Ramuan Herbal Untuk Ibu

Penulis: Ahmad Humaidi Onyong (anggota Yayasan Pasirputih)
Penyunting: Ade Surya Tawalapi
Tulisan ini juga dimuat di www.berajahaksara.org dengan judul “Ramuan Herbal Untuk Ibu“. Dimuat di Sayurankita.com dengan suntingan baru atas izin Yayasan Pasirputih.

Kamis, 11 April 2019, Siba dan saya pergi ke Pawang Rinjani. Pawang Rinjani adalah sebuah komunitas yang berbasis di Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Komunitas ini bergerak di bidang konservasi lingkungan. Kedatangan Siba dan saya kali ini adalah untuk membicarakan beberapa hal terkait kerja sama Pasirputih dan Pawang Rinjani.

Setelah beberapa menit kami duduk dan berbincang, tiba-tiba Bang Ciki, ketua Pawang Rinjani bertanya kepada saya tentang keadaan ibu saya yang sedang sakit.

‘’Bagaimana keadaan Ibu di rumah, Onyong?’’ tanya Bang Ciki sembari menatap saya.
“Lumayan baik, Om.  Cuman, beberapa dari anggota tubuh Ibu masih lemas dan kaku, seperti kaki dan tangan sebelah kanan.” Mendengar itu, Bang Ciki langsung menawarkan diri untuk melakukan terapi kepada ibu saya.
“Nanti coba kita terapi Ibu dan memberikan beberapa ramuan herbal,” katanya dengan raut wajah yang sedih.

Saya tidak tahu bahwa Bang Ciki pandai dalam pengobatan terapi atau membuat ramuan herbal. Saya hanya mengira, dia sekadar mengerti persoalan menanam pohon, konservasi atau kegiatan sejenis. Namun, ketika Bang Ciki bercerita tentang dirinya, saya jadi mengerti bahwa Bang Ciki pandai dalam pengobatan herbal. Sudah beberapa tahun ini dia melakukan penelitian terhadap ratusan tumbuhan yang mengandung obat atau yang mengandung racun,

arsip: Onyong/Pasirputih

Waktu sudah sore ketika Bang Ciki dan saya menyepakati kapan waktu yang pas untuk memberikan terapi buat Ibu. Bang Ciki langsung dengan tegas mengatakan, “Besok saja jam sembilan pagi. Jemput saya di sini.” Saya merasa senang dan bersyukur karena Bang Ciki mau meluangkan waktu untuk melakukan terapi terhadap Ibu. Selepas obrolan, akhirnya Siba dan saya memutuskan untuk kembali pulang.


Jumat, sekitar pukul delapan pagi, saya dengan wajah gembira dan bersemangat berangkat dari rumah ke Pawang Rinjani untuk menjemput Bang Ciki. Perjalanan yang saya tempuh dari Sesela ke Pawang Rinjani kurang lebih lima puluh empat menit. Setibanya di Pawang Rinjani, kami tidak membuang waktu dan langsung bergegas berangkat ke rumah. Di perjalanan, Bang Ciki memastikan bahan-bahan yang harus saya siapkan di rumah untuk terapi yang akan dia lakukan. Sebelumnya, Bang Ciki memang sudah memberi tahu saya agar mempersiapkan beberapa kebutuhan.

“Onyong! Jangan lupa siapkan ember dan garam satu kilo,” kata Bang Ciki mengingatkan saya kembali. “Nanti kita tuangkan air dingin dan selanjutnya air panas ke dalam ember itu. Gunanya untuk melatih sensitivitas saraf-saraf yang sudah mati,” kata Bang Ciki lagi, menjelaskan.

Ciplukan (arsip: Onyong/Pasirputih)
Hasil berburu ciplukan (arsip: Onyong/Pasirputih)

Sekitar pukul 11:30 WITA, kami sampai di rumah saya. Bang Ciki langsung menyapa Ibu dengan ucapan, “Assalamuaalikum.” Lalu, Ibu menjawabnya dengan suara yang samar. Tak lama, Bang Ciki menyuruh saya mempersiapkan ember dan menaburkan garam yang sudah dipersiapkan oleh kakak saya. Kemudian, proses terapi pun dimulai dengan memasukkan kaki Ibu ke dalam ember, lalu menuangkan air dingin dan air panas beberapa kali. Setelah itu, kaki Ibu di tutup dengan kain dan didiamkan beberapa jam. Sembari menunggu prosesnya selesai, kami berangkat untuk salat Jumat.

