Membaca Virtual Catatan di Selatan Singkarak

SEPERTI YANG KUKATAKAN dalam tulisanku sebelumnya (bisa baca di sini), Minggu 22 Juli 2018, aku dan kakakku akan membaca buku pertama Albert Rahman Putra, “Sore Kelabu di Selatan Singkarak“, bersama-sama. Kegiatan membaca bersama ini merupakan kegiatan Pekanbaca Sayurankita yang keempat, edisi Juli 2018. Aku dan kakakku berada di kota yang berbeda, tapi ini bukan masalah. Zaman sekarang, jarak bukan lagi halangan untuk bisa membaca bersama-sama. Hari itu, dengan memberdayakan fitur live instagram, kami membaca virtual catatan Albert tentang Singkarak dan dunia yang mengitarinya.

Sebenarnya aku datang terlambat hari itu. Maksudku, datang terlambat ke dunia virtual. Sepulang dari senam pagi bersama Delva (anggota Gubuak Kopi) dan Roro (partisipan Bakureh Project), aku melakukan “ritual pagi sekali dua hari”-ku: mencuci pakaian. Usai mencuci pakaian aku mandi dan menunggu jam menunjukkan pukul 11. Masih setengah jam lagi. Aku kemudian berpikir untuk meluruskan badan sejenak di kamar, yang berada di dalam rumah utama tempat Gubuak Kopi mengontrak markasnya. Aku bergolekan sambil membaca buku “Kartun Riwayat Peradaban”  karya Larry Gonick, yang sejak awal membacanya beberapa hari lalu, selalu sukses membuatku mengantuk.

Dan aku pun tertidur.

 

Tepat pukul 11.30 WIB, aku tersentak. Kepalaku seketika sakit tapi jantungku lebih sakit , ia berdebar terlalu cepat karena terkejut. Aku langsung bangkit dari kasur dan berlari ke Markas Gubuak Kopi, membasuh mukaku dengan cepat dan langsung membuka instagramku. Kakak sudah mulai membaca rupanya, bahkan sudah masuk Bab kedua. Dia terlalu asyik membaca dan sepertinya tidak sadar bahwa aku sudah mengirim permintaan bergabung dalam “siaran langsung”-nya.

Aku sudah pernah membaca buku Albert sebelumnya, tapi tidak sampai selesai. Beberapa waktu setelah peluncuran buku ini, kami mendapat kiriman satu eksemplar buku Albert lengkap dengan tanda tangan dan ucapan semangat untuk terus “berliterasi”. Hari itu aku tidak bisa membaca terlebih dulu lembar-lembar yang sudah dibaca kakakku; bab satu dan setengah bagian bab dua itu. Tapi seingatku, Albert mengawali bukunya dengan menggambarkan kondisi Danau Singkarak yang benar-benar kelabu dan suram, akibat pertambangan sekaligus kemarau yang menyelimuti Singkarak. Di tulisan pertamanya dalam buku itu, Albert sudah menyinggung alih fungsi sungai dan danau, yang dulu menjadi sumber kehidupan namun  kini menjadi tempat pembuangan. Pada bukunya, Albert menuangkan keresahan-keresahan yang menjejali pikirannya tentang kondisi masyarakat yang tampak tidak berdaya dan menurut saja dengan perubahan-perubahan tidak sehat yang terjadi di sekelilingnya.

membaca virtual
Aktivitas Pekanbaca Sayurankita dari fitur live instagram layar ponsel kakakku (foto: Afifah/Sayurankita)

