Catatan FGD Sayurankita, Sesi 02

Setelah membahas isu-isu dan praktik-praktik pertanian pada FGD Sayurankita Sesi I (13 Juli 2017), FGD Sayurankita Sesi II lebih fokus pada pembahasan tentang inisiatif, diskursus, dan pembacaan lebih dalam sehubungan dengan langkah-langkah yang dapat dilakukan seorang atau sekelompok mediator dalam mengumpulkan dan menyebarkan informasi tentang pertanian, pangan, dan budaya masyarakatnya secara luas. Oleh karena itu, FGD Sayurankita Sesi II mengambil subtema “Literasi Media dan Kesadaran Sosiokultural dalam Mengembangkan Pertanian”, menghadirkan narasumber Otty Widasari (Penulis, seniman, dan pegiat media dari Forum Lenteng, Jakarta), Anggraeni Widhiasih (Penulis, pegiat Koperasi Riset Purusha, Jakarta), Berto Tukan (Penulis, Redaktur Jurnal Karbon), Liza Ika Savitri (Pekanbaru Hidroponik GreenFarm, @pkugreenfarm, Pekanbaru). FGD Sesi II dilaksanakan pada hari Jumat, 14 Juli 2017, pukul 15.30 WIB di sekretariat Sayurankita, Jalan Pepaya No. 66, Kelurahan Jadirejo, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru. Acara itu dihadiri oleh teman-teman dari berbagai latar belakang disiplin, dari berbagai daerah.

Anggraeni Widhiasih, Koperasi Riset Purusha, ketika membacakan esainya pada FGD Sayurankita Sesi II, 14 Juli 2017, di Sayurankita. (Foto: Manshur Zikri)

Setelah saya—yang berperan sebagai moderator—membuka pertemuan dengan memberikan pengantar singkat tentang arah FGD hari itu, Anggraeni Widhiasih memulai presentasi pertama dengan membacakan esainya ke hadirin FGD, isinya terutama mengenai kegiatan dan arah aktivisme yang dilakukan oleh lembaganya, Koperasi Riset Purusha. Berbeda dengan koperasi pada umumnya yang bergerak di bidang ekonomi yang memproduksi barang, Koperasi Riset Purusha bergerak di bidang riset dan jurnalisme yang memproduksi pengetahuan populer dan akademik. Anggra mengatakan bahwa dalam pengetahuan terdapat kekuasaan politik. Karena itu, kita perlu memikirkan bagaimana memanfaatkannya dalam upaya mentransformasi tatanan sosial yang tidak timpang dan lepas dari praktik eksploitasi. Menurut Anggra, persoalan pertanian, misalnya, sebagai salah satu isu yang juga dikaji oleh Koperasi Riset Purusha, harus dilihat sebagai bidang/pekerjaan yang tidak hanya sebatas memproduksi komoditas, tetapi ia juga memproduksi nilai sosial dan kultural masyarakat. Inisiatif dan praktik-praktik warga dalam bidang pertanian akan menjadi lebih bernilai jika kita juga menggalakkan kegiatan eksperimental yang menyasar ranah kognitif untuk menemukan kebaruan cara pandang terhadap pertanian itu sendiri.

Liza Ika Savitri, Pekanbaru Hidroponik GreenFarm (@pkugreenfarm), berbagi cerita tentang pengalamannya mengelola usaha hidroponik di Pekanbaru, pada FGD Sayurankita Sesi II, 14 Juli 2017, di Sayurankita. (Foto: Manshur Zikri)

Berbeda dengan Anggra yang menjelaskan aktivitas Koperasi Riset Purusha sebagai koperasi eksperimen[tal], Liza Ika Savitri bercerita tentang Pekanbaru Hidroponik GreenFarm (yang juga mengelola akun Instagram @pkugreenfarm) sebagai salah satu contoh praktik dan usaha warga di bidang pertanian, terutama urbanfarming, melalui teknologi hidroponik. Ika menjelaskan latar belakang berdirinya usaha Pekanbaru Hidroponik GreenFarm: salah satunya, faktor sulitnya mendapatkan sayuran segar di Pekanbaru. Yang menarik dari lembaga usaha ini adalah strategi Ika dalam menyebarluaskan pengetahuan hidroponik, yakni membuka kelas gratis setiap Sabtu pagi, dan kesadarannya memaksimalkan potensi media sosial Instagram dan Facebook. Ika mengatakan bahwa tujuan dari membuka kelas gratis tersebut ialah untuk memperkenalkan hidroponik ke masyarakat dan dapat memproduksi sayuran segar secara independen. Sedangkan pemanfaatan media sosial, ialah untuk menyasar kalangan muda yang sebenarnya lebih potensial sebagai publik yang dapat mengembangkan wacana hidroponik ataupun ide-ide tentang urbanfarming.

