Kolak Mutiara Sagu di Hari Pertama Ramadan

Penulis: Dewi Sartinah
Penyunting: Afifah Farida Jufri & Ade Surya Tawalapi

PUASA PERTAMA MEMANG sudah lewat beberapa hari yang lalu. Namun, kisah unik dan pengalamannya tidak akan kulupakan. Ada saja kisah yang sepertinya mesti dibagikan. Entah itu dalam bentuk video atau tulisan. Kisah tentang kebersamaan atau kesedihan karena harus melaksanakan kewajiban tanpa adanya keluarga. Atau sekadar berbagi resep sederhana tentang menu sahur dan berbuka.

Kali ini, aku ingin berbagi tentang resep sederhana suatu makanan, yang aku yakin sangat familier bagi seluruh keluarga Indonesia. Sebab makanan ini selalu ada dan ramai dijual atau dibuat saat Ramadan. Apalagi kalau bukan kolak! Ya, makanan berkuah santan dengan rasa manis karena ditambah gula merah ini memang menjadi primadona keluarga Indonesia di bulan Ramadan.

Aku memang sudah pernah membuat kolak, tapi selalu gagal. Nah, kemarin, aku mencoba membuatnya lagi, hanya untuk memenuhi janjiku kepada Adik sebagai pengganti es buah yang dia inginkan tapi tak bisa kuwujudkan.

Singkat cerita, saat tukang kelapa membeli beberapa buah kelapa yang tumbuh di depan rumahku beberapa hari lalu, Bapak menyisihkannya satu untuk di rumah. Katanya, mana tahu nanti kami membutuhkannya. Ternyata, benar. Aku memang membutuhkan si kelapa untuk membuat kolak.

Kami tidak merencanakan akan membuat kolak. Namun, saat memikirkan menu buka puasa di hari pertama, aku mencoba memutar otak sambil berdiskusi dengan keluarga. Akhirnya diputuskan kami akan membuat kolak singkong dengan tambahan sedikit ubi yang bisa kami ambil di kebun di samping rumah. Kebetulan, belum lama ini kebun di samping rumah kami ditanami ubi. Memang belum lama ditanam, namun umbinya sudah ada walau kecil dan tidak begitu banyak. Kurasa, sebagai penambah saja lumayan cukup.

Ubi yang sudah dipotong-potong. Arsip/Dewi Sartinah

Sayangnya, siang menjelang sore di hari pertama Ramadhan itu hujan turun cukup deras. Aku kebingungan, karena rencananya sore itu aku akan ke kebun untuk memanen singkong. Melihat situasi yang tidak memungkinkan itu, aku dan Bapak pun berdiskusi lagi. Hasilnya, diputuskan bahwa kami akan tetap membuat kolak, tapi isinya diganti dengan mutiara dan ubi yang dibeli di warung. Kata Bapak, mutiara dan ubi bisa kami beli nanti di warung setelah hujan reda, sekalian pergi memarut kelapa di rumah bibiku, yang kebetulan memiliki mesin pemarut kelapa.

Sekitar pukul tiga sore, hujan sedikit mereda. Aku dan Bapak bergegas pergi ke warung untuk membeli mutiara dan ubi, agar setelah itu kami bisa langsung ke rumah Bibi untuk memarut kelapa. Kami pergi menggunakan motor, karena memang warung yang cukup lengkap jaraknya lumayan jauh dari rumah. Namun, sesampainya di warung, aku sedikit kecewa karena ubi yang kucari tidak ada. Yang ada di sana hanya mutiara.

Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk tetap membeli satu bungkus mutiara seharga Rp2000. Kemudian aku pergi ke rumah Bibi sekalian mencari ubi. Kebetulan bibiku juga berjualan jajanan dan sayur. Namun, untuk kedua kalinya aku kecewa. Bibi tidak menjual ubi!

Aku hampir menyerah saat itu, tapi tiba-tiba aku ingat di desa tempat tinggal Bibi ada warung penjual sayur lainnya. Aku pun meminta Bapak mengantarkanku ke sana. Akhirnya, perjuanganku kali ini tidak sia-sia. Ubi yang kucari akhirnya ketemu di warung yang kumaksud itu, meskipun harga jualnya cukup mahal. Satu kilogram hanya berisi tiga buah, namun dijual seharga Rp6000. Tapi, yah … walau begitu aku tetap membelinya. Hehe!

Mutiara sagu yang dibeli di warung. Arsip/Dewi Sartinah

Sesampainya di rumah aku baru ingat bahwa sebelumya aku belum pernah membuat kolak dengan campuran mutiara. Namun, aku tidak peduli. Dengan PD-nya, aku tetap nekat membuat kolak ubi-mutiara. Meskipun saat itu aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti rasanya.

Dengan segera aku mempersiapkan bahan-bahan, mengingat waktu sudah sangat sore. Dua dari tiga ubi yang kubeli tadi kupotong kotak-kotak berukuran sedang. Setelah itu, langsung kurebus dengan perasan santan. Saat merebus ubi, aku menggunakan perasan santan kedua sampai keempat. Sementara perasaan pertamanya kusisihkan ke dalam panci tersendiri, untuk nanti dicampurkan saat kolak sudah hampir masak. Total santan yang kugunakan dari sebutir kelapa dari pohon di kebun kami itu sejumlah dua liter.

Kolak Mutiara Sagu siap disantap. Arsip/Dewi Sartinah

Aku menambahkan dua lembar daun pandan dan setengah sendok teh garam ke dalam panci rebusan ubi. Kemudian, rebusan ubi kuaduk rata agar santan tidak pecah. Setelah beberapa saat menunggu, aku memasukkan satu bungkus mutiara dan gula merah sebanyak tiga buah . Kemudian kuaduk lagi hingga gula merah cair dan merata. Saat santan mulai mendidih, aku segera memasukkan santan yang tersisa (santan perasan pertama, red.). Kemudian, aku aduk terus sampai kolakku benar-benar matang. Tingkat kematangan bisa dilihat dari mutiara yang sudah membesar dengan warna bening dan tekstur yang kenyal.

Tidak terasa, ternyata aku sudah menghabiskan sekitar tiga puluh menit di dapur. Akhirnya, setelah berjuang di dapur, kolak ubi dengan tambahan mutiara sagu buatanku matang tepat saat azan berkumandang! Segera kuhidangkan kolak tersebut ke meja makan. Hasilnya? Lagi-lagi di luar dugaan! Kolak buatanku kali ini ternyata lumayan enak, walau sedikit kemanisan. Hehee.***