(Dongeng) Kisah Sani dan Peri Vieria

Penulis: Ade Surya Tawalapi
Catatan: Ade Surya Tawalapi dan Afifah Farida Jufri
Penyunting: Afifah Farida Jufri

 

DAHULU KALA, hiduplah seorang gadis bernama Sani Sania. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Mereka hidup miskin dan serba kesusahan. Sampai suatu hari, sang Raja yang bijaksana, meminta mereka untuk bekerja sebagai tukang kebun istana.

Suatu hari, sang Raja jatuh sakit. Kabar tersebut segera tersebar ke penjuru negeri. Segala upaya sudah dilakukan, namun sang Raja tak kunjung sembuh.

“Hanya ada satu cara untuk menyembuhkan Raja, yakni dengan tumbuhan ajaib dari Negeri Rusca,” kata tabib terakhir yang memeriksa sang Raja.

Sang Ratu terkejut mendengar penjelasan tabib itu. Sebab, tidak ada yang tahu pasti di mana Negeri Rusca. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Sang Ratu pun memerintahkan seluruh rakyatnya untuk mencari negeri itu.

Ayah Sani langsung menerima tugas itu dengan semangat. Baginya, inilah waktu yang tepat untuk membalas kebaikan Raja. Saat mengetahui hal itu, Sani memohon kepada ayahnya agar diizinkan untuk menggantikannya. Meski ayahnya menganggap hutan dan perjalanan jauh bukanlah tugas seorang perempuan, Sani tetap bersikeras ingin pergi. Akhirnya, ayahnya pun memberikan izin.

Banyak pemuda yang ikut serta dalam pencarian ini. Wajar saja, sebab mereka mengincar hadiah yang dijanjikan sang Ratu, yakni menikahi sang Putri. Hanya Sani satu-satunya perempuan yang ikut mencari. Ia pun menjadi bahan olok-olokan. Namun, Sani tidak gentar sedikit pun. Sani hanya menginginkan Raja kembali sehat.

Suatu hari, ketika Sani sedang mengambil air bersih di sungai, ia tidak sengaja menduduki sesuatu. Ia terlonjak kaget karena ada yang mencubit pahanya. Seekor serangga besar bersayap dan bertubuh manusia terdengar marah-marah kepadanya.

Sani bertemu Peri Viera, karya Ade Surya Tawalapi. Arsip: Sayurankita

“Dasar manusia! Sudah mengambil air suci sembarangan, duduk juga sembarangan. Lihat, jadi rusak semua mahkota bungaku,” kata serangga itu, mengomel.

“Ma… maafkan aku, Serangga Kecil,” kata Sani terbata. “Aku tidak sengaja.”

“Loh? Kamu bisa mengerti bahasaku?” tanya serangga itu. Sani pun terheran-heran.

“Se… sepertinya begitu.” Mendengar jawaban Sani, serangga ajaib itu kembali mengomel.

“Baguslah, kalau begitu! Dengar, ya! Kalian tidak boleh tinggal di hutan ini. Segeralah keluar sebelum terjadi apa-apa pada kalian. Para Peri tidak akan membiarkan manusia-manusia jahat seperti kalian berkeliaran di hutan suci ini,” kata si serangga lagi.

“Maksudmu apa? Apa yang akan terjadi pada kami jika kami tidak keluar dari hutan?” tanya Sani, penasaran.

Serangga itu tidak langsung menjawab. Ia kelihatan bingung dan panik. Namun, tiba-tiba ia kembali marah.

“Dasar! Selalu saja harus bertanya ‘kenapa?’ Apa susahnya bagi kalian untuk melakukan sesuatu sesuai perintah alam tanpa bertanya-tanya?”

Sani terdiam mendengar pertanyaan serangga itu. Ia lalu menoleh ke belakang dan melihat sekelompok pemuda yang sedang tertawa terbahak-bahak. Sungguh berisik dan mengganggu. Pantas saja serangga ajaib itu mengusir mereka.

“Maafkan kami, Serangga Kecil,” kata Sani kemudian. “Tapi, kami harus mencari obat untuk Raja.”

“Raja?” kata si serangga bingung. “Apakah yang kau maksud Raja Solomon dari Negeri Godivan?” tanya serangga kecil itu, terkejut.

