Catatan FGD Sayurankita, Sesi 01

Ketika sudut pandang bertani/pertanian mulai bergeser dari mencangkul menjadi teknologi hidroponik; ketika kepentingan pertanian tidak lagi sebatas untuk memenuhi kebutuhan dapur petani, tetapi juga menjadi persoalan tentang bagaimana memperoleh keuntungan sebesar-besarnya; ketika isu “Lumbung Pangan” kembali digaungkan; dan ketika media (zaman sekarang) telah lepas dari “kungkungan [elitisme]-nya”; maka Sayurankita merasa penting untuk berdiskusi dan mengkaji isu-isu tersebut di dalam FGD (Focus Group Discussion) yang dibingkai dengan tema “Timbal balik antara pertanian, literasi media, dan sosiokultural sehari-hari”.

Suasana pertemuan teman-teman peserta FGD, sesaat sebelum acara dimulai. (Foto: Manshur Zikri)

FGD ini dibagi menjadi dua sesi dengan fokus yang lebih spesifik. Di Sesi I, Sayurankita mengangkat subtema “Siginfikansi pertanian sebagai isu spesifik dalam konteks praktik dan wacana lintas disiplin”, dengan nara sumber Mahardika Yudha (Direktur OK. Video – Indonesia Media Arts Festival), Gelar Soemantri (Seniman, Jakarta), Albert Rahman Putra (Penulis dan Pegiat Komunitas Gubuak Kopi, Solok), dan Muhammad Sibawaihi (Penulis, kurator, dan pegiat Pasirputih, Lombok Utara). Kegiatan FGD Sesi I itu dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 13 Juli 2017, pada pukul 15.15 WIB di sekretariat Sayurankita, Jalan Pepaya No. 66, Kelurahan Jadirejo, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru. Perserta diskusi dihadiri oleh teman-teman dari berbagai latar belakang disipling, dari berbagai daerah.

***

FGD Sesi I dimulai dari pemaparan Mahardika Yudha tentang OK. Video – Indonesia Media Arts Festival yang pada tahun ini mengangkat tema “Pangan”—isu lanjutan dari OK. Video tahun 2015, “Orde Baru”, yang mengedepankan isu pembangunan di masa Orde Baru (Orba). Menurut Diki, sapaan untuk Mahardika Yudha, apa yang terjadi dan yang kita rasakan hari ini merupakan warisan dari rezim Orba dengan strategi-strateginya yang memengaruhi tatanan budaya masyarakat Indonesia, termasuk dalam memenuhi pangan.

Mahardika Yudha, Direktor OK. Video – Indonesia Media Arts Festival, Jakarta, saat memberikan presentasi di FGD Sayurankita, Sesi I, 13 Juli 2017. (Foto: Manshur Zikri)

Program “Revolusi Hijau” di masa Orba diklaim telah berhasil membawa Indonesia sebagai negara swasembada pangan—yang sesungguhnya hanyalah semata swasembada beras, bukan swasembada pangan—di tahun 1984. Akan tetapi, dampak negatif Revolusi Hijau setelah “masa keemasan swasembada beras” justru mulai benar-benar kita rasakan terutama sejak rezim Orba berakhir. Ekonomi menjadi sulit, timbul masalah pangan yang masih belum selesai. Yang hingga kini menjadi tanda tanya adalah, apakah isu “Lumbung Pangan 2040” dapat terjawab mengingat lahan yang semakin kritis akibat Revolusi Hijau tersebut. Dengan latar belakang itu, maka OK. Video berinisiatif untuk menjadi mediator dan mengumpulkan inisiatif-inisiatif warga yang berkaitan dengan pangan, lantas meracik aksi-aksi itu menjadi informasi dan pengetahuan yang bisa disebarluaskan ke masyarakat, tentunya melalui program-program di festival OK. Video.

Gelar Soemantri, seniman media asal Jakarta, saat memberikan presentasi di FGD Sayurankita, Sesi I, 13 Juli 2017. (Foto: Manshur Zikri)

Pemaparan materi dilanjutkan oleh Gelar Soemantri. Ia bercerita tentang bagaimana mi instan (khususnya merek Indomie) menjadi sangat populer dan tetap berjaya. Melalui cara mengadopsi estetika media yang dikuasai rezim Orba saat itu, Indomie berhasil membudaya di kalangan masyarakat, sampai sekarang. Dengan dalih “diversifikasi pangan”, Indomie yang pada kenyataannya berbahan gandum impor, dapat masuk menjadi salah satu bahan makanan favorit sebagai pengganti nasi, dan menggeser pangan lokal. Isu indomie yang disampaikan Gelar ini berhasil memantik diskusi tentang pangan menjadi lebih rinci. Peserta diskusi lantas mengulik bagaimana media berperan meng-cover isu pertanian yang sebenarnya bermasalah sejak masa Orba.

