Dongeng Resep Unik

[IDENTITAS BUKU]

Judul buku: Dongeng Resep Unik; Peri Anti Jeruk & Cerita Lainnya
Penulis: Stella Manoppo
Ilustrasi: Gege Orange, InnerChild, Paula
Penerbit
: Bhuana Ilmu Populer
Tebal: 123 halaman
Cetakan I: 2014
Genre: Cergam, Dongeng


Betapa senangnya mereka karena bisa berbagi kebersamaan dan menikmati hasil panen dari kebun sendiri.” (hlm 72)

Saat membaca judul buku dongeng ini, seketika saya teringat akan Sayurankita. Sejak terjun ke dunia pertanian, hal-hal yang berbau budaya tani selalu berhasil menarik perhatian saya. Buku ini salah satunya.

Mungkin ada beberapa orang yang bertanya-tanya apa hubungannya dongeng ini dengan budaya tani. Menurut saya, jelas ada. Judulnya saja sudah menegaskan adanya unsur budaya tani, yakni proses mengolah bahan makanan mentah menjadi sesuatu yang bisa dikonsumsi (dimakan). Proses pengolahan itu dikenal dengan sebutan memasak. Aktivitas memasak itu sendiri adalah salah satu turunan dari budaya tani.

Sinopsis “Dongeng Resep Unik”. Arsip: Ade/Sayurankita

Buku ini terdiri dari dua belas cerita yang mengangkat tema masakan, seperti minuman atau makanan ringan. Aktivitas memasak memang tidak diperlihatkan seutuhnya dalam kedua belas cerita. Namun, selalu ada bagian cerita yang menjurus ke sebuah “resep rahasia”. Contohnya dalam cerita “Peri Anti-Jeruk Nipis”. Martin, si peri pedagang, menghadiahkan jeruk nipis kepada salah seorang peri peniup terompet yang sudah menolongnya untuk mendorong perahu. Peri peniup terompet tersebut kemudian berkata, “Jeruk nipis adalah salah satu bahan untuk membuat ramuan Voula.” (hlm. 9). Ternyata ramuan tersebut dapat mengusir peri-peri jahat yang ingin merebut pohon obat. Di akhir cerita, penulis menyelipkan resep “ramuan Voula” dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan. Cara membuatnya pun sangat mudah, sehingga bisa dilakukan sendiri oleh anak-anak. Begitu pula dalam kesebelas cerita lainnya.

Salah satu “resep rahasia”. Arsip: Ade/Sayurankita

Selain “resep rahasia”, setiap cerita juga menyelipkan informasi maupun pesan tentang budaya tani. Seperti dalam cerita “Peri Anti-Jeruk Nipis”. Dalam dongeng tersebut dijelaskan secara tersirat bahwa dalam penyerbukan dibutuhkan beberapa bantuan, salah satunya bantuan angin. Peri peniup terompet membantu para peri pohon dalam proses penyerbukan ini, dengan cara mengembuskan angin dengan terompet anginnya.

Tammy meniup terompet angin beberapa kali. Embusan angin segera terasa, menggerakkan dedaunan, membawa serbuk sari melayang di udara. (hlm. 7)

Terompet angin juga menjadi satu-satunya alat pembantu penyerbukan salah satu pohon obat di negeri Voula.

“Ayo kita bantu penyerbukan pohon kuo-kuo!kata Tammy. … Kuo-kuo hanya bisa berbuah dengan bantuan terompet angin. (hlm. 12)

Potongan cerita di atas mengingatkan saya pada penyerbukan anemogami, yakni penyerbukan yang dilakukan oleh angin. [1] Memang ada beberapa tanaman yang bisa berkembang dengan penyerbukan anemogami ini. Contoh tanamannya adalah tanaman dari suku Poaceae (padi-padian) [2], seperti padi, gandum, jagung, jelai, jewawut, sorgum (cantel), tebu, bambu dan sereh. [3]

Salah satu adegan dalam dongeng “Tempe Melawan Tumpi” (hlm. 94). Arsip: Ade/Sayurankita

Informasi seperti di atas juga akan kita temukan dalam cerita “Tempe Melawan Tumpi”. Cerita tersebut mengisahkan tentang sebuah desa yang mendapat serangan dari Tumpi, makhluk buas berkaki enam dengan taring dan cakar yang mengerikan (hlm. 96). Lalu, tokoh utama yang merupakan seorang penjual tempe goreng tanpa sengaja melemparkan tempe ke dalam mulut Tumpi. Tiba-tiba monster tersebut menjadi tenang dan tertidur. Pada halaman 97, tokoh profesor menjelaskan bahwa tempe terbuat dari kedelai yang mengandung senyawa asam folat. Senyawa tersebut dapat membuat perasaan lebih tenang. [4] Lalu warga desa berbondong-bondong membuat tempe demi menjinakkan para tumpi.

Cuplikan dongeng “Gung-Gong dan Rahasia Dapur” (hlm. 34). Arsip: Ade/Sayurankita

Menurut saya, buku ini merupakan sarana yang bagus sekali untuk belajar budaya tani. Buku ini tidak hanya memperkenalkan betapa serunya belajar memasak, tetapi juga mengajarkan bagaimana cara mendapatkan beberapa bahan makanan. Salah satunya dengan cara menanam, seperti dalam cerita “Kejutan Manis untuk Sahabat” (hlm. 64) dan “Jus Segar Musim Panas” (hlm. 74). Kedua cerita tersebut secara tersirat menggambarkan betapa beruntungnya ketika kita memiliki pohon buah sendiri, seperti kelengkeng, jeruk, mangga dan stroberi. Kita bisa membuat olahan minuman dari buah-buah tersebut. Memiliki tanaman pohon sendiri juga menjadi sumber kebaikan, karena kita bisa saling berbagi kepada teman dan tetangga saat musim panen tiba. Menyenangkan sekali, bukan?***


[CATATAN]

[1] Ir. Etty Ekawaty, MP. 2017. Modul Keahlian Ganda – Paket Keahlian Agribisnis Tanaman Perkebunan KK E. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

[2] Gembong, Tjitrosoepomo.1989. Taksonomi Tumbuhan. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.

[3] Wikipedia. Poaceae.

[4] Berdanier et.al. (2008), dalam tesis “Keefektifan Terapi Tambahan Asam Folat dan Vitamin B12 Dalam Memperbaiki Skor Panss Pasien Skizofrenia Kronik di RSJD Dr. Arif Zainudin Surakarta” oleh Betty Hidayati (Surakarta, 2016), menyatakan bahwa kekurangan asam folat (B9) dapat mengganggu kinerja vitamin B, terutama B12 dalam tubuh. Vitamin B12 ini berfungsi untuk melepaskan folat, sehingga dapat membantu pembentukan sel-sel darah merah. Kekurangan asam folat dapat mengakibatkan munculnya tanda-tanda anorexia, nausea, abdominal distention, flatulence, biter/bad taste, altered sleep patterns, kesulitan berkonsentrasi, irritabilitas, aktivitas berlebihan, bahkan sampai depresi.