“Ya, benar. Dari situlah asal kami semua,” jawab Sani sambil menunjuk teman-temannya.

“Raja Solomon adalah raja terbaik yang pernah kami temui. Berkat bantuannya, kami bisa hidup aman dan tentram di negeri kami. Jauh dari jangkauan para manusia yang jahat dan serakah!”

Sani memperhatikan serangga ajaib itu. Meskipun dari ucapannya ia terlihat begitu membenci manusia, namun raut muka serangga ajaib itu memperlihatkan kekaguman pada sang Raja. Sani pun mendapatkan ide.

“Kalau begitu, bisakah kau menolong kami?” tanya Sani, hati-hati. Serangga itu langsung melotot kepadanya.

“Apa maksudmu?”

“Bantulah kami mencari Negeri Rusca. Seorang tabib mengatakan hanya tanaman ajaib dari Negeri Rusca yang bisa menolong Raja. Tidakkah kau ingin menyelamatkan orang yang sudah menolong kaummu?”

Serangga itu menatap mata Sani. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia melesat terbang meninggalkan Sani. Gadis itu kebingungan karena tiba-tiba saja ditinggal pergi serangga aneh itu. Namun, ia tidak ambil pusing dan segera meneruskan perjalanannya.

Keesokan harinya, Sani dikejutkan oleh sesuatu. Di kejauhan, ia melihat titik-titik hitam kemerah-merahan, terbang ke arahnya. Semakin lama semakin dekat dan jelas. Ternyata, itu adalah kawanan si serangga ajaib!

Serangga-serangga itu terbang sambil membawa sesuatu di bawah mereka. Sebuah jaring besar melayang-layang. Tampak di dalamnya sesuatu berwarna hijau.

Peri Viera mengajak Ratu Noli menemui Sani di Hutan Suci, karya Ade Surya Tawalapi. Arsip: Sayurankita

“Itu dia!” teriak seekor serangga.

Sani mengenal suara itu. Ia mencari-cari si serangga di antara kawanannya.

“Itu manusia yang mengabarkan tentang keadaan Raja dari Negeri Godivan, Ratuku,” jerit serangga itu lagi.

Sang Ratu Serangga muncul dari tengah-tengah kawanan serangga ajaib itu. Sekilas, sang Ratu tampak seperti kumbang koksi[1] berkepala manusia dan berambut emas.

“Kemarilah, Nak!” kata sang Ratu Serangga kepada Sani.

Dengan gugup, Sani mendekati sang Ratu. Ia semakin gugup ketika sang Ratu menatap matanya lekat-lekat. Namun, ia tidak berani mengalihkan pandangannya. Lalu, tiba-tiba, sang Ratu berkata,

“Tidak ada kejujuran yang paling murni dari tatapan mata seorang anak kecil, Vieria” kata sang Ratu kepada serangga yang dikenal Sani itu. “Mari segera kita antarkan tanaman ini kepada Raja, sebelum terlambat,” katanya lagi kepada Sani, sambil memperlihatkan setumpuk tanaman berwarna hijau di dalam jaring-jaring.

Wajah Sani seketika merona merah karena bahagia. Ia langsung meminta bantuan para pemuda yang saat itu berada tidak jauh dari tempatnya. Mereka bersorak kegirangan dan segera membantu serangga-serangga itu membawa tanaman ajaib. Kedua rombongan itu pun melanjutkan perjalanan, kembali ke Negeri Godivan.

Berhari-hari berlalu sejak penemuan bersejarah itu. Dengan bantuan tabib kerajaan dan tabib serangga dari Negeri Rusca, Sang Raja pun dapat disembuhkan. Seluruh rakyat bersyukur atas kesehatan sang Raja.

Tanaman Ajaib; Sansevieria, karya Ade Surya Tawalapi. Arsip: Sayurankita

“Tanamlah ini di kebun kerajaanmu, Solomon,” kata Ratu Serangga kepada sang Raja. “Perintahkan juga kepada rakyatmu untuk menanamnya di pekarangan rumah mereka. Tanaman ini akan membersihkan udara di sekitarnya, sehingga tak ada lagi yang menderita pernyakit  itu.”

