Biji Salak Ungu

Penulis: Ade Surya Tawalapi
Penyunting: Afifah Farida Jufri

BIJI SALAK, ATAU YANG dikenal juga dengan nama Bubur Candil, adalah salah satu menu buka puasa kesukaanku. Hampir setiap Ramadan aku meminta Ibu untuk membuatkannya. Sayangnya, tahun ini Ibu sudah tidak bisa lama-lama di dapur lagi, karena sudah terlalu tua untuk bergumul dengan kompor. Afifahlah yang sekarang menjadi penguasa dapur di rumah Ponik. Namun, dia menolak ketika beberapa hari sebelum Ramadan aku meminta dibuatkan si Bubua Cande ini untuk buka puasa.

“Bikin sendiri sana!” jawabnya ketika aku merayunya dengan manja. Mission failed. Haha.

Di hari pertama Ramadan, aku mendapat semangat yang luar biasa, entah dari mana. Sejak pagi, tanpa kembali tidur sehabis sahur, aku melakukan banyak kegiatan. Mulai dari berkebun, mengurus web, sampai ikut memasak di dapur bersama Afifah. Hari itu, aku berniat akan membuat si Biji Salak. Untungnya Afifah dan Ibu tidak 100% membiarkanku memasak Bubur Candil itu sendirian. Kalau iya, sudah kupastikan hasilnya tidak akan karuan.

Oh, iya, Sahabat Ponik sudah tahu, kan, apa itu Biji Salak atau Bubur Candil?

Biji Salak adalah bubur kenyal dengan rasa manis gurih berbentuk bulat-bulat kelereng, terbuat dari ubi rambat yang diadon dengan tepung sagu atau tapioka. Dihidangkan dengan saus santan dan gula merah. Biji Salak adalah salah satu makanan tradisional Indonesia. Hampir di semua daerah memiliki Biji Salaknya sendiri. Umumnya, Biji Salak tradisional berwarna cokelat terang, persis seperti biji buah salak. Namun, Biji Salak kini sudah dimodifikasi menjadi berbagai warna. Ada yang berwarna merah muda, hijau, biru dan ungu, bahkan pelangi.

Biji Salak Pelangi karya Cynthiahali. Sumber: ig @cynthiahali

Di daerah Jawa, Biji Salak menjadi salah satu makanan tradisional yang dihidangkan saat upacara Tedak Siten (Turun Tanah), yaitu upacara bagi anak berusia tujuh bulan yang dinyatakan sudah bisa turun tanah atau keluar rumah untuk pertama kalinya.[1] Sementara di Sumatera Barat, Biji Salak, yang lebih dikenal dengan nama Bubua Cande, menjadi salah satu pilihan menu sarapan tradisional sehari-hari. Bubua Cande juga menjadi salah satu isi dari Bubua Kampiun, yaitu bubur campur khas Minangkabau. Isi dari Bubua Kampiun sendiri adalah bubur sumsum, bubua cande, kolak pisang, kolak ubi, bubur delima, lopis dan sarikaya.

Alasan mengapa nama bubur ini disebut Biji Salak atau Bubur Biji Salak adalah karena bentuknya yang bulat-bulat menyerupai biji salak. Warna bubur dan kuahnya juga mengingatkan kita pada biji salak.

Biji buah salak dan Biji Salak tradisional. Mirip, kan? Sumber foto: jatimnet.com dan infosumbar.net, diedit dengan paint

Nah, hari pertama Ramadan itu, Afifah mengajakku untuk membuat Biji Salak Ungu. Saat kutinggal salat Ashar, Afifah ternyata sudah mulai merebus ubi ungu yang dibelinya di pasar sehari sebelumnya. Afifah mendapat setengah kilogram ubi ungu kualitas bagus dengan harga lima ribu rupiah. Aku tidak tahu apakah itu termasuk murah meriah, atau normal. Kalau kata Afifah sendiri, itu masih tergolong harga standar.

Afifah merebus semua ubi ungu yang dibelinya itu. Lalu, ditiriskannya ubi tersebut setelah dagingnya melunak dan lembut. Barulah kemudian aku melanjutkan pekerjaan Afifah, yakni mengupas kulit ubi ungu yang sudah direbus itu.

Kata Ibu, sebaiknya ubi dikupas saat masih setengah panas agar nanti mudah dibentuk. Namun, karena hari itu aku juga sedang bersemangat membuat video, waktu nyaris habis untuk merekam. Alhasil, ubi tersebut sudah mulai dingin saat aku menghancurkan dan mengadonnya dengan lima puluh gram tepung tapioka. Alhasil, adonan Biji Salak-ku jadi susah dibentuk. Akhirnya, Ibu turun tangan. Beliau membantuku membulat-bulatkan adonan tersebut agar cepat selesai. Sementara Afifah menyiapkan kuah atau saus Biji Salaknya.

