(Aktivitas Kebun #I) Menyiangi Rumput: Sebuah Kewajiban atau Sekadar Mengisi Waktu Luang?

Penulis: Ade Surya Tawalapi
Penyunting: Afifah Farida Jufri

HALO SAHABAT PONIK! Sudah dua puluh bulan berlalu sejak aku terjun pertama kali ke dunia Ponik. Sudah selama itu pula aku menjabat sebagai “Anak Magang Sayurankita”, yang bertugas mengurus kebun. Sejak bermain tanah dan air, aku mempelajari cukup banyak hal tentang berkebun. Namun masih banyak pula yang perlu kupelajari dan kueksplorasi lagi.

Kali ini aku ingin bercerita tentang aktivitas kebunku di Sayurankita. Aktivitas kebun sebulan terakhir ini tidak jauh-jauh dari membersihkan kebun, seperti menyiangi rumput, pangkas-pangkas tanaman, membuat bedengan, memasang ajir, pindah tanam dan mengubah posisi pot-pot di teras rumah maupun di rumah kaca. Sebenarnya, aktivitas ini sudah sering kulakukan, apalagi kalau sudah lama tidak melakukan pembersihan menyeluruh di kebun. Namun, sebulan terakhir ini rasanya kelewatan. Sebab, aku mengubah kembali posisi pot yang sudah kususun bulan lalu. Aku jadi merasa bahwa apa yang kulakukan hanya sekadar mengisi waktu. Aku seperti sengaja mencari-cari kerjaan.

Namun ternyata tidak demikian. Saat aku tanyakan perihal itu pada Afifah, ternyata yang kukerjakan itu sudah benar. Tanpa sadar, aku sedang melakukan hal yang wajib di lakukan di kebun.

Membersihkan kebun adalah bagian dari proses perawatan tanaman. Kebun yang berantakan, kotor dan penuh semak akan menjadi tempat bersarangnya hama sehingga memang sudah sebaiknya dilakukan pencabutan atau pemangkasan rumput secara rutin untuk mengusir hama. Kalau kuingat-ingat lagi, memang ada benarnya. Aku pernah menemukan hama seperti tungau (Tetranychus sp.), kutu daun (Aphis sp.) dan kutu putih (Bemisia tabaci) yang bersembunyi di bagian bawah daun beberapa jenis rumput. Waktu itu, aku merasa bahwa keberadaan hama di rerumputan tersebut disebabkan oleh tanaman di kebun yang sedang terserang hama. Kupikir, hama-hama tersebut “melarikan diri” ke rerumputan ketika aku memandikan tanaman-tanaman tersebut. Namun ternyata, rerumputanlah inang pertama mereka. Ketika hama tersebut menemukan inang dengan makanan yang lebih lezat, mereka pun akan menghampirinya. Seledri (Apium graveolens), Bayam (Amaranthus sp), Basil (Ocimum basilicum), Ruku-ruku (Ocimum tenuiflorum), Terong (Solanum melongena), Cabai Keriting (Capsicum annum L.) dan Timun (Cucumis sativus) adalah beberapa tanaman di kebun Sayurankita yang sering menjadi korban hama kutu-kutuan ini.

WhatsApp Image 2019-04-14 at 2.54.58 PMSelain hama kutu-kutuan, hama bekicot (Helix sp.) dan sumpil[1] (Subulina octona) juga senang bersembunyi di tempat-tempat teduh dan lembab yang terlindungi oleh rerumputan. Bekicot adalah hama yang sering sekali membuatku terkejut setiap mencabut rumput, karena tekstur kulitnya yang kenyal dan cangkangnya yang dingin. Kadang, kalau aku tidak sengaja menggencet mereka, mereka akan mengeluarkan lendir. Kata Ibu, lendir tersebut bisa membuat kulit kita gatal-gatal. Sementara sumpil, adalah hama yang membuatku gemas karena ukurannya yang kecil-kecil dan sering bergerombol. Kelihatannya memang lucu, sih, sebelum mereka membuat tanaman sayur bolong-bolong, bahkan layu. Kalau sudah begitu baru, deh, aku sadar kalau mereka tidak lucu sama sekali. Haha.

Kamis, 11 April 2019 lalu, aku dan Afifah berdiskusi sembari membersihkan pojok belakang kebun Sayurankita. Afifah menjelaskan bahwa selain mengusir hama, aktivitas menyiangi rumput juga berguna untuk memperluas areal tanam. Suatu areal yang bersih dari rumput bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Tanaman yang ditanam di areal tersebut juga bisa tumbuh dengan maksimal karena tidak ada persaingan dengan rumput dalam menyerap unsur hara, air dan sinar matahari.

Aku jadi ingat aktivitas kebun yang kulakukan sebelum Afifah pulang dari Lombok. Waktu itu, dengan semangat ’45, aku membersihkan pekarangan tengah dari rerumputan. Aku kemudian menyusun bebatuan membentuk bedengan dan menggemburkan tanah di areal tersebut. Aku baru sadar bahwa yang kulakukan itu adalah upaya memperluas areal tanam sekaligus memberantas persaingan antara tanaman dan tumbuhan liar di kebun Sayurankita.

