertanian, peternakan, dan pedesaan, dengan cara mendorong pengunjung pameran untuk menggambarkan memori mereka tentang hal-hal itu.

Gelar Soemantri (seniman) dan Berto Tukan (penulis), dua orang yang pernah berkolaborasi dengan Sayurankita untuk menjadi pemateri pada acara FGD Sayurankita bulan Juli lalu, juga berpartisipasi sebagai salah satu seniman yang karyanya dipamerkan di pameran OK. PANGAN. Lewat karyanya, mereka berdua mengkaji isu mi instan merek “indomie” sebagai salah satu pangan populer di Indonesia; karya mereka diberi judul 4 Sehat 6 Sempurna. Judul itu sengaja “dimainkan” karena mi instan bukan termasuk ke dalam 4 sehat 5 sempurna yang selama ini dipropagandakan pemerintah, namun termasuk menjadi pangan yang “cukup penting” bagi beragam kalangan masyarakat di negeri kita.

Di mata saya, lewat karya itu, Gelar dan Berto agaknya mencoba mengajak pengunjung untuk kembali berpikir tentang indomie (merek mi instan yang, mau tak mau, perlu diakui sangat populer di Indonesia, bahkan internasional juga); tentang bagaimana gandum, salah satu bahan dasar utama indomie, yang sebenarnya masih merupakan barang impor, tetapi dapat menjadi makanan. Alih-alih menghadirkan data-data berkesan riset yang begitu rumit, Gelar dan Berto justru secara metaforik memantik kesadaran itu dengan menghadirkan instalasi digital berupa layar TV yang ditumpuk dengan beberapa smartphone yang menayangkan rekaman live atas sajian indomie lewat fitur video straming media sosial milik Facebook. Sajian mi goreng merek indomie yang diletakkan di suatu tempat itu direkam selama beberapa hari, guna memperlihatkan kepada para pengunjung bagaimana perubahan indomie selama pameran berlangsung. Di layar smartphone pada instalasi itu (atau di akun Facebook si seniman), kita bisa melihat bahwa mi goreng yang mereka rekam disajikan dalam mangkok, dilengkapi dengan sayuran dan telur. Lewat rekaman video live ini, kita bisa memantau perubahan bentuk dan kondisi mi goreng merek indomie itu setiap hari. Ketika bertemu Gelar di pameran OK. PANGAN, Gelar mengatakan bahwa mi goreng merek indomie yang sudah dua minggu itu tidak mengalami pembusukan, justru mengeras dan membatu. Hal ini menjadi menarik karena secara tidak langsung menunjukkan kontekstualisasi bahan dasar pangan dan sistem produksi pangan kemasan, yang tidak hanya berhenti di persoalan apa jenis dan dari mana bahannya berasal, tetapi juga mencakup persoalan yang lebih luas, seperti isu ekonomi lintas wilayah, atau bahkan ke persoalan kesehatan dan isu-isu ketahanan tubuh, atau barangkali persoalan moral-etika pangan itu sendiri.

Yang juga menarik perhatian saya saat mengunjungi pameran OK. PANGAN itu adalah sebuah video karya Run Wrake yang berjudul Rabbit. Video 9 menit ini mengisahkan tentang seorang anak laki-laki dan perempuan yang hidup di lingkungan pedesaan, dan menemukan makhluk kecil berkekuatan magis di dalam perut seekor kelinci. Di mata saya, video yang diilustrasikan melalui gambar bergerak dengan huruf-huruf alfabet ini memberikan pesan moral bahwa keserakahan manusia akan menimbulkan bencana alam yang akan menimpa manusia tersebut.

***

MASYA ALLAH TRANSGENIK; karya Agung “Leak” Kurniawan (Indonesia), 2013. Gambar ini adalah foto dari instalasi video yang menayangkan dokumentasi dari seni performans tersebut.

Pameran OK. PANGAN ditutup pada tanggal 16 Agustus dengan menghadirkan karya seni performans Agung “Leak” Kurniawan, seorang seniman yang tinggal di Yogyakarta. Dalam seni performans-nya hari itu, Agung Leak mengkonstruk acara selamatan lewat doa makan bersama untuk menstimuli publik tentang isu makanan transgenik. Pada malam itu, makanan yang disajikan oleh Agung Leak adalah tempe karena jenis makanan ini adalah salah satu yang sangat dekat dengan isu makanan transgenik (GMO). Dalam performans itu, Agung Leak mengajak penonton untuk ikut membaca dengan suara yang lantang naskah pidato Presiden Soekarno tentang kedaulatan pangan Indonesia pada tahun 1952. Agung Leak mengajak penonton untuk mengkritisi kembali Genetically Modified Organism (GMO) yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam siklus produksi pangan; kita perlu menyadari dan berpikir kritis bahwa saat ini masyarakat dihadapkan dengan bahan makanan yang diproduksi dan dikontrol oleh industri dan perusahaan bioteknologi transnasional yang berdalih memberi makan umat manusia.

Dari rangkaian acara OK. PANGAN yang saya ikuti, saya melihat bahwa ternyata pertanian tidak pernah terlepas dari sendi-sendi seni, budaya, sejarah, sosial, ekonomi, teknologi, dan sains. Hanya saja, pertanian sering terlupakan sehingga membuat bidang ini sendiri seolah-olah terpisah dan terpinggirkan. Menurut saya, OK. Video melalui OK. PANGAN berhasil memberikan gambaran tentang bagaimana pertanian yang terpinggirkan kembali ditarik menjadi pusat perhatian yang sebenarnya memang tidak dapat terlepas dari budaya, sejarah, ekonomi, politik, teknologi bahkan seni. Disini, pertanian menjadi sangat menarik untuk ditampilkan, diperbincangkan, dan didiskusikan dari berbagai sudut pandang karena yang pihak-pihak yang terlibat berasal dari latar belakang ilmu disiplin yang berbeda-beda.

OK. PANGAN secara tidak langsung mengajak kita untuk kembali fokus dan peduli terhadap pertanian-pangan yang menjadi masalah utama dari bangsa ini. Dan menurut saya, penutupan oleh Agung “Leak” Kurniawan menjadi sebuah kesimpulan serta mengingatkan kita kembali pada soal keberlangsungan hidup dan mati sebuah bangsa: masalah pangan! Dan ini menjadi PR bagi kita semua, bagaimana kita bisa menemukan solusi dari masalah-masalah pangan yang terasa tak kunjung selesai itu. ***

 

Gambar sampul tulisan adalah cuplikan dari karya Luinambi Vesiano tahun 2017, berjudul Food Around Us.