Berto Tukan, Jurnal Karbon, menyampaikan makalahnya tentang aspek-aspek sosial-politik pangan dan pertanian di FGD Sayurankita Sesi II, 14 Juli 2017, di Sayurankita. (Foto: Manshur Zikri)

Menyambung pemaparan Ika, Berto Tukan menyampaikan makalah yang mengulas hubungan manusia, alam, dan teknologi. Menurut Berto, makanan adalah perkara pertama untuk bertahan hidup dan merupakan hal paling pokok yang tidak dapat digerakkan oleh apa pun. Berto memaparkan bagaimana manusia memperoleh makanan untuk bertahan hidup sejak masa purbakala dengan memburu dan meramu, kemudian masa pertanian awal ketika manusia mulai melakukan aktivitas bercocok tanam. Budaya pertanian berkembang ke masa pertanian feodal—juga dijelaskan tentang tuan tanah dan buruh—yang lalu berkembang lagi menjadi era pertanian kapitalis, saat keuntungan menjadi tujuan dalam ekonomi pasar. Perubahan corak budaya pertanian dari masa ke masa ini saling memengaruhi dengan perubahan teknologi-teknologi, agar alam dapat menyediakan makanan sekaligus keuntungan untuk manusia.

Pemaparan terakhir pada FGD Sayurankita Sesi II hari itu ditutup oleh Otty Widasari yang memberikan penjelasan tentang sejarah perkembangan teknologi media dan literasi media. Menurut Otty, media memiliki pengaruh yang kuat untuk mengubah budaya masyarakat dan dapat menyerang kebiasaan manusia. Otty menegaskan bahwa media yang baik harus lepas dari kepentingan politik dan kapitalisme dalam penyampaian informasi. Pengetahuan tentang literasi media merupakan salah satu cara yang dapat dimanfaatkan untuk mendekonstruksi sesuatu yang dibungkus ole media (massa arus utama). Otty juga menyinggung poin-poin yang didiskusikan pada FGD Sayurankita Sesi I, tentang inisiatif-inisiatif media komunitas yang dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat di beberapa daerah. Kemandirian warga masyarakat lokal dalam memproduksi, mengemas, mendistribusikan, dan mengarsipkan pengetahuan-pengetahuan lokal adalah tujuan utama dalam literasi media sehingga kita dapat meng-counter konglomerasi media.

Otty Widasari, AKUMASSA – Forum Lenteng, menyampaikan makalahnya tentang sejarah perkembangan media dan literasi media, pada FGD Sayurankita Sesi II, 14 Juli 2017, di Sayurankita. (Foto: Muhammad Sibawaihi)

***

FGD hari itu dilanjutkan ke sesi tanya-jawab untuk menggali lebih dalam dari narasumber dan peserta tentang hal-hal yang selama ini telah dilakukan—beberapa peserta diskusi yang hadir adalah juga para pegiat akar rumput—dalam menyebarkan pengetahuan dan informasi, baik mengenai persoalan-persoalan lokal, maupun isu-isu spesifik seperti isu pangan dan pertanian.

Jika Koperasi Riset Purusha mengelola riset dan jurnalisme, maka Gesya dari Festival Jakarta 320C (Jakarta) bercerita tentang apa yang ia dan kawan-kawannya giatkan dalam menyebarkan pengetahuan seni sebagai strategi alternatif untuk memicu kesadaran publik terhadap isu-isu tertentu. Gesya mencontohkan bahwa dulu, di Festival Jakarta 320C, beberapa mahasiswa berkolaborasi menyelenggarakan proyek di ruang publik, mengintervensi fasilitas umum, seperti membuat karya kolase, instalasi tanaman, dlsb. Menurutnya, menggunakan ruang publik dapat menjangkau masyarakat secara luas untuk mentransfer pesan.