Selain menyiangi rumput, memangkas tanaman juga wajib dilakukan. Apalagi jika tanaman yang bersangkutan sudah memiliki cabang-cabang yang tua dan kering. Terlebih lagi jika ada hamanya. Pemangkasan adalah salah satu cara praktis untuk memberantas hama, dengan catatan hasil pangkasannya dibuang jauh-jauh dari kebun. Atau bisa juga dengan cara dibakar, ditimbun atau dimasukkan ke komposter.

Yang biasanya menjadi masalah bagiku ketika bebersih kebun adalah sampahnya. Aku sering kali kebingungan mengurus rumput-rumput, daun-daun dan batang-batang hasil pembersihan ini, meski biasanya aku memasukkan semua sampah organik tersebut ke dalam karung, yang kemudian kubiarkan membusuk dengan sendirinya. Namun, belakangan aku menyadari cara tersebut tidak sepenuhnya berhasil apalagi mengingat karung zaman sekarang yang terbuat dari plastik yang mudah lapuk. Ketika karungnya sudah mulai hancur, sampahnya justru masih utuh. Memang, terkadang sampahnya sudah mulai hancur. Namun sayangnya, belum hancur sempurna. Masih ada batang-batang yang kasar. Mungkin juga dikarenakan sampah tersebut tidak kucincang terlebih dahulu. Hehe.

Solusi dari Afifah adalah menggali lubang dan menimbun sampah-sampah sisa kebun tersebut, atau dimasukkan ke komposter. Sebelum ditimbun atau dimasukkan ke komposter, sebaiknya sampah-sampah tersebut dicincang agar lebih cepat terurai. Selanjutnya, sampah-sampah tersebut disemprotkan EM4 yang sudah diencerkan dengan perbandingan 1:50 (sesuai petunjuk pada botol EM4). Barulah kemudian ditutup hingga padat.

Oh, iya! Sebenarnya, penyemprotan sampah organik tidak harus memakai EM4. Kita bisa menggunakan cairan MOL (Mikroorganisme Lokal) yang dapat dengan mudah kita buat sendiri. Dari penjelasan Afifah, aku memahami bahwa MOL merupakan cairan atau media tempat mikroorganisme tumbuh dan berkembang. Mikroorganisme tersebut dapat membantu penguraian atau pengomposan sampah-sampah organik. Sifat MOL ini hampir sama dengan EM4. Hanya saja, karena buatan rumah atau lokal, bakteri pengurainya tidak sebanyak EM4.

MOL yang paling sederhana adalah fermentasi air cucian beras atau buah-buahan, yang kemudian dilarutkan dalam air dengan perbandingan 1:10. Fermentasi dilakukan selama 3-7 hari. Kemudian, MOL dilarutkan agar bisa disemprotkan ke sampah-sampah organik seperti menggunakan EM4.

Aku jadi ingat cerita Ibu. Dulu, sewaktu kakekku masih hidup dan aktif berkebun, menimbun sampah organik adalah salah satu hal yang wajib dilakukan di kebun. Biasanya, Kakek membuat lubang dengan jarak semeter-dua meter. Setiap lubang diisi sampah organik selapis, kemudian ditimbun tanah selapis, lalu diisi sampah lagi kemudian ditutup tanah lagi. Begitu terus sampai lubang tersebut terisi penuh dan tertutup sempurna. Setelah lubang yang satu tertutup, Kakek akan menggali lubang yang baru untuk diisi sampah-sampah organik lainnya. Kata Ibu, lubang yang digali Kakek tidak begitu dalam. Sekitar setengah meter sampai satu meter. Lubang yang sudah penuh bisa dimanfaatkan untuk menanam sekitar sebulan kemudian.

Penimbunan sampah organik juga termasuk salah satu perawatan di kebun. Dengan menimbun sampah organik, kita secara tidak langsung menjaga agar komposisi tanah tetap seimbang. Sampah-sampah organik tersebut akan hancur dan menjaga struktur tanah. Struktur tanah yang sehat akan menyediakan  unsur hara yang berguna untuk tanaman.

Saat diskusi, aku tiba-tiba merasa bahwa Afifah sudah pernah bercerita atau menjelaskan kepadaku tentang manfaat membersihkan kebun secara rutin. Namun sepertinya waktu itu aku mengganggapnya angin lalu, kemudian melupakannya. Untung saja diingatkan lagi. Semoga besok-besok aku tidak lupa lagi, ya. Kan, sudah dicatat di sini. Hahha xD

Semoga bermanfaat!***


[Catatan]

[1] Sumpil atau siput ujung lidi (Subulina octona) adalah sejenis siput darat yang termasuk ke dalam suku Subulinidae. Siput kecil sebesar ujung lidi yang acap menjadi hama tanaman ini berasal dari wilayah Karibia, namun kini telah menyebar luas di seluruh kawasan tropika, termasuk di Indonesia. Ia dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Miniature Awlsnail[4] atau Tropical Awlsnail[5] (https://id.wikipedia.org/wiki/Sumpil, di akses 12 April 2019, 14.53 WIB)