Dilema Seikat Daun Kelor dan Remungge

Penulis: Martini Supiana (anggota Yayasan Pasirputih)
Penyunting: Tim Sayurankita

 

SUNGGUH, TERKADANG SAYA cemburu dengan cinta Qays kepada Laila [1]. Meskipun pada akhirnya Qays “sembuh” dari cinta gilanya itu. Mungkin, karena Qays sadar bahwa dunia ini tak selebar daun kelor!

Hmm, dunia tak selebar daun kelor? Oke, mari kita bicara tentang kelor saja daripada baper dengan cinta lama seorang Qays.

Mengapa harus membicarakan kelor? Karena saat ini, kelor menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan. Saya punya cerita dan pengalaman tentang daun hijau ini, yang sebagian orang menyebutnya sebagai daun ajaib.

Bertemu jodoh di Pemenang membuat saya cukup kaget. Namun, yang membuat saya lebih kaget lagi adalah bertemu dengan kelor yang sudah diikat-ikat dan ditaruh di atas meja dagangan di pasar Pemenang. Ya, saya sangat kaget karena di Pemenang, daun kelor dijual dan dicari oleh banyak ibu-ibu. Harganya pun lumayan. Seribu per ikat daun kelor. Satu ikat daun kelor berisi tidak lebih dari sepuluh tangkai.

Beberapa batang kelor yang baru dipanen. Arsip: Ade/Sayurankita

Begitu juga dengan buahnya. Kami menyebut buah kelor ini dengan nama remungge. Harga remungge di pasar Pemenang bahkan lebih mahal daripada daunnya. Tiga ikat remungge dijual dengan harga lima ribu rupiah dan dalam satu ikatnya berisi sekitar empat sampai lima buah remungge.

Namun, meskipun demikian daun kelor serta buahnya—jika kebetulan ada di pasar—tetap menjadi sayur favorit bagi warga Pemenang. Tidak peduli seberapa pun harganya, kelor tetap dicari para komandan dapur. Kita tidak akan menemukan kelor jika ke pasar di atas jam 10 pagi. Atau, kita mungkin akan menemukannya, tapi bentuknya sudah mulai layu dan tidak menarik lagi untuk disayur.

Saya pernah mencoba menanam kelor dari biji. Tumbuh! Hanya saja, kelor saya tidak bertahan lama karena harus bertarung melawan ayam tetangga dan ulat yang entah datang dari mana. Kelor saya yang sudah tumbuh besar, daunnya habis dimakan ulat. Sementara yang baru saja mulai tumbuh, habis dipatok ayam. Saya kesal sekali karena gagal produksi kelor sendiri sehingga tetap harus membelinya ke pasar.

Memang harga seribu per ikat daun kelor, mahal, ya?

Pohon kelor tetangga. Arsip: Martini Supiana

Bagi saya, iya! Sebagai salah satu ibu rumah tangga di Kecamatan Pemenang, yang tumbuh dan besar di Kecamatan Bayan, harga sayur kelor dan remungge di Pemenang ini terbilang mahal bagi saya. Apalagi di saat tidak musimnya. Kelor bisa saja dijual dengan harga lima ribu per tiga ikat. Sementara, selama saya tinggal di Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan, saya tidak pernah merogoh kocek hanya demi serumpun daun kelor dan segepok remungge! Semua gratisss! Cukup panen saja di depan rumah, atau di pekarangan tetangga, atau di pembatas jalan. Mau masak sayur kelor seharian pun, tidak ada yang keberatan.

Ya, di Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan, khususnya Dusun Batu Keruk, dusun kelahiran saya, kelor adalah “tanaman liar” yang sangat mudah ditemukan. Kita bisa menjumpai kelor hampir di setiap rumah. Di beberapa rumah pohon-pohon kelor bahkan berbaris rapi karena dijadikan pagar hidup oleh warga. Kita tidak akan menemukan pedagang sayur yang menjual daun kelor maupun remungge. Jika kita membutuhkan kelor, kita dapat memetik daun kelor di mana saja, kapan saja, sesuka hati. Tentunya, harus izin dulu dengan yang punya. Hehe.

Sayangnya, pohon kelor yang tumbuh di Desa Akar-Akar tidak begitu terawat. Belum banyak warga yang mengetahui segudang manfaat daun kelor, tentunya selain digunakan sebagai menu sayur. Tak jarang, kita akan melihat anak-anak menjadikan kelor sebagai bahan mainan, seperti permainan masak-masakan dan dagang-dagangan, padahal kelor termasuk salah satu sayuran yang memiliki banyak manfaat. [2] [3]

Daun kelor. Arsip: Ade/Sayurankita

Menurut informasi yang saya dapatkan dari internet, WHO menjadikan kelor sebagai bahan pangan penting untuk mengatasi kekurangan gizi pada anak-anak. [4] Banyak penelitian yang mengatakan bahwa gizi kelor sama dengan 4 kali susu, 3 kali wortel, dan 3 kali pisang. Saya juga baru mengetahui, bahwa kelor, yang menurut warga adalah sayur yang biasa saja itu, ternyata bisa dijual dengan harga yang lebih mahal daripada harga jual di Pemenang. Dan, ternyata banyak juga orang asing yang menyukai kelor, seperti Diuwke, salah satu teman saya asal Belanda.

Saat saya tinggal di Dusun Batu Keruk, kelor adalah sayur biasa yang tidak perlu perjuangan untuk mendapatkannya. Namun sekarang, kelor menjadi oleh-oleh yang wajib kami bawa dari Desa Akar-Akar ke Pemenang setiap kali kami pulang kampung. Hal itu kami lakukan demi menikmati kelor tanpa merogoh kocek. Begitu juga jika orang tua saya datang berkunjung ke Pemenang. Mereka akan membawa kelor sebagai buah tangannya. Sebab, setelah kami mengetahui manfaatnya, kelor menjadi oleh-oleh yang ditunggu-tunggu oleh keluarga kecil kami di Pemenang.

Lalu, mengapa bisa di Pemenang daun dan remungge ini dijual? Padahal ada cukup banyak pohon kelor yang tumbuh, meski tidak sebanyak di kampung halaman saya. Ini adalah satu pertanyaan yang belum saya temukan jawabannya.***


[CATATAN]

[1] Tokoh-tokoh dari cerita rakyat Arab, yang dipopulerkan oleh seorang penyair Sunni Persia bernama Nizami Ganjavi (Jamal ad-Dīn Abū Muḥammad Ilyās ibn-Yūsuf ibn-Zakkī). Nizami menciptakan puisi naratif panjang (long narrative poem) yang terinspirasi dari kisah cinta mengenaskan antara Qays dan Laila. Karyanya tersebut diberi judul “Qays dan Laila”, atau dikenal juga dengan judul “Laila dan Majnun” (”Layli and Majnun” dalam bahasa Inggris; “Leili o Majnun” dalam bahasa Persia)

[2] Daba M. 2016. Miracle Tree: A Review on Multi-purposes of Moringa oleifera and Its Implication for Climate Change Mitigation. Journal of Earth  Science and Climate Change. (Diakses pada 13 Mei 2019)

[3] Quinton, Amy & UC Davis. 2018. Moringa, The Next Superfood?: The “Miracle Tree” That Could Help Feed The World. The Washington Post. (Diakses pada 13 Mei 2019)

[4] Wikipedia. Kelor. (Diakses pada 13 Mei 2019)