Dholy Husada dari Lifepatch (Yogyakarta) sempat melempar pertanyaan tentang apa dan bagaimana usaha yang dilakukan oleh Pekanbaru Hidroponik GreenFarm dalam memasarkan hasil sayuran hidroponiknya, mengingat masalah utama dari pertanian bukanlah produksi, tetapi pemasaran. Menanggapi pertanyaan Dholy, Ika menjawab bahwa distribusi sayuran yang dihasilkan oleh Pekanbaru Hidroponik GreenFarm memanfaatkan media sosial sebagai salah satu media promosi. Produk-produk sayuran mereka juga didistribusikan ke pasar-pasar buah yang ada di Pekanbaru. Menurut Ika, Instagram adalah media yang efektif dalam membangun publik dan mendatangkan konsumen. Berdasarkan jawaban Ika tersebut, Dhuha Ramadhani dari Forum Lenteng (Jakarta) menyampaikan pendapat tentang mungkinnya usaha untuk menciptakan pasar (kita sendiri)—ketimbang mengikuti pasar (arus utama). Akan tetapi, diperlukan kejelian dan strategi yang pas untuk merealisasikan hal tersebut. Tentu saja, penggunaan media sosial yang dilakukan oleh Pekanbaru Hidroponik GreenFarm—dan rata-rata para pedagang online lainnya—adalah salah satu contoh terdekat dan paling kini. Akan tetapi, semestinya penciptaan pasar itu tidak semata-mata berorientasi profit; dengan kata lain, kita juga perlu memperhatikan bagaimana membangun “pasar” pengetahuan yang baik dan tepat.

Suasana FGD Sayurankita II, 14 Juli 2017, di Sayurankita. (Foto: Manshur Zikri)

Sebelum FGD Sayurankita Sesi II itu ditutup, menyambung pernyataan Ika, Gesya kembali bertanya dan mencari ketegasan tentang apa sebenarnya yang sedang diupayakan oleh Sayurankita sendiri, sebagai salah satu inisiatif yang kini ada di Pekanbaru. Saya, sebagai pendiri Sayurankita, menanggapi pertanyaan itu dengan menjelaskan bahwa Sayurankita lebih memilih fokus pada aktivitas-aktivitas penelitian/kajian tentang pertanian dan isu-isu agraria secara umum, bukan hanya isu hidroponik dan pertanian urban. Apa yang dilakukan oleh Sayurankita pada dasarnya berbeda dengan Pekanbaru Hidroponik GreenFarm, karena inisiatif ini didirikan bukan sebagai lembaga usaha. Orientasi produksinya serupa dengan Koperasi Riset Purusha meskipun dikelola tidak menggunakan pendekatan koperasi, melainkan laboratorium yang menerapkan pendekatan lintas disiplin. FGD Sayurankita adalah salah satu cara yang dilakukan oleh Sayurankita dalam menggiatkan aktivitas tersebut. Selain sebagai ruang silaturahmi dan promosi, FGD itu sesungguhnya digelar sebagai bagian dari penelitian yang sedang dilakukan oleh Sayurankita; penelitian tentang hubungan antara praktik media alternatif dan aktivitas pertanian kontemporer.

***

(Foto: Manshur Zikri)

Melalui kalimat Max Havelaar “Kita bergembira bukan karena memanen padi, kita bergembira karena memanen padi yang kita tanam sendiri”, Berto menegaskan bahwa meskipun dalam jiwa kita tidak ada jiwa menanam, setidaknya kita tetap peduli dengan masalah pertanian karena pertanian adalah akar dari segalanya.

Dari FGD tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada tiga hal yang layak kita bersama lakukan dalam mengembangkan pertanian, yaitu riset, bisnis (dalam pemenuhan pangan), dan literasi media. Seperti yang dijelaskan oleh Anggra, riset adalah hal terpenting demi menemukan hal-hal baru yang dapat menunjang perkembangan pertanian. Sedangkan bisnis dalam pemenuhan pangan, seperti yang dijelaskan Berto, menandakan bahwa, sejak awal kemunculannya, produk pertanian sudah bernilai ekonomi. Maka tugas kitalah untuk menjaga agar bisnis pertanian dapat kembali ke tujuan awalnya, yaitu pemenuhan pangan, dan bukan semata berakhir pada akumulasi keuntungan dan modal sebagaimana kerangka berpikir Kapital.

Kedua langkah tersebut agaknya akan bermakna jika kita juga fasih dengan literasi media. Mengutip penjelasan Otty, media memiliki pengaruh dan daya yang besar untuk membangun wacana-wacana, bahkan dapat mengubah kebiasaan dan budaya masyarakat. Maka, literasi media merupakan ujung tombak yang dapat dilakukan untuk menyentuh setiap lapisan masyarakat dengan pengetahuan dan informasi, agar kita bisa membangun tatanan masyarakat yang peka dengan soal-soal pertanian; kita perlu mengembangkan “literasi pertanian”. ***

 

Penyunting : Manshur Zikri