Sambil duduk di ruang komputer Gubuak Kopi sendirian, menghadap ke meja komputer, aku berusaha mencari baris yang sedang dibaca oleh kakakku. Cukup lama aku mencarinya, sampai akhirnya aku membaca kalimat yang sama pada halaman empat terakhir Bab “Melayang dan Mengendap di Muara Berbuih” itu. Sekilas, aku menangkap bahwa Albert sedang menceritakan proses perkenalannya sekali lagi dengan Danau Singkarak, yang dulunya dikenal dengan nama Lauik Sumpu (lautnya orang Sumpu). Danau itu dikenalnya sebagai bagian dari keindahan alam Sumatera Barat. Ingatan Albert bahkan menunjukkan bahwa ia pernah mandi di danau itu. Namun, apa yang dilihatnya kini berbeda dengan ingatan-ingatan yang melintas di kepalanya. Danau Singkarak sudah rusak oleh limbah yang tak berhenti masuk, melayang lalu mengendap di Muara Batang Lembang itu. Cerita rakyat tentang Danau Singkarak yang tersebar di internet, yang sempat dinilainya kurang menarik, justru menjadi penutup yang apik. Albert menghubungkan kisah tidak masuk akal itu dengan permasalahan masyarakat yang begitu kompleks, yang berpangkal pada degradasi moral manusia yang hanya mementingkan diri sendiri.

Kami lalu meluncur ke bab selanjutnya, masih dengan kakakku yang asyik membaca sendiri. Pada bab ketiga ini, Albert berbagi pengalamannya saat ikut memancing bersama temannya, Datuak, Kantuak dan Cudin. Pengalaman memancing Albert, berdasarkan penceritaannya tersebut, sepertinya tidak hanya sekali dua kali. Ia tampak datang lagi dan lagi ke Danau Singkarak untuk mengamati dan berbincang dengan para pemancing, demi melepaskan hasrat kepo-nya. Aku lalu teringat akan cerita Delva, bahwa Albert pernah beralasan menemani Datuak pergi memancing, tapi ternyata ia sedang mencari bahan untuk tulisannya. Kupikir, mungkin inilah tulisan itu, tentang “Singkarak: Kisah-Kisah Malam Para Pemancing“. Pada dasarnya, tulisan ini tidak hanya bercerita tentang pengalaman nongkrong bersama para pemancing dan narasi tentang ma-rekor (cara menangkap udang dengan menggunakan racun hama), tetapi juga menyinggung persoalan, lagi-lagi, limbah yang mengubah aroma segar danau menjadi tidak sedap. Albert juga menuliskan narasi-narasi tentang kerugian petani ikan pada awal 2015 akibat ledakan populasi fitoplankton yang muncul karena pencemaran air, menyebabkan oksigen di permukaan danau berkurang dan mengganggu populasi ikan-ikan di dalamnya. Kondisi ini didukung dengan kebijakan pemerintah yang mungkin kurang tepat, meski tujuannya adalah demi membantu perekonomian masyarakat.

Pada bukunya, Albert menuangkan keresahan-keresahan yang menjejali pikirannya tentang kondisi masyarakat yang tampak tidak berdaya dan menurut saja dengan perubahan-perubahan tidak sehat yang terjadi di sekelilingnya.

Albert lalu menggiring kami pada cerita-cerita masa lampau tentang keindahan Danau Singkarak dan bentang alam di sekitarnya, yang divisualisasikan dalam bentuk lukisan. Cerita-cerita tersebut terangkum dalam Bab “Lukisan Lampau: Kabar Indah di Singkarak“. Aku mendapat kesempatan membaca bab ini setelah permintaan “siaran langsung”-ku diterima oleh Kakak.

Dalam tulisan ini, Albert menyebut dua nama pelukis naturalis yang turut mengambil bagian dalam mengabadikan keindahan visual Danau Singkarak, yang tercatat sudah tersebar hingga ke Jerman sejak 1905. Dalam tulisan ketiganya ini, Albert juga menarik ingatan masa kecilnya ke permukaan, mengenai lukisan Danau Singkarak yang dilihatnya pada bagian belakang sebuah bak truk. Yang kutangkap dari tulisan ketiga ini adalah sepertinya kebiasaan untuk fokus atau melihat hal-hal yang indah saja, dan mengabaikan hal yang tidak indah, sudah mendarah daging dan diturunkan sejak dulu kala. Seperti penilaian Albert berdasarkan referensi tentang lukisan-lukisan naturalis yang lebih mementingkan keeksotisan bentang alam daripada realitas dan keorisinilan suatu tempat. Dalam bab ini, Albert juga menyinggung fenomena pungli di sekitar Singkarak, yang juga marak terjadi di hampir semua “tempat wisata” di Sumatera Barat. Fenomena ini sempat mencoreng nama Sumatera Barat, yang kemudian dicap sebagai tempat yang melanggengkan premanisme.