Diskusi menjadi lebih seru ketika Albert Rahman Putra bercerita tentang proyek terbaru yang dilakukan oleh Komunitas Gubuak Kopi dalam beberapa bulan terakhir. Belakangan, komunitas ini menaruh perhatian terhadap isu pertanian yang ada di zaman dulu dan sekarang. Penelusuran tentang hal itu berhasil diarsipkan melalui program Kultur Daur Subur, program pemberdayaan dan literasi media berbentuk lokakarya dalam rangka membaca dan memetakan perkembangan kultur pertanian dan lingkungan, dengan memanfaatkan potensi teknologi media sehari-hari.

Albert Rahman Putra, Ketua Komunitas Gubuak Kopi, Solok, Sumatera Barat, saat memberikan presentasi di FGD Sayurankita, Sesi I, 13 Juli 2017. (Foto: Manshur Zikri)

Albert, sapaan untuk Ketua Komunitas Gubuak Kopi ini, juga bercerita tentang perkembangan pertanian Minangkabau; ia memaparkan temuan-temuan selama lokakarya yang berlangsung di Kampung Jawa, Solok. Para partisipan lokakarya tersebut turut menggali informasi tentang alat-alat lokal, yang memanfaatkan material dan pengetahuan lokal, yang digunakan untuk bercocok tanam. Salah satunya, Kincia Aia (‘kincir air’) yang dahulu digunakan untuk mengalirkan air ke sawah-sawah; teknologi yang berfungsi sebagai motor—dengan energi air—penggerak alat penumbuk padi tersebut, saat ini sudah tidak digunakan lagi karena kondisi air sungai yang mulai kering.

Dari temuan-temuan seperti yang disebut di atas, Albert berargumen bahwa, sejak dulu, masyarakat sangat dekat dengan praktik-praktik pertanian mandiri. Namun kemudian, muncullah regulasi-regulasi yang akhirnya menggeser cara dan pola bertanam masyarakat, seperti penggunaan pestisida, penanaman serentak, dan produksi besar-besaran dalam Revolusi Hijau, dlsb. Tapi kini, kembali muncul praktik-praktik pertanian mandiri, yang agaknya tidak masif, seperti yang dilakukan oleh Buya Khairani (seorang tokoh masyarakat lokal di Kampung Jawa, Solok) dalam membuat alat-alat untuk bertani (cangkul, sabit, dll.), atau Pak Suardi yang mengelola kebunnya dengan membuat kompos sendiri. Albert juga menjelaskan keterkaitan antara kebijakan, teknologi, politik, dan ekonomi dalam memengaruhi budaya pertanian.

Pada giliran selanjutnya, Sibawaihi bercerita tentang inisiatif dan praktik yang dilakukan warga di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, NTB; aktivitas-aktivitas kreatif yang berkaitan dengan pangan. Salah satunya, di Dusun Sesela yang masih dapat ditemui para “pedagang bakulan”. Selain itu, ada juga inisiatif yang dilakukan warga masyarakat lokal di Dusun Kerujuk untuk menjaga tanah, lahan, dan hutan mereka berdasarkan awig-awig (hukum adat). Awig-awig berlaku tidak hanya untuk masyarakat setempat, tetapi siapa saja yang melakukan pelanggaran, misalnya mengambil kayu di hutan secara sembarangan. Yang tidak kalah menarik adalah, di Lombok juga terdapat inisiatif warga, bernama “Pawang Rinjani”, yang saat ini sedang membuat dan mengembangkan aplikasi pada teknologi mobile, bernama “daulat pohon”. Lewat aplikasi itu, orang dimungkinkan untuk memantau pertumbuhkembangan pohon di sekitar Gunung Rinjani.

Muhammad Sibawaihi, Direktur Program di Komunitas Pasirputih, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, saat memberikan presentasi di FGD Sayurankita, Sesi I, 13 Juli 2017. (Foto: Manshur Zikri)

Pemaparan materi dari Sibawaihi tersebut sekaligus menjadi pembuka sesi diskusi bebas (atau sesi tanya-jawab antara pemateri FGD dan para hadirin lainnya). Presentasinya cukup menarik perhatian hadirin untuk mencari keterhubungan antara budaya masyarakat dalam pertanian, inisiati-inisatif yang dapat dilakukan warga, dampak-dampak yang ditimbulkan dari kebijakan, teknologi, dan media terhadap pertanian, serta bagaimana pengaruh media dalam mengubah budaya masyarakat, baik dalam pangan, khususnya, maupun pertanian, umumnya.