“Terima kasih, Peri Noli. Kebaikanmu dan rakyat Negeri Rusca tidak akan pernah kami lupakan,” kata sang Raja.

Tak lama setelah itu, para serangga ajaib kembali pulang ke Negeri Rusca. Sementara itu, masyarakat berbondong-bondong menanam si tanaman pembersih udara. Sang Raja kemudian melunasi hutangnya kepada mereka yang berhasil menemukan si tanaman ajaib. Namun, para pemuda itu sadar bahwa Sanilah yang menemukan Peri Vieria, si serangga ajaib dari Negeri Rusca.

“Sani adalah perempuan tangguh yang baik hati. Peri Vieria adalah peri kecil yang jujur. Bagaimana jika kita menjadikan nama mereka sebagai nama tanaman ajaib itu, Ayah? Sansevieria, kedengarannya cukup bagus dan mudah diingat,” kata sang Putri, saat Raja menanyakan pendapatnya.

Raja dan Ratu pun setuju dengan pendapat putrinya. Begitu pula dengan rakyat Negeri Godivan. Maka, sejak saat itu, tanaman ajaib pembersih udara itu dikenal dengan nama Sansevieria[2] dan tidak ada seorang pun yang mengidap penyakit yang pernah diderita oleh sang Raja.***


[Catatan]

[1] Kumbang Koksi adalah Serangga predator yang berbentuk bulat kecil. Sayapnya merah bertutul-tutul hitam. Di daerah Barat lebih dikenal dengan nama Ladybug (Coccinellidae).

[2] Sansevieria adalah salah satu genus dari famili Ruscaceae. Sansevieria memiliki banyak jenis spesies. Namun umumnya, Sansevieria terdiri dari dua tipe tanaman, yaitu tipe dengan daun yang tumbuh memanjang dan tipe daun pendek yang melingkar dalam bentuk roset. Sansevieria juga dikenal dengan nama lidah mertua karena bentuk daun yang meruncing dan tajam, yang menggambarkan lidah mertua. Dikenal juga sebagai tanaman pedang-pedangan, karena bentuk daunnya yang memanjang seperti pedang.

Bentuk daun yang keras dan sukulen menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tanaman sansevieria ini dapat tumbuh di lingkungan yang kering, dengan air yang terbatas. Tanaman ini memiliki akar serabut, dan mempunya rhizoma yang menjalar di atas atau di bawah permukaan tanah. [a] Sansevieria memiliki bunga berumah dua (putik dan benang sari berada pada bunga yang berbeda). Bentuk bunganya majemuk berbentuk tandan dengan tangkai yang panjang berwarna putih kekuningan.

Sansevieria memiliki keunggulan sebagai penyerap polutan. Biasanya dijadikan tanaman hias dalam ruangan untuk mengurangi bau tak sedap, karena Sansevieria mengandung bahan aktif pregnane glikosid yang mampu mereduksi polutan menjadi asam organik, gula, dan beberapa senyawa asam amino. Penelitian National Aeronautics and Space Administration atau NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat menyimpulkan bahwa Sansevieria ini ampuh memberangus 107 zat polutan hasil pembakaran plastik atau naftalena, di antaranya nikotin dari tembakau, karbonmonoksida, dan dioksin. [b]

Sansevieria juga  bisa menangani sick building syndrome, yaitu keadaan ruangan yang tidak sehat akibat tingginya konsentrasi gas karbondioksida, zat nikotin dari asap rokok, dan penggunaaan AC dalam ruangan. [c]

[Referensi]

[a] Swinbourne, Robert, F.G. (2007). Sansevieria in Cultivation in Australia. Adelaide: Adelaide Botanic Gardens Handbook. Hlm. 48

[b] Wolverton, B.C., Anne Johnson, M.S & Keith Bounds, M.S. 1989. “Interior Landscape Plants for Indoor Air Pollution Abatement”. NASA.

[c] Purwanto, A. W. 2006. Sansevieria Flora Cantik Penyerap Racun. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 68.

[Disclaimer]
Keseluruhan cerita dongeng ini adalah fiktif, yang sengaja dihadirkan sebagai upaya memperkenalkan kepada masyarakat salah satu manfaat tanaman Sansevieria.