Tentang ikan-ikan yang sering mati mendadak dan kelangkaan ikan bilih, ikan yang menjadi ikon Danau Singkarak itu, juga ternyata tak luput dari pandangan Albert. Ia membahasnya dalam tulisan kelimanya, “Bilih: Ikan Kecil Kita Yang Hampir Habis, dan Keluarganya di Perairan Toba“, yang dibacakan oleh kakakku. Selain mengangkat kisah tentang kelangkaan ikan bilih, Albert juga menyinggung praktek illegal fishing yang marak terjadi di Danau Singkarak, berikut dengan cara-cara yang digunakan untuk mendapatkan ikan-ikan tersebut. Cara-cara yang sebenarnya terlalu berisiko, tapi mungkin tidak bisa dihindari warga setempat karena terdesak. Saya merasa Albert seperti sedang mengajak kita untuk berani melawan arus yang merugikan, tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga alam tempat kita tinggal. Menarasikan kondisi petani ikan dan permasalahan-permasalahan lain di sekitar Danau Singkarak ini, menurut saya, bisa dikatakan bentuk perlawanan yang sedang dilakukan Albert.

Tentang illegal fishing dan cara-cara menangkap ikan yang merugikan itu diceritakan kembali oleh Albert dalam bab selanjutnya, “Letusan di Riaknya Danau“. Aku membaca bab ini dengan perlahan dan menyadari bahwa dalam tulisan ini Albert menuliskannya dengan lebih rinci namun tidak bertele-tele. Hanya dengan beberapa halaman saja, Albert menuliskan bagaimana pelaku illegal fishing tersebut memegang peran yang sangat kuat di sekitaran Danau Singkarak, bahkan sampai membuat polisi patroli tidak bisa berkutik.

 

Dua Bab terakhir yang bisa kami baca hari itu secara virtual, dibacakan oleh kakakku, berhubung sinyal internetku mulai tidak bagus. Saat itu juga aku menyadari ternyata meski jarak kini bukan lagi hambatan karena banyak fitur virtual yang mampu “memangkas jarak” tersebut, tapi jika sinyalnya masih aut-autan, tentu akhirnya akan sama saja. Jarak masih menjadi pemenangnya. Hahahaa..

Dua Bab terakhir memang tidak bisa kubaca secara virtual, tapi aku masih bisa menyimak bacaan kakakku. Sebenarnya tidak menjadi masalah, karena dua bab tersebut adalah “Sore Kelabu di Selatan Singkarak” dan “Jalan Panjang Hingga Tuan Merebut Wilayah“; dua bab yang sudah kubaca bersama teman-teman Gubuak Kopi saat Lokakarya Bakureh Project, awal Juni 2018 lalu. Bab ketujuh tersebut menceritakan tentang sikap acuh pejabat pada posisi perusahaan pertambangan yang merusak jalan desa dan menimbulkan berbagai penyakit dan permasalahan sosial. Ada tiga desa yang berada di sekitar pertambangan, dua di antaranya dilalui truk-truk proyek. Desa-desa tersebut adalah korban yang “hanya” dilihat dan dinilai dari balik jendela mobil-mobil mewah ber-ac yang tidak akan pernah dihinggapi polusi yang “makmur” akibat pertambangan tersebut.

Kondisi ini didukung dengan kebijakan pemerintah yang mungkin kurang tepat, meski tujuannya adalah demi membantu perekonomian masyarakat.