Selesai salat Jumat, Bang Ciki melanjutkan terapi. Bang Ciki meminta saya untuk mengambil lap kering, minyak goreng dan jahe. Lap kering untuk mengelap kaki Ibu yang masih basah, sedangkan minyak dan jahe untuk mengurut kaki dan tangan Ibu. Proses terapi dilanjutkan dengan mengurut kaki, tangan, dua titik di pundak dan di belakang telinga. Bang Ciki memperlihatkan cara mengurut supaya nanti saya tidak kebingungan mengurut Ibu setelah ini. Saya pun memperhatikannya dengan saksama.

Proses terapi akhirnya selesai. Sebelum Bang Ciki pulang, ia berpesan kepada saya untuk mencari beberapa resep bahan herbal, yaitu pohon kenamplokan (ciplukan) beserta daun dan akarnya, bunga putri malu, nanas dan buah jepang (labu siam). Cara meracik bahan-bahan tersebut adalah (1) pohon kenamplokan dan bunga putri malu direbus secara bersamaan menggunakan kendi. Hasil racikan ini akan dikonsumsi tiga kali sehari, yakni pada pagi, siang dan malam hari; (2) Nanas dan buah jepang diolah menjadi jus dan dikonsumsi pada sore hari. Usai menjelaskan cara meracik tanaman herbal tersebut, Bang Ciki meminta saya untuk mengantarnya pulang kembali ke Pawang Rinjani sebab hari sudah semakin sore.

Mencari bunga putri malu (arsip: Onyong/Pasirputih)

Sabtu pagi, sekitar pukul delapan, saya mencoba mencari beberapa bahan herbal yang sudah disebutkan sebelumnya. Dari semua bahan tersebut, ada satu bahan yang lumayan sulit ditemukan sekarang, yaitu pohon kenamplokan. Akan tetapi, hal itu tidak menyurutkan semangat saya untuk mengumpulkan bahan-bahan tersebut sebab saya ingin Ibu lekas sembuh.

Pertama-tama, saya mencari pohon kenamplokan. Biasanya pohon ini mudah kita temukan pada musim kacang atau kedelai, sementara sekarang sudah musim panen padi. Jadi, lumayan sulit ketika saya mencari-carinya di sawah. Namun, rejeki memang tak kemana. Setelah cukup lama mengelilingi sawah, tiba-tiba pohon kenamplokan tersebut “muncul” tepat di depan saya. Saya pun segera mencabutnya sampai ke akar. Merasa kurang, saya melanjutkan perjalannan untuk mencari pohon kenamplokan yang lain. Beberapa meter dari pohon pertama, saya menemukan tiga batang kenamplokan lagi. Dengan senang hati dan semangat, saya mencabutnya. Setelah merasa cukup untuk membuat ramuan hari ini, saya memutuskan untuk pulang dan melanjutkan pencarian bunga putri malu di sekitar rumah. Putri malu memang lebih mudah ditemukan.

Sepanjang perjalanan pulang, orang-orang yang tidak sengaja saya temui menebak-nebak apa yang saya bawa dan untuk apa. “Itu pohon kenamplokan, ya? Untuk darah tinggi, ya? Itu buat kencing manis, ya?” Saya menjawab sambil tersenyum manis,

“Iya, Pak. Untuk ibu saya yang lagi darah tinggi.”

Di antara mereka, ada yang bertanya kenapa akar kenamplokan-nya sedikit sekali, padahal yang penting itu sebenarnya adalah akar kenamplokan. Akarnyalah yang digunakan sebagai obat. Saya bengong karena saya belum tahu jika yang terpenting dari pohon kenamplokan itu ternyata akarnya.

Kenamplokan dan bunga putri malu siap diolah. (arsip: Onyong/Pasirputih)
(arsip: Onyong/Pasirputih)

Saya melanjutkan perjalanan menuju rumah. Sesampainya di rumah, saya langsung membeli kendi dan mencari bunga putri malu sebagai campuran pohon kenamplokan. Setelah bahan-bahan terkumpul, saya langsung merebusnya sesuai takaran yang ditunjukkan oleh Bang Ciki, yaitu satu kendi air, tiga batang pohon kenamplokan dan segenggam bunga putri malu.

Ramuan kenamplokan-putri malu siap diminum. (arsip: Onyong/Pasirputih)

Sekitar tiga puluh menit kemudian, ramuan pohon kenamplokan dan bunga putri malu pun jadi . Saya langsung menyaringnya dan menuangkannya ke gelas, lalu dengan segera saya sajikan buat ibu. Namun sayang, ibu ternyata tidak suka dengan ramuan yang saya buat. Ibu hanya meminumnya 3 sendok saja karena memang rasanya sangat pahit.***