Suasana siang hari, ketika memasuki sesi tanya-jawab antara pemateri FGD dan para hadirin lainnya. (Foto: Manshur Zikri)

***

Yonri dari Komunitas Yoikatra, Timika, Kabupaten Mimika, Papua, turut mengelaborasi diskusi dengan mengutarakan pendapat tentang pengaruh kebijakan dan program transmigrasi milik pemerintah terhadap perubahan budaya masyarakat Papua, misalnya Merauke, yang diarahkan untuk mengonsumsi beras pada tahun 1980-an. Sedangkan Dholy Husada, pegiat Lifepatch, Yogyakarta, menyambung pendapat itu dengan memberikan pendapat bahwa program pertanian semasa Orba, yang menggalakkan panca usaha taninya, yaitu Irigasi, bibit unggul, pestisida, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit, ternyata juga berujung pada “penyamarataan” pangan—penyamarataan ini pada kenyataannya bukan sesuatu yang dapat meningkatkan taraf dan kualitas hidup warga masyarakat umum. Menurut Dholy, pangan adalah alat politik, dan salah satu contohnya bisa dilihat pada kasus Indomie yang telah dipaparkan oleh Gelar.

Yonri Revolt (baju biru), penulis dan pegiat media dari Komunitas Yoikatra, Timika, Kabupaten Mimika, Papua, saat memberikan pendapat pada sesi tanya-jawab di FGD Sayurankita, Sesi I, 13 Juli 2017. (Foto: Manshur Zikri)
Dholy Husada (baju putih), pegiat Lifepatch, Yogyakarta, saat memberikan pendapat pada sesi tanya-jawab di FGD Sayurankita, Sesi I, 13 Juli 2017. (Foto: Manshur Zikri)

Anggraeni Widhiasih dari Koperasi Purusha, Jakarta, lantas mencoba memempertanyakan poin dari presentasi Gelar tentang kebiasaan makan Indomie, dengan melihat kemungkinan kultur konsumsi mi yang sejatinya sudah ada sejak masyarakat Tionghoa datang ke Hindia Belanda. Sementara itu, Berto Tukan dari Jurnal Karbon, Jakarta, turut memberikan pendapat bahwa terbangunnya industri Indomie dapat dilihat sebagai cerminan dari gagalnya program ketahanan pangan. Manshur Zikri dari Forum Lenteng, Jakarta, mencoba menggarisbawahi secara kritis pendapat Anggraeni dan Berto itu dengan menawarkan tafsir bahwa kesuksesan iklan pangan perusahaan Indomie barangkali merupakan buah dari kelihaiannya memaksimalkan gaya-gaya komunikasi Orba; suatu gaya komunikasi (terutama visual) yang tampaknya justru mengamini estetika realisme sosialis yang digadang-gadang oleh negara-negara sosialis. Zikri memberikan contoh, misalnya, visual Soeharto dan Ibu Tien mengangkat padi di masa-masa panen, yang secara maknawi sederajat dengan maksud dari iklan Indomie yang memperlihatkan orang-orang mengangkat mangkuk berisi mi ke arah langit—materi iklan ini terdapat dalam presentasi Gelar.

Akhir dari sesi tanya-jawab pada hari itu ditutup dengan pertanyaan Otty Widasari—seorang penulis, seniman, dan pegiat media dari Forum Lenteng, Jakarta—dan Sibawaihi tentang bagaimana inisatif lanjutan di masa-masa depan yang dapat kita bayangkan, jikalau sekarang ini kenyataannya sudah banyak kelompok yang memulai upaya-upaya kreatif (umumnya memanfaatkan teknologi media dan pengetahuan literasi media) dalam merespon isu-isu seperti pangan dan pertanian. Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi masalah pangan dan pertanian? Karena tidak dapat dipungkiri bahwa memang pertanian adalah hal mendasar yang akan memengaruhi segala aspek, karena pangan sangat berkaitan dengan masalah perut. Diki mencoba menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan ialah dengan menjadi mediator, sebagaimana yang kini tengah dilakukan oleh festival yang ia kelola, agar masyarakat tidak buta terhadap apa yang sedang terjadi pada pangan dan pertanian.

FGD Sesi I pun selesai pada pukul 18.30 WIB dengan menghasilkan sejumlah PR bagi kita semua, terutama soal-soal tentang bagaimana caranya menjadi mediator yang baik, agar setidaknya kita tidak buta dan acuh dengan apa yang terjadi pada pangan, pertanian, dan budaya masyarakatnya.


Dengan menyadari PR-PR itulah maka Sayurankita memilih garis aktivisme, memilih peran sebagai mediator, untuk turut berusaha memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan mengenai pertanian (atau agrikultural) secara luas dan terbuka kepada masyarakat umum. ***

Penyunting : Manshur Zikri