Pada bab kedelapan, Albert menjabarkan dengan cara yang apik sekali tentang sejarah pelabuhan Saniangbaka. Pelabuhan ini menjadi jalur utama masyarakat Minangkabau sebelum Eropa masuk tahun 1818. Sebuah perjalanan sejarah yang sangat panjang.

Pekanbaca Sayurankita hari itu berhenti di bab kedelapan tersebut, karena ponsel kakakku sudah tidak mendukung untuk bersiaran langsung selama sekitar dua jam lagi.

Tiga bab terakhir dari buku “Sore Kelabu di Selatan Singkarak” masih mengangkat narasi-narasi yang luput dari perhatian masyarakat pada umumnya. Albert menghadirkan kenangan mengenai komoditas limau (jeruk) di desa Kacang yang fenomenal, dalam bab kesepuluhnya, “Limau Kacang”. Aku sudah dua kali membaca tulisan ini. Mematut-matut setiap detail cara Albert memvisualisasikan Desa Kacang dan limaunya. Sebab, tulisan Limau Kacang, menurutku sangat deskriptif, dan dengan demikian saja menjadi panutanku dalam menyelesaikan tulisan Bakureh Project.

Pada bab sebelumnya, yakni bab kesembilan, “Warna Tak Indah di Dermaga Singkarak“, Albert sepertinya melepaskan kekesalannya tentang isu pembangunan hotel dan waterboom yang tersebar. Bab yang belum sempat kubaca namun sudah diulas kakakku ini sarat dengan kritik, salah satunya terhadap sikap seorang pemodal yang dengan entengnya menimbun salah satu titik dramaga untuk direklamasi. Reklamasi, yang kalau tidak ditangani dengan tegas, bisa berujung pada pelanggaran HAM. Belum lagi, proyek tersebut akan merusak Danau Singkarak lebih parah lagi. Warna hitam airnya mungkin bisa dijadikan bukti. Meski bukti itu tak bisa berbicara banyak, dan seringnya dianggap angin lalu saja.

“Diakhir buku ini, Albert mengajak pembaca untuk ‘terlebih dahulu ‘mainok ranuangkan‘ (renungkanlah selalu), apa yang akan kita kerjakan sekarang, ‘ditimbang dipatenggangkan, kana nagari jan binaso‘ (ditimbang dipertenggangkan, ingat negeri jangan sampai binasa)’,” tulis kakakku yang kukutip dari ulasan singkatnya mengenai Pekanbaca Sayurankita keempat di instagram @sayurankita. Dalam Bab penutup, “Catatan Dari Danau Singkarak di Akhir 2017, Albert menggambarkan kondisi terbaru Danau Singkarak lengkap dengan “Tour de Singkarak”-nya, yang digaung-gaungkan sebagai salah satu upaya meningkatkan pariwisata di Singkarak. Singkarak, yang indah secara lukisan dan fotografi itu, menjadi destinasi wisata. Sebuah kenyataan yang menurutku kelak akan semakin menyembunyikan kenyataan-kenyataan pahit yang berusaha dibongkar Albert dalam bukunya ini.

20180725_142848

Aku memang belum membaca Bab 9 dan 11 ini, namun secara keseluruhan, aku bisa menyimpulkan bahwa narasi-narasi yang dihadirkan Albert adalah lecutan bagi setiap orang agar kembali mempergunakan hati dan mengendalikan pikiran. Narasi-narasi yang mungkin menurut sebagian orang tidak penting, menjadi penting karena Albert menghadirkannya sebagai tandingan untuk melihat Singkarak dan permasalahannya dengan cara yang berbeda dari biasnaya. Tulisan-tulisan deskriptif yang tidak menggurui ini seperti sebuah kapal kecil yang mengajak kita berlayar mengelilingi Danau Singkarak. Menyuguhkan wajah asli Singkarak, yang takkan tampak dari puncak gunung-gunung yang mengelilinginya.***