Karena Biji Salak kami kali ini sudah berwarna, maka sausnya dibuat polos saja. Afifah memakai 300 mL santan peras yang dicampur dengan 300 mL air mineral dan sejumput garam. Kemudian Afifah merebus larutan santan tersebut sambil terus diaduk-aduk agar tidak pecah santan. Larutan santan tersebut dimasak hingga ia meletup beberapa kali saja. Maksudnya, tidak sampai mendidih lama. Sebab, jika dibiarkan mendidih lama, takutnya nanti akan timbul minyak santannya dan rasanya menjadi tidak enak.

Sayangnya, Afifah lupa menambahkan daun pandan ke dalam saus santan tersebut, sehingga aromanya kurang menggoda. Namun, kata Ibu itu tidak jadi masalah. Pandan bisa ditambahkan nanti ke rebusan si Biji Salak.

Setelah adonan selesai kami bulat-bulatkan sebesar biji salak, Ibu mengarahkanku untuk merebus air terlebih dahulu. Aku lalu menuangkan 700 mL air mineral ke dalam panci dan menambahkan selembar daun pandan serta delapan sendok makan gula pasir, kurang lebih setara dengan 150 gram. Nah, inilah hal kedua yang membedakan Biji Salak kami dari yang lain. Biasanya, gula yang digunakan untuk merebus adonan adalah gula merah. Itulah mengapa warna kuah Biji Salak tradisional mirip dengan biji atau kulit buah salak. Namun, seperti yang sudah kukatakan tadi, bahwa Biji Salak kami sudah “berwarna”, maka semuanya dibuat polos. Jadi, lebih cocok menggunakan gula pasir saja.

Biji Salak Ungu buatanku featuring Afifah dan Ibu. Arsip: Ade/Sayurankita

Dalam pikiranku, saat mengaduk-aduk air rebusan agar gulanya larut, adalah kuah Biji Salak ini akan bening. Namun ternyata tidak, Sahabat Ponik! Haha. Mungkin Sahabat Ponik yang hobi atau sudah sering main di dapur sudah tahu bahwa ternyata warna ubi ungu itu luntur! Jadi, kuahnya tidak bening seperti perkiraan pertamaku dan tidak pula ungu seperti perkiraan keduaku, melainkan biru.

Loh, kok biru?

Iya. Aku juga bingung ketika melihat air rebusan itu. Saat adonan Biji Salak yang sudah dibulat-bulatkan itu kumasukkan ke dalam air yang sudah mendidih, lambat laun air berubah warna menjadi biru. Meski rebusan sudah kuaduk-aduk sesekali (kata Ibu agar adonan tidak lengket ke panci), warnanya tetap tidak berubah. Warna tersebut baru mulai berubah menjadi ungu saat adonan pengental sudah dimasukkan. Adonan pengental yang kumaksud adalah sesendok tepung tapioka yang dilarutkan dengan air secukupnya. Adonan pengental tersebut dituang ke dalam rebusan adonan sambil rebusannya diaduk-aduk ketika “bij-biji salak”-nya sudah mengambang atau mengapung dan air sudah mendidih secara merata. Kata Ibu, dengan mengapungnya “biji-biji salak” itu, tandanya adonan sudah matang. Nah, adonan pengental itulah yang akan mengubah air rebusan yang cair menjadi lebih kental (dan warna biru menjadi ungu? Entahlah. Haha).

Biji Salak Ungu dan saus santan. Arsip: Ade/Sayurankita

Sekitar satu menit setelah adonan pengental dimasukkan, api sudah bisa dimatikan dan Biji Salak sudah bisa dihidangkan. Yeay!

Eits! Tunggu dulu. Karena hari itu adalah hari pertama Ramadan, maka Biji Salak Ungu karyaku featuring Afifah dan Ibu belum bisa langsung dilahap! Harus kudu menunggu bedug dulu, ya. Tapi, dengan melihatnya saja, aku sudah yakin rasanya akan enak.

Dan memang benar, karena Ayah ternyata suka. Ayah adalah patokan umum di rumah kami bahwa makanan itu enak dan layak dimakan. Hahaha.***


[REFERENSI]

[1] Gadis.co.id. 2012. Aneka Bubur Tradisional. Diakses pada 15 Mei 2019