(Dongeng) Petani dan Anak-Anaknya

Penulis: Aesop (620 – 560 SM)[1]
Penyunting: Ade Surya Tawalapi
Cerita ini diterjemahkan dan dipublikasikan oleh Cerita Kecil dalam situsnya www.ceritakecil.com dengan judul yang sama; dimuat kembali di web Sayurankita atas izin penulis. Redaksi menyunting beberapa bagian (terkait tanda baca) demi menyesuaikan ketentuan redaksional web Sayurankita, serta menambahkan beberapa catatan.

 

SEORANG PETANI yang sangat kaya yang merasa tidak akan hidup terlalu lama lagi, memanggil anak-anaknya ke samping tempat tidurnya.

“Anak-anakku,” dia berkata, “perhatikanlah apa yang akan saya katakan pada kalian. Dengan alasan apa pun, jangan pernah menjual tanah yang menjadi milik keluarga kita selama beberapa generasi. Karena di tanah ini tersembunyi harta karun. Saya tidak tahu di mana letak pastinya, tetapi harta tersebut ada di sini. Carilah harta tersebut dengan sekuat tenaga dengan cara menggali dan jangan lewatkan sejengkal tanah pun yang tidak tergali.”

Sang Petani kemudian meninggal. Tidak lama setelah penguburannya, anak-anaknya mulai bekerja sekeras mungkin menggali setiap jengkal tanah pertanian mereka dengan sekop, bahkan setelah selesai pun, mereka masih melakukannya sampai berulang dua-tiga kali.

Tidak ada satu pun emas tersembunyi yang mereka dapatkan, tetapi saat musim panen, kantong dan pundi-pundi uang mereka menjadi penuh dengan keuntungan panen yang sangat besar dibandingkan dengan tetangga-tetangga mereka. Pada akhirnya, mereka menjadi sadar bahwa harta karun yang disebutkan oleh ayah mereka adalah kekayaan dari hasil panen yang berlimpah, dan kerja keras mereka juga sebenarnya adalah harta karun.***[2]


[Catatan]

[1] Dongeng diakui sebagai media yang menarik untuk mengajarkan moral pada anak-anak, karena mengandung narasi singkat yang mudah dipahami anak-anak. Dongeng pada mulanya disebarluaskan secara lisan. Namun sejak ditemukannya metode tulis, banyak dongeng yang pada akhirnya dituliskan. Dongeng-dongeng yang dituliskan tersebut umumnya disertai dengan ilustrasi-ilustrasi menarik.

Salah satu pendongeng paling terkenal di seluruh dunia adalah Aesop. Bisa dikatakan, catatan sejarah yang valid tentang Aesop tidak ada sama sekali. Namun, banyak penulis, filsuf dan ilmuwan yang meyakini bahwa sebagian besar dongeng-dongeng berasal dari Aesop. Dongeng-dongeng tersebut kemudian dikembangkan dan dimodifikasi. Salah satu filsuf yang terpengaruh oleh cerita Aesop adalah Socrates. Ia diperkirakan menghabiskan waktunya di penjara untuk menggubah puisi yang terinspirasi dari fabel Aesop.

Fabel-fabel Aesop mulai ditulis dan dikumpulkan sekitar tahun 300 SM. Diperkirakan pertama kali dibukukan dalam bahasa Latin, dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Yunani. Setelah itu, fabel Aesop mulai diterjemahkan ke banyak bahasa, termasuk Indonesia. Ada lebih dari 700 fabel yang diperkirakan berasal dari Aesop. Fabel Aesop yang terkenal di antaranya adalah “Rubah dan Anggur” dan “Serigala berbulu Domba.”

Crane Poetry Visual: Farmes and His Sons, karya Walter Crane. Dikutip dari: Fables of Aesop, Tom Simondi.

Selain diterjemahkan, fabel Aesop juga dialihwacanakan oleh banyak seniman dan sastrawan. Di antaranya Crane Poetry Visual karya Walter Crane, yang menampilkan ilustrasi dramatik dari fabel-fabel Aesop, dilengkapi dengan ringkasan puitik. Karya Walter Crane ini diberi judul The Baby’s Own Aesop, yang kemudian dicetak berwarna oleh Edmund Evans dan diterbitkan pertama kali tahun 1887.

Fabel-fabel Aesop diabadikan tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara digital. Ada banyak situs yang didedikasikan untuk karyanya, di antaranya Aesopica, yang disusun berdasarkan Perry Index ciptaan Ben Edwin Perry (1892–1968) dan Fables of Aesop, yang dimonitori oleh Tom Simondi.

[2] Dongeng “Petani dan Anak-Anaknya” adalah versi bahasa Indonesia dari dongeng “Farmer and His Sons” (bahasa Inggris), Γεωργὸς καὶ παῖδες αὐτοῦ (Bahasa Yunani, dibaca Georgós kaí paídes aftoú”), De viro agriculturo (bahasa Latin), dan Le Vieillard et les trois jeunes Hommes (bahasa Prancis, oleh Jean de La Fontaine). Kami memilih dongeng ini untuk ditampilkan di web Sayurankita, karena kami menilai ada nilai budaya tani yang kental diselipkan pendongeng, terlepas dari pesan moral yang ingin disampaikannya.

Pada dongeng ini, Aesop menggambarkan kriteria petani dengan cara yang berbeda. Umumnya, gambaran petani yang kita temukan dalam dongeng-dongeng adalah seperti ini,

“Di sebuah desa, hiduplah petani tua yang miskin.”

Namun, Aesop menggambarkan bahwa petani juga bisa kaya raya. Bagaimana caranya petani tersebut menjadi kaya disampaikan melalui pesan moralnya, yakni kerja keras. Petani ciptaan Aesop, selain kaya juga bijaksana. Petani tersebut dengan pandai dan lihai “mengajak” anak-anaknya untuk mau turun ke ladang, mencangkul dan berpanas-panasan. Meski awalnya karena diiming-imingi dengan harta karun, pada akhirnya anak-anak tersebut tetap mendapatkan harta karun. Namun, mereka akhirnya menyadari bahwa dengan terus mengurus ladang, harta karun yang disebut ayah mereka tidak akan pernah habis.

Seharusnya, petani kita juga berpikir seperti petani ciptaan Aesop ini, bahwa ladang dan tanah pertanian adalah “harta karun” yang sebaiknya terus diolah agar terus menghasilkan. Sayangnya, dongeng seperti ini tidak begitu banyak, sehingga yang kita temui sekarang adalah lahan dan tanah pertanian yang sudah menjadi ladang beton.


[Referensi]

[a] Wikipedia. Aesop.

[b] Wikipedia. The Farmer and The Sons.

[c] Cerita Kecil. 2008-2019. Aesop.

[d] Cerita Kecil. 2008-2019. Petani dan Anak-anaknya.

[e] Simondi, Tom. 2014-2019. Fables of Aesop.

[f] Simondi, Tom. 2014-2019. The Farmer and The Sons.

[g] Aesopica